MasukAku selalu suka hari baru. Setidaknya sehari lagi terlewati dalam proses melupakan pria itu. Orang bijak mengatakan, "Waktu akan sembuhkan luka", benar bukan? Aku sedang menunggu waktu itu tiba.
Aku sampai di toko lebih awal pagi ini. Rasanya menyenangkan bisa tidur lebih awal dan nyenyak tanpa terbangun dalam keadaan menangis. Hal yang sangat jarang terjadi dalam kurun waktu 2 tahun ini. Kusiapkan semua peralatan untuk merangkai dan membungkus bunga. Kuperiksa semua chiller untuk memastikan tidak ada bunga yang rusak dan layu. Bunga-bunga di sini lebih banyak yang impor dibanding lokal, berhubung iklim di sini memang kurang cocok untuk berkebun bunga. Apalagi tanah di daerah ini sudah tidak tersisa, habis untuk gedung dan perumahan saja. "Pagi, mbak Can... Mbak udah dari tadi? Semalam gak kehujanan kan?" sapa Audrey yang tiba 20 menit kemudian. "Pagi jg, Drey. Baru kok." Jawabku. "Tau nggak sih, Drey, semalam ada cewek baik banget ngasih payungnya ke aku. Tapi dianya nggak ngomong apa-apa trus langsung pergi." Ceritaku dengan penuh semangat. "Wow, kok bisa kebetulan gitu ya, mbak? Ternyata masih banyak orang baik di luar sana." Jawabnya sambil menyimpan tas di loker yang disediakan khusus untuk pegawai tokoku. "Iya ya, Drey. Untung aja aku ketemu orang baik." Kataku penuh syukur. "Eh, mbak, pesanan bu Hartanto aku aja yang bikin ya?" Kata Audrey setelah memakai salah satu apron. "Boleh, boleh. Biar aku yang handle punya Mbak Desy. Emang Bu Hartanto ada event apa?" Tanyaku. "Buat dekor arisan dirumahnya, mbak. Big vase arrangement gitu. Dia pokoknya serahin semua detailnya ke kita, tapi dia maunya yang sesuai sama interior rumahnya yang nuansa gold." Jawab Audrey. "Hmm... aku sih saranin kamu pake purple orchid, striped pink stargazer lily, sama ruscus, Drey. Sisanya kamu kreasiin sendiri." Kataku sambil menunjuk beberapa bunga yang kusebutkan. "Siap, mbak. Nanti aku cariin vas yang sesuai." Katanya sambil berjalan ke arah chiller. Aku sendiri membuat wedding bouquet untuk mbak Desy yang sudah menjadi langganan kami sejak acara lamaran dan sesi foto prewedding nya. Sayangnya kami belum mampu menerima pesanan untuk mendekor ruangan karena kekurangan karyawan. Tetapi sejauh ini kami menerima feedback yang luar biasa dari para pelanggan. Aku harus ingat untuk menambah beberapa karyawan dan mobil box saat kondisi keuangan toko lebih baik. Kegiatan toko pagi ini ditemani iringan lagu kesukaanku dari Raisa - Love and Let Go. Bukan nuansa yang tepat memang untuk mengawali pagi hari yang cerah ini, tapi rasanya ingin kuhempaskan pikiran-pikiran nostalgiaku di kamar mandi tadi malam. Audrey, seperti biasa tidak mempertanyakan pilihan laguku. Aku benar-benar berpikir bisa menjadikannya sahabat jika saja umur kami tidak terpaut 6 tahun. Semoga saja dia bisa bertahan lama di Marigold Florist, setidaknya sampai aku menemukan seorang asisten baru yang kompeten dan mencintai bunga seperti dia. Aku agak khawatir karena sedikit lagi Audrey akan lulus kuliah dari jurusan pertanian di salah satu universitas swasta di Jakarta. Dia pasti sudah memikirkan masa depan yang lebih baik di suatu tempat, tapi aku belum berani bertanya tentang rencananya selepas wisuda karena takut mendengar jawabannya. Aku akan menunggu paling tidak sampai dia sendiri yang mengungkitnya. Seperti namanya, Marigold Florist, aku berharap toko bunga impianku ini berkembang dengan cepat dan populer di kalangan manapun, tanpa sekatan umur atau keadaan ekonomi. Terbukti selama hampir 2 tahun berjalan, kami sudah melayani berbagai event. Mulai dari yang bahagia seperti pesta pernikahan, hari ulang tahun, atau perayaan lainnya, tapi juga di acara duka yang bahkan rangkaian yang dipilih bisa lebih besar dan lebih mahal. Mungkin itu sebabnya ada yang berkata kita akan lebih banyak mendapat bunga setelah meninggal ketimbang saat masih hidup. Entahlah. Karena selama hidup aku baru beberapa kali mendapat rangkaian bunga. Itupun dari seseorang yang tidak ingin kuingat-ingat lagi. Setidaknya tidak disaat aku sedang di kelilingi para pelanggan dan rekan kerjaku, Audrey. Ketika lagu di speaker mencapai chorus terakhir kurasakan Audrey mendongak ke arah pintu masuk toko di depan kami. "Permisi." Seorang pelanggan membuyarkan lamunanku. Dia mencapai meja kami dalam beberapa langkah saja. "Saya ingin memesan buket untuk seseorang." Kali ini seorang pria berjas hitam rapi yang wajahnya familiar. "Tolong buatkan sesuai selera Anda. Harga tak jadi masalah." Tambahnya tanpa sempat aku merespon. "Oh, oke. Apakah saya boleh tahu untuk acara apa, mas?". Akhirnya aku bersuara. "Tak ada yang istimewa. Hanya sebagai permintaan maaf yang tulus." Ucapnya sambil tertunduk malu. "Baik. Apakah masnya mau tunggu? Estimasinya sekitar 20-25 menit." Terangku. "Hmm, saya akan kembali setengah jam lagi kalau begitu." Dan dia langsung pergi begitu saja. Aku benar-benar tidak ingat kapan dan dimana pernah bertemu pria ini. Mungkin pelanggan lama. "Beruntung banget wanita itu." Ucap Audrey di sebelahku setelah pria tadi keluar dari toko. "Siapa?" Tanyaku bingung. "Yang mau dikasih bunga sama cowok itu lho, mbak. Tiap bulan dipesankan bunga yang beda-beda." Jawabnya. "Emang kamu tahu darimana?" Tanyaku sambil menghadap ke arahnya. "Mbak Canna ngga ingat cowok itu sama sekali? Padahal dia tiap bulan ke sini lho buat pesan buket. Dan mbak dibebasin buat berkreasi tanpa batasan budget." Katanya tanpa bisa menyembunyikan kekagumannya. "Emang udah berapa kali sih? Kok aku ngga sadar ya?" Tanyaku penasaran sambil menghadap ke arah pegawaiku itu. "Hmmm, ngga pasti sih, mbak. Mungkin sekitar 4 atau 5 bulan terakhir." Jawabnya tidak yakin. "Biasanya emang aku yang ambil pesanannya sih." "Mungkin aja ngga dikirim ke orang yang sama kan?" Balasku. "Tapi cowok itu selalu pesan di tanggal yang sama kok, mbak." Katanya belum menyerah. "Kok tau banget kayaknya. Naksir kamu?" Godaku. "Iri doang, mbak. Hehe. Soalnya pacarku bilang aku udah nggak butuh buket soalnya pasti mual tiap hari liat dan cium aroma bunga. Padahal kan mau juga, mbak." Katanya setengah frustrasi. Menarik. Tanggal 11 berarti memiliki arti yang penting bagi pria itu dan sang penerima bunga, kalau memang benar yang dikatakan Audrey. Tapi kenapa buket untuk permintaan maaf? Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah setelah menerima buket mereka akan berbaikan? Atau malah sang penerima akan bertambah marah? Begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam benakku, tapi harus kuelakkan demi membuat pesanan dari yang katanya pelanggan bulanan kami. Buket untuk pemberkatan nikah mbak Desy baru setengah jadi dan akhirnya harus kutunda dulu demi buket permintaan maaf. Pernikahannya baru akan dilaksanakan besok pagi jadi aku masih ada waktu untuk menyelesaikannya. Tapi berhubung aku juga harus membuat buket untuk resepsi dan after party sekaligus, rasa-rasanya aku akan kembali begadang malam ini. Sekiranya karyaku dapat membuat seorang pelanggan dimaafkan, aku akan sangat bangga. Aku beralih mencari bunga-bunga yang disimbolkan sebagai permintaan maaf yang tulus di chiller. Untungnya ada tulip putih yang baru saja diantar kemarin oleh supplier langgananku. Sebagian sudah kupakai di buket pemberkatan mbak Desy, tapi masih tersisa beberapa tangkai dan sepertinya cukup. Tinggal kutambahkan sedikit baby's breath dan ruscus lalu kulilit dengan kertas berwarna putih juga. Terakhir kuikat ujung buket dengan pita merah muda untuk mempermanisnya. Setelah puas dengan hasil akhirnya, seperti biasa aku meminta tolong pada Audrey untuk mengambil foto tanganku yang memegang buket tersebut sebagai portofolio yang nantinya akan kuunggah ke media sosial MarigoldFlorist.jkt. Kulihat jam dinding yang berada di atas pintu masuk toko dan ternyata masih tersisa 10 menit sebelum pelanggan pria tadi datang mengambil pesanannya. Akhirnya kuputuskan untuk mengunggah langsung saja beberapa foto yang diambil Audrey tadi yang sepertinya layak untuk dipamerkan. Biasanya hal itu kulakukan setelah jam kerja atau saat aku susah tidur di malam hari, tapi berhubung aku akan bekerja sampai larut malam ini lebih baik kulakukan saja sekarang. Toh hanya perlu beberapa menit untuk mengeditnya.Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden penthouse, menyapu lantai marmer dengan warna keemasan yang hangat. Aku mengerjapkan mata, merasakan beban berat namun nyaman di lenganku. Saat kesadaranku pulih sepenuhnya, aku menyadari bahwa aku masih berada dalam dekapan Arion. Aku melirik jam digital di nakas. Pukul delapan pagi. Aku tersentak kecil—aku bangun kesiangan. Biasanya, jam segini aku sudah sibuk membongkar stok bunga mawar di toko bersama Audrey. Namun, rasa panikku bukan karena pekerjaan, melainkan karena satu nama: Bik Mina. Pikiran itu menghantamku seketika. Bagaimana kalau Bik Mina sudah ada di dapur? Bagaimana kalau beliau melihatku keluar dari kamar utama ini bersama Arion? Meskipun Arion sudah bebas secara hukum, sisa-sisa rasa maluku sebagai mantan sekretaris sekaligus kekasih rahasia masih menghantui. Aku menoleh ke samping, menatap wajah Arion yang masih terlelap. Dia tidur dengan posisi yang sangat posesif—kepalanya bersandar di dadaku, tangannya
Malam semakin larut di penthouse, menyisakan sunyi yang hanya dipecah oleh dengung halus pendingin ruangan. Setelah percakapan panjang yang membongkar semua rahasia dua tahun terakhir, Arion bangkit dari sofa. Ia mengulurkan tangannya, membantuku berdiri dengan sangat hati-hati agar tidak membebani pergelangan kakiku yang masih dibalut perban. "Canna, tidurlah. Ini sudah hampir tengah malam," ucapnya lembut. Ia menuntunku menuju kamar utama, kamar yang dulu menjadi tempatku beristirahat saat masih bekerja di sini. "Semuanya masih sama, tidak ada yang aku ubah. Pakaianmu yang dulu kamu tinggalkan, semuanya masih tertata rapi di lemari." Aku berdiri di ambang pintu kamar, menatap ruangan yang terasa asing namun sangat familiar. Aroma room spray lavender yang kusukai masih tercium di sana. "Aku akan tidur di kamar sebelah," lanjut Arion. Ia mengusap kepalaku sebentar, memberikan tatapan yang menenangkan. "Istirahatlah dengan tenang. Tidak ada yang akan mengganggumu." Aku menganggu
Lampu-lampu kota Jakarta yang berpijar di luar jendela penthouse seolah menjadi saksi bisu atas kebenaran yang baru saja tumpah. Aku menyandarkan punggungku di sofa, membiarkan uap dari teh hangat yang baru saja Arion siapkan membelai wajahku. Pergelangan kakiku sudah tidak terlalu nyeri, namun hatiku justru terasa semakin berat setelah mendengar cerita perjuangannya selama aku menghilang. Arion menatapku dalam-dalam, tangannya masih setia berada di dekat kakiku, seolah memastikan aku tidak akan tiba-tiba menghilang kembali menjadi asap. "Kenapa harus dua tahun, Arion?" bisikku. "Kenapa prosesnya begitu lama dan berdarah?" Arion menghela napas panjang, gurat kelelahan yang selama ini ia sembunyikan kini terpampang nyata. "Wichita tidak semudah itu melepaskan statusnya sebagai menantu keluarga Richie, Canna. Dia tidak peduli padaku, tapi dia sangat peduli pada kekuasaan. Dan yang paling menyakitkan adalah... dia menggunakan Kimi sebagai senjata." Aku tersentak. "Kimi?" "Dia menunt
Suasana di penthouse itu terasa seperti waktu yang membeku. Setelah mangkuk ramen yang kosong disingkirkan, Arion masih duduk di lantai, bersandar pada sofa tepat di dekat kakiku yang sudah dibalut perban tipis. Keheningan ini tidak lagi mencekam, melainkan penuh dengan tanya yang menumpuk selama hampir dua tahun.Aku menarik napas panjang, menatap pantulan lampu kota dari jendela besar yang menghadap ke jalanan Sudirman. "Bagaimana kamu bisa menemukanku, Arion? Aku sudah melakukan segalanya. Aku mengganti namaku, aku pindah ke Bogor, lalu ke Bandung, dan saat kembali ke Jakarta pun, aku sangat berhati-hati. Bagaimana bisa kamu tahu soal Marigold Florist?"Arion terdiam sejenak. Ia mengambil ponselnya dari saku jas, lalu menunjukkan sebuah foto lama. Itu adalah foto manifes penerbangan palsu yang kubuat saat aku melarikan diri dulu."Awalnya, aku benar-benar kehilangan jejakmu, Canna," Arion memulai dengan suara rendah, seolah mengenang masa-masa tergelapnya. "Aku percaya pada tiket p
Seluruh tenagaku seolah tersedot habis oleh pengakuan Arion. Tubuhku lemas, pikiranku buntu, dan pergelangan kakiku yang berdenyut nyeri membuatku tak punya daya untuk melawan saat Arion tiba-tiba mengangkat tubuhku. Ia menggendongku dengan protektif, seolah-olah aku adalah porselen yang nyaris hancur.Mobil Audi hitam itu mendadak sudah berada di sisi kami, seakan sang sopir memang selalu siap siaga dalam bayang-bayang. Begitu pintu terbuka, Arion membawaku masuk ke kursi belakang yang luas. Namun, ia tidak mendudukkanku di kursi sebelah. Ia justru mendudukkanku di pangkuannya, merangkul pinggangku dengan tangan yang gemetar halus, menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku sejenak. Aku bisa merasakan napasnya yang memburu dan detak jantungnya yang berpacu liar di dadaku."Arion, turunkan aku... aku bisa duduk sendiri," bisikku, mencoba mendorong bahunya yang kokoh."Diamlah, Canna. Sebentar saja. Biarkan aku memastikan kamu benar-benar di sini," suaranya serak, penuh dengan ketakutan
Satu setengah tahun menjalankan Marigold Florist telah mengubahku menjadi wanita yang tangguh. Aku sudah terbiasa dengan ritme Jakarta, bau tanah basah di pagi hari, dan peluh yang bercucuran saat merangkai dekorasi besar. Bagiku, toko ini adalah benteng pertahanan yang suci, tempat di mana nama "Canna Jolene" yang terluka telah terkubur dan digantikan oleh "Nara", sang perangkai bunga.Pagi itu, seorang pria dengan kemeja rapi masuk ke toko. Wajahnya asing, namun sikapnya sangat sopan. Ia memesan sebuah buket sebagai ungkapan permintaan maaf."Pria ini lagi, Kak," bisik Audrey saat aku mulai mengambil beberapa tangkai Tulip putih. "Dia datang setiap bulan, lho. Tapi biasanya Kakak lagi di gudang atau kirim pesanan, jadi aku yang terima."Aku tidak terlalu memikirkannya. Bagiku, dia hanyalah pelanggan setia lainnya. Aku merangkai buket itu dengan penuh perasaan—Tulip putih yang melambangkan kerendahan hati, baby's breath untuk ketulusan, dan dedaunan ruscus agar terlihat segar. Aku me
Hari pembukaan Marigold Florist berlangsung dengan cara yang sangat kontras dibandingkan pesta-pesta mewah keluarga Richie yang dulu sering kuhadiri. Tidak ada sampanye, tidak ada karpet merah, dan tidak ada lampu lampu flash kamera yang menyilaukan. Hanya ada kehangatan yang jujur, aroma kopi yang
Satu bulan terakhir ini adalah waktu paling melelahkan sekaligus paling membahagiakan dalam hidupku. Jakarta yang biasanya kurasakan sebagai monster beton yang dingin, kini terasa sedikit lebih bersahabat karena aku punya tujuan. Nama toko yang awalnya ingin kugunakan samaran, akhirnya kuputuskan un
Semalaman, aku seperti orang yang sedang demam, namun bukan karena sakit. Pikiranku terus-menerus memutar gambaran toko kecil di sudut gang itu. Bayangan dinding batunya yang kokoh, lokasinya yang tersembunyi namun strategis, hingga cahaya lampu jalan yang memantul di kaca depannya yang berdebu. Jak
Bekerja di Le Jardin de Sari adalah maraton estetika yang tidak pernah berhenti. Dalam tiga bulan pertama, aku merasa seperti spons yang menyerap setiap tetes ilmu. Aku belajar bahwa bunga untuk pernikahan harus memancarkan harapan, bunga ulang tahun harus meledak dengan kegembiraan, dan bunga pema







