LOGINDemi melunasi hutang sang ayah, Femi nekat menjadi istri dari seorang CEO yang terkenal dingin dan galak. Karna kesabaran dan ketulusan Femi, akhirnya CEO jatuh hati dengannya meski berawal dari kecantikkan Femi. Namun, Femi sudah terlanjur menilai jelek Jeremy atau Jee nama dari CEO. Apakah Femi juga akan merasakan ketulusan Jee di balik sikap dinginnya?
View MorePROLOGUE
JAYI shouldn't lust over him. It was taboo and frowned upon by society. I would disgust any who heard it, but I couldn't stop it. If he were a woman, it would have eased everything, made the feeling bearable, but no. He had to be a fucking boy, one who always sent my blood into overdrive each time I think of him, on his knees, swallowing my dick.
However, his gender didn't matter, it was our relationship. He was my fucking baby brother, one who became my family when he was just a kid. I couldn't do this to him, even though I wanted to, now that he had gone through his differentiation. We had always believed he would be an alpha since he fucking came from a family of alphas, but he turned out to be an omega, and I was still getting used to his new identity. Something that was taking all my willpower not to mark him and make him mine forever.
Letting out a curse, I slid my dick into the willing hole of the whore I picked up because of how much he looked like him, the boy I wasn't supposed to think about. Though his omega scent was irritating to the nose, I could only settle for less since I couldn't get the one I love.
I wrapped my fist around his blonde hair and tugged hard, causing the young man to gasp. His hole clenched around my dick as I increased my pace, tightening my hold.
"More,” he begged, his arse cheeks bouncing with each thrust. “Fuck! I need more!” He tried to turn, but I held his hair tighter.
It would be over if he looked at me. Imagining him as my stepbrother made me hard. My dick would soften the minute I look into his eyes and realize he wasn't my step-brother.
That was why I fucked them doggy style. This way, I wouldn't have to look at their face and into their eyes.
“Fuck!” He screamed when I hit the spot, thrashing under me from both the pain of his scalp hurting from my tight grip, and the pleasure from having his prostate stroked.
With one hand holding his hair in place, I slapped his juicy arse cheeks with my right hand. He moaned louder, trying to match my pace.
“You —”
The ringing of my phone cut my words off. My gaze whipped over to it, and the lusty haze I was in, cleared.
I pushed him away from me and hurried over to my discarded trousers. I know that ringing tone. It was the one I saved his name with. My hands shook as I answered the call, gesturing for the whore to shut the fuck up when he started protesting.
“Baby?”
“Brother, where are you?”
Fucking a whore out, and imagining you were the one.
“I… Something held me up. Is everything okay?”
“I miss you, brother. Dad just left and… Can you come over, please? I don't want to stay here alone,” he begged, using that voice I could never say no to.
Wait, what was I even talking about? Even without him using that tone, I would always run to him, wagging my tail like a dog any time he called.
“I will be there in a few minutes. Wait for me okay?”
“I will.”
I disconnected and dropped my phone on the table before I hurriedly put on my slacks.
“What's going on?” The young man I was just fucking sat up on the bed, glaring. “Where are you going? We just started —”
“Here.” I threw a wad of cash at him. “That's your pay for the night.” I zipped and buttoned my jeans before I reached for my polo.
“You know that's not what I want, right? I just want to —”
“Finish yourself with your fingers. They are there for a reason.” I picked up my phone and car keys from the table and made for the door, narrowly avoiding the pillow he threw at me.
“Bastard! Where the hell do you think you are going?!”
Those words caused me to pause in my steps and I turned to look at him.
“Who the hell did you call a bastard?” I growled, drawing a step towards the bed, my wolf rising and my pheromones wafting out.
He gasped, eyes watering as he reached for his throat, face ashen white. “Please stop!" He begged, falling back on the bed.
The second he fell back, panting from the dose of pheromones I let out, I turned, taking long strides out of the back room, and heading straight to my car. All I had in mind then, as I got into the vehicle, was to go to my baby boy. He was all that mattered to me.
Monica menangis sesenggukan, hendak mengadu Pada ibu Widya. Ibu Widya yang saat itu sedang maskeran, panik melihat Monica menangis masuk ke kamarnya "Loh, ada apa?" "Aku ditinggal sendirian di Klinik, Oma!!" "Emangnya Jee kemana?" "Gak tau, kan dari awal emang Jee gak suka sama Monica. Gak ikhlas Anter Monica" Ibu Widya mengangguk paham, di elusnya punggung Monica agar lebih tenang. "Sabar, kita harus cari rencana biar Jee suka sama kamu!" "Gimana caranya Oma?" "Pokoknya ada lah! Nah sekarang kamu tidur. Besok ikut Oma ke suatu tempat" Monica mengangguk, dan berjalan keluar dari kamarnya Ibu Widya ** Ke esokkan harinya, karna Ibu Widya sudah janji. Dia akan mengajak Monica ke sebuah kampung terpencil &nb
Setelah seharian berkeliling, akhirnya mereka pulang kerumah. Tentunya, 4 pasang mata yang melihat kedatangan mereka sangat tidak suka. Melihat itu, Monica pergi ke kamarnya di susul Ibu Widya "Hei, gak usah galau" "Oma, aku lebih baik kembali ke Sidney. Ada tawaran job model disana. Setidaknya, aku juga bisa move on dari Jee" kata Monica sambil berlinangan air mata Mendengar hal itu, ada rasa tak enak dihati Ibu Widya. Dia tau betul bagaimana Monica sangat menyukai Jee Sedari dulu. "Kamu gak usah galau begitu, perlahan kita akan membuat gadis miskin itu gak betah dirumah ini" Monica mengangguk. Berharap apa yang dikatakan Omanya benar. "Aku mau ke dapur dulu" "untuk apa?" "buatin kamu nasi goreng spesial" Femi membuatkannya nasi goreng putih dengan bumbu seadanya khas nasi goreng jaman
Mobil melaju, mengarah ke rumah Jee. Sedangkan Femi samar samar mulai membuka matanya. Kepalanya terasa pusing, pandangannya sedikit berputar. Saat sadar dia sudah berada di dalam mobil, dengan David sebagai sopir "Sudah bangun?" tanya David menyadari Femi sudah tersadar. Femi mengangguk pelan, memperbaiki posisi tidurnya. "Aku tadi kenapa?" "Kamu hampir diperkosa" Mata Femi membulat, bagaimana bisa dia hampir di perkosa sedangkan seingatnya dia terakhir bersama Monica? "Lain kali, kalau diajak Monica harus hati hati. Monica punya ide licik buat nyakitin kamu" "Maaf. Terima kasih, sudah berkali kali kamu nolongin aku" "Tak masalah" senyum David, menoleh sebentar kearah Femi *** Di tempat lain, Jee mengamuk buru buru pulang setelah mendapatkan beberapa foto Femi dengan seorang Pria tak dikenal dari Monica "Dimana gadis bodoh itu?" "Tenang Jee, wanita jalang itu pas
"Hooaaaamm" Femi terbangun dari tidurnya, setelah kecapaian dari jalan jalan dengan Jee semalam "Ini bau apa?" tanya Femi mengendus enduskan hidungnya.Penasaran dengan bau terbakar yang menyengat, Femi melangkahkan kakinya ke balkon belakang. Matanya membelalak, Ada Monica sedang membakar sesuatu yang tidak asing dimatanya, dihalaman rumah. Dengan bergegas, Femi segera turun ke bawah. Benar saja, Monica membakar semua pakaian yang dibelinya tadi malam bersama Jee. Termasuk baju batik untuk ayahnya. "Monica, ini masih baru!" kata Femi, seolah mengerti kalau Monica mengira itu hanyalah baju bekas yang sengaja dibakarnya "Gue tau" "Kenapa kamu bakar, Monica?" "Mending baju Lo, daripada diri Lo yang gue bakar." jawab Monica santai Femi tertegun, selama ini emang benar benar Monica membencinya. Tapi, kenapa dia harus membakar baju baju miliknya? "Dengar ya cewek udik, Lo gak pantas jadi istrinya Jeremy. Lo miskin,
"Jee, lepass!!" pinta Femi, saat tangannya di tarik paksa oleh Jee Jee terus saja menarik tangan Femi, hingga masuk kedalam kamar. Dilemparkannya Femi ke atas ranjang "Ada hak apa Lo, berani dekat dengan laki laki lain selain gue?" "Aku hanya ngobrol sebentar dengan David"
"Selamat malam" Sapa Jee, mendaratkan bokongnya di kursi khusus tempat makan Ibu Widya dan Monica yang sedari tadi menunggu Jee, membalas ucapannya sembari tersenyum senang. Mereka merasa bahwa Femi tidak ikut makan malam dengan mereka kali ini. Lili, salah satu pelayan Jee. Menua
"Feminin Moudi, Saya mengambil engkau menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan"&
"maaf, Tuan. Nyonya besar menunggu anda di di teras depan" terang Ina, seorang pelayanJee hanya mengangguk, mendengar laporan itu. Lalu menoleh ke arah Femi.Seperginya Ina. Jee terduduk dengan wajah gusar. Bagaimana bisa dia menemui nenek tua itu, Ibu d












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.