LOGINSuara itu begitu lirih, bagaikan semut yang sedang berbisik, seringan biji dandelion yang melayang jatuh, atau seperti siput yang merayap perlahan. Mustahil orang biasa mampu menyadarinya.Dalam keadaan normal, Tirta seharusnya tidak mungkin bisa mendengar suara selemah itu. Namun, dia telah terlalu lama hidup seorang diri dalam kesunyian.Dengan tingkat kultivasi dan kekuatannya, seharusnya dia masih bisa hidup setidaknya 2.000 tahun lagi. Namun kini, tubuhnya telah renta dan rapuh. Dia sedang berjalan menuju akhir kehidupannya.Selama hampir 2.000 tahun yang panjang itu, dia telah menjelajahi setidaknya lebih dari 3.000 dunia. Yang dilihatnya hanyalah reruntuhan dan kesunyian yang membeku.Sepanjang proses itu, selain dirinya sendiri, Tirta tidak pernah mendengar suara sekecil apa pun.Karena itu, sekecil apa pun suara yang terdengar di telinganya akan terasa memekakkan. Setiap bunyi seolah menjelma menjadi petir yang menyambar di siang bolong, bergema tanpa henti."Suara ini ... dar
Setelah menjelajahi beberapa ratus planet lagi, Tirta melewati sebuah danau biru yang jernih.Tiba-tiba dia merasa, setelah terlalu lama terbiasa melihat warna abu-abu dan merah darah, danau ini benar-benar indah.Airnya sebening kristal dan berwarna biru kehijauan dengan riak yang bergelombang. Benar-benar seperti sebongkah giok raksasa."Aku bahkan sudah berubah seperti pria paruh baya .... Dengan kekuatanku ... meski selama ini aku nggak berkultivasi, kalau sampai bisa kelihatan setua ini, setidaknya 500 tahun pasti sudah berlalu."Tirta tak kuasa melangkah mendekat. Dia ingin membersihkan diri. Namun, ketika melihat pantulan wajahnya di permukaan danau, dia tertegun cukup lama.Selama perjalanan ini, Tirta tidak memiliki seorang pun untuk diajak berbicara. Awalnya dia masih sering bergumam pada dirinya sendiri. Namun lambat laun, dia makin jarang berbicara. Kini, suaranya pun berubah menjadi sangat serak."Hehe .... Kalau beberapa ratus tahun lagi berlalu, mungkin aku akan benar-be
"Apa pun yang terjadi, aku harus melihat bumi sekali lagi ...."Mungkin bumi sudah tidak ada lagi, tetapi itulah satu-satunya keinginan yang tersisa di hati Tirta. Bagaimanapun caranya, dia harus menemukannya. Jika tidak bisa menemukannya, dia sudah siap mengakhiri hidup.Dengan tekad seperti itu, Tirta terus melangkah maju. Dia sama sekali tidak memikirkan apakah semua ini memiliki arti. Dia juga tidak memikirkan, di Dunia Seribu Raya yang sudah hancur berkeping-keping ini, berapa lama waktu yang harus dihabiskan untuk menemukan bumi.Satu demi satu dunia yang telah hancur, disingkirkan Tirta dari daftar pencariannya.Di dalam ilusi ini, semuanya terasa begitu nyata. Ditambah lagi, batin Tirta telah terguncang hebat hingga tak lagi mampu membedakan mana yang nyata dan mana yang bukan. Rasanya seperti dia benar-benar telah menjalani pencarian ini berulang kali.Di sepanjang perjalanan Tirta, bermacam pikiran berseliweran."Planet ini tampaknya belum hancur terlalu parah. Mungkin masih
Dibandingkan sebelumnya, aura Yumika telah mengalami perubahan total seperti sudah melewati tempaan pedang, api, dan ujian hidup serta mati. Di balik ketenangannya itu, kini tersembunyi ketajaman yang luar biasa. Dia bagaikan sebilah pedang pusaka tiada tanding yang telah dimasukkan kembali ke dalam sarungnya, seluruh niat membunuhnya tersembunyi dengan rapat.Namun, begitu pedang itu terhunus, tidak seorang pun yang akan meragukan ketajaman dan daya bunuhnya."Nona Yumika, Tuan Tirta ...." Priya pun menceritakan secara singkat apa yang terjadi pada Tirta."Bisa dibilang, kalau Tirta nggak mampu memperoleh pencerahan sendiri, berarti dia akan terjebak di dalam sana seumur hidup?" tanya Yumika sambil mengernyitkan alisnya dengan erat karena tidak ingin menerima kemungkinan yang begitu mengerikan.Namun, meskipun sekarang dia ingin kembali ke pintu masuk jalur keempat untuk mencari Tirta, hal itu sudah tidak mungkin dilakukan karena orang yang sama hanya bisa jalur ujian itu sekali. Jika
Seluruh dunia besar telah musnah hingga keheningan yang menyelimuti segalanya begitu mengerikan, tak tersisa sedikit pun jejak kehidupan. Inilah pemandangan kiamat yang sesungguhnya.Saat Tirta melihat ke sekeliling, hanya terlihat puing-puing kehancuran di mana-mana. Kelabu serta merah darah dan kematian serta kemusnahan, itu satu-satunya warna yang memenuhi dunia ini dan tak terlihat sedikit pun tanda kehidupan. Planet-planet telah meledak dan hanya tersisa pecahan-pecahan yang melayang di angkasa, seolah-olah sedang menceritakan kesedihan yang tak berujung.Yang menemani Tirta hanya kesepian yang abadi dan kesedihan yang tak bertepi. Di seluruh alam semesta ini, ternyata tidak ada satu pun lagi makhluk hidup selain dia. Rasa sunyi, duka, dan hampa yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata itu menekan hatinya hingga hampir hancur.Kesadaran Tirta kadang-kadang terpukul. "Semua orang sudah mati, hanya sisa aku sendirian. Apa gunanya lagi aku tetap hidup?"Namun, beberapa saat kemu
Mutiara Petir Langit memang tidak memerlukan energi spiritual untuk diaktifkan. Dengan fisik tingkat semi pencapaian agung, Sodam mengerahkan seluruh tenaga untuk melempar hingga mampu menembus udara dan menghancurkan logam serta batu. Ruang di tempat aneh ini memang tidak sampai retak, tetapi kecepatan dan daya hancurnya tetap tidak boleh diremehkan."Tuan Tirta," gumam Priya dengan pelan dan hatinya langsung terkejut. Dari balik lengan bajunya, sebuah belati yang ditempa dari besi hitam berusia sepuluh ribu tahun dari dasar laut pun perlahan-lahan muncul. Tanpa ragu sedikit pun, dia melemparnya ke arah Sodam yang tidak waspada dengan sekuat tenaga.Sayangnya, Mutiara Petir Langit akhirnya menghantam tubuh Tirta terlebih dulu. Benda itu tadinya hanya sebesar buah kelengkeng, tetapi ledakannya seperti puluhan ribu sambaran petir saat meledak. Benda itu meraung, menggelegar, menari dengan liar, dan memancarkan wibawa langit yang seolah-olah hendak memusnahkan segala sesuatu.Energi yang
Setelah kembali ke tempat tinggalnya, Devika mengamati sekeliling. Dia memastikan Gaurav tidak berada di vila terlebih dahulu sebelum mengeluarkan Pil Pembentukan Fondasi yang diberikan Tirta dengan hati-hati.Devika menggenggamnya sambil memuji, "Karakter pria berengsek ini memang nggak bagus, tapi
Sementara itu, di mobil taksi. Sebelumnya Tirta mengendarai mobil Mercedes Maybach, jadi dia sedikit kewalahan saat mengendarai mobil manual pertama kali di jalanan yang padat. Bahkan, dia tidak sempat memikirkan Linda lagi.Ketika melewati belokan terakhir menuju mal, mesin mobil sudah mati keempat
Tirta memeluk Bella dan menciumnya, lalu menyahut seraya tersenyum, "Sudah ditemukan. Aku mau bawa kamu temui dia. Selain itu, ayahku juga datang. Mereka lagi tunggu kita di vila Kak Saba."Bella juga ikut merasa senang. Dia menarik Tirta keluar dari vila dan berseru, "Baguslah! Tirta, ayo kita cepa
Akan tetapi, sebelum para dokter menyelesaikan ucapan mereka, Gaurav melambaikan tangannya untuk mengisyaratkan mereka keluar. Dia berkata, "Cukup. Pemuda ini sudah datang, kalian nggak usah obati lukaku lagi. Kalian keluar saja."Para dokter merasa tidak tenang melihat Tirta masih begitu muda dan t







