LOGINSetelah satu minggu merenung aku akhirnya menyadari bahwa tidak mungkin aku bisa kembali ke duniaku. Aku yang disana, sudah pasti mati.
Karena itu, aku punya tiga cara untuk menyelamatkan hidupku. Pertama, aku harus memperbaiki hubunganku dengan Cashelion. Dan tidak membuat masalah dengan psikopat sinting itu. Kedua, jika rencana pertama gagal aku akan menawarkan perceraian kepada Cavero dengan menawarkan berbagai keuntungan untuk laki-laki itu dan Cashelion. Setelah itu aku bisa meninggalkan keluarga psikopat itu. Ketiga, jika rencana itu semua tetap saja gagal. Aku akan kabur dan mengganti identitasku. Baiklah, untuk yang pertama. Aku harus bangun dari sini dan pergi melihat Cashelion. "Lusi, dimana Cashelion?" tanyaku. "Tuan muda pasti sedang ada di sekolah sekarang," "Kapan dia pulang sekolah?" "Jam tiga sore ini Nyonya," "Baiklah, katakan pada sopir pribadinya kalau aku akan menjemputnya pulang sekolah nanti," "Nyo-nyonya ... Ma-maaf. Lebih baik nyonya istirahat saja. Keadaan nyonya baru saja membaik." ucap Lusi penuh ketakutan. "Aku sudah membaik. Karena itu aku akan menjemput Cashelion nanti." putusku final. Sepertinya Lusi khawatir aku akan memukul Cashelion. "Lusi bawakan aku makanan. Aku lapar," ucapku lagi. Setelah mengatakan itu aku pergi ke kamar mandi dan berfikir. Aku harus membuat kesan jika aku tidak akan memukuli Cashelion lagi. Selesai mandi aku pun makan dan kemudian bersiap untuk menjemput Cashelion. Meski hubunganku dan Cavero hanya sebatas laki-laki itu memanfaatkanku untuk mendapatkan keuntungan saja tapi, laki-laki itu masih memberikanku kebebasan. Cavero tidak pernah mempermasalahkan istrinya menggunakan uang atau pergi kelayapan kemana. Menurutku, jika Lunaria mati secara tiba-tiba pun Cavero juga tidak akan peduli. Dari ingatan tubuh ini, Lunaria selalu histeris ketika melihat Cavero. Ia selalu berteriak menyuruh Cavero menyingkir dari pandangannya. Ia tidak ingin melihat ataupun bernafas ditempat yang sama dengan laki-laki itu. Cavero sendiri selalu merespon dingin sikap Lunaria yang seperti orang gila. Selesai bersiap, aku mengambil salah satu koleksi tas Lunaria dan pergi menuju sekolah Cashelion. Meski aku sangat menyukai hidup Lunaria yang tenang, aman, damai dan banyak uang seperti ini. Aku harus selalu ingat jika Cavero itu mafia sinting dengan kedok pengusaha. Orang gila mana yang menyuruh putranya sendiri membunuh istrinya. Aku melihat rumah ini takjub. Sangat besar dan mewah. Lihat saja banyaknya penjagaan ketat didepan pagar itu, sudah mirip keluarga bangsawan saja. Sampai di sekolah Cashelion, aku menunggunya di cafe terdekat dengan menikmati berbagai makanan manis. Ketika bel dari sekolah Cashelion berbunyi aku bergegas pergi ke sekolahannya. Setelah menunggu sekitar lima menit, ada seorang anak yang berlari mendekatiku dan memanggilku. "Tante Luna," teriaknya. Aku menatap anak itu. Dia berlari mendekatiku. Anehnya, aku tidak bisa mengenalnya. "Ah, halo." sapaku dengan tersenyum ramah. Aku pikir, aku pasti dekat dengan anak itu makanya anak itu berlari mendekatiku dengan ramah. "Tante jemput aku lagi?" tanya anak itu antusias. Aku jemput anak itu lagi? Memangnya siapa anak itu. "Aku pingin makan cake yang terakhir kali kita makan tante," ujarnya kembali. Aku menatap anak itu bingung. Kenapa ingatan tentang anak itu tidak muncul dihadapanku lagi? Biasanya, ingatan Lunaria akan muncul jika aku berhadapan dengan orang itu. Tapi kenapa sekarang tidak lagi? Siapa sebenarnya anak ini, dan siapa pula nama anak itu? Kenapa tidak ada nametag di seragamnya? "Nyonya ... maaf menggangu waktu anda. Tapi itu tuan muda," Aku langsung mendongak dan menatap Cashelion yang berdiri tak jauh dariku. Wajahnya benar-benar mirip seperti Cavero namun ini versi anak-anak. Anak itu menatapku dengan tatapan kebencian. "Cashel, mama datang jemput kamu." ucapku seraya tersenyum. Kulihat anak itu terkejut. Mata dan juga ekspresinya menunjukkannya dengan jelas. "Sebentar ya," ucapku pada anak didekatku. Aku berjalan mendekati Cashelion dan meraih pergelangan tangannya dan membawanya ke mobil. "Ayo pulang Cashel." ucapku. Sampai di mobil aku bertanya pada anak yang tersenyum ramah padaku. "Kamu pulang sama siapa?" tanyaku ke anak itu. "Aku dijemput." jawab anak itu yang terlihat sangat bingung. "Jadi, dimana jemputannya? Sudah datang belum?" Anak itu melihat ke sekeliling kemudian menganguk padaku. Ia menunjukan mobil jemputannya. "Itu dia tante. Kalau begitu, aku kesana dulu ya ... Lain kali ayo makan cake itu tante," "Iya. Tentu saja." "Bye bye tante. Da dah Cashelion." ucapnya yang berlari menuju mobil itu. Aku memperhatikannya hingga anak itu masuk kedalam mobil. Setelah itu aku fokus ke Cashelion. Aku membukakan pintu mobil dan menyuruh Cashelion masuk. Anak itu menatapku penuh kebingungan, meski raut wajah takutnya terlihat jelas. "Ma- mama, baik-baik saja?" tanya Cashelion ragu.Elard tengah duduk di taman sendirian karena lelah harus berpura-pura bersikap manis kepada Asael. Andai saja bisa, Elard ingin mengabaikan wanita itu dan pergi ke markasnya untuk melatih anak baru daripada harus membuang-buang waktu bersama wanita licik itu. Hah,Helaan berat dikeluarkan Elard. Dia berharap, angin malam mampu menyingkirkan perasaan tak menyenangkan yang hinggap sekarang. Berharap waktu cepat berlalu agar dia bisa segera pulang. Di tempat ini, bukan. Bukan tempat, ini memang bukan dunianya. Kapan dia bisa terlepas dari sini dan hidup dengan nyaman bersama Cendric. "Elard,"Suara lembut yang menyapa telinga Elard, membuat perasaan risau laki-laki itu pudar. Elard mengangkat kepalanya. Di depannya, ada wanita yang selalu ia rindukan setiap matanya terpejam. Andai bisa, Elard ingin memeluknya. Mendekapnya dan mengatakan bahwa ia sangat mencintai wanita itu. Namun apa dayanya, ada nyawa yang lebih berharga dari wanita didepannya yang harus dia lindungi. "Aku tidak m
Penjelasan dari mamanya membuat Luna terdiam dan tak bisa berkata-kata. Cavero benar-benar seperti binatang. Dia tak habis pikir bagaimana bisa ada orang yang seperti itu. "Luna, kamu tidak akan mencintai pria bejat itu kan? Kamu harus ke psikolog. Mama takut kamu terkena Stockholm." Luna tersenyum dan menenangkan mamanya. Yah, tenang saja. Dia tidak akan terkena sindrom Stockholm. Luna menenangkan mamanya dan berkata bahwa ia pasti akan meninggalkan Cavero segera. Jadi, mamanya tidak perlu khawatir. Setelah mengunjungi mamanya, Luna pulang dan tak lama, Cavero juga pulang dengan beralasan bahwa ia sedang menyesuaikan baju dengan Designer untuk acara nanti malam. Luna tak percaya. Cavero bukanlah orang yang peduli dengan penampilan. Setelah menyesuaikan semuanya, dan para tamu itu pergi, Cavero langsung memeluk Luna dan menciumnya mesra."Boleh aku melakukannya sayang, semalam Anak sial- maksudku Cashelion monopoli kamu," ralat Cavero cepat-cepat dan bernada manja. Luna masih ta
Kamar dengan nuansa hitam emas itu, sangat normal. Tidak seperti pemiliknya yang dikenal psikopat. Aku pergi ke ruang kerja Cavero karena tidak menemukan apapun di ruangan itu. Dan lagi-lagi di ruang kerja Cavero tak ada informasi apapun. Ketika hendak pergi, aku melihat sebuah Vas bunga yang dipenuhi bunga Lunaria palsu dipojokan. Aku mendekatinya karena sangat penasaran. Bukan karena merasa janggal atau hal lainnya, namun karena bunga itu memiliki nama yang sama denganku. Lunaria. Ketika aku mengambil bunga itu, dinding tepat didepanku tiba-tiba terbuka. Aku kaget. Dengan penasaran, aku memasuki ruangan gelap itu dengan senter hp. Ruangan kecil itu membentuk sebuah lorong yang panjang. Meski aku tidak memiliki Claustrophobia, dadaku sudah terasa sesak. Lorong ini seolah tidak memiliki ujung. Dan aku juga tidak paham, sebenarnya membawa kemana lorong ini. Setelah lima menit, lorong itu membawaku ke sebuah ruangan yang lebih luas. Aku mencari saklar lampu. Dan untungnya, ketemu. K
Aku masih saja bingung karena tidak tau siapa yang harus di percaya. Cashelion atau Cavero. Apa yang di ucapkan Cavero benar, jika Cashelion dikunci di gudang, bagaimana cara anak itu keluar. Namun rasanya tidak mungkin juga putraku itu berbohong. Aku mengantar Cashelion ke sekolah. Sepanjang jalan, anak itu hanya bertanya tentang keadaanku. Apa aku masih sakit dan apa aku sudah baik-baik saja hingga bisa mengantarnya ke sekolah. Dia dipenuhi kecemasan. Katanya, aku harus banyak-banyak istirahat agar tidak kelelahan. Yah, dia anak yang baik dan penuh perhatian. Aku heran kenapa banyak sekali orang yang membenci anak itu. "Sayang, mama mau tanya sesuatu.""Yah, apa itu?" "Papa itu gimana ya orangnya?" Cashelion sepertinya cukup terkejut dengan pertanyaanku. Dia mematung cukup lama sebelum akhirnya tersadar. "Mama, harus hati-hati sama papa. Papa orangnya kayak Lion. Kadang jahat kadang baik. Tapi banyak jahatnya.""Terus kamu sama papa gimana hubungannya, baik?" Cashelion mengge
Cavero yang tau jika aku tidak berada dalam kamarnya lagi marah. Dia menemui ku di kamar dan memintaku untuk kembali. "Kembali? Aku rasa kita tidak pernah sekamar sebelumnya."Wajah Cavero pucat. "kamu ingat?" "Kenapa kalau aku ingat?" tanyaku sinis. Aku merasa di bohongi. Meski tidak munafik jika tubuhku tetap merespon sentuhan-sentuhan Cavero. "Sayang, kamu salah faham. Hubungan kita memang buruk, tapi beberapa bulan terakhir sempat membaik. Saking baiknya, kita bahkan punya rencana untuk punya anak perempuan." "Benarkah?" "Iya," "Karena aku masih sakit, kita bisa tunda rencana itu. Untuk sekarang, aku mau tidur disini. Tolong keluar. Aku mau istirahat,""Luna,""Keluar!" ucapku tanpa ekspresi. Cavero menurut. Laki-laki itu keluar. Aku tidak tau jika Cavero akan murka dan bertanya darimana aku bisa tau kamar ini. Ketika salah seorang pelayan membocorkan jika itu dari Cashelion, Cavero murka. Laki-laki itu memanggil Cashelion dan menghukum anak itu tanpa sepengetahuanku. Ak
Lunaria Pov..Alasan kenapa aku pulang ke rumah mama karena aku jenuh berada di tempat itu. Aku tidak tau kenapa aku merasa begitu, yang pastinya aku sama sekali tidak merasa nyaman. Di mansion yang luas itu aku sama sekali tidak mendapatkan ingatan apapun. Tak hanya ingatan, namun aku merasa begitu asing. Bahkan pada kamarku sendiri. Aku merasa ada yang janggal dan aneh. Tak ada foto pernikahan kami atau foto keluarga yang tertempel di dinding itu. Mengingat sifatku, sudah pastinya akan ada banyak foto suami dan putraku. Namun di rumah itu, sama sekali tak ada foto mereka. Sampai di rumah mama, mama langsung memelukku dan bertanya keadaanku. Ku jawab saja dengan jujur jika Cavero menjagaku dengan baik. Dan seperti yang kuduga, mama menatapku dengan sinis dan marah. Hal yang paling membuatku penasaran adalah kenapa aku bisa menikah dengan Cavero jika mama sebenci ini pada laki-laki itu. Apa alasannya karena Cavero membunuh papa? Aku rasa pasti ada alasannya. Aku yakin jika papa pas
Aku hanya bisa tercengang ketika sadar bahwa aku telah masuk ke salah satu novel yang aku baca beberapa minggu lalu. Dari banyaknya novel, kenapa harus yang itu. Novel penuh karakter psikopat gila! Dulu, aku membelinya karena tertarik dengan judulnya. Ditengah Hujan Deras. Menarik bukan? Tak ada
Aku meregangkan badanku sebelum akhirnya melenguh puas. Pekerjaan hari ini sudah usai dan aku bisa langsung pulang dan tidur. Hari ini, tenagaku sudah habis menerima omelan dari para customer. Namaku Lunaria Sirius, seorang pegawai biasa saja yang punya gaji diatas UMR sedikit. Setelah lulus kuli
Seth, tangan kanan Cavero memberikan laporan apa yang dilakukan oleh Lunaria hari ini. Cavero mendengarkannya dalam diam seraya fokus mengerjakan pekerjaannya. "Sepertinya nyonya benar-benar sangat depresi tuan. Apa tidak sebaiknya kita memanggil Psikiater kembali? Nyonya sepertinya salah m
"Cashel," panggilku ketika kita sudah ada didalam mobil. Tadi sedikit ada drama Cashelion tidak mau masuk kedalam mobil. Dan sekarang, Anak itu diam tak meresponnya. "Cashelion." panggilku dengan menyentuh bahunya. Anak itu terkejut kemudian menatapku. Tak lama ia menunduk dan tak mau menun







