LOGIN"Aldo sayang Papa Luis," balas Aldo, memeluk leher Luis erat-erat, menyembunyikan wajahnya di bahu pria itu. Ia belum pernah merasakan kebahagiaan memiliki seorang Papa yang sesungguhnya. Di depan pintu netra seseorang membulat ketika melihat keduanya di atas panggung."Tuan Luis ....." Wajah pucat seperti kapas. Ia mengusap netranya memastikan tak ada air mata atau kotoran. Apa yang dilihatnya nyata dan benar. Pria paruh baya berjas abu-abu yang berdiri di ambang pintu aula sekolah matanya melebar ketidakpercayaan. Sebagai salah satu jajaran direksi di konsorsium bisnis terkemuka, ia mengenali wajah itu dengan sangat jelas Luis Suarez. Pria dingin berdingin dingin yang mendominasi panggung bisnis internasional, sosok berpengaruh yang tak tersentuh, kini berdiri di panggung TK dengan mata berembun sambil memeluk erat seorang anak kecil."Tuan Luis?" gumam pria itu lirih, tertegun melihat bagaimana Luis mengelus punggung anak laki-laki itu dengan kelembutan yang tak pernah diperliha
Bab 121 Celina terjebak macet. Ia hendak ke rumah sakit setelah mendapatkan telepon dari tetangganya. Ibunya, Denada meminta tetangga untuk menghubungi Celina karena keadaan Mama Lela memburuk dan ponsel Denada mati daya setelah menerima panggilan dari Brian.Celina meremas tangannya. Di kemudi supir perusahaan hanya menghela napas panjang."Pak, apa tidak ada jalan lain?""Ada Nona. Di depan ada gang kecil. Kita bisa lewat sana hanya saja macet."Celina menatap ponselnya sudah tiga puluh menit berlalu. Tapi perjalanan rumah sakit masih jauh. Hingga akhirnya ada pergerakan dari mobil setelah di kondisikan oleh keamanan.Langkah Celina semakin cepat. Tubuhnya gemetar setelah menerima kondisi terbaru Mama Lela. Ia mendorong pintu ruangan. Di sana Brain dan Elizabeth berdiri berdampingan dan Denada mengenggam tangan Mama Lela.Langkah Celina berdiri di samping tubuh mertuanya. Ia menatap wanita itu dengan iba. Baru beberapa hari saja tubuhnya semakin ringkih."Ma, ini Celina sudah datan
Bab 120 Wajah Aldo begitu riang untuk pertama kalinya ia duduk bersama pria yang bisa dipanggil papa. Brian bukan tak bisa hadir. Aldo sudah berbicara semalam, tapi pertengkaran antara Brian dan Elizabeth membuat dirinya sadar diri kalau ia bukan siapa-siapa. Aldo tak menyalahkan mereka justru dirinya yang menyusahkan saja sejak dalam kandungan. Aldo memilih pergi tak ingin menganggu Brian dan kekasihnya. Untung saja bertemu Luis di jalan. Pria itu bisa diajak kerjasama. Lampu aula sekolah meredup. Hanya sorotan cahaya kuning hangat yang menerangi panggung kayu di depan. Di barisan kursi terdepan, Luis membetulkan posisi duduknya yang terasa kaku. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Di sebelahnya, beberapa ayah lain tampak bersenda gurau, bangga menunggu giliran anak mereka tampil dalam perayaan Hari Ayah pagi itu."Selanjutnya." Suara guru pembawa acara terdengar melalui pengeras suara, "kita sambut penampilan dari Aldo, kelas nol besar, yang akan mempersembah
Bab 119Aldo duduk di teras sudah siang ia belum juga pergi ke sekolah. Hari ini hari perayaan ayah sedunia. Ia belum mendapatkan penganti ayahnya. Semalam ia mencoba beranikan diri untuk berbicara dengan Brian. Pria itu bisa menjadi ayahnya di panggung. Aldo menatap jemari mungilnya yang sejak tadi dimainkan. Kendaraan berlalu lalang menyapa anak itu. Tapi tak ada satupun ia jawab. Hanya menatap tanpa kehangatan. Semua orang menyadari hal itu. "Aldo. Kenapa kamu belum berangkat? Ke mana Aunty mu itu?" tanya salah satu orang tetangga. "Mereka pergi pagi-pagi ke rumah sakit. Nenek Lela kambuh dan Aunty Riana mengantar Nenek ke sana. Mami belum pulang." "Lalu kenapa kamu belum berangkat?" tanya wanita itu berusia lima puluh tahunan. Ia menatap iba Aldo. Biasanya wajah anak itu sangat ceria. Hari ini raut wajahnya berbeda. "Aku segera berangkat." Aldo beranjak bangkit. Ia menatap sepedanya yang sedang rusak. Bel
Bab 118 Riana menarik lengan Aldo menjauhi Brian. Tatapan bocah itu sinis begitu juga tunangan Brian. Jangan sampai keponakanmya itu mengalami sesuatu yang tak diinginkan. Riana tahu kalau ibunya Brian tak setuju perceraian anaknya. Tapi semua itu sudah ada diperjanjikan pra nikah. Begitu sayang wanita itu kepada Celina. Hingga enggan melepaskan statusnya sebagai mantu kesayangan Walau ia tak pernah tahu detailnya. Sudah pasti kontrak mereka akan habis dan tak ingin diperpanjang lagi karena Brian mencintai Elisabeth bukan Celana. Riana mengangkat wajahnya membalas tatapan wanita itu. Ia tak ingin diremehkan. Tatapan tunangan Brian tak ia sukai. "Riana. Kami akan tidur di sini," ucap Brian seperti meminta izin kepada orang lain padahal rumah ini milik ibunya. Tapi tetap saja ia lakukan. "Oh, iya. Aku ambil kuncinya dulu. Kalian mau mampir ke rumah aku untuk minum teh. Kebetulan Ibu membuat cemilan kue kering di rumah." Brian baru membuka mulutnya. Tapi sudah terpotong. "Tidak u
Bab 117 Aldo sedih karena neneknya belum pulang juga. Dia duduk di teras termenung menatap langit. Riana melihat keponakannya duduk di sampingnya dan memberikan permen lolipop rasa buah-buahan."Mau?" tanya Riana lembut. Biasanya ia tak mengizinkan keponakannya itu makan permen. Tapi kali ini berbeda. Suasana hati Aldo sedang tak baik. "Aunty. Bagaimana keadaan Nenek Lela?" Wajah Aldo masih menyiratkan kecemasan. "Nenek gak apa. Dia hanya butuh istirahat saja. Jangan cemas." Riana paham dengan pikiran Aldo. Anak itu jadi tak nafsu makan. Makan siang hari ini masih utuh. "Aldo takut, Aunty." Netra Aldo mengembun tak bisa menahan kesedihan. Petugas rumah sakit tidak mengizinkan anak kecil untuk menjenguk kecuali usianya sudah 10 tahun. "Takut kenapa?" tanya Riana ikut duduk di sampingnya. Angin hari ini begitu sejuk dan hangat. Cuaca tak terlalu panas. Hari ini Aldo tak semangat. Biasanya ia sudah bermain sepeda keliling komplek. Tapi kali ini seperti hilang moodnya "Takut Nenek
Bab 94 Suara pintu digendor keras. Celina menoleh ke arah jam dinding. "Malam-malam begini siapa yang gedor pintu?" keluh Celina keluar kamar. Ia membuka pintu rumah dan di sana berdiri seorang pria wajahnya sangat sedih dan menyentuh lengan Celina. Pria yang wajahnya lelah mengenakan kaos hitam
Bab 92 Global Innovator Program — Overseas Research Division sebuah pesan email masuk dari perusahaan itu. Seminggu lagi ia harus datang ke tempat itu. Celina sudah menyiapkan semuanya dengan matang. Buku proyek yang selama ini ia simpan anak mengalami perkembangan bagus. Robot mungil di tangannya
Bab 91 "Hanya ini saja? Kalian hanya mendapatkan foto mereka? Yang aku inginkan keberadaan dia bukan foto ini. Di mana mereka dan tinggal. Bagaimana keadaan Celina. Apa kalian bodoh, ah!" Luis melempar amplop itu ke lantai. Ia ingin bertemu langsung dengan Celina bukan fotonya saja. Anak buah Lui
Bab 34 Celina menatap pemuda di hadapannya. Celina tak pernah bercerita tentang perusahaan ini baik keluarga ataupun sahabatnya. Ia hanya mengaku sebagai pengasuh di rumah orang kaya. "Doni kenapa kamu di sini?" Celina selalu ingat perkataan Luis kalau ia tak suka berdekatan dengan siapapun di pe







