Short
Dia Pergi Sehari Sebelum Aku Jadi Istrinya

Dia Pergi Sehari Sebelum Aku Jadi Istrinya

Oleh:  ShirleyTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
11Bab
2.3KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Tunanganku nggak datang ke makan malam gladi resik pernikahan kita di kediaman Keluarga Kusuma. Menjelang tengah malam, sebuah pesan dari Martin Kusuma masuk. Kirana hamil. Itu bukan anakku. Tapi aku harus nikahin dia. Anak itu butuh marga Kusuma agar bisa diakui secara sah. Pernikahan kita bakal ditunda sampai tiga tahun ke depan. Kita harus jaga jarak sampai saat itu. Kamu yang harus hadapi para tetua keluarga. Apa pun yang kamu lakukan, lindungi Kirana dari mereka. Kasih tahu ke semua orang kalau kamu yang batalkan pernikahan ini. Aku menatap layar dan mengetik balik hanya satu kata. [Oke]. Aku sudah muak dengannya. Sejak awal, aku memang nggak pernah ingin nikah dengan dia.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Sehari sebelum pernikahan, tunanganku, Martin Kusuma, dengan enteng batalkan makan malam gladi resik kita. Dia hanya kirim pesan singkat bilang kalau dia akan nikahi cinta masa kecilnya, Kirana Ajeng. Perempuan itu lagi hamil dan bayi itu butuh nama keluarga Kusuma.

Nggak masalah buat aku. Aku langsung setuju. Sejujurnya, sudah lama aku mau keluar dari pernikahan ini. Beberapa saat kemudian, Kirana unggah pembaruan di jaringan sosial privat keluarga mereka.

Foto itu perlihatkan dua tangan yang saling genggam, dihiasi cincin warisan Keluarga Kusuma. Di latar belakang, tampak samar sebuah hasil sonogram, tujuh minggu. Keterangan fotonya nyaris meneteskan rasa kemenangan.

[Dia bilang mau kasih aku dan bayi kita sebuah keluarga yang utuh.]

Di kolom komentar, lingkaran dalam Keluarga Kusuma banjiri mereka dengan ucapan selamat. Mereka ucapkan selamat kepada sang Bos muda karena akhirnya ikuti kata hatinya, bahkan janjikan hadiah-hadiah mewah untuk upacara besok. Nggak seorang pun pikirkan aku, tunangannya sendiri.

Seolah-olah pesta megah yang selama ini jadi buah bibir itu memang sejak awal ditujukan untuk mereka. Aku hanyalah orang luar.

Aku terkekeh dingin, lalu suruh salah satu anak buahku kirimkan sebotol sampanye sebagai hadiah ucapan selamat. Aku sertakan juga sebuah catatan tulisan tangan:

[Semoga kebahagiaan menyertai kalian seumur hidup.]

Setengah jam kemudian, unggahan itu hilang. Nggak lama, Martin telepon. Suaranya tegang, penuh rasa nggak sabar.

“Hana, apa maksudmu kirim hadiah seperti itu? Kamu mau picu perang antara keluarga kita?”

Sesaat, aku kehabisan kata-kata.

“Aku nggak buat masalah kok. Aku cuma kasih ucapan selamat dengan tulus.”

Namun Martin nggak mau dengar. Dia yakin aku sengaja buat keributan.

“Hentikan sandiwaramu, Hana. Kamu kira aku nggak tahu kamu mau apa?”

“Semua orang di kota ini tahu besok seharusnya hari pernikahan kita. Kirim hadiah seperti itu, apa kamu mau permalukan Kirana di depan umum?”

“Hadiahmu buat Kirana panik. Dia hancur, dan aku nggak bisa buat dia berhenti nangis. Kamu harus minta maaf ke dia. Sekarang!”

Di seberang telepon, samar-samar aku dengar isak tangis seorang wanita.

“Martin, sudahlah. Aku yang nggak seharusnya paksa kamu. Aku akan pergi ke klinik dan akhiri semuanya. Meski aku nggak bisa lagi jadi ibu, itu lebih baik daripada kamu dituduh ingkari janji.”

Nada suara Martin langsung melunak, berubah penuh perlindungan saat tenangkan Kirana.

“Kirana, jangan bicara yang aneh-aneh. Besok aku akan bawa kamu ke gereja. Kamu satu-satunya Nyonya Kusuma.”

“Nggak perlu khawatir soal gosip. Siapa pun yang berani sentuh kamu akan bayar itu dengan darah.”

Tangis Kirana justru semakin keras.

“Lalu gimana dengan Hana? Keluarga Ginanjar nggak akan biarkan aku begitu saja. Lebih baik aku gugurkan bayi ini, biar pernikahan megahmu tetap berjalan seperti rencana .…”

Martin terdengar panik, napasnya memburu, suaranya berubah memohon.

“Sayang, aku sudah urus dia. Dia setuju tunggu tiga tahun, demi kebaikan hubungan kerja sama. Semuanya berjalan sesuai rencana baru.”

“Sekarang hapus air matamu. Terlalu emosional nggak baik buat kesehatanmu.”

“Kalau terus nangis, matamu akan bengkak waktu pakai gaun pengantin besok.”

Akhirnya, Kirana tertawa kecil, manja.

Martin pun menghela napas lega. Ketika dia kembali bicara ke aku, suaranya dipenuhi nada merendahkan.

“Hana, kamu masih dengar? Jadilah gadis baik dan minta maaf ke Kirana. Setelah itu, kita lupakan semua ini.”

Buku-buku jariku memutih saat genggam HP, dingin merambat di sepanjang nadiku. Padahal aku nggak salah apa-apa. Aku yang dikhianati, lalu mengapa aku yang harus minta maaf?

“Martin, apa yang buat kamu pikir aku akan lakukan itu?”

Dia terdiam sejenak, lalu suaranya meninggi tajam.

“Hana, jangan buat ini jadi buruk! Kirana lagi hamil. Dia nggak bisa tanggung tekanan. Kamu sengaja buat dia nangis. Apa kamu nggak punya hati?”

“Oke. Kamu nggak perlu minta maaf. Tapi kamu harus buktikan itu. Pergi jelaskan ke para tetua dari kedua pihak kalau kamu yang batalkan pernikahan ini.”

Seolah takut aku bakal bantah, Martin langsung tutup teleponnya.

Sesaat kemudian sebuah pesan darinya masuk.

[Sayang, aku mohon, jangan buat keributan. Hubunganku dengannya hanya formalitas, nggak berarti apa-apa. Aku hanya tunda pernikahan agar bisa kasih kamu kehidupan terbaik setelah aku pegang kendali penuh atas keluarga.]

Kemunafikan itu buat mataku perih.

Kehidupan terbaik? Aku telah tunggu dia selama delapan tahun di dunia yang penuh ambisi dan kekuasaan ini. Dan balasannya adalah saksikan dia kasih gelar Nyonya Kusuma ke wanita lain.

Martin, aku sudah muak dengan permainanmu. Sejak awal, kita memang nggak pernah cocok.

Layar HP-ku berkedip, pesan itu ditarik kembali. Pesan baru muncul gantikan itu.

[Kalau Kirana lihat itu, hanya akan timbulkan masalah. Lakukan saja apa yang aku katakan, aku akan tebus nanti. Saat aku jadi Ketua Mafia, aku akan tebus pengorbanan tiga tahun ini. Dengan bonus.]

Aku menatap layar itu, lalu tertawa dingin. Dua menit kemudian, pesan itu juga dia tarik kembal dengan penuh perasaan bersalah.

Pengecut! Dia sedang bohong ke Keluarga Ginanjar, atau ke dirinya sendiri? Jika ini cuma sekadar kewajiban seperti yang dia katakan, mengapa Martin begitu takut Kirana cemburu ke aku? Dan mengapa dia salahkan aku atas sandiwara murahan perempuan itu?

Martin bahkan rela pertaruhkan hubungan kerja sama dua keluarga demi dia dan seorang anak yang bahkan bukan miliknya. Atau mungkin anak itu memang miliknya?

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
11 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status