LOGINOne forbidden mistake. One steamy affair. One secret agenda that could destroy them both. When Jenny Cruz, a struggling 25-year-old woman, lands a housekeeping job in the luxurious estate of Mexico’s most eligible billionaire, Ken Delgado, she knows it’s her last shot at survival. But her first day turns into chaos when she accidentally walks in on her brooding, sexy boss completely naked. She expects to be fired. Instead, she’s kissed… Punished with pleasure… And pulled into a whirlwind affair that blurs the line between lust and love. Ken is rich, ruthless, and always in control — until Jenny crashes into his world. What begins as a simple distraction becomes an obsession. But as their secret relationship deepens, so does the danger lurking in the shadows. Enter Natasha Rivera, Ken’s ex — beautiful, bitter, and hell-bent on destruction. She returns with one mission: destroy Ken, steal his fortune, and vanish with her secret lover. Lies are told. Charges are filed. And a dark secret agenda threatens to take everything from Jenny — including her heart. As betrayal brews, secrets explode, and enemies close in, Jenny must decide: Is love worth the tempest? Can desire survive the fire? Or will the flames of passion burn them both to ashes?
View MoreMalam kembali menyapa tidak ada yang keluar dari rumah itu malam ini. Masih pukul sepuluh malam, mereka sudah tidur. Mungkin karena mereka lelah setelah siang tadi mereka baru melewati hari yang panjang.
Raya menggeliat, saat merasakan ada sesuatu jatuh ke wajahnya, yang membuat tidur nyaman nya terganggu. Ia memegang wajahnya yang terasa dingin dengan masih memejamkan mata.
Raya merasa-rasa cairan yang ada di wajahnya dengan tangannya.
Lengket, ya tidak seperti air biasanya. Raya membuka matanya.
Gelap! hanya kegelapan yang bisa dilihat. Raya meraba sisi kirinya, tidak ada siapa-siapa. Kecemasan melanda hatinya. Kenapa? Kenapa tidak ada Rere yang tidur di samping kirinya tadi. Kemana Rere?. Berbagai pertanyaan mampir di benaknya.
Raya kembali meraba samping kanannya. Tapi, lagi-lagi cairan Lengket tadi yang ia temukan di tubuh Dewi yang tidur di sampingnya.
"Wi."
Masih dalam keadaan berbaring Raya menggoyangkan tubuh orang yang ia kira Dewi itu agar Dewi bangun, tapi Dewi tak kunjung bangun juga.
Aneh! Ada yang aneh di sini. Ada apa dengan Dewi?.
Kenapa? Kenapa Dewi tidak bangun juga, tidak biasanya wanita yang disukai Rizal itu tidak bangun saat sudah beberapa kali di panggil, apalagi di goyangkan tubuhnya. Raya bangun dari tidurnya, tapi ia kembali berbaring karena jidatnya mentok di sesuatu yang keras.
"Aduh."
Raya mengelus jidatnya yang sakit. Perasaan aneh kembali menyelimuti hatinya, setelah beberapa saat ia terdiam. Sebelum tidur Raya tidak merasakan ada sesuatu yang menghalangi diatasnya.
Raya mengepalkan tangan yang barusan digunakan untuk mengelus jidatnya dan kembali membukanya setelah tangan yang terkepal itu sudah di depan wajahnya. Rasa mual langsung menyerangnya. Raya langsung menjauhkan tangannya. Raya berusaha agar tidak muntah.
Keadaan yang gelap, sempit dan bau menyengat dari orang yang tidur di sebelahnya juga tangannya membuat Raya tak ingin memperparah keadaan, dengan ia muntah saja mungkin akan semakin parah bau menyengat yang sedang dirasa sekarang.
"Kenapa? Kenapa aku ada di tempat seperti ini?" batin Raya bertanya-tanya. Perasaan cemas, takut menyelimuti dirinya. Keringat dingin bercucuran dari dahinya.
"Dewi."
Raya berusaha bangkit dari berbaringnya. Namun, lagi-lagi jidatnya terbentur. Raya meraba-raba sesuatu yang membuat jidatnya kepentok seraya mulutnya memanggil nama teman-temannya.
"Dewi, Rere."
Nafas yang memburu semakin memburu saat tangan Raya meraba sesuatu yang ada di atas wajahnya.
"Aaah! …," teriak Raya.
Raya terbangun dari tidurnya. Begitupun dengan teman-teman Raya karena mendengar teriakan Raya.
"Ray, lu kenapa?" tanya Dewi yang tepat berada di samping Raya.
Raya bernafas dengan cepat, ia langsung melihat ke arah Dewi. Dewi baik-baik saja, Ia melihat ke arah Rere yang juga sedang melihat ke arahnya. Rere baik-baik. Raya menghela nafas lega melihat teman-temannya baik-baik saja.
"Kamu kenapa, Ray?" tanya Dewi.
Raya tak menjawab, ia hanya sibuk memperhatikan tangannya. Tubuhnya berkeringat, air mata menetes dari maniknya.
"Mimpi?" tanya Rere.
"I-ya," jawab Raya bergetar.
"Memang mimpi apa?" tanya Dewi.
"Serem banget pokoknya."
Raya memperhatikan tangannya dengan selidik, memastikan kalau yang terjadi barusan kepadanya itu hanyalah mimpi.
"Kamu ngapain sih liatin tangan terus, emang tadi mimpi apa?" Dengan mata yang masih teler Rere bertanya pada Raya.
"Tadi aku mimpi …," ucap Raya terpotong.
"Sudah, jangan ceritakan sekarang. Aku masih ngantuk," ucap Rere seraya berbaring kembali.
"Yey. Trus ngapain nanya? dasar temen gak ada akhlak."
Rere tak menghiraukan ucapkan Raya, ia kembali berbaring.
" Yaudah, Ra. Tidur lagi aja. Besok cerita ya! Jangan lupa baca doa biar gak mimpi buruk lagi!" ucap Dewi.
Ia kembali berbaring bersama Rere, begitu juga dengan Raya yang ikut berbaring, tapi Raya tidak tidur kembali. Pikirannya berkelana ke mimpi yang baru saja di alaminya.
****
Pagi hari Raya berada di cafe, hari ini ia akan merayakan ulang tahun sahabatnya yaitu Lea. Namun, saya melihat seorang laki-laki dan perempuan sedang bertengkar bahkan laki-laki itu akan menampar perempuannya hingga membuat hati rakyat terpanggil untuk menolong perempuan itu.
Laki-laki itu adalah Abizard pebisnis sukses yang bergelut di bidang properti. Ia sedang bertemu dengan istrinya di cafe karena mereka tinggal terpisah.
"Abizard, kamu kenapa sih nggak datang? anak-anak itu nanyain kamu terus." Abizard menggaruk pelipisnya, Ia terlalu pusing mendengar setiap hari harus mendengarkan omelan dari istrinya itu.
Abizard menoleh pada setiap sudut ruangan kafe yang nampak tidak terlalu ramai dan ia mensyukuri hal itu.
"Duduk dulu, Sa," pinta Abizard.
Carissa duduk di depan Abizard dengan kesal.
"Kamu juga gak angkat telepon dari aku."
Abizard sudah muak dengan istrinya ini. Carissa sendiri yang memutuskan tinggal terpisah darinya karena Carissa merasa tidak nyaman tinggal di rumah Abizard, tapi Carissa selalu saja memaksa Abizard untuk tinggal dan datang ke apartemennya. Sementara Abizard yang sibuk membuatnya sangat sulit untuk mengunjungi istrinya itu.
"Marcell sakit," ucap Charissa.
"Trus?"
Abizard memegang gawainya bersikap seolah-olah tidak peduli kepada anak Charissa.
"Terus … kamu bilang terus? Heh." Charissa tidak habis pikir dengan Abizard.
"Lagian kamu juga sih, kenapa coba malah pindah ke apartemen, kenapa nggak tinggal di rumah aja?" ucap Abizard. "Lagian belum tentu juga 'kan anak itu anak aku, kamu nikah sama aku aja udah gak perawan," lanjut Abizard.
Charissa langsung melotot mendengar ucapan Abizard, ia tak terima dengan perkataan Abizard.
"Kamu masih gak percaya kalo Marcell bukan anak kamu?"
Sudut bibir Charissa turun seraya menggelengkan kepalanya. Charissa benar-benar kecewa dengan sikap Abizard yang menurutnya keterlaluan karena tak menggap anaknya sendiri.
"Dengar, Ya! Aku sudah berbaik hati ngebiarin kamu tinggal di rumah aku, meskipun aku tahu anak itu bukan anak aku. Kamunya aja yang gak tau diri minta pindah ke apartemen," ucap Abizard pelan. Namun, penuh penekanan.
"Aku udah bilang, ya kalau anak aku itu anak kamu, lagian mana mau aku tinggal di rumah kamu yang seram itu, Marcell nangis terus! Kalau dia tinggal di rumah kamu."
Charissa menundukkan kepalanya mengatakan itu dengan bibir bergetar.
Abizard memalingkan muka ia benar-benar muak dengan wajah istrinya yang sok di sedih-sedihkan seperti itu.
Charissa merasa sangat menyesal menikah dengan Abizard yang sama sekali tidak bertanggung jawab. Abizard yang ia kenal dulu saat mereka masih belum menikah adalah Abizard yang baik penuh kasih sayang, tapi setelah menikah Abizard terlihat cuek tidak peduli kepadanya juga anaknya.
"Mas."
Abizard mengabaikan panggilan Charissa, ia melambaikan tangannya pada salah satu waiter. Waiter datang menghampiri Abizard.
"Berapa semuanya, Mas?" tanya Abizard pada waiter itu.
Waiter itu menyebutkan nominal pesanan Abizard. Abizard hendak berdiri meninggalkan cafe. Namun, Ia dihentikan dengan tangannya yang digenggam oleh Charissa. Abizard melihat pergelangan tangannya yang digenggam oleh Charissa, ia hendak melihat ke arah wajah Charissa. Namun, kopi panas tiba-tiba saja membasahi mukanya.
Charissa mengguyurkan kopi yang tadi belum sempat Abizard minum ke wajah Abizard.
"Apa yang kau lakukan? Aaaah! …," teriak Abizard seraya membuka jaketnya dan mengelap wajahnya dengan jaket.
"Mandiin laki-laki pecundang, kenapa? gak terima?"
Charissa tersenyum puas melihat Abizard yang kepanasan. Namun, dalam hatinya Charissa merasa tak bisa melihat Abinya kesakitan seperti itu, ia sangat mencintai Abi, tetapi melihat kelakuan Abizard membuat Charissa benar-benar sangat kecewa.
Tangan Abizard mengepal kuat, ia tak terima dipermalukan di tempat umum seperti ini. Abizard hendak menampar Charissa. Namun, tiba-tiba saja seorang perempuan muda menahan tangannya.
Charissa yang sedang ketakutan menunduk kembali menengadah melihat kenapa tangan Abizard tidak sampai menamparnya, Abizard menoleh melihat tangan wanita yang memegang tangannya dan melihat siapa wanita yang berani-beraninya menahan tangan Abizard..
"Sama cewek jangan kasar dong malu sama badan," ucap wanita itu.
"Kamu siapa berani-beraninya menahan saya," kata Abizard sambil menepis tangannya dengan keras.
"Anda tidak perlu tahu siapa saya, kalau mau jadi jagoan sana jadi tentara, bela negara bukan malah menyerang wanita yang lemah tapi lawan para oknum-oknum yang memakan uang rakyat. Jangan disini ngelawan wanita lemah yang gak berdaya," kata wanita itu dengan beraninya.
"Kamu bilang saya wanita lemah?"
Charissa ikut berbicara ia tidak terima dikatakan lemah oleh wanita muda yang menyelamatkannya dari tamparan Abizard. Namun, malah menghinanya.
"Kalau mau ribut jangan disini malu diliatin sama orang apalagi banyak bocil."
Wanita muda itu menunjuk beberapa anak-anak yang ia bawa dibelakangnya seraya tersenyum sinis, Iya juga mengabaikan perkataan Charissa. Abizard mengeraskan rahangnya, matanya melotot dan tangannya mengepal kuat.
Wanita muda itu pergi meninggalkan sepasang suami istri yang tidak akur itu.
"Hai, Mbak jangan sembarangan ngomong, ya. Saya nggak selemah itu," ucap Charissa.
Wanita muda itu kembali menoleh ke arah Charissa.
"Kalau bukan wanita lemah nggak akan mungkin nyiram cowoknya dengan kopi panas dan pas ingin ditampar cowoknya malah nunduk bukannya ngelawan, hahaha ada-ada saja."
Charissa semakin geram mendengar ucapan wanita muda itu.
Charissa menghampiri wanita muda itu, ketegangan terjadi, tapi wanita muda itu malah dengan santai menyuruh anak-anak untuk memilih tempat duduk.
"Aaaah!"
Tiba-tiba saja Charissa menarik rambut wanita muda itu, ia ingin buktikan kalau dia tidak lemah seperti yang dikatakan wanita muda itu.
Dengan reflek wanita muda itu berteriak kesakitan.
"Keterlaluan. Apa maksud kamu ngomong kayak gitu?"
Abizard mendekat berusaha melepaskan tangan carisa dari tangan wanita muda itu benar-benar malu melihat tatapan semua orang tertuju padanya.
"Please, jangan kayak gini dong!"
"Kamu juga suami yang tidak bertanggung jawab, gak usah ikut campur dia sudah mempermalukan aku, dia udah bilang aku tuh cewek lemah."
Charissa menunjuk wajah Abidzar dengan tangannya yang kosong. Sementara tangannya yang satu lagi menarik tangan menarik rambut wanita muda itu dengan kuat.
"Aku akan buktikan kalau aku gak selemah itu."
"Baperan amat nih cewek," senandika wanita muda itu dalam hatinya.
"Aaaah!"
Wanita muda itu memegang tangan Charissa dengan kuat karena Charissa juga semakin kuat menarik rambutnya. Charissa kembali fokus pada wanita yang rambutnya ia tarik ia memperkuat tarikan rambutnya karena wanita muda itu juga lebih kuat mencengkram tangannya.
"Raya."
Seseorang juga membantu berusaha memisahkan mereka.
"Raya, Raya udah."
Raya wanita muda yang sedang bertengkar dengan Charissa itu tidak peduli dengan teriakan temannya ia malah lebih kuat mencengkram tangan Charissa.
"Wanita sialan, ngapain sih lo ngata-ngatain gua?"
"Heh, Nenek Sihir. Lo aja yang baperan anj**,"
"Raya."
"Lu aja yang baperan bukannya terima kasih gua dah nolongin lo dari lelaki brengsek lo itu, lo malah nyerang gue aneh gak?" teriak Raya.
"Charissa tolong hentikan ini tempat umum!"
Charissa melonggarkan tangannya dari rambut Raya begitupun juga Raya yang perlahan melepaskan genggaman tangannya di pergelangan tangan Charissa.
Abizard dan seorang wanita yang memisahkan mereka kewalahan. Tak berapa lama petugas keamanan disana juga datang meskipun terlambat.
"Hei jangan bertengkar disini mengganggu kenyamanan pelanggan yang lain,"
"Terlambat pak berantemnya juga udah," kata seorang wanita yang tadi membantu memisahkan Raya dan dan Charissa.
Petugas itu melawan salvinanya susah payah, bisa-bisanya ada perempuan yang menegurnya seperti itu.
Champagne and con gamesRumero walked through the lobby of the hotel like he owned it. He wore a crisp shirt, dark sunglasses, and a cocky smirk—typical Rumero. The staff didn’t pay him much attention anymore; they had seen him here too many times. This was his usual spot. This was where he met Tamara.Room 407.He didn’t bother knocking. He slid the card in, opened the door, and stepped inside like he lived there.Tamara, 24-year-old blondie young woman already waiting, curled up on the king-sized bed, wearing nothing but a thin silk robe and her signature red lipstick. Her phone was in her hand, but the moment she saw him, she tossed it aside.“Took you long enough,” she said with a smirk, stretching lazily like a cat.Rumero shut the door behind him, loosened his shirt buttons, and walked toward her. “Had to deal with Natasha first. She swallowed the bait—hook, line, and sinker.”Tamara raised an eyebrow. “How much this time?”“Cool cash baby,” he said proudly, sliding onto the bed
webs of liesChapter 7It was 9:00 AM, and Ken was getting dressed for work. He stood in front of the mirror, combing his hair, but his mind wasn’t fully present. Flashbacks of the previous night haunted his thoughts. He had been thinking about Jenny all night. He didn’t exactly understand the feeling, but one thing was clear,he wanted to keep her around.His phone buzzed. It was a text from Natasha:“8 PM tonight, love. Can’t wait to see you ❤️”He hissed. He wasn’t particularly excited to see her, but he had agreed anyway.Ken finished dressing. His driver and team were already waiting downstairs. As he walked through the living room, he spotted Jenny dusting a shelf. He paused for a moment, just watching her. She looked so beautiful, and despite the tension, she greeted him formally, like nothing had happened between them just a few days ago. She was clearly uncomfortable, but doing her best to keep things professional.Ken left for work, but he couldn’t get her off his mind all da
The conspiracy “ Oh, harder fuck me harder, Mr big cock” Natasha screamed out in pleasure. It was 3am the next day, and she and Rumero had just gotten to their hotel room after clubbing. They were both tipsy. He carried her to the sofa at the side, bent her, and her butt was shoved at him. He went in with his cock into her pussy and began to bang her harder. His cock slipped out of her pussy, and she helped insert it into her cunt. Her moan was so loud, and it ignited the fire in him.“Oh yeah fuck” she moaned again. He tossed her around, carried her to the edge of the bed, spread her legs wide, and bent down to her pussy. He began to suck her clitoris while caressing her nipples with his fingers. She held his head and pushed it down as though she wants all of him into her cunt and she began to shiver as his tongue ran faster on her clitoris, she let out a loud scream and began to squirt, he lifted his head and began tapping her cunt with his fingers, her squirt splashed all over hi
I'll make orders and you'll do them instantly. She was nervous, shocked, and wondered what she had gotten into. Even though she found him attractive, she didn't know it would happen so soon with dominance and power. She wants him as well, and he was irresistibly hot with his bare chest and the black pants he was in, she could see the hardness of his cock from his pants. She quickly moved over to the table where his laptop and books were kept to drop the tray. He was running out of patience with her sluggishness. He quickly stood up from where he was sitting and walked towards her. She could hear his breath from behind her. “I make orders and you do them instantly, " he commanded. He took the whiskey, opened it, and poured it into the glass, drank from it, and gave her part of it. He began to slide his hands under her dress to her panties, he took them off, and she took her dress off out of urgency to have him. “Don't you dare wear panties to my room again," he whispered. He took
Snapping back to reality As the silence between them lingered, Jenny suddenly snapped back into reality, her breath caught and she quickly sat up. Her job is the Supervisor. She had completely forgotten she came to dress up her billionaire boss's room, do other cleaning, and report back to Mrs
The ultimate backshots "Fuck" she let a sharp moan escape through her mouth buried on the bed. He bit his lip, spanked her soft ass as he went deeper with his cock into her, he thrusted his waist in circular motion, slowly at first, then faster, she moaned in deep pleasure as she could feel hi
When pleasure becomes plea "Uhhhhhhh," she moaned out loud as he dug his fingers deeply into her juicy pussy, He kept fingering her faster, and her moan sent passion through his veins. "Oh fuck !!!! Harder," Jenny moaned. She began to shiver. He tossed her around, revealing her face full of p
Flames of desire He cupped her breast with his hands as he aggressively devoured her nipples with his mouth, one after another. "Oh fuck," she moaned and slid her hands down his chest to the taut line of his abdomen, and made every muscle that made him manly ache for her even more, he rolled












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.