مشاركة

Bab 3. Memergoki

مؤلف: Els Arrow
last update تاريخ النشر: 2025-10-09 12:11:49

"Aku mau nyusul ke lab," ucap Avrisha seraya membalik badan hendak keluar ruangan, tetapi tiba-tiba lengannya ditarik, tubuhnya diputar dan dalam sepersekian detik, bibir Elvareno sudah mendarat di bibirnya.

"El ...!" ucapnya tertahan, terbungkam oleh ciuman basah dan cengkeraman tangan kekar di bahunya.

Tubuh Avrisha membeku, matanya membelalak. Kedua tangannya meronta, mendorong dada pria itu sekuat tenaga. Namun, Elvareno tak bergeming, bahkan kian menekan tubuhnya ke dinding, menenggelamkan bibir mereka dalam ciuman yang membuat nyaris tak bisa bernapas.

Avrisha mendesah tertahan, tangis kecil pecah dari tenggorokannya. Suaranya tercekat, perlahan tubuhnya melemah dalam dekapan sang mantan kekasih.

Elvareno akhirnya melepaskan ciuman itu setelah beberapa detik yang terasa seperti seabad. Bibir Avrisha basah, napasnya terengah-engah dan wajahnya pucat. Matanya basah, air mata jatuh satu per satu, tanpa suara.

"Kau-" Suaranya bergetar hebat. "Kau gila, El!"

Ia mendorong tubuh Elvareno dengan kedua tangan, kali ini berhasil membuat pria itu mundur beberapa langkah.

"Aku sudah menikah! Aku bukan perempuan yang bisa kau paksa seenaknya!" teriaknya penuh amarah.

Elvareno menatapnya. Mata itu tetap gelap, tanpa ekspresi berlebih.

"Pernikahanmu bahagia?" tanyanya dingin.

Avrisha melempar pandangan ke arah lain, sengaja tak mau menatap Elvareno terlalu lama.

"Itu bukan urusanmu!"

Elvareno melangkah pelan mendekat lagi, tak mengacuhkan penolakan tadi.

"Kau dijodohkan, itu bukan cinta."

"Aku mencintainya sekarang," balas Avrisha dengan suara gemetar.

"Benarkah?" tanyanya lagi, kali ini lebih rendah. "Kau lupa aku sangat mencintaimu? Lupa bagaimana aku menciummu-"

"Berhenti ...!" pekik Avrisha, tangannya mengepal dengan mata terpejam erat.

"Aku mencarimu bertahun-tahun. Jejakmu hilang, semua orang mengaku tak tahu keberadaanmu. Lalu, sekarang kau muncul sendiri di hadapanku."

Avrisha menggeleng cepat. "Itu kebetulan, El!"

"Kebetulan semesta membawamu kembali padaku. Begitu?"

Wanita itu menggeleng lirih. "Ku mohon jangan begini, El ....."

Elvareno memiringkan kepala sedikit, tetap menatap datar meski Avrisha sudah terisak.

"Aku sudah melupakanmu. Kita sudah selesai, El-"

"Belum!" potong pria itu. "Aku yang belum melupakanmu".

"Hidup kita sudah di jalur masing-masing. Nggak semua kisah layak diulang, kita harus jalan terus. Kalau tetap di masa lalu, yang ada hanya sakit hati." Suara Avrisha melemah, matanya sembab.

Elvareno menatapnya lekat, lalu berkata dengan suara pelan, "aku masih mencintaimu. Dan kalau waktunya tiba, aku akan mengambilmu kembali."

Tubuh Avrisha melemas. Ia bersandar ke dinding, air mata terus mengalir. Ia bahkan tak tahu harus berkata apa.

Elvareno kembali mendekat, tangannya terulur meraih knop pintu dan membukanya perlahan. Kepalanya menoleh lagi, menatap wajah perempuan yang masih ia cintai hingga detik ini.

"Kapan pun kau ingin pergi darinya, datanglah padaku. Dia nggak sebaik yang kau kira." Pria tampan itu menarik napas panjang, mengembuskannya kasar. "Pergilah, nomor teleponku masih sama."

Avrisha menghapus kasar air matanya, lantas melangkah cepat keluar ruangan membawa perasaannya yang kini kalut.

***

Malam mulai merayap, hanya suara detik jam di dinding ruang tengah yang menemani Avrisha duduk sendiri di sofa. Ia menatap layar ponsel yang kosong. Sudah hampir jam dua belas malam. Suaminya belum juga pulang.

"Apa dia lembur?" batinnya mencoba menenangkan diri, walau sejujurnya ia tahu, Arion bukan tipe yang suka kerja sampai larut. Kalaupun ada proyek besar, pasti ia akan memberi kabar, minimal satu pesan.

Tepat saat pikirannya dikuasai curiga yang sulit dibendung, suara mesin mobil terdengar dari depan rumah. Avrisha refleks berdiri. Ia melangkah cepat ke jendela, mengintip dari sela tirai.

Suaminya keluar dari mobil, tangan kanan pria itu tergenggam buket besar bunga peoni warna merah muda pucat. Di tangan kirinya, ada kotak kue putih dengan pita emas mengilap.

Pintu rumah segera ia buka. Udara dingin malam langsung menyambut kulitnya.

"Mas ...?"

Arion mengangkat kepala, tersenyum tipis. "Maaf larut malam, Sha. Kamu belum tidur?"

Avrisha menggeleng. "Aku nunggu kamu".

"Maaf, ya," ucap Arion, tangannya menyodorkan buket bunga itu. "Aku belikan bunga tadi, sekaligus cheesecake kesukaan kamu."

Avrisha masih menganga, tertegun sesaat karena merasa hari ini bukan hari spesialnya. Saat dirinya ulang tahun saja suaminya jarang memberikan kado, apalagi ucapan selamat. Kenapa malam ini tiba-tiba memberinya hadiah?

"Kita sudah lama nggak menghabiskan waktu bersama, aku nggak tahu harus gimana biar kelihatan romantis. Tapi semoga kamu suka bunganya," lanjut pria itu.

Avrisha mengangguk kaku, bibirnya melengkung menapakkan senyum yang tampak canggung. "Makasih banyak, ya, Mas. Semoga kamu selalu sehat dan rejekinya makin luber. Ayo kita masuk."

Arion mengangguk pelan, lantas masuk sambil lengannya digamit erat oleh sang istri. Ia menaruh kue dan bunga di meja ruang makan, lantas menggandeng Avrisha ke kamar.

"Tunggu," bisik Arioan saat pintu baru saja tertutup. Ia menyelipkan tangan ke dalam saku jas dan mengeluarkan kotak kecil beludru hitam.

Avrisha terpaku menatapnya. "Apa itu?"

Arion tersenyum, lalu membuka kotaknya perlahan. Di dalamnya, terletak kalung berlian mungil, liontinnya berbentuk tetesan air.

"Kalung cantik untuk wanita cantik, aku membelikannya buat kamu, Sayang," ujar pria itu.

Avrisha menutup mulut, matanya membelalak tak percaya.

"Aku sadar jarang memperlakukan kamu romantis, aku juga jarang kasih hadiah. Tapi percayalah, aku sangat mencintai kamu dan nggak ada wanita lain di dunia ini selain kamu, Avrisha." Arion membelai wajah lembut istrinya, melabuhkan kecupan singkat di kening. "Aku pakaikan, ya."

Avrisha menatap mata suaminya yang entah kenapa malam ini tampak sangat berbeda. Ia menurut saat suaminya membalikkan tubuhnya, memasangkan kalung berlian itu.

"Aku menginginkanmu malam ini," bisiknya sambil membalikkan tubuh Avrisha.

Arion mencium bibir istrinya dengan pelan. Tangan mereka saling menggenggam, menyusuri tubuh masing-masing dengan lembut. Suara desahan terdengar mengisi kamar, berpadu dengan sentuhan panas yang mulai menyala.

Tubuh mereka menyatu dengan lembut. Tidak terburu-buru, seolah ingin menikmati setiap detik. Avrisha membalas setiap sentuhan suaminya, membiarkan dirinya larut dalam pelukan yang malam ini terasa begitu menggairahkan.

"Oughh ...."

"Bersama, Sayang," bisik Arion, memeluk tubuh istrinya makin erat saat hasratnya kian naik ke ujung kepala.

***

Wanita cantik itu terbangun entah jam berapa, merasa tenggorokannya kering dan mendapati kamar masih gelap. Namun, pintu kamarnya terbuka sedikit, semburat cahaya lampu masuk dan sayup-sayup suara seseorang tengah berbincang terdengar samar.

Tubuhnya bangkit perlahan, pelan-pelan menjejakkan kaki ke ubin dan melangkah ke dekat pintu.

Ia dekatkan daun telinga, menahan untuk mengintip karena takut ketahuan.

"Gimana, sih, katanya kue sama hadiahnya buat aku!"

"Aku maunya juga gitu, tapi Avrisha masih bangun. Kalau aku masuk ke kamar kamu, dia bisa tahu, dong."

Avrisha terbelalak, itu suara Arion. Ia kenal jelas.

"Pokoknya aku nggak mau tahu, aku juga mau hadiah dan kue yang sama. Kalau enggak ... aku pergi aja bawa anak ini. Biar kamu sama Avrisha kapok!

Jantung Avrisha hampir copot mendengarnya.

Kirana? Ya, itu suara sahabatnya.

Tapi apa maksudnya? Apa ada hubungan lain yang terjalin di belakangnya?

"Jangan! Jangan bawa anak kita. Itu juga anakku, Kir."

Lagi, ucapan itu makin menyentak Avrisha. Kenapa suaminya menyebut kata 'kita'? Bukankah itu benihnya, bukan benih Kirana? Kirana hanya dijadikan tempat, rahimnya disewa agar benih mereka tumbuh sampai dilahirkan.

Kepala Avrisha seperti dihantam godam saat menyadari sesuatu. Tubuhnya limbung seolah seluruh dunia menghimpitnya.

"Astaga ...  jadi selama ini mereka—?!"

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Dokter, Sentuh Aku Lagi   Ban 112. Tamat

    Satu minggu kemudian, sebuah hotel bintang lima di kawasan pusat kota disulap menjadi saksi bisu dari puncak penantian panjang dua insan. Ruang dansa utama dipenuhi dekorasi berkonsep classic white botanical, dengan ribuan kelopak mawar putih, juntaian daun ivy, dan pendar lampu gantung kristal yang memancarkan kemewahan.Pernikahan ini tidak digelar secara besar-besaran dengan ribuan undangan, melainkan hanya dihadiri oleh keluarga inti dan sahabat-sahabat terdekat yang benar-benar tulus. Di barisan kursi terdepan sebelah kanan, Raisa duduk di kursi rodanya dengan kebaya beludru berwarna biru dongker yang anggun. Wajah tuanya nampak cantik dengan senyumnya merekah lebar, tangannya terus digenggam oleh Arman yang gagah mengenakan beskap senada.Di sudut lain, Mbok Sumi bersama beberapa ART kepercayaan Avrisha duduk dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Di pangkuan Mbok Sumi, Arel tampak sangat menggemaskan mengenakan setelan jas tuksedo kecil lengkap dengan dasi kupu-kupu. Mereka se

  • Dokter, Sentuh Aku Lagi   Bab 111. Hukuman

    Hari-hari berikutnya berlalu sangat cepat, menyeret kasus sabotase tersebut ke ranah hukum tanpa penundaan. Karena bukti-bukti digital yang dikumpulkan oleh tim penyidik atas atensi Jenderal Hendro teramat valid dan tak terbantahkan, berkas perkara Livia langsung dinyatakan lengkap dalam waktu singkat.Hari ini, Pengadilan Negeri menggelar sidang pembacaan putusan untuk terdakwa Livia.Suasana ruang sidang tampak tegang meskipun bangku penonton tidak terlalu penuh. Keluarga Elvareno memilih untuk tidak hadir secara fisik, mereka menyerahkan seluruh proses hukum kepada kuasa hukum utama keluarga kepercayaan Arman, yakni Pak Handoko, seorang pengacara senior yang terkenal dingin dan tak kenal ampun di meja hijau.Di kursi pesakitan, Livia duduk dengan kemeja putih dan rompi tahanan merah kejaksaan. Wajahnya yang dulu selalu dipoles riasan mahal kini tampak tirus, pucat, dengan lingkaran hitam pekat di bawah matanya.“Di mana Elvareno? Panggil Elvareno ke sini! Saya mau ketemu Elvareno

  • Dokter, Sentuh Aku Lagi   Bab 110

    Elvareno melangkah keluar dari ruangan penyidik dengan sisa amarah yang masih bergemuruh di dada. Ia segera merogoh saku, jemarinya bergerak cepat mencari kontak Avrisha. Begitu nada sambung berganti dengan suara lembut wanita itu, ketegangan di bahu Elvareno sedikit mengendur.“Halo, El? Gimana di kantor polisi?” tanya Avrisha dari seberang telepon terdengar berbisik, kemungkinan sedang berada di dekat kamar Raisa atau Arel.“Av, bajingan itu beneran Livia,” ucap Elvareno langsung. Ia menyugar rambutnya ke belakang, bersandar pada pilar koridor Polres. “CCTV memperlihatkan semuanya dengan jelas. Dia sengaja merusak pipa gas generator belakang. Ini murni sabotase, Av. Dia berniat mencelakai Mama dan Papa.”Di seberang telepon, terdengar helaian napas tercekat dari Avrisha. “Ya Allah, El ... Kok bisa ada orang senekat itu? Terus sekarang Livia di mana?”“Polisi udah lacak posisinya. Tim buru sergap sudah jalan ke lokasi persembunyiannya. Kamu nggak usah takut lagi, ya? Sebentar lagi di

  • Dokter, Sentuh Aku Lagi   Bab 109

    Elvareno tertegun beberapa saat, menatap layar ponselnya yang masih menyala. Genggaman tangannya di pinggang Avrisha perlahan mengendur seiring dengan rahangnya yang kembali mengeras. Hawa hangat yang baru saja melingkupi mereka mendadak menguap, digantikan atmosfer dingin yang menusuk.“Ada apa, El?” Avrisha yang merasakan perubahan gelagat calon suaminya langsung menyentuh lengan Elvareno. “Pesan dari siapa?”Elvareno menarik napas panjang, berusaha mengendalikan gemuruh di dadanya sebelum menatap Avrisha. “Satpam rumah Papa. Polisi minta aku ke kantor sekarang juga. Mereka butuh konfirmasi terkait rekaman CCTV sejam sebelum kejadian.” Ia sengaja tidak langsung menyebut nama Livia agar Avrisha tidak kembali cemas, tapi sorot matanya tidak bisa berbohong. Ada amarah besar yang tertahan di sana.Avrisha terdiam sejenak, lalu mengangguk paham. “Ya sudah, kamu berangkat sekarang. Biar aku yang jaga Tante sama Om di sini. Tapi, tolong hati-hati, El. Perasaan aku tiba-tiba nggak enak.”“

  • Dokter, Sentuh Aku Lagi   Bab 108

    “El, ada apa? Tolong ngomong sama aku!” Avrisha langsung memindahkan Arel yang merengek kecil ke dalam gendongan Mbok Sumi yang kebetulan baru masuk ke ruang makan. Dengan cepat, Avrisha menggenggam kedua pundak Elvareno, mencoba menarik kesadaran pria itu kembali.“Rumah Papa kebakaran, Av,” ucap Elvareno terbata-bata, suaranya bergetar hebat. “Ledakan gas. Satpam bilang, Mama sama Papa masih di kamar atas. Mama di kursi roda, Av. Nggak mungkin bisa turun sendiri kalau tangga kebakar.”Jantung Avrisha mencelos. Bayangan Raisa yang terjebak di tengah kobaran api langsung membuat bulu kuduknya meremang. “Kita pulang sekarang. Mbok Sumi, tolong siapin barang-barang Arel, kita balik ke Jakarta detik ini juga!”Tidak ada waktu untuk mengemas baju dengan rapi. Semuanya bergerak dalam kepanikan. Dalam waktu kurang dari lima belas menit, mobil Elvareno sudah membelah jalanan turun dari dataran tinggi. Elvareno menyetir dengan rahang mengeras, tangannya mencengkeram kemudi begitu erat hing

  • Dokter, Sentuh Aku Lagi   Bab 107. Baikan

    “Kamu ngapain di sini, El? Ini udah jam dua pagi.”Avrisha merapatkan kardigan rajutnya, menatap nanar ke arah pria yang berdiri di bawah pendar lampu teras yang temaram.Elvareno berdiri di sana dengan napas yang masih agak memburu. Kemeja kerjanya berantakan, dasinya sudah entah ke mana, dan lingkaran hitam di bawah matanya mempertegas betapa lelahnya pria itu. Jarak Jakarta ke villa tempat Avrisha menenangkan diri memakan waktu hampir tiga jam perjalanan, dan Elvareno menempuhnya tepat setelah ia menyelesaikan operasi darurat terakhirnya malam itu.“Aku nggak bisa tenang kalau masalah kita belum selesai, Av,” ucap Elvareno lirih. Suaranya serak. “Sebulan lagi kita nikah. Aku nggak mau sebulan ini kita lewati dengan cara saling diam begini.”Avrisha memalingkan wajah, enggan menatap mata elang Elvareno yang selalu berhasil meluluhkan pertahanannya. “Aku butuh waktu, El. Aku capek ....”“Aku tahu, dan aku minta maaf karena reflek bodohku kemarin.” Elvareno melangkah maju, memangkas

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status