MasukHanya diberi jatah lima juta dalam sebulan, membuat aku kerap kali bersitegang bahkan bertengkar dengan suamiku. Entahlah, apa yang ada di dalam pikiran suamiku saat memberi jatah bulanan dengan nominal seperti itu?
Lihat lebih banyakThe wedding hall was packed to the brim . The nobles mixed with the commoners to witness the bride and bridegroom exchange vows to their matrimonial journey . The groom's relatives beamed with pride as they looked forward to having such an exceptionally talented bride as their daughter in-law . It had been a tough ride so far , but the end always justifies the means . The bride's relatives and friends , on the hand , were expectant of an hitherto unheard of unity between the two antagonistic social classes . To them , it was proof that they too could rise above their social status . Grace Kane , their daughter , had testified to that .
The congregants rose in loud applause amidst melodious chorals as the bride's and groom's teams advanced to the podium from opposite directions . Jack , in the company of his father , expectantly marched majestically , a broad smile displayed on his face . From the other side , Grace , accompanied by her eager father , walked hesitantly , her head staring on the carpet , like someone tormented in her mind .
" Where are you , my love ? Did you have to disappear when I needed you most ?" She had been assailed by these questions ever since events had conspired against her life's desire .
Suddenly , someone tapped her on the shoulder . She turned to find , Jannet , one of her bridesmaids , extending a piece of paper to her . She quickly scanned the writing on the paper , her heartbeat increasing . Abruptly , she made an about turn and started running out of the hall , leaving everyone perplexingly astounded .
"Dil, kamu marah sama Mama?" tanya mama, masuk ke dalam kamarku. Setelah kejadian itu, aku memilih mengurung diri di kamar. Bukan karena aku marah, aku hanya masih merasa kesal saja. Terlebih Lila memfitnahku di depan keluarga Firman, ada kedua mertuaku saat itu. Aku menoleh menatap mama. Daru raut wajah mama, terlihat jelas sekali kalau saat ini mama mungkin merasa bersalah. "Tidak Ma, aku tidak marah," jawabku, mencoba tersenyum. Melihat mama mendekat, Firman memutuskan untuk keluar dari kamar, memberi ruang untuk aku dan mama saling bicara. "Boleh Mama duduk di sini?" tanya mama, menunjuk ke arah sampingku. "Boleh Ma, duduk aja!" sahutku, menggeser posisi. "Maafkan Mama, Dil! Semua kekacauan tadi siang terjadi karena Mama. Mama yang salah karena mengundang mereka ke sini. Mama tidak bermaksud seperti itu, Mama hanya ingin menyambung silaturahmi, sekaligus memberi mereka bukti
Emosiku kini mulai membuncah. Aku yang tadinya sudah merasa bisa menerima masukan dari Firman kembali meradang. Ternyata memang sesulit ini berlaku baik pada orang jahat pada kita. Mau seperti apapun baiknya kita, pasti akan selalu saja ada salah di mata yang tidak suka. "Jangan bicara sembarangan kamu La! Untuk apa aku berpura-pura hamil? Kalau kenyataannya begini, mau apa kamu? Memangnya salah, kalau aku benar hamil? Toh, aku punya suami, wajar saja aku bisa hamil seperti ini. Kalau kamu tidak percaya, ikut aku ke kamar dan kita buktikan semuanya!" Tantangku, entah seperti apa wajahku saat ini. "Santai dong Mbak! Aku kan cuma tanya dan memastikan. Kalau memang benar hamil, baguslah kalau begitu. Paling tidak, Mbak tidak dikatakan mandul lagi," cibir Lila, semakin menjadi-jadi. "Asal kamu tau, aku tidak mandul! Apa kurang bukti waktu kita bertemu di klinik kemarin? Kamu juga memeriksakan kandungan kamu kan?" Balasku, kini tatapanku ter
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Aku duduk di sebuah kursi di tengah-tengah hiasan yang sudah mama siapkan. Hati ini terasa sangat bahagia, ternyata begini rasanya mengandung dan melaksanakan ritual mandi-mandi tujuh bulanan. Aku tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya, apalagi setelah penghinaan dan fitnah masa lalu yang aku dapatkan dari orang paling terdekat di hidupku. 'Dasar mandul! Pantas saja suaminya tidak betah.' 'Gara-gara tidak bisa memberi keturunan, suaminya meninggalkannya.' Kata-kata itu akan terus aku ingat. Bukan aku seorang pendendam, tapi aku akan selalu mengingat setiap kata yang membuatku terpuruk waktu itu. Aku tidak akan bisa lupa. Air mata ini menetes begitu saja, seiring guyuran air pertama membasahi pucuk kepala dan akhirnya jatuh membasahi seluruh tubuh ini. Sensasi dingin namun terasa segar, begitu aku nikmati. "Memang lain ya, pancaran ibu hamil itu beda sekali
Semua keputusan akhirnya berakhir merujuk rumah ibuku di desa. Aku tentu saja dengan senang hati menerimanya. Selain aku merindukan ibu dan saudara laki-lakiku, aku juga merasa nyaman jika acara dilaksanakan di rumah ibu sendiri. Keesokan harinya, aku dan Firman sudah bersiap berangkat menuju desa. Rencana awal untuk membeli bahan makanan kami batalkan. Rasanya tak tega jika harus meminta ibu memasak semuanya. Apalagi ibuku semakin hari bertambah usia. "Gimana Yank?" tanya Firman, menyusulku ke kamar. "Aku sudah siap, ayo pergi!" Dengan cepat aku meraih lengan Firman dan berjalan bergandengan tangan. Banyak sekali yang kami ceritakan selama perjalanan. Bernostalgia masa lalu kami berdua. "Kamu benar-benar serius waktu itu, atau cuma karena kasihan denganku, Yank?" tanyaku, selalu saja bertanya yang tidak jelas. "Jangan mulai Yank! Kenapa sih hobi sekali bertanya seperti itu? pertanyaan kamu ini menjebak tau! Aku jawab ti
"Yank, mana nomor rekening kamu?" tanya Firman, menepuk pelan pundakku. Aku tersadar, dengan cepat mengembalikan ponselnya. "Ini!" "Loh, apa angkanya memang segini? Apa tidak kurang?" tanya Firman, menatap layar ponselnya. "Coba
Pergulatan panas akhirnya selesai terlewati. Firman mengecup keningku lembut. Sedang aku hanya bisa memejamkan kedua mataku. Perlakuannya begitu hangat dan lembut. "Fir, boleh aku mengatakan sesuatu," ucapku, menatap kedua bola mata Firman yang begitu meneduhkan. Firman tak
Hari ini hari pernikahanku dengan Firman. Pria yang selama beberapa bulan ini selalu ada saat aku terpuruk. Pria itu dengan lantangnya mengucapkan kalimat sakra di depan penghulu dan kakak laki-lakiku sebagai wali nikah. 'Sahhh...' 'Alhamdulillah' Su
Pov Mama Dila Saat mendengar cerita Dila--putriku, jujur saja hatiku merasa sakit. Anak yang aku lahirkan dan besarkan dengan penuh kasih sayang dan perhatian, malah mendapatkan perlakuan tidak baik dari suami dan keluarga suaminya. Hatiku bergejolak, ingin sek












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan