Share

Bagian Ke-6

Penulis: Queen Sando
last update Tanggal publikasi: 2025-11-23 20:52:04

"Taruh tas lu disitu!" ujar Minah saat ia membuka pintu apartemen yang merupakan tempat tinggalnya.

Widuri mengekor langkah Minah, matanya liar menatap ke segenap penjuru ruangan. Kamar apartemen Minah tak begitu besar, tapi untuk ukuran orang yang tinggal seorang diri itu cukuplah luas.

Barang-barang di kamar itu juga cukup lengkap, sepertinya cerita tentang kesuksesan Minah di kota memang benar adanya.

"Taruh aja disitu!" ulang Minah sambil menunjuk pada salah satu sudut ruangan.

Widuri tergagap, lamunannya buyar, dengan gugup dan canggung, ia bergegas membawa tasnya dan meletakkan di sudut ruangan.

"Untuk sementara lu tinggal disini dulu" ujar Minah sambil melempar tas yang sedari tadi ia sandang ke atas sofa.

"Em..maaf..apa tempat kerjaku nanti dekat dari sini?" Widuri bertanya dengan hatihati.

"Itu nggak usah lu pikirin dulu, yang penting sekarang kita istirahat, oke! gue capek banget Wid, gue mau tidur dulu..oya, kalo lu laper lu liat aja apa yang bisa dimakan di kulkas!" ujar Minah sambil nyelonong pergi meninggalkan Widuri yang tampak bengong seperti orang linglung.

Minah sudah masuk ke dalam kamar, dan kini tinggallah Widuri seorang yang dilanda rasa canggung yang luar biasa, ia tiba-tiba teringat akan sang ibu. Ibunya pasti sedang cemas memikirkan dirinya, Widuri ingin sekali mengabari sang ibu kalau ia sudah tiba di kota dengan selamat, tapi ia tak punya ponsel, ia juga tak berami untuk meminjam ponsel Minah saat ini. Ah, Widuri gelisah, ia sepertinya harus lebih sabar, saat ini situasi belum tepat, Minah masih capek, mungkin nanti saat Minah sudah terlihat santai, barulah Widuri akan membahas soal ponsel itu.

Dengan langkah perlahan dan senyap, Widuri berjalan menuju ke ruangan lain dari kamar apartemen Minah. Matanya terus berkeliling memutari sudut demi sudut tempat itu, terkadang ia berdecak kagum, terkadang pula melenguh lirik melihat kondisi kamar apartemen itu.

Langkah Widuri tehenti saat ia tiba di senush tempat yang nampaknya adalah dapur. Mata Widuri langsung tertuju pasang benda berwarna hitam yang berada di sudut ruangan, lemari pendingin. Sempat ragu, tapi karena merasa sudah mendapat izin dari tuan rumah, Widuri akhirnya membuka pintu kulkas, dan seketika aroma aneh langsung menyeruak menyambut indera penciumanya. Widuri bstuk-batuk kecil, hidungnya merasa tak nyaman dengan aroma itu.

"Astaga Minah!" pekiknya lirih manakala ia melihat ada onggokan makanan basi yang masih tersimpan di kulkas.

Nafsu makan Widuri hilang seketika melihat isi kulkas di dapur Minah yang berantakan, tapi lambungnya terus meronta minta di isi. Apa boleh buat, ia meraih sebotol air mineral dan sebungkus biskuit yang belum dibuka, dan baru saja ia menutup pintu kulkas, tiba-tiba ia mendengar bel rumah berbunyi. Widuri bergegas menuju ke ruang tamu untuk memastikan bunyi itu berasal dari pintu kamar apartemen Minah.

"Minah! Minah! ada tamu!" panggil Widuri dari luar pintu kamar Minah yang terbuka.

"Minah!" ulang Widuri.

"Apa Wid?" jawab Minah lesu.

"Ada tamu"

"Siapa?"

"Nggak tau!"

"Lu buka, terus tanyain siapa dia?" ujar Minah yang masih tetap telungkup di atas kasur.

"Tapi..."Widuri takut, ia baru pertama kali ke kota, ia tak kenal siapapun selain Minah, ia takut jika teenyara yang ada di luar itu adaorang yang punya niat buruk.

"Aku takut Min..." ujar Widuri polos.

"Ya elah..Wid, gitu doang takut, gimana lu mau kerja!" celetuk Minah.

Widuri terdiam, ia hanya meneguk ludah yang terasa getir, ia tak punya pilihan, saat ini ia ikut Minah, jadi apapun yang Minah perintahkan, ia harus patuh.

"Udah sana!" serah Minah.

Widuri tak menjawab, ia bergegas pergi meski dengan perasaan takut yang luar biasa.

Bel terus berbunyi membuat bunyi yang nyaring menusuk telinga.

Tangan Widuri gemetar saat menegang gagang pintu sambil memutar nya perlahan.

Dan ketika pintu terbuka...

"Mona! sialan lu!!" seorang pria bertubuh besar dengan kepala plontos dan wajah yang sangar tampat mengumpat sambil berdiri congkak di depan pintu.

Widuri kaget bercampur ketakutan, ia mundur tak beraturan, keringat dingin langsung membasahi tubuhnya meski suasana di dalam apartemen twrasa dingin oleh sapuan pendingin udara.

"Sial! Mana Mona?!!" tanya pria itu pada Widuri sambil merangsek masuk meski Widuri belum mempersilahkan.

Mata pria paruh baya itu melotot tajam sambil berkeliling liar mencari orang bernama Mona yang sehak tadi ia cari.

"Mana Mona jalang itu?! cepat suruh dia keluar!!" desak pria itu kasar.

"Siapa Mo-na Pak..?!" tanya Widuri takut.

"Arrghh!!" pria itu tampak geram, ia melangkah masuk, tapi belum juga ia keluar dari area ruang tamu, tiba-tiba langkahnya terhenti.

"Bagus! muncul juga lu!" ucapnya sambil tersenyum sinis.

Mata Widuri mengikuti langkah si pria, ia terbelalak saat mengetahui siapa orang yang dari tadi di cari oleh pria itu.

"Wid, lu masuk dulu!" perintah Minah pada Widuri, Widuri yang sejak tadi menahan rasa takut bergegas pergi, masuk ke ruangan dalam, tapi perasaanya campur aduk, rasa takut begitu bergemuruh hebat menguasai dirinya saat ini.

"Mana janji lu?! lu mau ingkar lagi, haha?!" todong pria itu kasar.

"Em, gue minta waktu lagi Bos!" ujar Minah setengah merengek.

"Enak aja lu! gue udah ngasih lu waktu lama, tapi lu selalu ngulur-ngulur terus!" tukas pria itu ketus.

"Bosen gue! jangan mentang-mentang karena lu sering ngasih gue barang, terus lu bakal lepas dari utang-_utang itu, kagak bakal!" ucapan pria itu setengah berteriak hingga Membuat Widuri mampu mendengar percakapannya dengan Minah.

"Ta-pi Bos, gue saat ini beneran belum bisa bayar Bos" keluh Minah dengan wajah memelas.

"Ya terus kapan hah?! gue udah bayarin apartemen ini, tapi kalo masalah biaya hidup lain yang lu tutupi pake duit gue yang lu pinjem, gue gak bisa biarin. Lu mau gue bangkrut?! hah?! pokoknya lu harus balikin! atau kalo lu nggak bisa balikin tu duit, lu angkat kaki dari sini! dah muak gue ngurusi hidup elu!" pria itu terus mengoceh dengan suara yang lantang melampiaskan rasa kesalnya pada Minah.

"Jangan dong bos!" rengek Minah.

"Ya makanya buruan lu bayar!" sergah si pria.

"Iya, gue bakal bayar, tapi nanti, gue cari duit dulu!" janji Minah.

"Heh! Lagak lu cari duit, mulut lu selama ini juga gue yang nyumpel!" ejek si pria sambil tertawa kecil.

Minah terdiam sambil menggerutu lirih.

"Em, bos, gimana kalo gue cariin barang baru?" Minah mengajak bernegosiasi.

"Barang baru?!" pria itu terlihat tertarik dengan tawaran Minah sambil memicingkan matanya, masih merasa curiga.

"Iya Bos, gue bakal cariin bos barang baru, kesukaan bos. Cantik, kalem, dan pastinya masih segelan. Gimana?" wajah Minah terlihat sumringah, ada secercah harapan yang terpancar di wajahnya, ia yakin jika tawarannya kali ini akan mampu meruntuhkan keteguhan hati pria yang ada di hadapannya, bos Reno, nama pria itu.

###

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dijual Teman Dibeli Sultan   Bagian ke-37

    "Tuan, saya nggak enak sama nyonya Stela" ujar Widuri saat mereka melangkah keluar dari rumah Stela. "Apaan lu! kau gak enak sama Stela tapi kau gak pikirin perasaan aku?!" celetuk Zeka kesal sambil terus memegang erat lengan Widuri. "Bu-kan begitu tuan.." "Kau jangan lupa ya, aku yang udah buat kau terbebas dari monster sialan itu!" tukas Zeka. Kartu as! Widuri terdiam, tak bisa lagi menyangkal, dan memang seharusnya ia tak pantas untuk melakukan itu. Zeka benar, jika bukan karena kebaikan dari dirinya, entah bagaimana sekarang nasib Widuri. Tak ada pilihan selain patuh pada kehendak Zeka, toh bagi Widuri sebenarnya sama saja dengan siapa dia bekerja, yang penting ia sudah dapat pekerjaan dan peluang untuk bisa mendapatkan uang kini mulai terbuka. "Ayo cepat naik!" perintah Zeka saat ia sudah duduk di atas motor. Widuri merasa canggung, ia hanya menatapi motif sport itu sambil garuk-garuk kepala. "Ayo naik! jangan buang-buang waktu ku, aku bukan pengangguran yang gak a

  • Dijual Teman Dibeli Sultan   Bagian ke-36

    "Hei! mana gadis tadi?!" tanya Zeka dengan nada suara tinggi, tatapan yang tajam dan raut wajah yang dingin. "Maaf tuan, dia bersama nyonya besar" jawab seorang wanita paruh baya yang sedang merapikan meja makan. "Kemana mereka?" "Saya tidak tau tuan, tapi tadi setelah sarapan nyonya turun ke lantai bawah" ucap si wanita dengan kepala tertunduk tak berani untuk menatap Zeka. "Pufff!" Zeka membuang nafas, terlihat kecewa dia dan membuat si wanita menjadi serba meski sebenarnya itu tak ada kolerasinya dengan dirinya. Dengan terburu-buru Zeka bergegas turun ke lantai bawah. "Kakkkk!!!???!!!!" teriak Zeka dengan suara lantang yang menggema di ruangan luas yang merupakan ruang tamu itu, dua orang pegawai yang sedang bersih-bersih seketika menghentikan pekerjaannya dan berdiri dengan sikap tegap. "Hei! apa kalian melihat nyonya?!" tanya Zeka pada dua orang itu. "Ta-di nyonya besar keluar" jawab salah satu dari mereka dengan suara yang hati-hati takut salah. "Apa dia bersam

  • Dijual Teman Dibeli Sultan   Bagian ke-35

    "Nona, ayo perkenalkan dirimu pada nyonya besar!" pinta si wanita berseragam. Widuri tampak takut dan malu. "Ayo!" desak si wanita. Widuri maju perlahan, kini posisinya sejajar dengan wanita berseragam yang tadi membawa dirinya ke tempat itu. "Sa-ya..." suara Widuri terdengar lirih dan terbata. "Dia hendak melamar pekerjaan disini!" celetuk pria yang duduk di hadapan si wanita. Wanita itu langsung melihat pada si pria yang tetap tenang dan asyik menikmati makanannya. Begitu juga Widuri, ia sama tersentak nya dengan wanita itu hanya saja ekspresinya jelas berbeda dengan wanita itu. Jika wanita itu langsung menatap aneh pada si pria secara langsung, Widuri hanya berani menggerutu tak jelas di dalam hati dengan kepala yang masih tertunduk, takut dan malu. "Oh, begitu rupanya, jadi, siapa namamu?" tanya si wanita lagi yang kini kembali mengalihkan tatapan pada Widuri yang masih tetap membenamkan wajahnya. "E..." "Aku menolaknya!" serobot si pria, entah mengapa ia seolah

  • Dijual Teman Dibeli Sultan   Bagian Ke-34

    Sepeninggal pria itu, Widuri masih duduk di atas tempat tidur dengan tubuh yang belum jua kembali terbalut pakaian sepenuhnya. Ia masih terguncang dengan peristiwa tak terduga yang baru saja terjadi. Seperti mimpi, ia terbangun dari tidur dengan perasaan bingung dan berharap semua yang sempat terjadi itu sungguh hangat sebuah ilusi. Bagaimana bisa ia dengan sengaja memamerkan tubuhnya di hadapan pria asing dan tanpa sedikitpun rasa malu, ia secara terang-terangan rela menukar tubuh polosnya itu dengan sejumlah uang. "Krekk!" pintu berderit pelan, Widuri gugup, ia yang belum sempat mengenakan kembali pakaiannya buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang nyaris bug*l itu, kedua matanya menyorot tajam ke arah pintu, memastikan siapa yang datang. "Maaf nona, sebaiknya nona segera bersiap" seorang wanita berseragam yang datang. "Pufff!" Widuri membuang nafas, agak lega, sebab semula ia pikir jika itu adalah pria tadi. Selesai bicara, wanita berseragam itu bergegas pergi

  • Dijual Teman Dibeli Sultan   Bagian Ke-33

    "Tuan, saya rela melakukan apapun, ya, apapun asal anda mau membantu saya" ujar Widuri tiba-tiba sambil beranjak menuju ke tempat tidur, pikirnya semua pria di kota itu sama, sebab dari dua pria yang ia temui sebelumnya, mereka semua menginginkan hal yang sama dari Widuri. Dan mungkin saja pria yang ini juga demikian. Widuri sudah tak perduli pada apapun saat ini, bahkan satu-satunya harta yang ia miliki juga akan ia berikan pada pria itu yang penting ia bisa segera mendapatkan uang demi membayar hutang pada juragan Sarmo. Waktu Widuri tak banyak saat ini. Widuri duduk di atas tempat tidur dengan posisi tubuh yang ia atur sedemikian rupa agar terlihat sensual, dan seolah benar-benar sedang berpacu dengan waktu, gadis itu mulai menurunkan secara perlahan bagian atas dari bajunya yang kusut itu. Pemandangan yang cukup miris, beberapa waktu yang lalu ia mati-matian mempertahankan mahkota yang hanya akan ia serahkan suatu hari nanti pada pria yang benar-benar ia cintai, tapi kini tidak

  • Dijual Teman Dibeli Sultan   Bagian Ke-32

    Widuri tertegun, saat pria itu melangkah perlahan, seketika ia kembali teringat akan satu hal penting, ibunya. Wanita tua nan malang itu tak tahu seperti apa kini nasibnya. Seumur hidup tak pernah barang sedetikpun mereka berpisah apalagi tanpa ada kabar dan juga kejelasan. Bahkan disaat-saat yang paling sulit paska meninggalnya sang ayah, Widuri tetap setia berada di samping sang ibu, memberikan dukungan luar biasa agar wanita itu tetap mau berjuang agar tetap hidup, meski dengan segala keterbatasan. Dan kini, sudah beberapa hari, jangankan uang delapan juta, kabar lun tak kunjung Widuri berikan pada ibunya yang entah apa masih sehat atau justru sudah terbaring sakit akibat tak sanggup menahan rasa takut dan sedih yang teramat karena tak kunjung mendapat kabar tentang sang anak. Dan juragan Sarmo, tinggal menghitung hari, pria arogan itu akan datang untuk menyita rumah milik orang tua Widuri, Widuri tak sanggup membayangkan ketakutan yang akan menyerang sang ibu, seorang diri mengh

  • Dijual Teman Dibeli Sultan   Bagian Ke-31

    Wanita itu tak menjawab pertanyaan Widuri, ia sekali lagi hanya tersenyum dan kemudian berpamitan pergi, meninggalkan Widuri yang takut dan bingung bukan main. Widuri celingukan, ia mencoba untuk mengingat-ingat kejadian yang terakhir kali sebelum pada akhirnya ia berada di tempat asing itu. "A

  • Dijual Teman Dibeli Sultan   Bagian Ke-30

    "Ke-napa kau batalkan tuan?!" protes Widuri saat mereka berjalan keluar motel. Diluar hujan kian deras. Zeka tak menjawab, ia mempercepat langkahnya, hawa dingin yang menusuk membuat pria tampan itu disergap rasa dingin yang luar biasa. Ia buru-buru masuk ke dalam mobil. Widuri mematung, masih

  • Dijual Teman Dibeli Sultan   Bagian Ke-25

    "Tuan tolong saya!" Widuri menangkupkan tangannya, memohon belas kasihan Zeka, orang asing yang sama sekali tak ia kenal. "Hei jalang! kau pikir dengan siapa kau sedang bicara, hah?! apa kau pikir dia akan sudi mendengar perkataan konyol mu itu?! sudahlah, kau lebih baik diam! setelah urusan kita

  • Dijual Teman Dibeli Sultan   Bagian Ke-22

    Widuri terdiam, terlalu banyak fakta mengejutkan sekaligus menakutkan yang ia dapatkan hanya dalam hitungan hari saja. Pertama, fakta bahwa kesuksesan yang selama ini Minah raih, ternyata semua itu bukan dari hasil kerja kerasnya, bukan karena ia sukses besar dengan pekerjaannya di kota, maksudny

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status