Mag-log inLuna hidup tenang sendirian dan tidak pernah berniat menikah. Sampai suatu malam hidupnya berubah total. Ia terbangun di tubuh Lunaria — karakter antagonis dalam novel yang baru saja ia baca. Masalahnya, Lunaria bukan sekadar wanita jahat biasa. Ia memiliki suami psikopat, seorang putra yang membencinya, dan masa depan mengerikan di mana ia akan dibunuh oleh anaknya sendiri. Luna berusaha mengubah jalan cerita dan kabur dari keluarga gila itu. Tapi semuanya tidak semudah yang ia bayangkan. “Jangan membuat masalah lagi atau aku benar-benar akan memotong tendon kakimu kali ini.” Ancaman dingin suaminya membuat Luna sadar satu hal: pria itu benar-benar berbahaya. Sementara putranya sendiri menatapnya penuh ketakutan dan kebencian. “Apa kamu meracuni makananku?” Luna ingin melarikan diri. Tapi semakin lama ia berada di keluarga itu, semakin ia sadar— keluarga ini jauh lebih rusak dibanding novel aslinya.
view moreAku meregangkan badanku sebelum akhirnya melenguh puas. Pekerjaan hari ini sudah usai dan aku bisa langsung pulang dan tidur. Hari ini, tenagaku sudah habis menerima omelan dari para customer.
Namaku Lunaria Sirius, seorang pegawai biasa saja yang punya gaji diatas UMR sedikit. Setelah lulus kuliah, aku beruntung mendapat pekerjaan menjadi admin dan call center di perusahaan barang dan jasa. Meski pekerjaanku sangat memuakan karena hampir setiap hari mendengar ocehan dan amarah dari para customer, aku tetap bersyukur mendapatkan pekerjaan ini. Setiap selesai bekerja, aku menghabiskan waktu dengan bermain atau istirahat. Kehidupanku begitu monoton dengan keseharian yang sama. Tiba-tiba telponku berdering dan terdengar kabar bahwa nenekku baru saja meninggal. Nenek satu-satunya orang yang sangat menyayangiku setelah orangtuaku meninggal dalam kecelakaan pesawat. Aku bergegas memesan tiket pesawat dan pulang. Di sepanjang perjalanan aku menangis tiada henti, dan ketika sampai di rumah, aku tak kuasa menahan kesedihan hingga pingsan. Dan di pagi harinya, nenek di makamkan. Saat ini, aku sedang menemani para pelayat dengan sesekali mengusap air mataku. "Kamu itu udah jadi perawan tua. Kamu nunggu apa lagi? Umur kamu itu udah kepala tiga, masa kamu masih nggak mau nikah," "Nggak usah pilih-pilih. Bukannya nanti dapet yang ganteng dan mapan, kamu malah dapat suami yang nggak karuan," Aku hanya bisa menahan kekesalanku mendengar ocehan mereka. Ingin sekali aku membantahnya, namun mengingat suasana duka, aku memilih pamit kembali ke kota. Aku beralasan, jika bosku tidak memberikan aku izin cuti. Sampai di kota, aku membeli beberapa camilan untuk menemaniku beberapa hari kedepan. Ketika aku akan naik ke unitku melalui lift, seorang pria tua tiba-tiba berlari ke arahku. Aku menahan pintu agar tidak tertutup dan mempersilahkannya masuk. "Bapak, mau ke lantai berapa?" tanyaku seraya menekan tombol lantai yang aku tuju. "Sama," jawabnya. Aku tak mengajaknya berbicara kembali dan diam menunggu lift menuju lantai yang aku tuju. Ting Ketika pintu lift terbuka dan aku hendak keluar, tiba-tiba aku merasakan pinggangku terasa sakit. Aku berbalik menatap laki-laki itu. Dia menarik pisau yang ditancapkan padaku kemudian menusuk perutku berulang kali. Aku menahan rasa sakit hingga tak sanggup berteriak. Seketika aku tumbang dan terjatuh. Darah mulai merembes keluar dan pandanganku buram. Aku tak mampu untuk berteriak meminta tolong karena rasa sakit di perutku yang menjalar ke seluruh badanku. Tau begini, aku menetap saja di kampung dan mendengar omong kosong tentang pernikahan dan anak. Akh, apa ini akhir hidupku? Apa aku akan mati sekarang? **** "Nyonya, anda sudah bangun?" Aku menyerengitkan keningku ketika merasakan seseorang menganggu tidurku. "Nyonya, tolong bangun dan minum obat anda," Aku membuka mataku perlahan. Dan melihat langit-langit bewarna putih yang dihias lampu gantung kristal yang sangat indah. Melihat pemandangan itu, aku segera bangun dan menyentuh perutku panik. "Perutku," racauku panik. Aku memeriksa luka akibat tusukan pria gila tadi. "Dokter bilang anda harus makan dan minum obat agar asam lambung anda tidak naik lagi," "Asam lambung?" tanyaku bingung. Aku ini ditusuk bukan kena mag. Aku menatap perempuan itu bingung. Siapa perempuan didepanku itu. "Nyonya Luna, anda baik-baik saja?" "Aku baik. Tolong bantu aku ke rumah sakit," ucapku bingung yang segera bangun dari tidurku. Aku hampir saja jatuh jika perempuan disampingku tidak menangkapku dengan panik. Kepalaku pusing dan badanku terasa lemas. Aku rasa aku kehabisan banyak darah kemarin. Tapi, yang membuatku bingung kenapa aku masih hidup. Dan dimana ini, Aku menatap kesekitar dan melihat pantulan wajahku di sebuah cermin yang tak jauh dariku. Aku melihat wajah itu bingung. Aku mendorong wanita itu dan dengan langkah tertatih menuju cermin dan melihat wajahku yang terlihat asing. "Wa-wajah siapa ini?" pekikku kaget. "Ma-maaf nyonya." ucap perempuan itu dengan menunduk ketakutan. "Nyo- nyonya Lunaria, jangan marah. I-ini karena anda sedang sakit. Wa-wajah anda akan kembali bersinar jika anda sembuh," ucap wanita itu semakin panik dan ketakutan. Aku menatapnya dan wajahku di cermin bergantian bingung. Ini memang wajahku jika ditambah dengan filter jahat yang ada di aplikasi. Wajahku masih terlihat sangat cantik bahkan jika aku pucat. Aku curiga jika cermin ini memiliki filter. "Kamu siapa?" tanyaku bingung. "Sa-saya Lusi." jawabnya kaku. "Lusi ... Lusi siapa? Ini dimana? Dan aku siapa?" Perempuan itu menatapku kaget. Aku lebih bingung. "Kepala Pelayan, panggil Dokter." ucap wanita itu yang bergegas berlari keluar. "Nyonya hilang ingatan," Aku bingung. Yang kuingat ada bapak-bapak menusukku dengan pisau, Aku bergegas memeriksa perutku dan tidak ada bekas luka apa-apa. Dibanding sakit ditusuk, ini lebih ke arah sakit karena belum makan. Aku berjalan keluar dari kamar itu dengan tertatih. Sebenarnya ada apa ini? Aku melihat ke sekeliling, rumah ini sangat mewah dan besar. Sebenarnya aku berada dimana ini? Ugh, kepalaku juga terasa sakit. Brak Aku terjatuh hingga membentur lantai yang dingin itu. "Ish," Aku mendongak dan menatap siapa orang yang menabrakku dengan badan sekeras batu itu. Namun aku hanya bisa terkesiap melihatnya. Laki-laki itu sangat tampan dan berkarisma. Jika boleh jujur, dia laki-laki paling tampan yang pernah aku lihat. Artis-artis korea atupun Hollywood kalah jauh darinya. Apa dia Dewa yang jatuh ke bumi? "Tch, merepotkan." ucapnya dingin seraya berjalan pergi meninggalkanku. "Nyonya... Nyonya anda baik-baik saja?" Aku syok mendengarnya. Tatapan penuh rasa jijik dan menusuk itu ... "Nyonya, anda baik-baik saja?" tanya Lusi yang bergegas membantuku. "Lusi, siapa laki-laki sinting itu?" tanyaku jengkel. "I-itu ... suami anda," "Suami siapa?" Sepertinya aku salah dengar. "Suami anda nyonya, tuan Cavero." "Cavero?" tanyaku asing. "Benar nyonya, Cavero Daneswara Oliver." Cavero Daneswara Oliver? Kok aku nggak asing ya dengan nama itu ya. Cavero Daneswara Oliver? Cavero? Sepertinya bukan dia. "Cashelion?" sebutku ketika mengingat nama itu. "Itu, nama putra anda nyonya. Apa saya perlu memanggil tuan muda Cashelion?" Hah? Apa katanya tadi? Cashelion anakku? Jangan bilang aku masuk kedalam novel sampah penuh karakter psikopat gila itu!!Luna menatap perutnya yang mulai membesar. Sejak tau dia hamil, ia dapat melihat perutnya membesar dan merasakan gejala kehamilan yang semakin jelas. Nyidam? Tentu. Luna sangat ingin mendengar suara Cavero. Namun jelas, hal tersebut tidak mungkin dia lakukan karena sekarang, posisinya dia sedang kabur dengan memalsukan kematiannya. Luna harus segera mengenyahkan perasaannya. Sejak hamil, perasaannnya untuk Cavero semakin jelas. Entah itu bawaan anak atau perasaan Luna sendiri. Luna tak dapat menilainya. Akhirnya setiap malam, Luna harus mengigit bibirnya menahan tangis agar putranya Cashelion tidak mengetahuinya. Semakin dia merindukan Cavero, semakin ingatan kebejatan dan kejahatan Cavero semakin muncul seolah mengingatkannya bahwa perasaan itu dilarang, perasaan itu tabu. Anggap saja ini adalah hukuman untuknya dan Cavero karena saling memiliki perasaan yang tak semestinya.Luna menghapus air matanya. Dan berjalan menuju kamar mandi. Tepat di depan kaca wastafel, Luna melihat pena
Beberapa hari setelah peristiwa malam yang berdarah itu, suasana kota perlahan mulai berubah. Kehancuran tim penyerbu Black Cobra di kediaman Cavero hanya menjadi permulaan. Cavero kini berdiri di balkon lantai teratas gedung pusat Oliver Group, menatap lanskap kota yang berada di bawah kekuasaannya. Dia memegang segelas whiskey tua, mengamati garis cakrawala dengan tatapan penuh perhitungan."Gimana perkembangan serangan finansial kita?" Tanya Cavero tanpa menoleh.Wilhelm tersenyum tipis, "Saya sudah memutus jalur pendanaan mereka dari kasino-kasino di Makau dan Singapura. Pagi tadi, saham perusahaan cangkang mereka di bursa jatuh sejatuh-jatuhnya. Investor mereka mulai panik dan menarik modal secara masif. Bisa dibilang, secara ekonomi, sang kobra sudah kehilangan bisanya.""Bagus. Bagaimana dengan pemimpin Black Cobra? Dia masih sembunyi di pusat logistik di pelabuhan lama?" tanya Cavero."Benar, Tuan. Informan saya bilang mereka membawa sekitar tiga puluh warga sipil dari perumah
Beberapa hari setelah peristiwa malam yang berdarah itu, suasana kota perlahan mulai berubah. Kehancuran tim penyerbu Black Cobra di kediaman Cavero hanya menjadi permulaan. Cavero kini berdiri di balkon lantai teratas gedung pusat Oliver Group, menatap lanskap kota yang berada di bawah kekuasaannya. Dia memegang segelas whiskey tua, mengamati garis cakrawala dengan tatapan penuh perhitungan."Gimana perkembangan serangan finansial kita?" Tanya Cavero tanpa menoleh.Wilhelm tersenyum tipis, "Saya sudah memutus jalur pendanaan mereka dari kasino-kasino di Makau dan Singapura. Pagi tadi, saham perusahaan cangkang mereka di bursa jatuh sejatuh-jatuhnya. Investor mereka mulai panik dan menarik modal secara masif. Bisa dibilang, secara ekonomi, sang kobra sudah kehilangan bisanya.""Bagus. Bagaimana dengan pemimpin Black Cobra? Dia masih sembunyi di pusat logistik di pelabuhan lama?" tanya Cavero."Benar, Tuan. Informan saya bilang mereka membawa sekitar tiga puluh warga sipil dari perumah
Mobil mendadak mengerem tajam di pinggiran area industri yang terbengkalai. Asap hitam mengepul hebat dari salah satu gudang besar milik Blood Moon. Seth yang duduk di depan segera keluar lebih dulu, tangannya sudah memegang senjata otomatis yang ia tarik dari balik pintu mobil. Tak lama kemudian, dari arah tumpukan kontainer, Asael muncul dengan pakaian taktis lengkap. "Aku sudah mengepung titik koordinat utama! Dan para pasukan elit mereka juga sudah dikirim keluar untuk menangani Zeyan." lapor Asael ke Cavero. "Posisi sniper kita sudah di tempatnya masing-masing?" tanya Wilhelm pada Asael. "Semuanya siap," Cavero melangkah keluar dari mobil. Angin malam yang dingin menyapa wajahnya, membawa aroma menyengat dari bahan kimia yang terbakar dan debu mesiu. Ia menatap kobaran api di depannya dengan pandangan yang hampir terlihat penuh apresiasi. Baginya, kehancuran ini memiliki simetri tersendiri. Ia berjalan menuju bagasi mobil yang terbuka otomatis, mengeluarkan sebuah tas jinjing
"Tuan muda sepertinya memiliki kepribadian ganda." Cavero terkejut. "Ja ... jangan-jangan nyonya juga begitu tuan. Dia memiliki kepribadian ganda juga." Ekspresi Cavero kembali ke semula. "Enyah sana!" "Tuan, saya serius. Tadi saya berniat menemui tuan muda namun saya mendapati tuan mud
Seth, tangan kanan Cavero memberikan laporan apa yang dilakukan oleh Lunaria hari ini. Cavero mendengarkannya dalam diam seraya fokus mengerjakan pekerjaannya. "Sepertinya nyonya benar-benar sangat depresi tuan. Apa tidak sebaiknya kita memanggil Psikiater kembali? Nyonya sepertinya salah m
"Cashel," panggilku ketika kita sudah ada didalam mobil. Tadi sedikit ada drama Cashelion tidak mau masuk kedalam mobil. Dan sekarang, Anak itu diam tak meresponnya. "Cashelion." panggilku dengan menyentuh bahunya. Anak itu terkejut kemudian menatapku. Tak lama ia menunduk dan tak mau menun
Setelah satu minggu merenung aku akhirnya menyadari bahwa tidak mungkin aku bisa kembali ke duniaku. Aku yang disana, sudah pasti mati. Karena itu, aku punya tiga cara untuk menyelamatkan hidupku. Pertama, aku harus memperbaiki hubunganku dengan Cashelion. Dan tidak membuat masalah dengan psi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore