Share

Bab 5 Arion Richie

Penulis: Alya Tan
last update Tanggal publikasi: 2026-02-11 12:21:50

Beberapa minggu pertama perkenalan kami di lingkungan PT. Rich Karya, semuanya berjalan lancar. Semua orang bersikap profesional, walaupun ada pula yang lumayan ketus, tapi masih dalam batas yang wajar. Untungnya aku dan Kenny diberi mentor yang sangat sabar dan kompeten, baik di lingkungan kantor maupun saat turun ke lapangan. Tugas kami memang kebanyakan di lapangan untuk mengawasi proyek-proyek perusahaan yang tengah dikerjakan.

Itulah sebabnya aku belum pernah bertemu dengan para petinggi perusahaan ini. Akupun tidak berharap mereka akan menemui kami pegawai magang yang hanya dikontrak 6 bulan, kecuali perusahaan berniat merekrut kami sebagai pegawai tetap. Itu bukan hal yang mustahil, hanya saja kami (terutama aku yang lulusan universitas swasta) belum cukup pengalaman untuk bekerja di perusahaan sebesar ini. Pikirku.

Hingga suatu hari datanglah seorang pria tampan yang kurasa berusia akhir 20an atau awal 30an saat kami kebetulan sedang bertugas di kantor. Arion Richie namanya, kata seorang rekan kerja di departemenku. Seorang Direktur Operasional (COO) sekaligus cucu pemilik perusahaan tempat kami bekerja. Tak ayal beliau menjadi primadona paling dikagumi di kalangan karyawan.

Dengan tinggi tak kurang dari 185 cm, kulit putih bersih khas keturunan Tionghoa, bahu lebar, serta badan tegak nan ramping. Namun bagian tubuhnya yang menjadi favoritku? Tentu saja kaki jenjangnya yang terlihat seperti karakter manga.

Aku bersumpah belum pernah seterpesona ini karena penampilan seorang pria. Dia kelihatannya bukan tipe pria yang akan menganggap makhluk hidup lain layak untuk mendekatinya. Benar-benar sangat dingin. Namun, ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku merasa tertarik. Dan tentu saja bukan hanya aku yang merasa seperti itu.

Kata Viola, rekan kerjaku sekaligus sumber berita di kantor ini, Pak Arion sangat jarang masuk kantor tepat waktu. Kebanyakan waktunya dihabiskan dengan memantau jalannya proyek atau meeting di luar kantor. Hanya saja kemarin dia baru saja memecat sekretaris pribadinya, kejadian yang keempat kalinya dalam dua tahun ini. Hal itu membuat beliau harus bekerja ekstra dengan asisten pribadinya untuk mengatur ulang jadwal pekerjaan yang berantakan.

Menurut rumor, sang sekretaris dipecat karena mencoba merayu sang bos secara terang-terangan. Aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan sang gadis yang mencoba peruntungannya. Apalagi dengan penampilan dan latar belakang Pak Arion yang nyaris sempurna, gadis manapun sepertinya akan tergoda menjadikannya target.

Saat mendekati kubikel meja kerja kami, aku otomatis berdiri dan tak sengaja menatap sang direktur. Anehnya dia juga menatapku dengan pandangan yang intens dan lumayan lama. Atau hanya pikiran mesumku saja saking terpesonanya hingga waktu serasa berjalan sangat lambat. Hingga akhirnya beliau berbelok di lorong menuju ke ruangannya, aku sadar sedang menahan napas sedari tadi. Kuhembuskan napasku dengan lega dan duduk kembali. Jantungku berdebar tak karuan. Ini akan jadi hari yang panjang.

***

Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, aku memang pengecut. Aku setengah berlari sambil memeluk bungkusan nasi ayam geprek layaknya dia satu-satunya pegangan hidupku saat ini. Ketika tiba di depan toko, aku berlari semakin kencang sampai kubuka pintu masuk dan menutupnya sekuat tenaga. Tubuhku spontan melorot dan terduduk dibaliknya. Bungkusan makanan tadi ikut jatuh di sampingku.

Audrey yang sedang melayani pelanggan terkejut menghampiriku.

"Mbak kenapa? Ada yang kejar?"

"Hmmm..." kucoba mengangguk ke arah pintu, "ada orang aneh di luar. Kamu jangan buka pintu dulu, ya." Jawabku terengah-engah.

"Ayo, mbak. Aku ambilin minum dulu." Tawarnya sambil membantuku berdiri.

Aku duduk di salah satu kursi pelanggan sambil menerima segelas air putih dingin dari Audrey. Dengan penuh rasa syukur aku menenggaknya hingga habis.

Sang pelanggan, dua orang gadis remaja berseragam sekolah, yang penasaran berusaha mencari-cari melalui jendela kaca besar namun tampak kecewa karena tidak melihat siapapun di luar.

"Aku udah usir kok orang anehnya. Kalian bisa keluar dengan aman." Kataku meyakinkan mereka.

"Makasih, kak." Kata mereka serempak sambil berjalan menuju pintu keluar serta menenteng buket mawar merah.

Aku hanya bisa menjawab dengan senyum.

"Emang penampilan orang anehnya kayaknya gimana sih, mbak? Sampe mbak ketakutan gitu."

Aku sebenarnya sudah mengharapkan pertanyaan ini dari Audrey, tapi tetap saja aku belum menyiapkan jawabannya.

"Eh, kayak orang normal aja sih, Drey. Pakai jas malah." Ucapku tanpa berani menatap matanya.

"Tumben banget ada orang aneh di sekitar sini, mbak. Apalagi penampilannya kayak yang mbak deskripsiin." Audrey masih sibuk mengemas buket besar milik Bu Hartanto yang akan segera diambil mobil pengantar.

"Mbak diapain emangnya?" Tanyanya belum puas. Tidak seperti Audrey yang biasanya.

"Aku disuruh naik ke mobilnya." Jawabku tidak sepenuhnya berbohong.

"Ha? Bener-bener gila tuh orang. Kita harus telpon polisi." Paniknya.

Sebelum Audrey sempat meraih ponselnya, aku mencegahnya, "Ga usah, Drey. Orangnya udah kabur kok. Ngga akan keburu kalau dikejar sekarang."

"Iya juga sih. Apalagi orangnya bawa mobil."

"Bener, Drey." Kataku lega. "Yang penting kamu harus hati-hati mulai sekarang."

"Mbak juga, ya."

"Iya... Kamu makan dulu, Drey. Aku masih syok sampe ngga bisa makan. Entar aku yang tungguin mobil pengantarnya." Kataku.

"Ok deh, mbak. Aku juga udah laper banget. Hehe."

"Maaf ya, Drey."

"Ngga masalah, mbak. Yang penting mbak ngga kenapa-kenapa." Dia membawa makanan pesanannya menuju ke meja pantry di area belakang toko.

Dengan hati-hati aku kembali menuju jendela kaca untuk mencari keberadaan mobil mewah milik Arion. Tapi sayangnya dari tempatku berdiri sudah tidak kelihatan. Mengapa aku kecewa? Bukannya aku yang menghindarinya? Apa yang akan kudapat jika ikut masuk ke dalam mobilnya? Aku sangat ingin mencari tahu tapi logikaku mengambil alih.

Ding-dong. Bunyi bel pintu toko mengagetkanku. Aku tak menyadari mobil pengantar yang Audrey pesan telah tiba. Dengan hati-hati kuserahkan vas bunga raksasa pesanan Bu Hartanto hasil karya Audrey. Aku sangat puas dengan kombinasi warna dan susunannya. Sesuai dengan tema yang diminta pelanggan, tapi masih tetap mencerminkan ciri khas toko kami.

Kubantu sang supir membuka pintu toko sekaligus membukakan pintu mobil untuk memasukkan bunga. Mengangkat rangkaian bunga beserta vas besarnya sudah merupakan tantangan, apalagi proses memasukkannya ke dalam mobil mini van. Aku hanya bisa berdoa dan berharap dia bisa tiba tanpa cacat di tempat tujuan.

"Hati-hati ya, pak." Teriakku sambil melambai pada sang supir yang beranjak pergi.

Saat aku ingin kembali masuk ke dalam toko, mobil Audi hitam itu lewat lagi. Kaca belakangnya terbuka setengah menunjukkan sebagian wajah menawan direktur perusahaan lamaku. Dia sama sekali tidak melihat ke arahku, namun hatiku tetap terasa sakit. Aku tahu dia pasti kecewa dan tidak akan datang lagi menungguiku pulang dari toko tiap malam.

Ini yang aku mau kan? Menghilangkan Arion Richie selamanya dari hidupku. Tapi kenapa aku menangis? Kenapa hatiku terasa seperti sedang diremas hingga remuk? Aku merindukanmu, Arion...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 94 Hampir Khilaf

    Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden penthouse, menyapu lantai marmer dengan warna keemasan yang hangat. Aku mengerjapkan mata, merasakan beban berat namun nyaman di lenganku. Saat kesadaranku pulih sepenuhnya, aku menyadari bahwa aku masih berada dalam dekapan Arion. Aku melirik jam digital di nakas. Pukul delapan pagi. Aku tersentak kecil—aku bangun kesiangan. Biasanya, jam segini aku sudah sibuk membongkar stok bunga mawar di toko bersama Audrey. Namun, rasa panikku bukan karena pekerjaan, melainkan karena satu nama: Bik Mina. Pikiran itu menghantamku seketika. Bagaimana kalau Bik Mina sudah ada di dapur? Bagaimana kalau beliau melihatku keluar dari kamar utama ini bersama Arion? Meskipun Arion sudah bebas secara hukum, sisa-sisa rasa maluku sebagai mantan sekretaris sekaligus kekasih rahasia masih menghantui. Aku menoleh ke samping, menatap wajah Arion yang masih terlelap. Dia tidur dengan posisi yang sangat posesif—kepalanya bersandar di dadaku, tangannya

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 93 Kembali ke Pelukannya

    Malam semakin larut di penthouse, menyisakan sunyi yang hanya dipecah oleh dengung halus pendingin ruangan. Setelah percakapan panjang yang membongkar semua rahasia dua tahun terakhir, Arion bangkit dari sofa. Ia mengulurkan tangannya, membantuku berdiri dengan sangat hati-hati agar tidak membebani pergelangan kakiku yang masih dibalut perban. "Canna, tidurlah. Ini sudah hampir tengah malam," ucapnya lembut. Ia menuntunku menuju kamar utama, kamar yang dulu menjadi tempatku beristirahat saat masih bekerja di sini. "Semuanya masih sama, tidak ada yang aku ubah. Pakaianmu yang dulu kamu tinggalkan, semuanya masih tertata rapi di lemari." Aku berdiri di ambang pintu kamar, menatap ruangan yang terasa asing namun sangat familiar. Aroma room spray lavender yang kusukai masih tercium di sana. "Aku akan tidur di kamar sebelah," lanjut Arion. Ia mengusap kepalaku sebentar, memberikan tatapan yang menenangkan. "Istirahatlah dengan tenang. Tidak ada yang akan mengganggumu." Aku menganggu

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 92 Soal Perceraian

    Lampu-lampu kota Jakarta yang berpijar di luar jendela penthouse seolah menjadi saksi bisu atas kebenaran yang baru saja tumpah. Aku menyandarkan punggungku di sofa, membiarkan uap dari teh hangat yang baru saja Arion siapkan membelai wajahku. Pergelangan kakiku sudah tidak terlalu nyeri, namun hatiku justru terasa semakin berat setelah mendengar cerita perjuangannya selama aku menghilang. Arion menatapku dalam-dalam, tangannya masih setia berada di dekat kakiku, seolah memastikan aku tidak akan tiba-tiba menghilang kembali menjadi asap. "Kenapa harus dua tahun, Arion?" bisikku. "Kenapa prosesnya begitu lama dan berdarah?" Arion menghela napas panjang, gurat kelelahan yang selama ini ia sembunyikan kini terpampang nyata. "Wichita tidak semudah itu melepaskan statusnya sebagai menantu keluarga Richie, Canna. Dia tidak peduli padaku, tapi dia sangat peduli pada kekuasaan. Dan yang paling menyakitkan adalah... dia menggunakan Kimi sebagai senjata." Aku tersentak. "Kimi?" "Dia menunt

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 91 Pengakuan

    Suasana di penthouse itu terasa seperti waktu yang membeku. Setelah mangkuk ramen yang kosong disingkirkan, Arion masih duduk di lantai, bersandar pada sofa tepat di dekat kakiku yang sudah dibalut perban tipis. Keheningan ini tidak lagi mencekam, melainkan penuh dengan tanya yang menumpuk selama hampir dua tahun.Aku menarik napas panjang, menatap pantulan lampu kota dari jendela besar yang menghadap ke jalanan Sudirman. "Bagaimana kamu bisa menemukanku, Arion? Aku sudah melakukan segalanya. Aku mengganti namaku, aku pindah ke Bogor, lalu ke Bandung, dan saat kembali ke Jakarta pun, aku sangat berhati-hati. Bagaimana bisa kamu tahu soal Marigold Florist?"Arion terdiam sejenak. Ia mengambil ponselnya dari saku jas, lalu menunjukkan sebuah foto lama. Itu adalah foto manifes penerbangan palsu yang kubuat saat aku melarikan diri dulu."Awalnya, aku benar-benar kehilangan jejakmu, Canna," Arion memulai dengan suara rendah, seolah mengenang masa-masa tergelapnya. "Aku percaya pada tiket p

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 90 Kembali ke Penthouse

    Seluruh tenagaku seolah tersedot habis oleh pengakuan Arion. Tubuhku lemas, pikiranku buntu, dan pergelangan kakiku yang berdenyut nyeri membuatku tak punya daya untuk melawan saat Arion tiba-tiba mengangkat tubuhku. Ia menggendongku dengan protektif, seolah-olah aku adalah porselen yang nyaris hancur.Mobil Audi hitam itu mendadak sudah berada di sisi kami, seakan sang sopir memang selalu siap siaga dalam bayang-bayang. Begitu pintu terbuka, Arion membawaku masuk ke kursi belakang yang luas. Namun, ia tidak mendudukkanku di kursi sebelah. Ia justru mendudukkanku di pangkuannya, merangkul pinggangku dengan tangan yang gemetar halus, menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku sejenak. Aku bisa merasakan napasnya yang memburu dan detak jantungnya yang berpacu liar di dadaku."Arion, turunkan aku... aku bisa duduk sendiri," bisikku, mencoba mendorong bahunya yang kokoh."Diamlah, Canna. Sebentar saja. Biarkan aku memastikan kamu benar-benar di sini," suaranya serak, penuh dengan ketakutan

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 89 Pria yang Tak Ingin Dilupakan (Masa Kini)

    Satu setengah tahun menjalankan Marigold Florist telah mengubahku menjadi wanita yang tangguh. Aku sudah terbiasa dengan ritme Jakarta, bau tanah basah di pagi hari, dan peluh yang bercucuran saat merangkai dekorasi besar. Bagiku, toko ini adalah benteng pertahanan yang suci, tempat di mana nama "Canna Jolene" yang terluka telah terkubur dan digantikan oleh "Nara", sang perangkai bunga.Pagi itu, seorang pria dengan kemeja rapi masuk ke toko. Wajahnya asing, namun sikapnya sangat sopan. Ia memesan sebuah buket sebagai ungkapan permintaan maaf."Pria ini lagi, Kak," bisik Audrey saat aku mulai mengambil beberapa tangkai Tulip putih. "Dia datang setiap bulan, lho. Tapi biasanya Kakak lagi di gudang atau kirim pesanan, jadi aku yang terima."Aku tidak terlalu memikirkannya. Bagiku, dia hanyalah pelanggan setia lainnya. Aku merangkai buket itu dengan penuh perasaan—Tulip putih yang melambangkan kerendahan hati, baby's breath untuk ketulusan, dan dedaunan ruscus agar terlihat segar. Aku me

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 82 Dreams Do Come True

    Hari pembukaan Marigold Florist berlangsung dengan cara yang sangat kontras dibandingkan pesta-pesta mewah keluarga Richie yang dulu sering kuhadiri. Tidak ada sampanye, tidak ada karpet merah, dan tidak ada lampu lampu flash kamera yang menyilaukan. Hanya ada kehangatan yang jujur, aroma kopi yang

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 81 Persiapan Pembukaan

    Satu bulan terakhir ini adalah waktu paling melelahkan sekaligus paling membahagiakan dalam hidupku. Jakarta yang biasanya kurasakan sebagai monster beton yang dingin, kini terasa sedikit lebih bersahabat karena aku punya tujuan. Nama toko yang awalnya ingin kugunakan samaran, akhirnya kuputuskan un

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 79 Bimbang

    Semalaman, aku seperti orang yang sedang demam, namun bukan karena sakit. Pikiranku terus-menerus memutar gambaran toko kecil di sudut gang itu. Bayangan dinding batunya yang kokoh, lokasinya yang tersembunyi namun strategis, hingga cahaya lampu jalan yang memantul di kaca depannya yang berdebu. Jak

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 76 Pertemuan Tak Terduga

    Bekerja di Le Jardin de Sari adalah maraton estetika yang tidak pernah berhenti. Dalam tiga bulan pertama, aku merasa seperti spons yang menyerap setiap tetes ilmu. Aku belajar bahwa bunga untuk pernikahan harus memancarkan harapan, bunga ulang tahun harus meledak dengan kegembiraan, dan bunga pema

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status