MasukKereta keluarga Elvorn akhirnya memasuki halaman utama kastil menjelang sore. Matahari mulai condong ke barat, memancarkan cahaya keemasan yang menyelimuti dinding batu kastil dan halaman yang luas. Para pelayan segera bergegas menyambut ketika kereta berhenti di depan tangga utama.Mia lebih dulu turun sebelum membantu Siera keluar dari dalam kereta. Begitu kedua kakinya menyentuh tanah, Siera langsung melihat sosok yang sudah berdiri di depan pintu utama kastil.Dregory dan di belakangnya, Hugo telah bersiap bersama beberapa pengawal, sementara sebuah kereta lain telah menunggu di pelataran.Melihat ayahnya, Siera berjalan menghampiri."Ayah."Dregory mengalihkan pandangannya kepada putrinya."Kau sudah kembali."Siera mengangguk pelan sebelum melirik ke arah kereta yang telah dipersiapkan."Apa yang Ayah lakukan?"Dregory mengikuti arah pandang putrinya."Aku akan pergi.""Ke mana?""Istana." Jawabannya singkat seperti biasa. "Ada yang harus dibahas bersama utusan diistana."Siera
Siera hanya diam menatapnya."Kalau sejak awal kau sudah menutup pintu untukku bukankah itu sedikit tidak adil?"Siera menundukkan pandangannya. Ia tidak dapat menyangkal ucapan itu karena memang benar. Dior telah mengenalnya jauh lebih lama. Mereka menghabiskan waktu bersama hampir setiap hari, berlatih, berbincang, bahkan tanpa sadar telah menjadi bagian dari rutinitas satu sama lain.Sedangkan Alexis hari ini adalah pertama kalinya mereka benar-benar berbicara sepanjang ini. Melihat Siera tetap diam, Alexis kembali melanjutkan."Aku tidak meminta kau memilihku. Aku hanya meminta jangan menolakku sebelum kau benar-benar mengenalku."Keheningan kembali jatuh. Siera perlahan mengangkat wajahnya. Tatapannya bertemu dengan mata Alexis yang sejak tadi tidak pernah menunjukkan sedikit pun tanda bercanda.Ia tahu kalau memberikan kesempatan berarti membuka kemungkinan. Dan kemungkinan itu adalah sesuatu yang selama ini justru ingin ia hindari.Setelah beberapa saat berpikir, Siera akhirny
Hanya itu yang ia katakan, tidak ada penjelasan lainnya dan bahkan tidak ada alasan. Ia kemudian menganggukkan kepala singkat kepada Alexis sebagai bentuk penghormatan, lalu berbalik meninggalkan ruangan bersama Vale dengan langkah yang jauh lebih cepat daripada biasanya.Kepergian Dior membuat suasana di dalam ruang teh berubah seketika. Ruangan yang sejak tadi dipenuhi adu mulut kecil kini justru terasa jauh lebih sunyi. Siera memandangi pintu yang baru saja tertutup beberapa saat sebelum akhirnya mengalihkan perhatiannya kembali kepada pria yang masih duduk di hadapannya.Alexis tersenyum tipis sambil meletakkan cangkir tehnya ke atas tatakan porselen.Siera ikut merapikan posisi duduknya."Sepertinya..." ucapnya pelan, "Grand Duke Muda sudah pergi."Alexis menganggukkan kepala."Ya.""Kalau begitu..." Siera menatap lurus ke arah pria itu. "Sekarang kita akhirnya bisa berbicara dengan tenang."Alexis terkekeh pelan."Kurasa begitu."Keheningan singkat kembali menyelimuti meja merek
Ucapan Dior membuat suasana di dalam ruangan berubah seketika. Siera tidak mengatakan apa pun, begitu pula Alexis.Keduanya hanya terdiam, lalu tanpa sadar saling berpandangan seolah memastikan bahwa mereka baru saja mendengar kalimat yang sama. Beberapa detik kemudian, tatapan mereka perlahan beralih kembali kepada Dior yang duduk dengan tenang seakan tidak merasa baru saja mengucapkan sesuatu yang mampu membuat dua orang di hadapannya kehilangan kata-kata.Alexis menghembuskan napas panjang. Ia benar-benar tidak tahu harus tertawa atau merasa kesal. Akhirnya ia menggeleng pelan sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi."Kalau memang ingin menunggu..." gumamnya, "Tunggulah di tempat lain."Dior mengangkat pandangan."Mengapa?""Tidak ada alasan bagimu berada di sini.""Memangnya kenapa kalau aku di sini?" Dior menjawab dengan nada yang tetap datar.Sudut mata Alexis berkedut. Ia sampai tertawa pendek karena tidak percaya dengan jawaban yang baru saja didengarnya."Kau benar-benar harus
Menjelang siang, tea house paling privat di pusat ibu kota kembali dipenuhi para bangsawan. Aroma teh yang baru diseduh bercampur dengan wangi roti dan kue-kue yang baru keluar dari dapur, sementara alunan musik dari sebuah piano di sudut ruangan mengisi suasana dengan tenang. Para tamu berbincang dalam suara pelan, menjaga etika sebagaimana layaknya tempat yang sering dijadikan lokasi pertemuan para keluarga terpandang.Kereta keluarga Elvorn berhenti tepat di depan pintu masuk.Seorang pelayan segera membuka pintu, lalu membungkukkan badan dengan hormat ketika Siera turun dari kereta. Hari itu ia mengenakan gaun berwarna biru muda yang sederhana, tetapi tetap anggun. Mia berjalan satu langkah di belakangnya hingga keduanya diantar menuju ruang khusus yang telah dipesan.Saat pintu ruangan dibuka, Alexis ternyata sudah menunggu. Begitu melihat Siera datang, Pangeran Kedua segera berdiri. Senyum ramah terukir di wajahnya ketika ia melangkah menghampiri."Lady Elvorn.""Yang Mulia."Si
Siera berkedip pelan, seolah memastikan dirinya tidak salah mendengar."Ayah sudah tahu?"Dregory menganggukkan kepala sekali. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya terlihat jauh lebih tajam daripada biasanya."Ya."Ia menyandarkan tubuhnya perlahan pada sandaran kursi, lalu melipat kedua tangannya di depan dada."Dan kudengar," ujarnya pelan, "Besok kau akan bertemu dengannya."Ruangan kembali dipenuhi keheningan.Siera menundukkan pandangannya sejenak ke arah cangkir teh yang masih berada di tangannya. Uap hangat yang mengepul perlahan menghilang, sama seperti pikirannya yang kini mulai sibuk menghubungkan berbagai hal.Ia tidak menyangka berita itu menyebar secepat ini. Bahkan sebelum pertemuan itu benar-benar terjadi."Jadi..." gumamnya pelan sambil mengangkat wajah. "Beritanya sudah sampai ke istana.""Bukan hanya sampai."Suara Dregory terdengar datar, tetapi cukup membuat Siera kembali memusatkan perhatiannya."Sejak siang tadi, itu sudah menjadi bahan pembicaraan."Tatap
Suara ketukan pintu membuat Siera tersentak. Ia menoleh ke arah pintu ketika daun pintu terbuka perlahan, dan seorang gadis masuk dengan langkah hati-hati.“Nona…”Siera menatapnya.“Mia…”Wajah Mia terlihat lega, bahkan sedikit senang. “Yang Mulia Duke benar… Anda sudah bangun.”Siera menatap gadis
Siera membuka mulut, tetapi kata-kata terasa sulit keluar. Tenggorokannya kering, pikirannya masih kacau oleh apa yang baru saja ia alami.“A-aku…”“Apa karena Putra Mahkota Erick?” potong Dregory tiba-tiba.Nada suaranya rendah, namun justru terasa lebih menekan. Tidak ada kemarahan yang meledak, t
“Hah… hah…”Napas Siera memburu setelah berlari tanpa henti. Keringat mengalir di pelipisnya, sementara tangannya mencengkeram pinggir pintu balkon untuk menahan tubuhnya tetap berdiri.Sang ratu kekaisaran itu berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Semuanya terasa begitu cepat… begitu kacau
Mia langsung membeku di tempatnya.Bahkan Felix yang biasanya mampu menghadapi berbagai situasi tanpa perubahan ekspresi terlihat berkedip sesaat. Permintaan itu datang begitu tiba-tiba hingga tidak seorang pun langsung memberikan jawaban.Siera yang sejak tadi diam perlahan mengangkat kepalanya.







