LOGINI had been dating Lily Foster for three years, and she strictly insisted on splitting every expense. When my mother needed surgery and I was short twenty thousand dollars, she looked troubled. “Aaron, we agreed on financial independence.” I went everywhere trying to borrow money, while she turned around and bought her brother a Ferrari outright. When I confronted her, she answered without a hint of guilt. “That’s my money. What does it have to do with you? “And besides, you’re a man. You can’t always expect a woman to support you, right?” Her brother drove the sports car right up in front of me, showing off. “My sister said it herself—your money is her money, but her money is still hers.” I laughed. Because just a moment ago, I had activated the “Malice Cashback” system. For every trace of hostility someone directed at me, I would receive a hundredfold cash return. Lily stood in front of me, frowning in disgust. “What are you laughing at? You look like an idiot.” [Ding! Received 20 hostility points from Lily Foster. Cashback of $2,000 has been credited.]
View More"Ini Mira, Dek. Kami baru saja menikah pagi tadi," ucapnya dengan mantap. Tak tersirat sedikit pun dari nada bicaranya dia merasa bersalah.
Aku bergeming.
"Dek?" panggilnya lagi karena melihatku hanya diam sembari tetap sibuk mengotak-atik ponsel. "Aku sedang bicara denganmu, Dek. Kamu enggak dengar?"
"Dengar, kok," sahutku santai. Melirik sekilas, lalu kembali sibuk dengan ponsel.
"Aku sudah menikah lagi, Dek." Dia mengulang kalimatnya dengan suara lebih tegas.
"Hm, terus?" Kini aku menatapnya tenang. Meletakkan ponsel di pangkuan, lalu bersedekap.
Bang Leon dan wanita bernama Mira itu saling menatap bingung. Aku hanya tertawa dalam hati.
Apa dia pikir aku akan menangis-nangis? Bersujud memintanya agar menceraikan wanita itu dan kembali padaku?
Halah, mimpi saja kamu, Bang!
"Kamu enggak marah, Dek?" tanyanya tak percaya.
"Kenapa aku harus marah? Baguslah kalau Abang sudah menikah lagi," ujarku cuek. Mengambil toples camilan di meja, lalu memakan keripik singkong yang ada di dalamnya.
Beban batin yang selama ini kurasakan sendirian dan kukubur dalam-dalam, kini tak lama lagi beban itu akan segera dirasakan oleh wanita lain. Kita lihat saja. Apa dia mampu bersabar dan menerima Bang Leon apa adanya sepertiku?
"Jadi, kamu sudah setuju dengan pernikahan keduaku ini?" tanyanya lagi dengan tatapan yang ... entahlah. Dia seperti terlihat kecewa.
Kenapa pula dia terlihat seperti tidak bahagia? Bukankah ini yang dia inginkan?
Dulu, Bang Leon sering sekali membahas tentang poligami. Aku hanya menanggapi dengan santai karena memang itu diperbolehkan.
Hanya saja, setiap kali dia bertanya apa aku mengizinkan jika dia juga melakukannya? Kujawab dengan tegas dan lantang 'silakan menikah lagi, tapi ceraikan aku dulu'.
Aku memang tak menentang, tapi bukan pula yang sanggup menerimanya. Kadar keikhlasan dan kesabaran yang dimiliki masih jauh di bawah rata-rata. Bisa-bisa aku gila jika membayangkan dia berbagi kehangatan dengan wanita lain.
"Bukannya sudah lama Abang tahu jawabanku? Aku enggak pernah melarang Bang Leon memiliki istri lebih dari dua. Tapi asal bukan aku istri pertamanya. Ceraikan aku dan nikmatilah hidup bersama istri baru." Aku menunjuk wanita berambut ikal cokelat itu dengan dagu. "Setelah itu, Abang bebas menikah lagi dengan wanita mana pun. Tentu Mira enggak akan keberatan, 'kan?"
Raut wajah wanita itu berubah seketika. Dia yang sedari tadi bersikap tenang dengan tangannya yang terus digenggam Bang Leon pun jadi terkejut. Dia spontan menoleh pada calon mantan suamiku itu dengan wajah cemberut.
"Kenapa? Apa kamu keberatan kalau Bang Leon menikah lagi nantinya?" sindirku dengan senyum tipis.
Wanita itu diam dan langsung melepaskan tautan jemarinya.
Cih, munafik! Berani mengganggu kehidupan rumah tangga orang lain, tapi sendirinya tidak sudi diperlakukan sama.
"Kita enggak perlu bahas itu sekarang, Dek. Kita ini sedang membahas aku, kamu dan Mira."
"Ya, terus? Maunya Abang apa?" tanyaku sembari kembali asyik menyantap camilan.
"Aku mau kamu menerima Mira sebagai adik madumu. Kita hidup damai bertiga di rumah ini, Dek."
"Enggak bisa," jawabku cuek. "Keputusanku akan tetap sama. Ceraikan aku atau selamanya wanita itu hanya akan berstatus istri sirimu," tegasku dengan tatapan dingin.
"Kamu tahu Mira, dengan statusmu yang hanya sebagai istri siri, kamu akan sangat merugi. Jika suatu saat kalian berpisah, kamu enggak bisa menuntut harta gono-gini karena status pernikahan kalian enggak diakui negara. Kamu juga bisa saja ditinggalkan seenaknya oleh Bang Leon, dan dia menikah lagi dengan wanita lain saat nafsu kembali menguasainya."
"Itu nggak mungkin terjadi!" bantah Bang Leon cepat. "Kamu jangan sembarangan bicara, Dek. Apa kamu pikir aku semudah itu terpaut hati pada setiap wanita yang ditemui?"
"Oh, jelas," sahutku tak kalah cepat. "Ini ... buktinya aja sudah ada," kataku santai sembari menunjuk Mira yang wajahnya ditekuk.
Bang Leon bungkam.
"Kenapa diam?" sindirku dengan senyuman miring.
"Aku enggak akan begitu, Dek. Ini pernikahan terakhirku. Aku janji akan setia pada kalian berdua," ujarnya dengan lembut.
Memuakkan!
Aku terkekeh pelan. "Apa janjimu masih bisa dipertanggung jawabkan, Bang? Janji suci pernikahan kita saja kamu ingkari," sindirku yang kembali membuat Bang Leon diam seribu bahasa.
"Hey, Mira! Status siri ini bukan hanya merugikanmu sendiri, tapi juga anakmu nanti. Di akta lahir, hanya akan tertulis nama ibu. Bisa, sih, nama ayahnya juga dicantumkan. Tapi prosesnya rumit termasuk harus ada tes DNA dan itu butuh banyak uang!"
Wanita berkulit sawo matang itu semakin menunduk dengan kedua tangannya saling meremas di pangkuan. Bang Leon hendak meraih jemari itu untuk menenangkan, tapi dia menolak.
"Dek, kumohon jangan menakuti Mira seperti itu."
Bagus, Bang. Bagus!
Bang Leon bahkan membela istri barunya dibandingkan aku yang sudah menemaninya sejak nol. Kini, saat ekonomi semakin membaik dengan seenaknya dia datang begitu saja membawa istri baru ke rumah ini.
"Siapa bilang aku menakuti? Itu fakta! Kalau enggak percaya, pakailah ponsel pintar kalian itu untuk mencari informasinya." Aku tersenyum mengejek.
Ponsel saja yang pintar, tapi pemiliknya tidak. Menyedihkan!
"Bujuk Bang Leon supaya menceraikanku jika ingin pernikahanmu legal secara hukum. Jangan harap aku sudi berbagi dan memberikan kalian izin menikah secara resmi. Enggak akan pernah!"
"Bang," rengek Mira dengan wajah memelas. "Apa yang dikatakan Mbak Lusi itu benar. Bang Leon juga udah janji mau nikahi aku secara resmi, 'kan? Pokoknya aku enggak mau kalau hanya menikah siri! Bang Leon harus memilih antara aku atau Mbak Lusi!"
Mamam, tuh, Bang! Pilih saja dia supaya wanita itu bisa merasakan derita yang selama ini kurasakan.
"Enggak!" tukas Bang Leon. "Aku enggak akan pernah menceraikan Lusi. Pun enggak akan melepasmu."
"Tapi, Bang—"
"Ssstt, diamlah," potong Bang Leon dengan menatap tajam Mira. "Biar aku yang bicara dengan Lusi. Kamu diam saja."
Mira mendengkus kesal, lalu bergeser menjauh dengan wajah cemberutnya.
"Aku janji akan berbuat adil, Dek. Terimalah dia sebagai adik madumu, ya. Izinkan aku menikahinya secara hukum negara juga," pintanya dengan tatapan memohon.
Sakit?
Tentu saja. Hati ini seperti diremas-remas mendengar dia berucap dengan begitu mudahnya tanpa memikirkan perasaanku. Nyeri, tapi sekuat mungkin aku bertahan. Kehilangan Bang Leon tidak akan membuat hidupku berakhir saat ini juga.
Aku berdiri, menatap angkuh keduanya sembari melipat kedua tangan di dada.
"Keputusanku enggak akan pernah berubah, Bang. Kita bercerai kalau Abang mau menikahinya secara resmi. Jangan jadi pria serakah!" tegasku tak ingin dibantah dengan sorot mata tajam.
"Dan kamu, Mira. Pikirkan baik-baik semua ucapanku tadi. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari! Aku juga wanita. Aku enggak mau kamu merasakan hal yang sama sepertiku. Pikirkan juga masa depan anakmu nanti," kataku dengan seulas senyum sinis, kemudian berlalu pergi tanpa menoleh lagi.
Aku melangkah cepat menuju lantai atas. Hati ini jelas sakit, tapi tak ada setitik pun air mata yang menetes. Semua itu sudah kering. Sudah habis ketika satu minggu yang lalu, aku menangis perih saat mengetahui fakta bahwa Bang Leon memiliki wanita idaman lain.
Ini bukan poligami yang benar. Ini perselingkuhan! Bahkan, mereka sudah menjalin hubungan diam-diam selama dua bulan sebelum akhirnya menikah siri.
Aku tak sengaja membaca chat mesra di ponsel Bang Leon dari kontak bernama Ari. Merasa ada yang tak beres, kuputuskan untuk menyadap, dan akhirnya mendapatkan bukti bahwa ternyata Ari itu wanita. Dialah Mira—teman sekantor Bang Leon.
Benar. Insting wanita itu memang kuat. Sudah lama aku curiga, tapi berusaha menepis itu dan tetap berpikir positif. Nyatanya, kepercayaan yang kuberikan itu sia-sia belaka.
Bukti chat bahwa mereka sering jalan bersama dengan alasan lembur membuat hati ini seketika membeku. Cinta yang ada di hati langsung lenyap begitu saja tak tersisa. Kekecewaan ini begitu besar hingga rasanya mati rasa.
Lihat saja, Bang! Kamu pikir aku akan hancur karena kehilanganmu? Tidak sama sekali!
🌸🌸🌸
I didn’t hear about what happened to Lily’s family. I saw it with my own eyes.That day, I was driving Jane out to pick up supplies. We were stopped at a red light when I spotted the three of them.Marcus, once behind the wheel of a Ferrari, now stood in a dirty work uniform, lowering himself for a construction foreman.His parents stood nearby, hair graying, backs bent, holding cheap groceries.Once, they’d carried themselves with such pride. Now they looked worn down, almost unrecognizable.Our eyes met for a brief second, and all I saw in theirs was emptiness.The light turned green. I hit the gas and left them behind.All of it—the entanglements, the resentment—ended there.Jane and I kept our wedding simple and warm.Just as I slipped the ring onto her finger, the voice in my head, silent for so long, suddenly blared.[ Warning! Detected extreme malice from Lily Foster. Malice levels exceeded threshold! ][ Final cashback of $20,000,000 has been credited. ]At the same time, a new
Lily told her brother and parents everything.“Malice cashback? Lily, have you lost it?”To be suspected and dismissed like that pushed her over the edge.She spiraled.She refused to accept it. She wanted revenge. She wanted to destroy me.She even hired two thugs, planning to break my legs.That night, just as I stepped out of my apartment complex, they rushed at me from the shadows.They didn’t even get close before security tackled them.[ Ding! Detected malicious intent from Lily Foster involving hired attackers. Cashback of $2,000,000 has been credited. ]Then she tried to ruin me through public opinion.She fabricated even worse lies, fraud and abuse, and paid gossip pages to spread them.For a while, the internet turned against me completely.[ Ding! Detected large-scale malice triggered by Lily Foster. Cashback of $10,000,000 has been credited. ]The next day, those accounts were banned for spreading false information, and records of her payments were exposed.Public opinion f
“Lily, stop pretending. Aren’t you tired?”She froze.I crouched down, leaning in close so only she could hear me.“Do you really think I won the lottery?”Her crying stopped instantly.She snapped her head up, eyes full of shock and confusion.“What are you talking about?”I smiled, straightening up and looking down at her.“It means this—every bit of malice you, your brother, and your whole family throw at me turns into cash. Deposited straight into my account.“Every insult from you makes me two grand.“Every ounce of hate makes me twenty thousand.“That twenty million? It’s already more than that now. All thanks to you.”The color drained from her face in an instant.She sat there, staring at me like I was something inhuman.Her mouth opened, but no words came out.I looked at her, hollow and stunned, and felt nothing.She had brought this on herself.I turned and walked back into the building without another word.Back at my desk, I handed in my resignation.With that kind of mone
Lily left in a daze.Or rather, I’d driven her out with the evidence.Before leaving, Marcus shot me a vicious glare.[ Ding! Received 400 Malice Points from Marcus Foster. Cashback of $40,000 has been credited. ]I didn’t care.The room finally fell quiet again.My mom looked at me, her expression complicated.“Aaron, you…”“I’m fine, Mom.” I smiled, reassuring her.Then I turned to Jane again. “Miss Dunn, I’m really sorry about today.”“It’s okay.” She shook her head, then looked at me with a hint of concern. “So, you really broke up with your girlfriend?”“Ex-girlfriend,” I corrected.Jane gave a small “oh” and didn’t press further.But from that day on, I could feel a subtle shift in the way she treated me.She took extra care of my mom. When I visited, she’d stay a little longer, talking with me.We talked about my mom’s condition, about small, everyday things.Talking to her felt easy. She listened well, and when she did respond, it was always just right.As for Lily, she wasn’t
Lily’s eyes were bloodshot as she stared at me, like she wanted to tear me apart.“Aaron, you’ve got some nerve—blocking my whole family!”Marcus stood behind her, just as aggressive.“Hey, I’m talking to you! What, you deaf now?”My mom was startled by the scene, her face turning pale.Jane immedia
Over the next few days, Lily and her family launched a full-scale barrage.Lily started first, bombarding me with dozens of calls a day. At first, it was all accusations, calling me heartless and ungrateful. Then she’d soften, reminiscing about our three years together, trying to wear me down.I d
“Stop right there!”Lily grabbed my arm. “We’re settling this today. Where did you get the money? Did you take out some kind of loan?”Her face was full of urgency.I understood. She wasn’t worried about me; she was worried any debt would drag her down later.“Relax. I didn’t borrow it.”“Then where
For the past three years, she’d had full access to my bank account. She called it “handling our finances together,” but I had to report every major expense I spent to her first.And now she was turning around and accusing me of hiding money.[ Ding! Received 200 Malice Points from Lily Foster. Cashb












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.