MasukKakak, done 4 bab buat hari ini. selamat membaca, makasih banyak. Ditunggu komentar kalian
Nindy melipat bibirnya saat mendengar pertanyaan sang mama. Dia diam beberapa detik, berusaha menyusun kata-kata yang tepat untuk menjelaskan situasi sebenarnya kepada sang ibu."Dulu, aku dan Noah pernah membohongi Bibi Kamila, Ma." Nindy jujur karena masalah ini dia belum pernah membicarakan dengan sang mama. "Aku dan Noah berpura-pura pacaran di depan Bibi. Karena itu Bibi Kamila masih kesal padaku, padahal sekarang kami benar-benar pacaran." Nindy menatap canggung ke sang mama, karena dia sudah berani membohongi orang tua.Indah tersentak sampai matanya membola lebar. Meski dia tak percaya dengan apa yang baru saja Nindy katakan, tetapi Indah hanya bisa menghela napas panjang."Kenapa kamu bisa bohong begitu, Nindy?" tanya Indah dengan nada tertahan, tak menyangka anak perempuannya melakukan hal sejauh itu.Nindy kembali diselimuti penyesalan jika ingat akan kejadian itu. Tetapi, dia juga salah."Dulu aku dan Noah masih sama-sama baru kenal, Ma. Keadaannya rumit saat itu," balas Ni
Nindy melirik ke Kamila setelah mendengar pertanyaan ibunya. Dia tak langsung menjawab, Nindy sedikit panik saat mendapati Kamila memandangnya dengan tatapan datar. Namun, Nindy sadar kali ini dia harus berani. Dia harus membuktikan kepada Kamila bahwa tidak ada lagi hal yang dia sembunyikan.Nindy menarik napas pelan, menguasai dirinya agar tidak tegang, lalu menatap ibunya dengan tenang. "Kenal, Ma. Beliau ini Bibi Kamila ... mamanya Noah."Indah seketika terkejut. Matanya membola lebar saat kembali menatap pada Kamila dengan ekspresi tidak percaya. Indah tentu sudah tahu soal Noah, pria yang kini sedang menjalin hubungan dengan putrinya.Atmosfer di meja itu mendadak tegang. Saat Indah ingin membuka bersuara, Kamila sudah lebih dulu memotong."Apa Ibu tahu kalau Nindy dan putra saya pacaran?" tanya Kamila dengan nada suara yang sulit ditebak.Indah melihat ekspresi Kamila yang begitu datar. Dia berdeham pelan dan berusaha tetap tenang. "Tahu, Bu. Noah sering main ke toko juga, ka
Keesokan harinya. Kamila mendatangi alamat toko kue yang tertera di kartu nama pemberian Indah. Sore ini Kiran akan tiba setelah liburan 7 hari, jadi Kamila membeli kue untuk menyambut putrinya.Begitu melangkah masuk ke dalam toko, aroma harum mentega dan vanila yang khas langsung menyapa indra penciumannya. Interior toko bergaya minimalis itu terasa sangat bersih, rapi, dan nyaman.Kamila berjalan menuju etalase kaca dan mulai melihat-lihat pilihan kue yang tertata cantik. Seorang pelayan toko melangkah mendekat untuk melayaninya."Selamat siang, Bu. Ada yang bisa dibantu?" sapa pelayan itu ramah."Saya mau mencari kue stroberi," sahut Kamila lembut ketika menoleh pelan ke pelayan yang berdiri di sampingnya.“Ada, Bu. Di etalase sana, silakan dilihat-lihat dulu, mau kue yang mana.” Pelayan menunjuk sopan ke etalase yang dituju.Kamila melangkah mendekat, dia memandangi kue-kue yang terpajang di sana, semuanya cantik-cantik dan serba strawberry.Saat Kamila sedang memilih kue yang
Beberapa hari kemudian.Kamila ada di supermarket. Dia sedang memilih beberapa keperluan di luar kebutuhan dapur. Kamila berjalan sendiri sambil menenteng keranjang belanjanya. Dia menyusuri deretan rak, dan sesekali mengambil barang yang diinginkan.Sampai langkahnya terhenti di depan rak makanan ringan, lalu tangannya terulur hendak mengambil sebuah kemasan cookies rasa strawbery.Namun, di saat yang bersamaan, sebuah tangan lain juga terulur ke arah kemasan yang sama.Kamila menoleh cepat, tatapannya tertuju pada wanita paruh baya berpakaian sederhana yang berdiri di sampingnya dengan ekspresi terkejut seperti dirinya.Kedua wanita paruh baya itu sempat membeku sejenak sebelum sama-sama menarik tangan masing-masing. Wanita di samping Kamila mengulas senyum ramah, lalu tertawa kecil menutupi rasa canggungnya."Aduh, maaf ya, Bu. Saya tidak sengaja, main ambil saja," ucap wanita yang tak lain Indah—Ibu Nindy, dengan nada sopan dan penuh penyesalan.Melihat sikap dan tutur kata wanit
Keesokan harinya.Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden kamar, membiaskan pendar cahaya tipis di atas ranjang berukuran besar. Suasana di dalam kamar resort itu terasa begitu tenang dan hangat.Di balik selimut tebal yang membungkus tubuh mereka, Kiran dan Elvano masih terlelap dalam posisi saling memeluk. Kehangatan tubuh Elvano yang mendekapnya begitu erat membuat Kiran perlahan menyadari bahwa hari sudah pagi.Kiran membuka matanya perlahan. Wajah Elvano yang masih tertidur lelap berada begitu dekat di depan matanya. Senyum kecil terbit di bibir Kiran saat memandangi betapa polosnya wajah pria ini saat terlelap, dan betapa tampannya Elvano saat terbangun yang bisa membuat jantungnya senantiasa berdetak dengan cepat.“Tidurlah lebih lama,” bisiknya lalu mengecup pelan pipi Elvano.Saat mencoba bergerak untuk bangun, Kiran menyadari kondisi mereka yang sama sekali tidak mengenakan pakaian di balik selimut tebal tersebut.Rasa canggung dan panas seketi
Kiran dan Elvano keluar dari kamar mereka setelah selesai membersihkan diri. Langit yang semula jingga kini bertukar warna menjadi kebiruan gelap yang dihiasi pendar cahaya bulan dan bintang. Angin malam berembus perlahan, membawa aroma khas laut yang menenangkan. Kiran melangkah bersama Elvano dengan terus menggenggam tangan suaminya ini. Sesekali dia tersenyum saat menoleh pada Elvano. Sedang Elvano sudah menyiapkan kejutan kecil untuk istrinya. Di salah satu sudut pantai yang agak terpisah dan tenang, sebuah meja makan bundar lengkap dengan lilin aroma terapi serta hiasan bunga segar sudah tertata rapi. Cahaya lampu gantung kekuningan yang dipasang melingkar di sekeliling area tersebut memberi kesan hangat dan intim di tengah gelapnya malam pesisir. "El... ini kamu yang minta siapkan?" tanya Kiran dengan mata berbinar, menatap sekeliling area makan malam mereka yang sangat spesial. Elvano lebih dulu mengajak Kiran menuju meja yang sudah disiapkan pelayan resort sesuai pesan







