Share

Bab 6 Kecelakaan

Penulis: Alya Tan
last update Tanggal publikasi: 2026-02-12 22:56:04

Aku berumur 21 tahun saat pertama kali bertemu Arion Richie. Setelah pertemuan di kubikelku hari itu, sosoknya sudah tidak pernah terlihat lagi selama tiga bulan terakhir. Aku juga sibuk dengan proyek-proyek luar kantor yang mengharuskan ke lapangan bersama Kenny. Itu sebabnya aku tidak pernah memikirkannya secara sengaja lagi.

Hingga di suatu proyek pembangunan gedung baru 54 lantai milik Richie corp mempertemukan kami kembali. Ya, bangunan ini milik Arion Richie yang akan memperluas area bisnisnya di bidang properti dengan membangun hotel bintang 5 di tengah Kota Jakarta. Tak heran kalau sang empunya bangunan datang langsung melihat serta mengawasi proses pembangunan ini.

Aku dan Kenny berjalan mengikuti para kontraktor dan mentor kami yang sedang memaparkan progres pembangunan hotel kepada Pak Arion. Bukannya menyimak arahan, aku lebih memilih memperhatikan Pak Arion yang terlihat begitu fokus. Wajahnya perpaduan antara tampan tapi imut, angkuh tapi menggemaskan. Entah bagaimana menjelaskannya.

Tanpa kusadari sebatang besi hollow sepanjang kurang lebih 5 meter dari lantai 2 jatuh tepat di atas kami.

"Canna, awas!!!" Kenny yang mencoba menghindarkanku dari celaka menarik tanganku kesisinya.

Sayangnya, karena masih tak sadar dengan keadaan aku malah terjatuh ke samping hingga besi itu mengenai betis sebelah kananku. Untungnya aku memakai helmet, safety shoes, dan celana jeans yang agak tebal sehingga tidak terjadi hal yang fatal.

"Aaa..." erangku kesakitan.

Kurasakan seseorang yang datang menghampiriku dengan tergesa-gesa. "Bagian mana yang sakit?"

Aku mendongak untuk menemui mata Pak Arion yang begitu dekat dengan wajahku. Tidak ada satupun kata yang sanggup keluar dari mulutku. Aku hanya menatapnya dengan takjub. Bahkan rasa sakit dikakiku tiba-tiba menghilang.

"Sepertinya dia masih syok, pak. Biar saya bawa ke rumah sakit." Kudengar Kenny mencoba meraih tanganku.

"Ini tanggung jawab saya. Pak Salim, tolong buka pintu mobilnya."

Tak disangka Pak Arion malah langsung menggendongku dari lantai dan membawaku ke parkiran mobil yang jaraknya lumayan jauh dari tempat kami berkumpul tadi. Aku tidak sempat melirik ke arah Kenny untuk mengatakan aku baik-baik saja. Otakku seperti lumpuh.

Di perjalanan menuju mobil aku tak berhenti menatap ke arah Direktur tampan yang menolongku. Hingga akhirnya sang supir membukakan pintu mobil dan Pak Arion hendak mendudukkanku, suaraku yang tercekat tadi bisa sepenuhnya pulih kembali.

" Saya ngga apa-apa, pak. Ngga perlu ke rumah sakit."

Sang direktur malah langsung menutup keras pintu disampingku. Aku begitu terkejut hingga tak berani mengeluarkan suara sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Perjalanan yang terasa begitu panjang dan menyiksa.

Sesampainya di lobi rumah sakit, seorang perawat sudah siap di samping mobil kami dengan sebuah kursi roda. Pak Salim kembali membuka pintuku dan sang perawat berwajah cantik itu membantuku naik ke kursi roda. Aku didorong melewati Gedung IGD menuju sebuah loket administrasi.

"KTP Anda?" Tanya Pak Arion.

Tanpa membantah kuserahkan hasil pindai KTP yang ada di ponselku, yang untungnya masih selamat di dalam kantong rompi keselamatanku. Berhubung hanya itu yang bisa kubawa ke area proyek. Setelah mengisi borang administrasi, Pak Arion bukannya langsung mengembalikan ponselku malah memotret KTP digitalku menggunakan ponsel pribadinya. Sebagai bukti katanya.

Setelah itu kami menuju sebuah lift yang mengantarkan kami ke lantai 2 yang bertuliskan Ruang Diagnostik dan Radiologi. Di sana aku dibawa ke ruang CT scan untuk mengetahui apakah terjadi patah tulang atau kerusakan lainnya pada sendiku. Untungnya hasilnya keluar dalam waktu 1 jam saja, dan selama menunggu aku dibaringkan di ruang perawatan VIP di lantai 7.

Pak Arion tidak terlihat selama aku berada di ruang perawatan, tapi samar-samar dapat kudengar suaranya sedang menelepon dari luar kamar. Sepertinya beliau berbicara dengan asisten pribadinya mengenai jadwal sepanjang hari ini yang harus diatur ulang karena insiden yang menimpaku. Tampaknya dia belum mendapatkan sekretaris baru. Aku jadi semakin merasa bersalah.

Jika saja aku tidak lalai karena terdistraksi pesonanya, kejadian ini tidak akan terjadi. Tapi siapa yang bisa menyalahkanku? Aku jadi bisa merasakan sentuhan kulitnya dan mencium wangi badan Pak Direktur dari dekat. Surga dunia...

"Bagaimana hasilnya, dok?" Pertanyaan Pak Arion menggema dari luar kamar.

"Biar saya jelaskan di dalam." Jawab sang dokter sembari memasuki ruang perawatan.

dr. Ardianto Roesli, Sp.OT nama yang tertera di snelli sang dokter. Beliau terlihat berusia sekitar 50 tahunan serta memakai kacamata berbentuk persegi panjang dengan bingkai berwarna hitam. Tak ada yang nampak tak normal dari penampilannya.

"Selamat siang." Sapanya ramah sambil menghampiri ranjangku.

Aku berupaya duduk dibantu suster yang sejak tadi mengantarku.

"Hasil CT scan Ibu sudah keluar. Bisa dilihat di sini ada retak sedikit di bagian fibula atau tulang betis sebelah kanan. Berhubung fibula itu tulang yang tipis jadi kedepannya Ibu harus sangat hati-hati dalam menggerakkan kaki kanan." Dokter ramah itu memperlihatkan foto hasil CT scan ku dan menunjuk bagian yang dia maksud.

"Ngga begitu buruk kan, dok?" Pak Arion yang bersuara.

"Suster akan membalut area yang cedera tapi pastikan pasien harus banyak istirahat dan sesekali boleh dikompres air es. Oh iya, kalau berbaring usahakan letakkan kaki lebih tinggi dari jantung untuk mengurangi peradangan. Pemulihan bisa dalam empat sampai delapan minggu. Tergantung niat pasien untuk sembuh." Sang dokter kembali tersenyum seolah menyiratkan sesuatu.

"Oh iya, satu lagi. Minggu depan silakan datang untuk kontrol kembali." Tambahnya.

"Makasih, dok." Hanya itu yang bisa kukatakan.

"Saya antar keluar, dokter." Kata Pak Arion, lalu berbalik kearahku, "Kamu jangan kemana-mana." Perintahnya tegas.

Dan mereka pun berjalan ke luar sambil berangkulan dan tertawa bersama.

Bagaimana mungkin dia mengharapkanku untuk kabur dengan keadaan kaki seperti ini? Apa dia tidak mendengar kata-kata dokter tadi? Sayangnya ketampananmu berkurang banyak dimataku hari ini Pak Bos.

***

Terlepas dari insiden orang aneh yang menimpaku siang ini, aku masih sempat menyelesaikan ketiga wedding bouquet milik Mbak Desi sebelum pulang. Audrey sempat membantuku hingga jam 8 malam, lewat dua jam dari waktu kami biasa menutup toko. Aku harus ingat untuk memberinya bonus bulan ini.

Waktu menunjukkan pukul 10.00 tanpa kusentuh makan siang maupun makan malam. Namun anehnya, aku tidak merasa lapar sama sekali. Kubereskan barang-barangku, menyimpan buket-buket di chiller, dan mengunci pintu toko.

Aku melangkahkan kakiku ke arah trotoar dengan keyakinan penuh tidak akan menemui mobil Audi hitam di sana. Benar saja. Area pinggir jalan sepi dari kendaraan. Aku lega sekaligus kecewa tidak akan diawasi Arion lagi.

Baru berjalan beberapa detik saat sayup-sayup kudengar suara langkah kaki di belakangku. Aku berniat untuk teriak dan kabur tapi akan memalukan jika orang itu hanya pejalan kaki biasa. Kuarahkan mataku ke sekeliling untuk mencari batu atau benda apapun yang bisa kujadikan senjata, tapi tak ada yang nampak.

Kuputuskan untuk mempercepat langkah kakiku, sambil memohon pada penguasa alam semoga aku bisa selamat sampai apartemen. Malangnya, karena terburu-buru kaki kiriku tak sengaja menginjak lubang di trotoar hingga terkilir. Kudengar langkah kaki di belakangku juga semakin cepat hendak menyusul. Karena panik, aku melanjutkan perjalananku dengan kaki terpincang-pincang.

"Canna, please. Biar aku bantu."

Suara yang sangat kukenali dan kurindukan terdengar memohon dengan frustrasi. Tapi aku tak sanggup menghadapinya sekarang. Jadi kuputuskan untuk terus berjalan.

"Aku merindukanmu."

Sial. Ada apa dengannya? Aku tak mungkin berbalik. Jika kulakukan, aku takut malah akan menghambur ke pelukannya dan tak ada lagi jalan pulang. Tidak, tidak.

"Aku sudah bercerai."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 94 Hampir Khilaf

    Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden penthouse, menyapu lantai marmer dengan warna keemasan yang hangat. Aku mengerjapkan mata, merasakan beban berat namun nyaman di lenganku. Saat kesadaranku pulih sepenuhnya, aku menyadari bahwa aku masih berada dalam dekapan Arion. Aku melirik jam digital di nakas. Pukul delapan pagi. Aku tersentak kecil—aku bangun kesiangan. Biasanya, jam segini aku sudah sibuk membongkar stok bunga mawar di toko bersama Audrey. Namun, rasa panikku bukan karena pekerjaan, melainkan karena satu nama: Bik Mina. Pikiran itu menghantamku seketika. Bagaimana kalau Bik Mina sudah ada di dapur? Bagaimana kalau beliau melihatku keluar dari kamar utama ini bersama Arion? Meskipun Arion sudah bebas secara hukum, sisa-sisa rasa maluku sebagai mantan sekretaris sekaligus kekasih rahasia masih menghantui. Aku menoleh ke samping, menatap wajah Arion yang masih terlelap. Dia tidur dengan posisi yang sangat posesif—kepalanya bersandar di dadaku, tangannya

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 93 Kembali ke Pelukannya

    Malam semakin larut di penthouse, menyisakan sunyi yang hanya dipecah oleh dengung halus pendingin ruangan. Setelah percakapan panjang yang membongkar semua rahasia dua tahun terakhir, Arion bangkit dari sofa. Ia mengulurkan tangannya, membantuku berdiri dengan sangat hati-hati agar tidak membebani pergelangan kakiku yang masih dibalut perban. "Canna, tidurlah. Ini sudah hampir tengah malam," ucapnya lembut. Ia menuntunku menuju kamar utama, kamar yang dulu menjadi tempatku beristirahat saat masih bekerja di sini. "Semuanya masih sama, tidak ada yang aku ubah. Pakaianmu yang dulu kamu tinggalkan, semuanya masih tertata rapi di lemari." Aku berdiri di ambang pintu kamar, menatap ruangan yang terasa asing namun sangat familiar. Aroma room spray lavender yang kusukai masih tercium di sana. "Aku akan tidur di kamar sebelah," lanjut Arion. Ia mengusap kepalaku sebentar, memberikan tatapan yang menenangkan. "Istirahatlah dengan tenang. Tidak ada yang akan mengganggumu." Aku menganggu

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 92 Soal Perceraian

    Lampu-lampu kota Jakarta yang berpijar di luar jendela penthouse seolah menjadi saksi bisu atas kebenaran yang baru saja tumpah. Aku menyandarkan punggungku di sofa, membiarkan uap dari teh hangat yang baru saja Arion siapkan membelai wajahku. Pergelangan kakiku sudah tidak terlalu nyeri, namun hatiku justru terasa semakin berat setelah mendengar cerita perjuangannya selama aku menghilang. Arion menatapku dalam-dalam, tangannya masih setia berada di dekat kakiku, seolah memastikan aku tidak akan tiba-tiba menghilang kembali menjadi asap. "Kenapa harus dua tahun, Arion?" bisikku. "Kenapa prosesnya begitu lama dan berdarah?" Arion menghela napas panjang, gurat kelelahan yang selama ini ia sembunyikan kini terpampang nyata. "Wichita tidak semudah itu melepaskan statusnya sebagai menantu keluarga Richie, Canna. Dia tidak peduli padaku, tapi dia sangat peduli pada kekuasaan. Dan yang paling menyakitkan adalah... dia menggunakan Kimi sebagai senjata." Aku tersentak. "Kimi?" "Dia menunt

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 91 Pengakuan

    Suasana di penthouse itu terasa seperti waktu yang membeku. Setelah mangkuk ramen yang kosong disingkirkan, Arion masih duduk di lantai, bersandar pada sofa tepat di dekat kakiku yang sudah dibalut perban tipis. Keheningan ini tidak lagi mencekam, melainkan penuh dengan tanya yang menumpuk selama hampir dua tahun.Aku menarik napas panjang, menatap pantulan lampu kota dari jendela besar yang menghadap ke jalanan Sudirman. "Bagaimana kamu bisa menemukanku, Arion? Aku sudah melakukan segalanya. Aku mengganti namaku, aku pindah ke Bogor, lalu ke Bandung, dan saat kembali ke Jakarta pun, aku sangat berhati-hati. Bagaimana bisa kamu tahu soal Marigold Florist?"Arion terdiam sejenak. Ia mengambil ponselnya dari saku jas, lalu menunjukkan sebuah foto lama. Itu adalah foto manifes penerbangan palsu yang kubuat saat aku melarikan diri dulu."Awalnya, aku benar-benar kehilangan jejakmu, Canna," Arion memulai dengan suara rendah, seolah mengenang masa-masa tergelapnya. "Aku percaya pada tiket p

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 90 Kembali ke Penthouse

    Seluruh tenagaku seolah tersedot habis oleh pengakuan Arion. Tubuhku lemas, pikiranku buntu, dan pergelangan kakiku yang berdenyut nyeri membuatku tak punya daya untuk melawan saat Arion tiba-tiba mengangkat tubuhku. Ia menggendongku dengan protektif, seolah-olah aku adalah porselen yang nyaris hancur.Mobil Audi hitam itu mendadak sudah berada di sisi kami, seakan sang sopir memang selalu siap siaga dalam bayang-bayang. Begitu pintu terbuka, Arion membawaku masuk ke kursi belakang yang luas. Namun, ia tidak mendudukkanku di kursi sebelah. Ia justru mendudukkanku di pangkuannya, merangkul pinggangku dengan tangan yang gemetar halus, menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku sejenak. Aku bisa merasakan napasnya yang memburu dan detak jantungnya yang berpacu liar di dadaku."Arion, turunkan aku... aku bisa duduk sendiri," bisikku, mencoba mendorong bahunya yang kokoh."Diamlah, Canna. Sebentar saja. Biarkan aku memastikan kamu benar-benar di sini," suaranya serak, penuh dengan ketakutan

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 89 Pria yang Tak Ingin Dilupakan (Masa Kini)

    Satu setengah tahun menjalankan Marigold Florist telah mengubahku menjadi wanita yang tangguh. Aku sudah terbiasa dengan ritme Jakarta, bau tanah basah di pagi hari, dan peluh yang bercucuran saat merangkai dekorasi besar. Bagiku, toko ini adalah benteng pertahanan yang suci, tempat di mana nama "Canna Jolene" yang terluka telah terkubur dan digantikan oleh "Nara", sang perangkai bunga.Pagi itu, seorang pria dengan kemeja rapi masuk ke toko. Wajahnya asing, namun sikapnya sangat sopan. Ia memesan sebuah buket sebagai ungkapan permintaan maaf."Pria ini lagi, Kak," bisik Audrey saat aku mulai mengambil beberapa tangkai Tulip putih. "Dia datang setiap bulan, lho. Tapi biasanya Kakak lagi di gudang atau kirim pesanan, jadi aku yang terima."Aku tidak terlalu memikirkannya. Bagiku, dia hanyalah pelanggan setia lainnya. Aku merangkai buket itu dengan penuh perasaan—Tulip putih yang melambangkan kerendahan hati, baby's breath untuk ketulusan, dan dedaunan ruscus agar terlihat segar. Aku me

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 88 Curahan Hati

    Malam di apartemen Poppy selalu terasa lebih hangat saat aroma bawang putih yang ditumis mulai memenuhi dapur minimalis ini. Di atas konter marmer, ponselku bersandar pada tumpukan buku resep, menampilkan wajah Poppy yang tampak sedikit mengantuk namun tetap antusias dengan latar belakang kamar asr

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 87 Tolong Jangan Ungkapkan!

    Malam Jakarta yang lembap terasa semakin berat saat mobil sedan perak milik Denis berhenti tepat di depan lobi apartemen. Cahaya lampu lobi yang putih kebiruan memantul di kaca depan, menciptakan sekat antara kebisingan jalan raya di luar dan keheningan yang tiba-tiba menyergap di dalam kabin mobil

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 86 POV Arion: Tunggulah Aku, Jolene-ku

    Dinding kaca Audi hitam ini adalah penjara sekaligus suaka bagiku. Di balik lapisan film yang gelap pekat, aku bisa melihat duniaku yang sebenarnya—sebuah toko mungil dengan lampu kuning hangat bernama Marigold Florist. Dan di sana, di balik etalase kaca itu, ada Canna. Setiap malam, selama berbul

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 85 Audi Hitam

    Kehadiran Denis dalam hidupku pasca perjumpaan tak terengaja itu membawa warna yang berbeda. Pria itu sungguh menepati janjinya; ia tidak membocorkan keberadaanku pada orang-orang kantor, namun ia menjadi pengunjung paling setia di Marigold Florist. Hampir setiap kali ia pulang lebih awal atau hany

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status