LOGIN"Petani Suci bisa dibilang merupakan salah satu guru yang sangat berjasa bagiku. Sebagian besar kemampuan medisku kupelajari dari beliau.""Sedangkan bulu-bulu ini berasal dari anjing peliharaan beliau. Anjing itu dititipkan kepadaku. Hanya saja, akhir-akhir ini dia tidak patuh dan berkeliaran ke mana-mana, sampai-sampai aku kehilangan jejaknya."Tirta memang merasakan aura anjing hitam besar itu dari tubuh Tabib Suci. Karena itulah dia mengeluarkan segumpal bulu anjing untuk memastikan dugaannya.Namun, dia sama sekali tidak menyangka, Tabib Suci ternyata langsung menyebut nama Petani Suci. Hal itu juga membuat Tirta sangat terkejut."Petani Suci adalah gurumu?""Hm ...."Mendengar jawaban itu, tatapan Tabib Suci memperlihatkan keraguan. Jelas, dia belum sepenuhnya memercayai perkataan Tirta."Kalau begitu, berarti kamu berasal dari dunia itu?""Benar," jawab Tirta. "Boleh aku bertanya, apakah anjing hitam itu berada di sini?""Memang dia ada di sini. Tapi ucapan saja nggak cukup seba
"Ambil saja semuanya. Dari 13 tetes esensi laut itu, aku hanya ambil tiga tetes," instruksi Tabib Suci.Baru saja kata-kata itu selesai diucapkan, pelayan tadi langsung menyerahkan obat spiritual yang semula hendak diberikan kepada Priya ke tangan Sodam dengan senyuman lebar di wajahnya."Tabib Suci benar-benar murah hati!""Selamat ya, Saudara!"Orang-orang dari Sekte Trisuci dipenuhi rasa iri. Mereka terlebih dahulu memuji Tabib Suci, lalu beralih menjilat Sodam.Menanggapi hal itu, Sodam hanya tersenyum tipis. Namun, dalam hati dia merasa sangat puas.Hanya dengan mengeluarkan tiga tetes esensi laut, dia berhasil memperoleh empat obat spiritual berusia 5.000 tahun yang memiliki khasiat luar biasa.Selain itu, mulai sekarang dia juga berada di bawah perlindungan Kebun Obat Suci. Bisa dikatakan dia telah menemukan pelindung baru.Sementara itu, Tabib Suci sama sekali tidak memedulikan orang-orang dari Sekte Trisuci. Orang-orang seperti mereka bisa ditemukan di mana-mana di Kota Suci d
"Apa? Jadi ini Sodam? Di usia semuda ini sudah memiliki kultivasi sehebat itu. Benar-benar buat kami merasa malu, sungguh malu!"Begitu mendengar hal itu, para tetua Sekte Trisuci langsung berseri-seri. Mereka segera memasang senyuman menjilat dan menyapa Sodam dengan penuh hormat."Hehe, kekuatan para tetua juga nggak rendah. Hanya saja, kalian nggak memperoleh sumber daya kultivasi yang memadai.""Itu sebabnya kalian terjebak di satu tingkat kultivasi selama bertahun-tahun dan sulit menembus batas.""Kalau kalian ikut aku, aku bisa menjamin masing-masing dari kalian setidaknya akan naik satu tingkat kultivasi lagi!"Jelas sekali, Sodam sedang berusaha menarik semua kekuatan yang bisa dia tarik ke pihaknya untuk dimanfaatkan."Ah, terima kasih banyak, Sodam. Kesempatan seperti ini benar-benar sulit didapat!""Bahkan kalau kamu nyuruh kami daki gunung atau terjun ke laut, kami nggak akan nolak!"Ucapan itu langsung menimbulkan kehebohan besar. Harus diakui, syarat yang ditawarkan Sodam
"Di Kota Suci nggak boleh bertarung. Aku juga nggak bisa berbuat apa-apa," sahut Tirta.Tirta sebenarnya sudah memikirkan cara memanfaatkan Sodam. Karena itu, dia hanya merentangkan kedua tangannya dan berpura-pura tidak berdaya."Hehehe, jadi ternyata kamu bisa takut juga." Sodam langsung merasa senang dan berkata dengan suara lantang sambil mengibaskan lengan bajunya."Dasar sampah. Jangan terlalu cepat merasa hebat. Begitu keluar dari Kota Suci, membunuhmu akan semudah menginjak seekor semut." Tirta mencibir."Hmph, kurasa nggak akan semudah itu." Wajah Sodam tampak muram. Kemudian, dia mengalihkan pembicaraan kepada dua pelayan toko."Kalau aku nggak salah dengar tadi, adik seperguruanku menawarkan sepuluh tetes esensi laut sebagai alat tukar. Sekarang aku punya 13 tetes esensi laut. Aku beli semua obat spiritual itu."Setelah berkata demikian, Sodam melemparkan sebuah Cincin Penyimpanan yang berkilauan dan dibuat dengan sangat indah."Hm?" Priya langsung mengernyit. Dia merasa ada
"Sejauh yang kutahu, di Kota Suci, sekalipun ada dendam kesumat, nggak seorang pun boleh bertindak menggunakan kekerasan.""Nona, aku nggak tahu kenapa kamu memiliki permusuhan sebesar itu terhadapku. Tapi maaf, kalau kamu berniat melanggar aturan, aku hanya bisa meminta pasukan Kota Suci untuk turun tangan."Sodam berkata dengan ekspresi tak berdaya yang dibuat-buat. Justru karena mengetahui bahwa semua orang di Kota Suci wajib mematuhi aturan dan dilarang bertarung, maka dia berani tetap berada di sini meskipun bertemu dengan Tirta.Kalau tidak, dia tidak akan setenang sekarang."Hmph, dasar licik!" Tatapan Irena dipenuhi rasa jijik tanpa sedikit pun disembunyikan."Kak Sodam, nggak perlu berpura-pura lagi. Fakta bahwa kamu diam-diam menyerang dan berusaha membunuh kami sudah terbukti dengan jelas.""Memang kami nggak bisa menyerangmu di dalam Kota Suci. Tapi begitu keluar dari Kota Suci, aku akan membereskan sampah dari Paviliun Ufuk dengan tanganku sendiri," ujar Priya dengan dingi
Tirta langsung mengabaikan isyarat dari Irena dan menyetujui ajakan itu sambil tersenyum. Itu karena saat tadi Priya menghapus jejak dari Cincin Penyimpanan, Genta yang berada di dalam tubuhnya sudah diam-diam mengirim transmisi suara padanya.Menurut Genta, esensi laut sangat bermanfaat baginya. Tidak peduli apa pun caranya, Tirta harus mendapatkan setidaknya seratus tetes esensi laut untuknya.Namun, sepuluh tetes esensi laut yang ada saat ini sudah digunakan Priya untuk membeli obat spiritual, Tirta tentu saja tidak mungkin merebutnya. Oleh karena itu, jika ingin memperoleh seratus lebih esensi laut untuk Genta, dia hanya bisa pergi ke Paviliun Ufuk setelah menyelesaikan masalah Istana Samara.Sementara itu, pelayan tadi sudah kembali dengan wajah penuh senyuman hormat setelah pergi dan mendengar penjelasan sangat sederhana dari pengelola. Tidak peduli apa pun identitas pihak itu, orang yang mampu mengeluarkan sepuluh tetes esensi laut pasti memiliki kekuatan dan latar belakang yang
Bagaimanapun, Gandhi adalah orang berusia paruh baya, tapi dia malah memanggil Tirta dengan sebutan "Kakak". Bisa dilihat, betapa takutnya dia terhadap Tirta."Setelah Kak Melati memaafkan kalian, aku baru akan bebaskan kalian. Kalau nggak, kalian tetap berlutut saja di sini!" Menghadapi permohonan G
Tirta melirik sekeliling gua dan melihat tumpukan tulang manusia yang berserakan di lantai, beberapa di antaranya sudah hancur dan membusuk. Ada tulang kaki dan tengkorak yang menunjukkan bahwa selama bertahun-tahun, ular piton ini sudah merenggut nyawa banyak korban."Sshh ...."Pada saat yang sama,
Bella memegang gelasnya sambil berkata, "Maaf sekali, aku mengundangmu kemari untuk melihat batu, tapi Resnu malah bersikap selancang itu kepadamu. Aku akan bersulang untukmu sebagai permohonan maaf."Tirta melambaikan tangan dan menimpali, "Nggak usah minta maaf. Aku nggak mau minum kalau kamu bersu
Detik berikutnya, para pemegang saham Farmasi Santika langsung menghentikan kedua orang itu. Mereka mengepung Rudi dan Ezra hingga tidak ada kesempatan untuk melarikan diri sama sekali. Saat Rudi dan Ezra memanggil petugas BPOM sebelumnya, para pemegang saham ini sangat ketakutan.Untungnya, obat Tir







