Share

32 Benjamin

Penulis: Lembean
last update Tanggal publikasi: 2026-07-02 09:38:03

Malam itu langit Kota Alfa tidak memiliki banyak bintang. Awan tipis menutupi sebagian besar langit malam dan udara terasa lebih lembab dari biasanya, membawa serta bau hujan yang belum turun tapi sudah mengancam dari kejauhan.

Mobil hitam itu berhenti di depan sebuah rumah di kawasan perumahan kelas menengah atas yang tidak terlalu mencolok dari luar. Bukan kawasan paling mewah di Kota Alfa, bukan kawasan paling sederhana, melainkan kawasan yang dipilih dengan pertimbangan bahwa tidak ada yang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   33 Nama yang Disebutkan Benyamin

    Benjamin mengangkat tangannya, bukan dalam posisi menyerang, tapi dalam posisi orang yang masih mencoba jalur lain sebelum jalur terakhir. "Kevin, dengarkan aku dulu. Aku adalah sahabat ayahmu. Aku kenal ayahmu bertahun-tahun—""Sahabat yang mengundang sahabatnya ke pesta kematian.""Itu bukan..." Benjamin menghela napas. "Itu bukan seperti yang kamu kira. Aku juga ditipu. Orang dari ibu kota itu, dia yang mengatur semuanya, dia yang menyuruh aku untuk mengundang ayahmu. Aku tidak tahu malam itu akan berakhir seperti itu."Kevin menatapnya."Aku takut, Kevin." Suara Benjamin turun setengah oktav, menjadi suara orang yang sedang mengakui sesuatu yang sudah lama ditutup rapat. "Orang dari ibu kota itu bukan orang biasa. Kalau aku tidak mengikuti instruksinya, aku yang menjadi sasaran berikutnya. Aku punya keluarga, aku punya anak, aku—""Saya ingat dengan sangat jelas ekspresi wajah Benjamin malam itu."Kalimat Kevin itu keluar dengan tenang, tapi membuat Benjamin berhenti berbicara."S

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   32 Benjamin

    Malam itu langit Kota Alfa tidak memiliki banyak bintang. Awan tipis menutupi sebagian besar langit malam dan udara terasa lebih lembab dari biasanya, membawa serta bau hujan yang belum turun tapi sudah mengancam dari kejauhan.Mobil hitam itu berhenti di depan sebuah rumah di kawasan perumahan kelas menengah atas yang tidak terlalu mencolok dari luar. Bukan kawasan paling mewah di Kota Alfa, bukan kawasan paling sederhana, melainkan kawasan yang dipilih dengan pertimbangan bahwa tidak ada yang terlalu memperhatikan siapa yang keluar masuk di sini karena semua orang terlalu sibuk dengan urusan masing-masing.Benjamin turun dari mobilnya, memberikan isyarat kepada dua pengawalnya untuk tetap di luar, dan melangkah menuju pintu dengan langkah orang yang sudah sangat hafal dengan jalur ini. Kunci cadangan sudah lama dia simpan sendiri. Kebiasaan lama yang tidak pernah berubah.Pintu terbuka.Ruang tamu menyambutnya dengan lampu yang sudah menyala, seperti biasa. Dona selalu menyalakan la

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   31 Cukup Tahu Bahwa Kamu Ada

    Ferdi menatap Lady dengan ekspresi yang sulit diartikan dengan cepat. "Papa bilang mundur.""Mundur?" Lady menggeleng. "Tapi kamu sudah terlanjur bilang ke mereka—""Lady." Suara Ferdi sudah berubah nada, lebih rendah, lebih datar. "Bapak bilang ada masalah di saham perusahaan kita sekarang. Entah kenapa tiba-tiba ada tekanan. Ini bukan waktu yang tepat untuk buat masalah baru."Lady memandangi Ferdi, lalu ke arah Victoria, lalu kembali ke Ferdi. "Jadi kamu mau biarkan dia menang? Karena saham? Ferry, ini tentang harga diri—""Ini tentang perusahaan keluargaku," kata Ferdi, dan kali ini ada tepi dalam suaranya yang tidak ada sebelumnya. "Bukan harga dirimu."Lady terdiam."Kakek menelepon juga," lanjut Ferdi lebih pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. "Dua kali."Di sudut ruangan, staf franchise yang sudah dari tadi berdiri dengan ekspresi orang yang ingin ada di tempat lain memilih saat ini untuk mulai membereskan dokumen di atas meja.Lady menoleh ke Victoria dengan tat

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   30 Musuh Lama Victoria

    Victoria berdiri."Lady." Suaranya tidak naik, tidak gemetar, tapi ada sesuatu di dalamnya yang tidak terdengar tadi. "Saya tidak pernah melakukan apapun kepadamu.""Oh betulkah?" Lady menoleh dengan ekspresi yang sudah disiapkan. "Kamu ingat waktu SMA? Kamu dan keluarga Kivlanmu yang terkenal itu, semua orang berlomba-lomba dekat sama kamu. Dan aku? Aku tidak ada artinya di matamu.""Saya tidak pernah menginjakmu, Lady.""Tidak mengajakku bergabung sama saja dengan menginjak.""Saya tidak mau berteman dengan orang yang suka menjatuhkan siswa yang lebih lemah," kata Victoria. "Itu alasan saya menjaga jarak. Bukan karena keluargamu atau keluargaku. Tapi karena caramu memperlakukan orang lain."Lady mengeluarkan suara kecil. "Itulah. Merasa dirinya lebih baik dari semua orang.""Saya tidak merasa lebih baik. Saya tidak suka melihat orang diperlakukan buruk.""Itu sama saja." Lady berpaling ke staf franchise. "Jadi, Mas, bagaimana? Kami ambil semua kuota."Staf franchise itu melirik ke V

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   29 Jangan Sisakan untuk Orang Lain

    Pagi ini belum genap pukul enam ketika dua prajurit yang bertugas di dalam mobil pengawasan mereka dikejutkan oleh suara ketukan di kaca jendela sisi pengemudi.Bukan ketukan keras. Justru sangat pelan, hanya dua ketukan ringan dengan buku jari. Tapi di tengah keheningan gang sempit yang masih gelap dan di antara dua prajurit yang sudah menghabiskan semalam bergantian tidur setengah waspada, dua ketukan itu terasa seperti sirene.Prajurit yang duduk di kursi pengemudi, yang kebetulan sedang tidak tidur, memutar kepala ke arah jendela.Dan langsung menegakkan tubuhnya.Di luar jendela, berdiri Kevin. Tangan satu di saku, tangan lainnya baru saja selesai mengetuk, ekspresinya tenang seperti orang yang mengetuk pintu tetangga untuk meminjam garam.Prajurit di kursi penumpang yang tadinya setengah mengantuk langsung duduk tegak begitu melihat rekannya bereaksi.Kaca jendela diturunkan."Selamat pagi," kata Kevin.Dua prajurit itu menatapnya tanpa segera menemukan kata-kata yang tepat. Di

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   28 Dibuntuti dan Dilindungi

    "Beliau adalah ketua dari keluarga Salim. Putranya adalah menteri aktif. Ini bukan tawaran biasa, kami ingin bisa menghubungimu untuk mengucapkan terima kasih secara layak. Ada hadiah yang—""Tidak perlu hadiah," kata Kevin. Suaranya tidak kasar, tapi tidak membuka ruang diskusi.Marcos menatapnya. "Kami tidak bisa membiarkan jasa seperti ini berlalu begitu saja tanpa—""Saya ada keperluan lain," kata Kevin. "Permisi."Marcos tidak menghalangi langkahnya kali ini.Kevin keluar dari kamar 712, melewati penjaga yang masih berdiri di luar dengan ekspresi orang yang tidak sepenuhnya memahami apa yang baru saja terjadi di dalam, dan berjalan kembali ke arah koridor menuju bangsal C lantai tiga.---Bu Ratna sudah duduk di tepi ranjangnya saat Kevin tiba, sudah mengenakan baju yang dibawa Sarah dan sudah memegang tas kecilnya di pangkuan dengan ekspresi orang yang sudah siap keluar dari rumah sakit sejak setengah jam lalu tapi masih menunggu proses administrasi."Lama sekali," kata Bu Ratna

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   24 Lebih Cepat, Kevin

    Kevin terus menggenjot Sarah dengan ritme yang stabil dan penuh perhitungan dalam gaya *spooning*. Tangannye melingkari pinggang Sarah, menariknye semakin erat ke tubuhnye, memastikan setiap dorongan mengenai titik kenikmatan Sarah. Bibirnye mengecup leher Sarah, menjilat telinganye, membisikkan ka

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   3 Diantar Chika

    Kevin berhenti. Bukan karena namanya dipanggil, dia tidak ingat memberitahu siapa namanya. Dia berhenti karena dia penasaran dari mana gadis ini tahu namanya, sebelum kemudian menyadari bahwa mungkin salah satu petugas tadi menyebutkan namanya saat prosedur klarifikasi."Tolong berhenti," kata Chik

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   2 Mastermind

    Langkah kaki lima orang terdengar mendekat. Kevin berhenti, berbalik dengan ekspresi datar.Gadis yang menjadi juru bicara itu berdiri dengan tangan terlipat di depan dada, postur tubuhnya tegak dengan kepercayaan diri yang terasa seperti sudah dilatih sejak kecil untuk selalu merasa paling benar d

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   1 Pulang

    Kapal feri itu merapat perlahan ke dermaga Kota Alfa tepat saat matahari mulai condong ke barat, melukis langit dengan warna jingga yang memantul di permukaan laut. Di antara penumpang yang berdesakan menuju pintu keluar, seorang pemuda berdiri diam di dekat pagar buritan, menatap garis pantai yang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status