LOGINKeluarganya dibantai. Kini dia kembali untuk menuntut balas pada semua musuhnya. Dalam perjalanannya, kemampuan beladiri dan kemampuan medisnya membuat dia dikagumi para wanita. Para wanita antri menjatuhkan diri dalam pelukannya, tapi tujuannya tetap sama, yaitu menuntut balas
View MoreBenjamin mengangkat tangannya, bukan dalam posisi menyerang, tapi dalam posisi orang yang masih mencoba jalur lain sebelum jalur terakhir. "Kevin, dengarkan aku dulu. Aku adalah sahabat ayahmu. Aku kenal ayahmu bertahun-tahun—""Sahabat yang mengundang sahabatnya ke pesta kematian.""Itu bukan..." Benjamin menghela napas. "Itu bukan seperti yang kamu kira. Aku juga ditipu. Orang dari ibu kota itu, dia yang mengatur semuanya, dia yang menyuruh aku untuk mengundang ayahmu. Aku tidak tahu malam itu akan berakhir seperti itu."Kevin menatapnya."Aku takut, Kevin." Suara Benjamin turun setengah oktav, menjadi suara orang yang sedang mengakui sesuatu yang sudah lama ditutup rapat. "Orang dari ibu kota itu bukan orang biasa. Kalau aku tidak mengikuti instruksinya, aku yang menjadi sasaran berikutnya. Aku punya keluarga, aku punya anak, aku—""Saya ingat dengan sangat jelas ekspresi wajah Benjamin malam itu."Kalimat Kevin itu keluar dengan tenang, tapi membuat Benjamin berhenti berbicara."S
Malam itu langit Kota Alfa tidak memiliki banyak bintang. Awan tipis menutupi sebagian besar langit malam dan udara terasa lebih lembab dari biasanya, membawa serta bau hujan yang belum turun tapi sudah mengancam dari kejauhan.Mobil hitam itu berhenti di depan sebuah rumah di kawasan perumahan kelas menengah atas yang tidak terlalu mencolok dari luar. Bukan kawasan paling mewah di Kota Alfa, bukan kawasan paling sederhana, melainkan kawasan yang dipilih dengan pertimbangan bahwa tidak ada yang terlalu memperhatikan siapa yang keluar masuk di sini karena semua orang terlalu sibuk dengan urusan masing-masing.Benjamin turun dari mobilnya, memberikan isyarat kepada dua pengawalnya untuk tetap di luar, dan melangkah menuju pintu dengan langkah orang yang sudah sangat hafal dengan jalur ini. Kunci cadangan sudah lama dia simpan sendiri. Kebiasaan lama yang tidak pernah berubah.Pintu terbuka.Ruang tamu menyambutnya dengan lampu yang sudah menyala, seperti biasa. Dona selalu menyalakan la
Ferdi menatap Lady dengan ekspresi yang sulit diartikan dengan cepat. "Papa bilang mundur.""Mundur?" Lady menggeleng. "Tapi kamu sudah terlanjur bilang ke mereka—""Lady." Suara Ferdi sudah berubah nada, lebih rendah, lebih datar. "Bapak bilang ada masalah di saham perusahaan kita sekarang. Entah kenapa tiba-tiba ada tekanan. Ini bukan waktu yang tepat untuk buat masalah baru."Lady memandangi Ferdi, lalu ke arah Victoria, lalu kembali ke Ferdi. "Jadi kamu mau biarkan dia menang? Karena saham? Ferry, ini tentang harga diri—""Ini tentang perusahaan keluargaku," kata Ferdi, dan kali ini ada tepi dalam suaranya yang tidak ada sebelumnya. "Bukan harga dirimu."Lady terdiam."Kakek menelepon juga," lanjut Ferdi lebih pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. "Dua kali."Di sudut ruangan, staf franchise yang sudah dari tadi berdiri dengan ekspresi orang yang ingin ada di tempat lain memilih saat ini untuk mulai membereskan dokumen di atas meja.Lady menoleh ke Victoria dengan tat
Victoria berdiri."Lady." Suaranya tidak naik, tidak gemetar, tapi ada sesuatu di dalamnya yang tidak terdengar tadi. "Saya tidak pernah melakukan apapun kepadamu.""Oh betulkah?" Lady menoleh dengan ekspresi yang sudah disiapkan. "Kamu ingat waktu SMA? Kamu dan keluarga Kivlanmu yang terkenal itu, semua orang berlomba-lomba dekat sama kamu. Dan aku? Aku tidak ada artinya di matamu.""Saya tidak pernah menginjakmu, Lady.""Tidak mengajakku bergabung sama saja dengan menginjak.""Saya tidak mau berteman dengan orang yang suka menjatuhkan siswa yang lebih lemah," kata Victoria. "Itu alasan saya menjaga jarak. Bukan karena keluargamu atau keluargaku. Tapi karena caramu memperlakukan orang lain."Lady mengeluarkan suara kecil. "Itulah. Merasa dirinya lebih baik dari semua orang.""Saya tidak merasa lebih baik. Saya tidak suka melihat orang diperlakukan buruk.""Itu sama saja." Lady berpaling ke staf franchise. "Jadi, Mas, bagaimana? Kami ambil semua kuota."Staf franchise itu melirik ke V
Kevin terus menggenjot Sarah dengan ritme yang stabil dan penuh perhitungan dalam gaya *spooning*. Tangannye melingkari pinggang Sarah, menariknye semakin erat ke tubuhnye, memastikan setiap dorongan mengenai titik kenikmatan Sarah. Bibirnye mengecup leher Sarah, menjilat telinganye, membisikkan ka
Chika bersandar di dada Kevin, kepalanya di bahu Kevin, saat air mulai membasahi tubuh mereka. Kevin menyalakan tombol jacuzzi, dan gelembung-gelembung mulai berdesir, memijat kulit mereka dengan lembut. Chika memejamkan mata, merasakan relaksasi menjalar ke seluruh tubuhnya. Kevin meraih sabun cai
Kevin mencengkeram erat pinggul Chika, membantu Chika menekan dirinya lebih dalam. Rambut panjang Chika yang berantakan menempel di wajahnya, tanda betapa kerasnya mereka bercinta. Chika merasakan guncangan hebat di seluruh tubuhnya, sensasi hangat menjalar dari bawah perutnya, dan ia mengerang ker
Kevin menghela napas dalam, tangannya menyentuh rambut Chika, jari-jarinya menyelip di antara helai-helai hitam itu, membiarkan gadis itu mengambil alih ritme lambat ini.Chika menarik boxer turun, membebaskan batang kemaluan Kevin yang kini tegak penuh, vena-vena menonjol di permukaannya yang halu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.