LOGINig author: @rafi.aditya87 Di ujung peta, tersembunyi sebuah desa bernama Angkara. Tak ada yang bisa masuk, kecuali mereka yang dipanggil atau dikutuk. Raka Prasetya, seorang jurnalis muda yang haus cerita eksklusif, menerima surat tanpa pengirim berisi potongan artikel kuno dan satu kalimat: "Datanglah ke Angkara sebelum malam merah tiba." Penasaran dan tergoda sensasi, Raka menuju desa yang bahkan tak tercatat di Google Maps. Namun, sejak ia menginjakkan kaki di tanah itu, udara berubah dingin, waktu terasa lambat, dan tatapan para penduduk seakan menembus jiwanya. Ia menemukan makam yang bernafas, suara tangis dari pohon beringin, dan seorang wanita tua yang mengaku sebagai penjaga "pintu terakhir ke neraka". Malam-malam di Angkara tak seperti malam biasa. Raka harus memilih: mencari kebenaran dan membuka pintu yang seharusnya tertutup selamanya atau menjadi bagian dari legenda berdarah yang tak akan pernah diceritakan kembali. Karena di Angkara, tidak semua yang mati bisa beristirahat. Dan tidak semua yang hidup adalah manusia.
View MoreRuang kosong itu lebih dari sekadar kehampaan ia adalah kekosongan yang hidup. Waktu tidak berjalan, suara menggema tanpa asal, dan tak ada arah, seolah langit dan bumi melebur dalam kabut kelabu yang tak berujung. Arkana berdiri sendirian, tubuhnya lelah dan jiwanya tercabik. Namun, ia tidak sendiri. Empat versi dirinya muncul dari kabut, masing-masing dengan wajahnya, namun dengan sorot mata berbeda. Mereka berdiri mengelilinginya seperti bayangan yang memberontak. Satu tampak haus kekuasaan, satu penuh ketakutan, satu menyimpan penyesalan mendalam, dan satu dipenuhi gairah liar yang tak terkendali. Mereka bukan ilusi. Mereka adalah bagian dari dirinya yang terpecah di tiap gerbang. "Kenapa kalian tak mau kembali?" tanya Arkana, nadanya tenang, tapi dadanya berdegup kencang. Versi dirinya yang mewakili nafsu Arkana Nafsu tersenyum sinis. "Karena di sinilah aku bebas. Tak ada moral, tak ada kendali. Aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa pengekanganmu yang pengecut." Arkana-Keta
Begitu Arkana melangkah melewati pintu kecil itu, dunia seperti berhenti bernapas. Ia terjatuh... atau mungkin melayang. Tidak ada arah. Tidak ada cahaya. Hanya kekosongan yang tak berbatas. Lalu, perlahan, kegelapan itu retak. Dari celah retakan cahaya biru pucat menyusup masuk, membentuk lantai abstrak seperti kaca, langit berpendar seperti air, dan di tengah ruang dimensi itu berdiri... dirinya sendiri. Bukan satu. Melainkan tujuh Arkana masing-masing merepresentasikan sisi dirinya yang pernah menyentuh gerbang-gerbang neraka. Satu mengenakan jubah putih yang bersinar, wajah damai. Itu Arkana dari gerbang pertama pemula yang masih percaya pada kebaikan. Lainnya gelap, matanya hitam pekat, tangan berlumuran darah. Itu Arkana dari gerbang keempat, saat ia mengorbankan satu desa demi menghentikan iblis. Dan sisanya... mencerminkan berbagai ketakutan, kebencian, kebimbangan, hingga ketulusan yang pernah ia kubur dalam-dalam. Mereka berdiri melingkar, menatap Arkana utama yang k
Ruang bawah tanah kembali menjadi tempat yang paling aman atau setidaknya, tempat satu-satunya di mana Arkana bisa berpikir. Dindingnya ditutup kain hitam, cermin-cermin ditutupi lembaran kain agar tak memantulkan sesuatu yang bukan miliknya, dan di tengah ruangan kini berdiri Pelita Duri Mata bola kaca berduri yang terus berdetak perlahan, seolah hidup. Arkana menatapnya lekat. “Kau seharusnya bisa menutup mata dari dunia lain. Tapi kenapa aku merasa... justru aku yang akan terbuka?” Ia mengangkat pelita dengan hati-hati. Cahaya biru yang dipancarkannya tidak menyilaukan, tapi menghipnotis. Saat cahaya itu menyentuh kulit Arkana, ia bisa merasakan denyut jantungnya berubah. Lebih pelan. Lebih dalam. Ia mengarahkan pelita ke salah satu cermin. Perlahan, permukaan kaca itu bergetar. Bayangannya tampak berkedip... dan kemudian berubah. Kini ia melihat dirinya berusia lima tahun, duduk di depan rumah tua yang sudah lama ia lupakan. Di pangkuannya ada boneka rusak boneka milik Satya.
Hujan turun perlahan, membasahi desa yang baru saja mencoba bangkit dari serangkaian malam penuh darah dan bayangan. Tidak ada lagi simbol bintang enam di langit. Tidak ada lagi tangisan dari dalam tanah. Tapi ada keheningan yang tidak wajar. Keheningan yang seolah menunggu seseorang berbicara lebih dulu. Arkana duduk di pojok kamar bawah tanah yang telah ia ubah menjadi ruang pengamatan. Di hadapannya tergantung puluhan cermin kecil, masing-masing mengarah ke titik-titik penting di desa: pos ronda, sekolah, rumah sakit, bahkan ladang jagung yang kini hangus. Cermin utama cermin yang pernah membawanya ke Gerbang Ketujuh diletakkan di atas meja, kini berubah menjadi hitam pekat seperti obsidian. Namun Arkana tahu: ia belum sendirian. --- Pukul dua pagi, ia terbangun dari tidur singkatnya. Bukan karena suara, tapi karena perasaan ditatap. Ia membuka mata perlahan, dan jantungnya langsung menghentak. Di langit-langit kamarnya, ada mata besar, hitam, dan tanpa kelopak. Tidak berkedip
Langkah kaki Arkana nyaris tak bersuara saat ia memimpin Ilham menuju lorong terdalam sekolah, yang hanya bisa dibuka dengan sidik jari kepala sekolah pertama dan Arkana memilikinya. Lorong itu bernama Koridor Bisik, karena siapa pun yang melaluinya akan mendengar bisikan kenangan yang ingin mereka
Ilham berdiri di depan cermin kamarnya. Retakan merah di permukaannya menjalar seperti urat api, berdenyut perlahan. Ia menatap bayangannya sendiri, tapi yang kembali menatapnya adalah wajah tanpa mata. Sebuah topeng kosong meniru ekspresi, dan di sudut bibirnya tersenyum sinis. Revana masuk terge
Udara malam menusuk tulang ketika cahaya putih dari celah dimensi menyelimuti ruang bawah tanah. Ilham, Revana, dan Davin jatuh berlutut ke lantai batu, napas mereka berat, tubuh gemetar karena dingin yang tidak berasal dari dunia ini. Di pelukan Revana, boneka kayu Lira bersinar samar. Beberapa d
Cahaya biru dari tongkat Penjaga Gerbang Dalam menyebar membentuk lingkaran sihir besar. Simbol-simbol kuno berputar pelan di udara, berdesir bagai mantra yang diucapkan dengan bisikan ribuan arwah. Angin dingin bertiup dari dalam tanah, dan udara menjadi berat. “Jika kalian siap…” kata Penjaga de






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews