MasukNaresa Elvano, siswi kelas 3 SMA yang polos dan lembut, harus memulai hidup baru setelah ibunya menikah lagi dengan seorang pengusaha kaya. Demi ibunya, Naresa mencoba menerima keluarga barunya. Termasuk dua kakak tirinya yang memiliki sifat bertolak belakang. Zavian Althera Pratama — pria berusia dua puluh enam tahun yang dingin, perfeksionis, dan sudah mengelola perusahaan keluarga. Sementara Reyhan Arkana Pratama — mahasiswa arsitektur yang jahil, hyper aktif, dan selalu membuat hidup Naresa berisik setiap hari. Sebagai gadis mungil dengan tinggi hanya 158 cm, Naresa sering diperlakukan seperti anak kecil oleh mereka berdua. Awalnya Naresa mengira semua itu hanyalah perhatian biasa. Namun semakin lama tinggal serumah, perhatian kedua kakak tirinya mulai terasa berlebihan. Zavian selalu bersikap terlalu protektif. Sedangkan Reyhan tidak pernah berhenti mencari perhatian darinya. Di tengah kehidupan sekolah, konflik keluarga baru, rasa canggung tinggal serumah, dan rahasia masa lalu yang perlahan terungkap… Naresa mulai menyadari bahwa hubungannya dengan kedua kakak tirinya menjadi semakin rumit. Karena terkadang, perasaan yang tumbuh di antara mereka terasa lebih berbahaya daripada sekadar kedekatan keluarga.
Lihat lebih banyak“Apa? Ibu akan menikah?” ulang Naresa dengan suara bergetar. Kedua matanya membulat penuh keterkejutan.
Ia menatap wanita di hadapannya tidak percaya. Sementara itu, sang ibu hanya tersenyum lembut seolah berusaha menenangkan putrinya. “Iya, Resa. Ibu akan menikah lagi,” jawabnya pelan. Naresa masih terpaku di tempat duduknya. Jemarinya mencengkeram ujung rok dengan gugup. Berita itu terlalu mendadak baginya. Sejak ayah kandungnya pergi dan jarang memedulikan mereka, Naresa memang tahu ibunya sering merasa kesepian. Namun, ia tidak pernah menyangka wanita itu benar-benar akan membuka hati untuk pria lain. “Ibu… sudah lama mengenalnya?” tanya Naresa hati-hati. “Iya, sayang.” Ibunya mengangguk pelan. “Hampir enam bulan.” Naresa menunduk perlahan. Enam bulan. Itu bukan waktu yang sebentar. Berarti selama ini ibunya memang serius dengan pria itu. Entah kenapa dada Naresa terasa sesak memikirkannya. “Ibu bahagia dengannya?” tanyanya lirih. Sang ibu tersenyum hangat, lalu menggenggam tangan Naresa lembut. “Ibu sangat bahagia.” Jawaban itu membuat Naresa terdiam. Ia sangat menyayangi ibunya. Jika pria itu benar-benar bisa membuat ibunya bahagia, maka ia ingin mencoba menerimanya. Meski jauh di dalam hatinya masih ada rasa takut. “Nanti sore kita akan pergi bertemu dengan mereka,” lanjut ibunya. Naresa mengangkat wajahnya perlahan. “Mereka?” “Kamu juga akan bertemu dua kakak tirimu.” Deg. Tubuh Naresa langsung menegang. Kedua matanya melebar spontan. “Tunggu…” Ia menatap ibunya dengan ekspresi syok. “Maksud Ibu… pria yang ingin menikah dengan Ibu sudah punya anak?” “Iya,” jawab sang ibu pelan. Naresa menelan ludah gugup. “Dua?” “Iya.” Suasana mendadak terasa hening. Naresa benar-benar tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia bahkan belum siap menerima kenyataan bahwa ibunya akan menikah lagi. Dan sekarang, ia harus mempunyai dua kakak tiri? “Bagaimana kalau mereka tidak menyukaiku?” tanya Naresa pelan. Suaranya terdengar ragu. Sang ibu langsung menggenggam tangannya lebih erat. “Jangan berpikir seperti itu, Sayang. Mereka anak-anak yang baik.” Namun entah kenapa, perasaan gelisah di hati Naresa justru semakin besar. Ia tidak tahu seperti apa keluarga barunya nanti. Dan tanpa ia sadari, pertemuan itu akan menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya. “Istirahatlah dulu. Kamu pasti lelah karena baru pulang dari sekolah,” ucap ibunya dengan senyum lembut. Naresa mengangguk pelan. Memang benar, hari ini ia sangat lelah karena terlalu banyak kegiatan di sekolah. Apalagi, mereka akan segera memasuki semester dua sehingga semua murid menjadi lebih sibuk dari biasanya. “Baiklah, Bu. Resa ke kamar dulu, ya,” ucap Naresa lembut. “Iya, Sayang. Nanti kalau sudah waktunya berangkat, Ibu bangunkan kamu.” Naresa kembali mengangguk. Ia lalu bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruang tengah itu. Sementara itu, sang ibu, Liana Elvano, menatap punggung putrinya dengan tatapan penuh kasih sayang. Wanita itu mengembuskan napas pelan. Ia tahu keputusan untuk menikah lagi pasti mengejutkan bagi Naresa. Namun, Liana berharap putrinya dapat menerima keluarga baru mereka dengan baik. ** Pukul empat sore. Naresa sudah bersiap untuk bertemu dengan keluarga barunya. Ia berdiri di depan cermin sambil menatap pantulan dirinya sendiri. Tubuh mungilnya membuat penampilannya terlihat begitu manis dan menggemaskan. Dress sederhana yang ia kenakan dipadukan dengan rambut setengah dikuncir membuat wajah polosnya terlihat semakin cantik. Naresa menarik napas pelan. “Apa mereka akan menyukaiku?” gumamnya lirih. Nada suaranya terdengar penuh kegugupan. Tak lama kemudian, pintu kamar yang memang tidak tertutup perlahan terbuka. Liana masuk ke dalam kamar sambil tersenyum lembut kepada putrinya. “Apa kamu sudah siap, Sayang?” tanya Liana. Naresa langsung menoleh saat mendengar suara ibunya. “Sudah, Bu,” jawabnya cepat. Liana memperhatikan penampilan putrinya beberapa detik, lalu tersenyum kagum. “Anak Ibu cantik sekali.” Pipi Naresa langsung memerah malu. “Bu…” gumamnya pelan. Liana terkekeh kecil melihat reaksi putrinya. “Kalau sudah siap, ayo kita berangkat. Supirnya sudah menunggu kita di depan,” ucapnya kemudian. Kening Naresa langsung berkerut bingung. “Supir?” ulangnya heran. “Iya, supir pribadi,” jelas Liana santai. Naresa terdiam. Ia benar-benar tidak menyangka. Bahkan untuk pertemuan seperti ini saja, mereka dijemput menggunakan mobil pribadi lengkap dengan supir. Itu membuat Naresa semakin sadar, bahwa calon keluarga barunya mungkin benar-benar berasal dari kalangan berada. Mereka pun berangkat menuju tempat pertemuan itu. Saat mobil mulai berjalan meninggalkan rumah, rasa gugup yang dirasakan Naresa perlahan semakin kuat. Tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Sepanjang perjalanan, Naresa lebih banyak memandang ke arah jendela mobil. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri. Di dalam hati, ia terus berdoa agar keluarga barunya nanti bisa menerima dirinya dengan baik. Terutama kedua kakak tirinya. Setelah sekitar tiga puluh menit perjalanan, mobil itu akhirnya berhenti di depan sebuah restoran mewah yang sangat terkenal di kota mereka. Mata Naresa langsung membelalak kaget. “Bukannya ini restoran yang terkenal itu?” gumamnya pelan sambil menatap bangunan besar di hadapannya dari balik jendela mobil. Dan ternyata benar. Restoran itu adalah salah satu restoran paling mewah dan terkenal di kota mereka. Banyak orang mengatakan makanan di sana sangat lezat, tetapi harga setiap hidangannya benar-benar fantastis. “Resa, ayo turun,” ucap Liana lembut. Naresa langsung tersadar dari lamunannya. “Eh, i-iya, Bu,” jawabnya gugup. Ia segera membuka pintu mobil dan turun bersama ibunya. Begitu mereka turun, sang sopir ikut keluar lalu berjalan mendekati Liana dengan sikap hormat. “Tuan sudah menunggu Anda di ruang VVIP, Nyonya,” ucap sopir itu sopan. Liana mengangguk sambil tersenyum ramah. “Baik, terima kasih.” “Sama-sama, Nyonya.” Naresa yang berdiri di samping ibunya langsung terdiam. Ruang VVIP? Jantungnya kembali berdegup lebih cepat. “Itu ruangan paling mahal yang sering diceritakan teman-temanku di sekolah…” batinnya terkejut. Ia menelan ludah pelan. Semakin lama, Naresa merasa dunia calon keluarga barunya benar-benar jauh berbeda dari kehidupannya selama ini. Mereka berdua masuk ke dalam restoran itu. Begitu tiba di lobi, beberapa pelayan langsung menyambut mereka dengan ramah. “Selamat datang,” sapa salah satu pelayan dengan sopan. “Apakah Anda sudah melakukan reservasi?” Liana mengangguk pelan. “Saya sudah ditunggu seseorang di ruang VVIP,” jawabnya tenang. Kemudian, Liana menyebutkan nama pria yang menunggu mereka. Seketika ekspresi para pelayan berubah menjadi lebih hormat. “Baik, Nyonya. Silakan ikut dengan kami,” ucap salah satu pelayan dengan cepat. Mereka pun langsung diantar menuju ruang VVIP. Naresa berjalan pelan di samping ibunya sambil diam-diam memperhatikan sekitar. Ia benar-benar kagum. Ini pertama kalinya dirinya datang ke restoran semewah itu. Interior restoran terlihat sangat elegan. Lampu gantung kristal menghiasi langit-langit ruangan, sementara dekorasi bernuansa emas dan cokelat gelap membuat tempat itu terlihat begitu mahal dan berkelas. Setiap sudutnya tampak indah dan menawan. Tak lama kemudian, mereka akhirnya tiba di depan sebuah pintu besar berwarna hitam keemasan. Mata Naresa langsung tertuju pada pintu mewah itu. Entah kenapa rasa gugupnya semakin menjadi-jadi. “Ayo, Sayang. Sepertinya mereka sudah menunggu,” ucap Liana lembut. Naresa mengangguk pelan. Liana kemudian memegang knop pintu dan perlahan membukanya. Saat pintu terbuka, mereka berdua melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Dan benar saja. Sudah ada tiga orang yang menunggu di sana. Seorang pria paruh baya langsung tersenyum hangat begitu melihat kedatangan mereka. Namun perhatian Naresa justru tertuju pada dua pria yang duduk tidak jauh dari sana. Kedua pria itu memiliki wajah tampan dengan ekspresi datar yang sulit ditebak. Tatapan mereka membuat tubuh Naresa seketika menegang. “Kalian sudah datang?” tanya pria itu dengan senyum ramah. Pria itu bernama Rendra Pratama — calon ayah sambung Naresa. “Sudah, Mas. Kami baru saja tiba,” jawab Liana sambil tersenyum lembut. Rendra langsung berdiri dari duduknya lalu mengulurkan tangan ke arah mereka. “Kemarilah,” ujarnya hangat. Liana mengangguk pelan lalu menyambut uluran tangan Rendra dengan senyum hangat. Sementara itu, Naresa hanya menundukkan kepalanya pelan. Ia sama sekali tidak berani menatap kedua calon kakak tirinya. Entah kenapa, tatapan dari dua pria itu membuat rasa gugup dalam dirinya semakin menjadi-jadi. Jantungnya bahkan berdetak tidak nyaman. Mereka kemudian berjalan menuju meja makan besar di tengah ruangan. Liana duduk di samping Rendra. Namun tanpa diduga, Naresa justru diminta duduk di antara kedua kakak tirinya. “Naresa, duduklah di antara kedua kakakmu,” ucap Rendra lembut. Seketika Naresa mengangkat wajahnya dengan ekspresi terkejut. Matanya membelalak kecil. Duduk di tengah-tengah mereka? Ia langsung melirik dua pria di depannya secara singkat. Zavian masih memasang wajah datar dan dingin, sementara Reyhan menatapnya dengan ekspresi penuh rasa penasaran. Naresa langsung kembali menunduk gugup. Tangannya terasa dingin. Namun karena tidak ingin membuat Liana malu di depan keluarga barunya, Naresa akhirnya mengangguk pelan. “I-iya…” Dengan langkah kecil dan hati yang semakin gugup, Naresa berjalan menuju kursi itu. Dan saat ia duduk di antara Zavian dan Reyhan, ia benar-benar merasa terjebak di tengah aura menegangkan dari kedua kakak tirinya.“Kenapa aku harus ikut juga?” Tanya Naresa sambil berjalan berdampingan dengan Rayhan menuju ruang tamu. “Bukannya itu urusan Ayah dan Zavian?” Rayhan menoleh sekilas. “Memang urusan Ayah dan Kak Zavian.” “Nah kan.” “Namun.” Rayhan menghentikan langkahnya sejenak. Tatapannya beralih kepada Naresa. “Kamu juga bagian dari masalah ini.” “Hah?” “Mereka datang membawa lamaran untuk Kak Zavian.” “...” “Sedangkan kamu adalah kekasihnya.” Naresa langsung terdiam. “Jadi menurutku.” Lanjut Rayhan. “Lebih baik kamu mendengarnya langsung.” “Daripada nanti salah paham lagi.” Deg. Kalimat itu membuat Naresa langsung mengingat kejadian sore tadi. Tanpa sadar. Tangannya menggenggam ujung bajunya. “Aku takut.” Ucapnya pelan. Rayhan tersenyum tipis. “Takut kenapa?” “Takut mereka kecewa.” “Hm.” “Dan takut kalau nanti suasananya tidak enak.” Rayhan menghela napas kecil. “Itu memang tidak bisa dihindari.” “...” “Namun lebih baik semuanya jelas sejak awal.” Naresa mengangg
“Jadi...” Zavian menarik napas pelan. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Naresa. “...apa kamu memaafkanku, Naresa?” Pertanyaan itu terdengar begitu hati-hati. Berbeda dengan biasanya. Pria yang selalu tegas itu kini justru menunggu jawaban dengan perasaan cemas. Naresa terdiam. Tatapannya kembali mengarah ke permukaan danau. Bukan karena tidak ingin menjawab. Melainkan karena sedang menenangkan hatinya sendiri. “Aku...” Suaranya terdengar lirih. “Aku tidak tahu.” Deg. Jawaban itu membuat dada Zavian terasa sesak. “Aku ingin memaafkanmu.” “...” “Namun rasa kecewa itu masih ada.” Air mata kembali memenuhi pelupuk mata Naresa. “Setiap kali mengingat kalau aku mengetahui semuanya dari Bi Ina.” “...” “Dadaku masih terasa sakit.” Zavian menundukkan kepalanya. Dia menerima semua perkataan itu. Karena memang dirinya yang membuat Naresa merasakan hal tersebut. “Aku tidak akan memaksamu.” Ucap Zavian pelan. “Aku akan menunggu.” “Hm?” “Sampai kamu benar-benar
“Tolong angkat, Naresa...” gumam Zavian pelan. Untuk kesekian kalinya. Pria itu kembali menghubungi nomor Naresa. Namun hasilnya tetap sama. Tidak ada jawaban. Deg. Rasa tidak nyaman di dadanya semakin besar. Saat ini Zavian sedang berlari di sebuah taman yang tidak jauh dari rumah mereka. Pandangannya menyapu ke segala arah. Mencari sosok gadis yang sejak satu jam lalu menghilang. “Naresa...” panggilnya pelan. Namun yang terdengar hanya suara angin sore. Zavian kembali mencoba menelepon. Panggilan tersambung. Namun tetap tidak diangkat. Membuat rahangnya mengeras. Karena selama ini. Seberapa pun marahnya Naresa. Gadis itu hampir selalu mengangkat teleponnya. Namun kali ini berbeda. Sangat berbeda. "Angkatlah..." gumamnya frustrasi. Langkahnya semakin cepat. Matanya terus mencari ke setiap sudut taman. Bangku-bangku taman. Area bermain. Jalur jogging. Tidak ada. Tidak ada Naresa di mana pun. Deg. Untuk pertama kalinya. Zavian benar-benar mulai panik. Ka
“Sudahlah.” Suara Naresa terdengar pelan. Namun justru membuat suasana menjadi semakin menyesakkan. Tatapannya tidak lagi marah. Tidak lagi dipenuhi amarah seperti beberapa menit yang lalu. Yang tersisa sekarang hanya rasa kecewa. “Urus saja semuanya.” “Naresa...” panggil Zavian. Namun gadis itu menggeleng. Air matanya terus mengalir. “Kalau memang mau menerima perjodohan atau lamaran itu.” Deg. Jantung Zavian langsung terasa tidak nyaman. “Aku mundur.” Seketika semua orang membeku. “Naresa!” bentak Zavian untuk pertama kalinya. Namun gadis itu hanya tertawa kecil. Tawa yang terdengar begitu menyakitkan. “Bukankah itu lebih mudah?” “Jangan bicara sembarangan.” “Kenapa?” Tatapannya langsung bertemu dengan tatapan Zavian. “Karena aku sudah capek.” Deg. Kalimat itu membuat Zavian langsung terdiam. “Aku capek menjadi orang terakhir yang tahu.” “...” “Aku capek harus mendengar semuanya dari orang lain.” “...” “Dan aku capek merasa tidak dianggap penting.” “Nar
“Malah dijemput...” gerutu Naresa pelan sambil memasukkan beberapa berkas ke dalam tasnya. “Hah?” Sonia langsung menoleh bingung. “Apa maksudmu?” “Lihat ke depan gerbang.” Saat ini pukul tiga sore. Waktu magang mereka akhirnya selesai. Para siswa mulai keluar dari gedung laboratorium satu per
“Apa lagi Kak Zavian ke London,” lanjut Sonia santai sambil berjalan di samping Naresa. “Di sana banyak wanita-wanita cantik loh.” Naresa langsung mendengus kecil. “Heh…” “Ditambah lagi,” Sonia sengaja menatap Naresa jahil, “di sana seksi-seksi.” Seketika langkah Naresa langsung terhenti. Dan
“Kak… ini benar-benar boleh ambil semua warna dan jenisnya?” Naresa menoleh kepada Zavian dengan wajah ragu sekaligus antusias. Tangannya masih menunjuk deretan macaron berwarna-warni di dalam etalase. Zavian menatapnya sebentar lalu menjawab singkat, “Boleh.” Naresa langsung berkedip pelan.
“Eh? Sarapan jam segini sudah siap?” tanya Naresa heran saat memasuki dapur. Pagi itu, ia sengaja bangun lebih awal karena ingin membuat sarapan sendiri. Namun begitu tiba di dapur, seluruh makanan sudah tersaji rapi di atas meja makan. Aroma makanan hangat memenuhi ruangan besar itu. Naresa la
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan