LOGINNindy menahan napasnya di tenggorokan karena ia mulai menyadari arah pembicaraan suaminya yang terdengar sangat putus asa dan penuh rasa bersalah tersebut."Kamu mau nurutin perintah ibumu buat buang aku ke jalanan malam ini, Mas?!" tanya Nindy dengan nada suara yang sangat kecewa dan tidak percaya.Fajar memukul lantai keramik menggunakan kepalan tangannya secara berulang kali untuk merutuki kelemahan fisiknya sendiri di hadapan istrinya."Karirku bakal hancur total dan aku bakal jadi gembel kalau ibuku sampai datang bikin keributan di kantor besok pagi, Sayang!" jawab Fajar sambil terus menangis meratapi nasibnya."Terus janji manismu buat terus ngelindungin aku dari keluargamu itu mana buktinya, Mas?!""Aku ini cuma laki-laki cacat yang nggak berguna, Sayang! Aku udah nggak punya tenaga dan kekuatan uang buat ngelawan kekuasaan ibuku sendiri!" ratap Fajar dengan ekspresi wajah yang sangat menyedihkan.Mendengar pengakuan jujur mengenai kelemahan suaminya tersebut, dada Nindy terasa
Nindy menggelengkan kepalanya dengan cepat karena ia sama sekali tidak sanggup menerima tuduhan fitnah yang sangat tidak masuk akal tersebut."Aku nggak pernah punya niat sejahat itu buat ngancurin suamiku sendiri di depan warga, Bu!" bantah Nindy dengan suara bergetar hebat menahan isak tangis."Halah, nggak usah banyak alasan kamu! Kamu sengaja bikin anakku kelihatan cacat di mata tetangga biar orang-orang nggak fokus nanya kenapa rahimmu itu selalu kosong selama tiga tahun ini!"Tuduhan tanpa dasar itu langsung memotong setiap jalur logika di kepala Nindy, membuat wanita itu hanya bisa terdiam kaku sambil menelan ludahnya dengan susah payah.Ibu Fajar memalingkan wajahnya dari arah pintu masuk, lalu ia memusatkan pandangannya kepada anak laki-lakinya yang masih berdiri mematung di sudut ruangan."Dengerin perintah Ibu baik-baik sekarang, Fajar!" ucap wanita paruh baya itu dengan nada suara yang sangat mendominasi dan mengancam.Fajar mengangkat wajahnya yang terlihat sangat pucat p
Nindy langsung menarik tuas pembuka pintu dan melangkah turun dari dalam mobil sedan berwarna hitam tersebut. Ia menutup pintu penumpang itu dengan dorongan yang cukup keras, lalu ia membalikkan badannya dan berjalan cepat menuju pagar besi rumahnya.Nindy mengira bahwa Malik akan langsung menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya pulang begitu ia keluar dari kendaraan tersebut.Tetapi sebaliknya, Malik justru mematikan lampu utama mobilnya dan laki-laki itu tetap memarkirkan kendaraannya tepat di tempat yang sama.Malik menunjukkan sikap protektifnya secara nyata dengan memilih menunggu di dalam kabin mobil dalam kondisi gelap tanpa menyalakan mesin.Laki-laki itu sengaja melakukan hal tersebut untuk memastikan Nindy benar-benar aman dari potensi kekerasan fisik, murni karena ia sangat mengkhawatirkan keselamatan pasiennya itu jika terjadi pertengkaran hebat di dalam rumah.Nindy sama sekali tidak menyadari pengawasan dari Malik tersebut dari arah belakang punggungnya.Wanita itu me
Setelah mereka bertiga berbincang singkat mengenai hal-hal ringan selama sepuluh menit, ibu Malik akhirnya memutuskan untuk pamit pulang agar tidak mengganggu waktu istirahat pasien anaknya."Ibu pulang dulu ya, Malik. Kamu wajib antar Nindy pulang sampai ke depan rumahnya dengan selamat hari ini!" perintah ibu Malik dengan nada suara yang sangat tegas dan tidak menerima penolakan."Iya, Bu. Aku pasti antar Nindy pulang sekarang juga," jawab Malik sambil menyalimi punggung tangan ibunya.Sesuai dengan perintah tegas dari ibunya tersebut, Malik langsung mengambil kunci mobilnya dari atas meja kerja setelah ibunya keluar dari ruangan poliklinik.Malik berjalan lebih dulu untuk menuntun langkah Nindy menuju area tempat parkir khusus dokter di lantai dasar rumah sakit.Laki-laki itu membukakan pintu penumpang bagian depan untuk Nindy, lalu ia masuk ke kursi kemudi dan mulai menyalakan mesin mobil pribadinya.Di dalam perjalanan membelah jalanan kota menuju rumah Nindy, suasana di dalam ka
Nindy menganggukkan kepalanya dengan cepat sambil meremas ujung selimut tebal itu menggunakan kedua tangannya dengan sangat kuat."Iya... tolong jangan biarin ibumu masuk dan buka pintu kecil ini, Malik," mohon Nindy dengan tatapan mata yang sangat memelas dan penuh rasa panik."Aku janji dia nggak akan masuk sampai ke belakang sini. Kamu tenang aja dan lekas pakai bajumu," balas Malik untuk memberikan jaminan keamanan mutlak.Setelah memastikan tubuh Nindy tertutup rapat dan posisinya tidak akan terlihat dari celah mana pun, Malik langsung membalikkan badannya.Mantan kekasih Nindy itu memungut kemeja kerjanya yang tergeletak sembarangan di atas lantai keramik bersuhu dingin tersebut.Laki-laki itu memakai pakaiannya kembali dengan gerakan tangan yang sangat tergesa-gesa.Malik mengancingkan kemejanya secara cepat tanpa memedulikan urutan kancing yang sedikit berantakan, lalu ia berjalan keluar dari ruang istirahat pribadi tersebut.Malik menarik gagang pintu kecil itu dan menutupnya
Nindy menatap mata pria tegap di atasnya itu dengan pandangan yang masih butuh pemuasan lagi.Pelepasan fisik melalui jari barusan memang terasa sangat nikmat, tetapi Nindy menyadari secara medis bahwa hal itu sama sekali tidak akan menuntaskan penyakit kelainan gairahnya secara permanen.Selain itu, ingatan Nindy kembali berputar tajam pada ancaman kasar ibu mertuanya yang akan membawa surat cerai resmi besok pagi.Nindy menyadari secara mutlak bahwa ia membutuhkan hasil pembuahan instan di dalam rahimnya hari ini juga untuk menyelamatkan pernikahan dan harga diri suaminya dari cibiran tetangga.Nindy mengangkat kedua tangannya lalu menarik bahu lebar Malik secara paksa agar tubuh telanjang pria itu menindihnya lebih rapat."Pelepasan tadi belum cukup buat nuntasin penyakitku, Malik... ahhh..." mohon Nindy dengan tatapan mata yang sangat nekat dan penuh keputusasaan."Kamu beneran siap dan sadar penuh buat nerima aku masuk secara utuh ke dalam rahimmu?"Malik memastikan kembali perse







