LOGINNadia, mahasiswi cerdas dan ceria di Fakultas Ekonomi, tak pernah menyangka bahwa cinta bisa menjadi senjata yang paling mematikan. Awalnya, Reza datang sebagai pelindung, tempat bersandar, dan cinta pertama yang mengubah dunianya. Tapi di balik perhatian manisnya, tersembunyi niat manipulatif yang perlahan menggerogoti harga diri Nadia hingga tubuh, nama baik, dan kepercayaannya direnggut habis. Ketika Nadia mulai bangkit dan bersuara, Reza tak tinggal diam. Dari sabotase penyebaran foto pribadi, ia menyerang habis-habisan demi satu hal: ingin membuat Nadia Menyerah dan kalah. Namun dari reruntuhan itu, Nadia perlahan berdiri. Dengan luka yang belum sembuh dan trauma yang masih basah, ia memutuskan melawan. Didampingi oleh Dimas sosok baru yang tidak mencoba menyelamatkannya, tapi berdiri di sisinya. Nadia berjuang mengungkap kebenaran. Tapi semakin dalam ia menghadapi kesadisan Reza yang ingin mencelakainya. Dunia yang selama ini ia percaya pun mulai retak. Nadia Hampir mengakhiri hidupnya. Ini bukan kisah tentang cinta yang menyembuhkan. Ini adalah kisah tentang seorang perempuan yang dihancurkan oleh orang yang dicintainya dan memutuskan untuk tidak hanya bertahan, dan bangkit dari keterpurukannya.
View MorePagi berikutnya datang tanpa ampun. Aku bangun sebelum matahari sepenuhnya muncul, dan mendapati perasaan resah masih menggantung di dada. Alika masih tertidur di sofa, tubuhnya meringkuk seperti anak kecil yang kelelahan setelah perang panjang. Selimut tipis menutupi tubuhnya, dan wajahnya untuk pertama kalinya terlihat damai.Aku berjalan ke dapur, menyeduh kopi, lalu berdiri lama di depan jendela. Jakarta masih setengah terjaga. Tapi hatiku sudah bersiap untuk perang hari ini. Kami tahu mereka akan melawan balik.“Pagi,” suara berat Dimas memecah keheningan. Ia datang dari kamar, mengenakan kaus gelap dan celana training, matanya masih mengantuk tapi sorotnya tajam.“Pagi,” balasku pelan.Dia berdiri di sebelahku, lalu menyesap kopi dari cangkirku tanpa izin. “Hari ini kita harus mulai identifikasi siapa-siapa saja yang mungkin bisa kita ajak bersaksi.”Aku mengangguk. “Aku terus mikir soal mahasiswi yang dulu sempat hilang. Namanya Tania. Waktu itu dia mahasiswa FE, satu angkatan
Pagi itu, berita tentang Yusuf mulai muncul di media sosial. Bukan hanya karena video Alika, tapi juga karena beberapa akun aktivis perempuan ikut menyuarakan kasus yang selama ini dibungkam. Hashtag dengan namaku dan Alika muncul di mana-mana. Foto tangkapan layar pesan Yusuf ke Alika tersebar. Wajah tampan yang dulu dielu-elukan di kampus kini dibanjiri hujatan.Aku membuka layar ponselku sambil menyesap kopi yang bahkan tak terasa di lidah.“Kita harus bergerak cepat,” ujar Dimas dari balik laptopnya. “Sebelum keluarganya mulai main kotor lagi.”“Ardi bilang pengacara mereka sudah mulai sibuk ngelobi,” tambahnya, menoleh padaku. “Kita harus siapkan konferensi pers. Bukan hanya bukti, tapi suara. Kita buat publik tahu siapa sebenarnya Yusuf dan keluarganya.”Aku mengangguk. “Kamu yakin Alika siap bicara di depan umum?”Dimas mengangguk. “Dia bilang, kalau kamu ada di sampingnya, dia siap. Kita nggak akan biarkan dia sendirian.”Aku tersenyum tipis. “Kalau begitu, ayo kita mulai."--
Langit siang itu terasa lebih muram dari biasanya, seakan menyerap semua perasaan yang tadi berkecamuk dalam ruangan sempit berjeruji besi itu. Aku melangkah keluar dari ruang kunjungan penjara dengan langkah berat. Udara terasa berbeda di luar lebih lapang, tapi juga lebih sunyi. Dimas menyusul di sampingku, diam-diam. Wajahnya tak banyak bicara, tapi aku tahu dia menahan sesuatu. Mungkin emosi. Mungkin amarah. Atau sekadar bingung harus memelukku atau membiarkanku diam. Kami berjalan sejajar, menyusuri koridor menuju pintu keluar. Tidak ada satu kata pun yang terlontar, tapi suara langkah kaki kami seakan bergema lebih keras dari biasanya. Aku akhirnya membuka suara. "Terima kasih sudah ikut masuk tadi..." suaraku lirih. Dimas mengangguk. "Aku nggak mau kamu sendirian." Aku berhenti di tangga luar gedung itu. Mataku masih terasa berat. Reza menangis. Reza meminta maaf. Reza menyebut-nyebut ibunya dan dosa-dosa masa lalunya. Tapi tak ada yang bisa menghapus kenyataan. Tak ada a
Langit mendung menyelimuti Jakarta sore itu. Awan menggantung berat, seolah menahan hujan yang tak kunjung jatuh. Di pelataran sunyi sebuah rumah tahanan negara, sebuah mobil hitam berhenti. Mesin dimatikan, namun detak jantung di dalamnya masih nyaring.Dimas duduk di kursi pengemudi. Di sebelahnya, Nadia diam menatap lurus ke depan. Wajahnya tenang, tapi matanya menyimpan badai.Tangannya digenggam erat oleh Dimas. Bukan sekadar genggaman, tapi janji yang tak diucapkan: Kau tidak sendirian.“Kamu yakin mau ketemu dia?” Dimas bertanya pelan, nadanya lembut tapi dalam, seolah kata-katanya disaring dari kekhawatiran.Nadia menoleh sedikit, namun tidak sepenuhnya menatap. Matanya tetap mengarah ke kejauhan. “Aku nggak datang buat dia,” ucapnya lirih. “Aku datang buat diriku sendiri.”Dimas mengangguk. Ia tahu, keputusan ini bukan sekadar keberanian ini adalah titik balik.Langkah kaki mereka menggema di lorong panjang lembaga pemasyarakatan. Bau logam, cat tembok tua, dan udara lembap m
“Terkadang kebenaran tak perlu disorot atau dibela keras-keras. Ia hanya butuh waktu, keberanian, dan satu suara yang cukup kuat untuk tak lagi diam.” Langit pagi itu kelabu. Kabut tipis masih menggantung ketika aku melangkah ke ruang konsultasi hukum universitas. Kakiku terasa berat, seolah setiap
Semuanya terjadi perlahan, seperti kabut yang melingkupi pagi hari. Tak ada satu pun momen yang membuatku sadar aku sudah terlalu jauh. Tak ada tanda bahaya yang membuatku waspada. Semuanya datang dengan lembut, seperti bisikan nyaman yang menenangkan luka, tapi diam-diam merampas akal dan logikak
Hari itu aku datang terlalu pagi. Kampus masih sepi, langit diguyur embun, dan rumput halaman basah seperti baru selesai menangis semalaman. Tapi dadaku justru penuh degup. Ini hari pertama aku resmi menjadi mahasiswa. Aku mengenakan kemeja putih bersih dan rok panjang biru tua. Rambutku kukuncir r
“Ada dua cara kehilangan diri sendiri. Pertama: karena kau tersesat. Kedua: karena seseorang menggiringmu ke jurang itu sambil berkata, ‘aku mencintaimu.’” --- Ruang Sidang Kampus Suara hujan mengetuk jendela kaca ruang sidang. Tipis, berulang, menyelinap masuk seperti detak jantungku yang tak ku












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore