Masuk"Nadine." Suara bariton Dominic yang dalam memecah keheningan yang membekukan itu. Dominic yang kini telah berdiri penuh di atas lantai marmer, mengambil kotak kayu berukir mawar dari tangan Nadine yang mendadak lemas tak berdaya. Dominic tidak menyadari perubahan drastis pada raut wajah gadis di hadapannya. Fokusnya tertuju sepenuhnya pada kotak di tangannya. Dengan jemari panjangnya, Dominic membuka pengait logam tersebut dan mengangkat tutupnya. Di atas alas kain sutra merah, terbaring sebuah jepit rambut perak berbentuk kelopak bunga. Mata abu-abu Dominic membelalak tipis. Tatapannya terkunci pada detail ukiran itu. Persis. Ukiran kecil di tengah kelopak itu. Lekukan logamnya. Bentuk tangkainya. Tidak salah lagi. Sangat identik dengan jepit rambut yang diberikan gadis kecil itu kepadanya, dan selama ini disimpan ayahnya di dalam laci ruang kerja. Bahkan... ukiran bunganya nyaris menyatu jika dibayangkan berpasangan. Jantung Dominic be
Mata abu-abu Dominic terkunci lekat pada kotak kayu tersebut. Pikiran cerdasnya berputar cepat. Jepit rambut perak? Peninggalan ayah Nadine? Sebuah ingatan kelam belasan tahun lalu mendadak membayang di benaknya, saat tubuhnya yang sekarat terdampar di pesisir pantai usai dibuang oleh orang-orang Miller, dan seorang gadis kecil menolong nyawanya, memberikan sebuah jepit rambut perak padanya sebelum mereka berpisah. Jepit rambut yang selama belasan tahun ini ia simpan, hingga akhirnya disembunyikan oleh ayahnya, Sebastian, di dalam laci ruang kerja yang terkunci rapat. ‘Tidak mungkin...’ batin Dominic bergemuruh hebat. ‘Apakah jepit yang disimpan Ayah... adalah pasangan dari jepit milik Nadine?’ "Tunjukkan padaku," perintah Dominic dengan nada mutlak yang tidak terbantahkan. Dominic bergerak cepat. Pria itu mendorong tubuhnya naik dari dalam kolam renang. Otot-otot bahu, lengan, dan punggungnya yang lebar berkilat basah disiram cahaya matahari yang menembu
"Dilihat saja tidak enak... bagaimana kalau kau sentuh juga?" Suara bariton Dominic yang berat dan sarat godaan bergema halus di dalam ruangan beratap kaca itu, bercampur dengan suara riak air yang masih bergulung tenang di permukaan kolam. Senyum tipis penuh rasa percaya diri yang begitu khas milik Dominic Moretti, tenang, dewasa, sekaligus memikat masih terukir di bibirnya saat jemari tangannya yang basah mengayun pelan di permukaan air, menunggu reaksi dari gadis di depannya. Sensasi panas yang membakar pipi Nadine kian tak tertahankan. Malu, canggung, dan rasa terintimidasi bercampur menjadi satu, membuat dadanya naik-turun menahan napas. "K-Kak Dominic..." gumamnya lirih sambil buru-buru memalingkan wajah. Kedua telapak tangannya refleks menutupi pipi yang terasa semakin panas. "Berhenti menggodaku...." Dominic masih memandanginya tanpa berkedip. "Kenapa?" Nada suaranya santai. "Aku hanya
Nadine terengah pelan saat tubuhnya ditarik perlahan hingga menempel pada dada bidang pria itu. Air bergoyang lembut mengelilingi mereka. Dominic mengangkat tubuh Nadine sedikit lebih tinggi, membuat gadis itu spontan melingkarkan kedua lengannya di leher kokohnya demi menjaga keseimbangan. Tatapan mereka saling bertaut. Tidak ada suara, hanya napas yang perlahan bertabrakan. Dominic mengangkat satu tangannya, menangkup lembut rahang Nadine. Lalu menundukkan wajahnya... sedikit lagi... sedikit lagi... bibir mereka hampir bersentuhan... "Nadine, ada apa?"Suara bariton yang rendah memecahkan lamunannya seketika. Deg! Nadine tersentak keras. Matanya membelalak. Pipinya langsung memanas hingga ke telinga ketika kesadarannya kembali ke realita. Ia masih berdiri utuh di tepi kolam. Gaunnya tetap kering. Tidak ada sentuhan, tidak ada pelukan, apalagi ciuman panas di dalam air. Semuanya murni khayalan liar yang baru saja bermain tanpa izin di kepala
Victor melangkah mendampingi Nadine menyusuri koridor megah, menaiki tangga melingkar menuju lantai tiga bagian belakang Mansion Saint Noire, sebuah area privat yang selama ini bahkan tidak pernah ia ketahui keberadaannya. Langkah pria itu tenang dan terukur, mencerminkan disiplin seorang tangan kanan yang telah bertahun-tahun mengabdikan hidupnya kepada keluarga Moretti. "Lantai tiga bagian belakang merupakan area privat, Nona Nadine," ujar Victor dengan nada formal. "Tidak semua orang diizinkan masuk ke sana. Biasanya Tuan Muda Dominic hanya menggunakan tempat itu ketika ingin menenangkan pikirannya setelah rapat atau urusan bisnis yang berat." Nadine mengangguk pelan. "Terima kasih, Victor." Victor membalas dengan anggukan hormat. "Silakan ikuti pelayan ini, Nona." Ia berhenti di persimpangan koridor, memberikan ruang pribadi, sementara seorang pelayan wanita melanjutkan tugas mengantar Nadine menuju area paling belakang di lantai tiga. S
Keheningan dingin merayapi mereka berdua."Apa Kak Dominic sudah tahu?" tanya Nadine."Belum," jawab Victor seraya menggeleng pelan. "Saya sebenarnya ingin membawa kotak ini langsung kepada beliau. Saya tidak menyukai pola pengiriman ini. Saya khawatir ini adalah bagian dari permainan seseorang."Nadine menatap kotak berukir mawar tersebut. Rasa tidak nyaman yang samar mendadak menghimpit dadanya."Aku akan membukanya," tegas Nadine.Victor spontan menggeleng. "Nona, sebaiknya tunggu Tuan Muda Dominic. Kalau memang berbahaya, kami yang akan menanganinya.""Kalau memang sudah dipindai berkali-kali dan dinyatakan aman... aku ingin melihat isinya sendiri," balas Nadine melunak, namun tetap pada pendiriannya.Victor sempat ragu sejenak sebelum akhirnya menyerahkan kotak tersebut. "Baik. Tapi saya tetap berada di samping Anda."Nadine menerima kotak itu. Ukiran mawar menyelimuti seluruh permukaannya, tanpa nama toko, tanpa alamat, benar-benar bersi







