Masuk
"Ahh... Ahh... Ahh..."
Langkahku terhenti saat mendengar suara kenikmatan. Tepat berada di depan pintu kamar ibuku. Aku yang terbangun tengah malam karena merasa ingin buang air kecil, mengurungkan niatku sejenak untuk mendengar lebih jelas. Perlahan, aku mendekatkan telinga ke pintu. Ternyata benar, suara itu memang berasal dari dalam kamar Mama Jessica, ibu tiriku. Rasa buang air kecil yang tadinya nyaris tak tertahankan, menghilang seketika. Aku mengatur napas sebaik mungkin, sembari mencoba berpikir apa yang sedang berlangsung di dalam sana. Bagaimana mungkin? Tidak, ini tidak mungkin! Batinku bergejolak, pikiranku melayang-layang. Apa mungkin ibu tiriku memasukkan pria lain ke dalam kamar? Atau jangan-jangan... Pikiranku semakin beterbangan, membayangkan apa yang dapat memicu munculnya suara desahan itu. Ayah belum pulang karena lembur malam ini. Jadi, tidak mungkin desahan itu muncul dengan sendirinya. "Loh, Radit? Ngapain di sini?" tanya Mama Jessica yang tiba-tiba saja membuka pintu. "Eh, anu, bukan, enggak Ma..." Aku gelagapan. Jantungku berdegup kencang, bukan semata karena Mama Jessica menemukanku di depan kamarnya. Melainkan, karena setelan pakaian yang ia kenakan. Mama Jessica mengenakan piyama rok bewarna pink yang terlihat seperti baju dinas malam. Sehingga bayang-bayang isi di dalamnya tergambar jelas di kepalaku. "Hihi, lucu banget deh kamu. Kenapa jadi gugup kayak gitu?" Mama Jessica melirik sambil menyilangkan tangan di dada, wajahnya tampak penasaran. "Enggak kok, Ma. Kebelet buang air kecil, mau ke kamar mandi dulu." Aku merapatkan kedua pahaku, telapak tanganku dingin karena grogi. "Oh... mau ke kamar mandi rupanya. Mau Mama temenin?" Mama Jessica mengangkat alis, seolah bercanda, tapi langkahnya ikut maju setengah langkah ke arahku. "Gak usah Ma. Aku sendiri aja." Aku tersenyum kaku sambil mengusap tengkukku. Detak jantungku terdengar jelas di telinga sendiri. "Beneran nih gak mau ditemenin? Malem kemarin Mama denger suara aneh dari halaman belakang." Ia berkata sambil melirik ke jendela, lalu berjalan pelan ke dekatku. Tangannya menyentuh bahuku sebentar, lembut tapi membuatku refleks menelan ludah. Tiba-tiba saja listrik padam. Seluruh ruangan berubah menjadi gelap gulita. "Tuh kan, lampunya mati. Yuk, Mama temenin aja." Mama Jessica menyalakan ponselnya sebagai penerangan. "Soal yang tadi, beneran Ma?" "Iya," jawabnya pelan, hampir seperti gumaman. "Tapi Mama nggak mau ngecek, takut soalnya." Seketika bulu kudukku meremang. Mulai ragu-ragu untuk melangsungkan hajatku ke kamar mandi. Tapi, jika aku menahannya, khawatir celanaku akan segera basah kuyup. "Udah, ayuk. Jangan banyak mikir. Ntar malah keluar di celana lagi." Mama Jessica segera menggandeng lenganku dengan lembut. Entah ini terlihat normal antara ibu dengan anak, aku tidak tahu. Yang jelas, ada perasaan deg-degan saat beberapa kali lenganku tersentuh sesuatu yang lembut. "Aku buang air kecil dulu ya, Ma?" ucapku pelan ketika kami berhenti di depan pintu kamar mandi. Pintu itu sedikit terbuka, gelap di dalamnya membuatku merinding. "Berani, kan?" Mama Jessica menyipitkan mata, menyorot ke arahku dan pintu dengan cahaya ponselnya. Suaranya terdengar setengah menggoda, setengah menguji. "Maksudnya, Ma?" Aku mengerutkan kening. Jantungku berdetak lebih cepat, bukan karena takut, tapi karena tatapannya terasa aneh. "Emang kamu berani di dalem sendirian?" "Berani dong, Ma. Gak mungkin juga kan Mama masuk ke dalem buat nemenin aku?" Aku tertawa kering, mencoba mencairkan suasana yang makin tegang. "Loh, kenapa enggak?" "Hah?" Aku spontan mundur setengah langkah, bingung. Mama Jessica langsung mengerjap, menyadari ucapannya sendiri. "Eh, salah," katanya sambil tersenyum canggung. Ia mengusap rambut yang jatuh ke pipinya, lalu berdeham halus. Aku bergegas masuk untuk menyegerakan hajatku. Tapi kata-kata Mama Jessica yang menawarkan diri untuk menemaniku ke dalam sini, cukup mengganggu pikiranku. "Makasih ya, Ma. Mama baik banget," ucapku ketika melihat Mama Jessica senantiasa menunggu di depan pintu. "Gak perlu makasih segala. Kan Mama harus jagain kamu. Kayak amanahnya Papa." Aku mengerutkan kening, "Emang Papa bilang gitu?" "Iya, Papa bilang Mama harus benar-benar jagain kamu. Papa sayang banget dan gak mau kamu kenapa-napa." Aku cukup tersentuh mendengarnya. Karena belum pernah aku melihat Ayah mengatakan hal demikian di hadapanku. Tapi terkadang juga aku merasa bahwa ini berlebihan, seperti dimanjakan. Kurang pantas saja di usiaku yang sudah menyandang gelar sarjana. "Oh ya Ma, Papa emang belum pulang, ya?" "Belum," jawabnya lembut. Ia merapikan rambutnya yang jatuh ke bahu. "Kan malem ini ada lembur. Mungkin sekitar satu jam lagi pulangnya." "Oh..." Kami berdua kembali menuju ke arah kamar. Kamarku berada tepat di samping kamarnya. "Mau Mama temenin tidur?" tanyanya lembut saat kami tiba di depan pintu kamarku.Waktu berlalu begitu cepat. Hari ini adalah hari terakhir sekolah sebelum libur panjang akhir tahun.Kara berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya yang telah berubah banyak dalam setahun terakhir. Rambutnya yang sebahu tampak lebih tertata, matanya kini memancarkan ketenangan, dan senyumnya tidak lagi kaku.Ia meraih boneka kelinci usang dari rak, memeluknya sejenak untuk mengenang masa lalu, lalu meletakkannya kembali ke tempat semula dengan lembut."Kamu sudah menemaniku sampai di titik ini," bisiknya pelan. "Sekarang, giliranku untuk menjaga yang lain."Di lantai bawah, rumah kecil itu riuh seperti biasa.Arka berlarian sambil memamerkan rapor dengan nilai-nilai yang gemilang. Maya sibuk menata meja sarapan dengan pancake hangat, sementara Radit membantu Mira menyiapkan kotak-kotak donasi untuk yayasan."Pagi, Princess!" sapa Radit begitu melihat Kara menuruni tangga.Ia langsung merengkuh putrinya dalam pelukan hangat."Hari ini Papa yang jemput kamu. Kita rayakan kelulus
Hari-hari semakin dekat dengan libur akhir tahun. Udara pagi terasa lebih segar, dan rumah kecil di pinggiran kota itu kini selalu dipenuhi suara tawa dan rencana kecil yang menyenangkan.Kara berusia 12 tahun lebih dua bulan sekarang, dan ia merasa dirinya sudah jauh berbeda dari gadis kecil yang dulu sering menangis diam-diam.Pagi itu, Radit mengumpulkan seluruh keluarga di ruang tamu setelah sarapan. Wajahnya penuh semangat."Hari ini kita libur semua," katanya sambil tersenyum lebar. "Papa sudah siapkan surprise. Kita akan ke pantai yang dulu sering Papa ceritakan. Hanya satu hari, tapi kita rayakan banyak hal sekaligus."Arka langsung melompat dari sofa. "Pantai?! Arka boleh bawa bola ya, Pa?!"Maya tertawa sambil mengemasi tas kecil. "Boleh, tapi jangan lupa sunblock. Mama nggak mau kalian pulang gosong semua."Mira yang sudah datang pagi-pagi ikut serta. Ia membawa cooler box berisi makanan dan minuman. "Aku sudah pesan m
Hari pengumuman lomba tari akhirnya tiba. Pagi itu suasana rumah Pranata penuh antisipasi. Kara berdiri di depan cermin kamarnya, merapikan seragam SMP sambil menggigit bibir. Rambutnya diikat rapi dengan pita kecil yang diberikan Maya kemarin malam."Kara… kamu pasti menang," bisiknya pada diri sendiri, tapi hatinya tetap berdebar.Saat turun ke dapur, seluruh keluarga sudah menunggu. Arka memegang spanduk kecil buatannya sendiri, Radit membawa kamera, Maya menyodorkan roti bakar dengan senyum penuh harap, dan Mira—yang kini rutin mampir setiap pagi—berdiri di pintu dengan secangkir cokelat hangat."Apapun hasilnya, kita bangga sama kamu," kata Radit sambil memeluk Kara dari samping.Arka mengacungkan jempol. "Kak Kara juara satu! Arka sudah bilang ke semua temen!"Mereka sarapan dengan cepat karena Kara harus segera ke sekolah. Sepanjang perjalanan, Arka terus bernyanyi lagu dukungan yang dibuatnya sendiri, membuat semua orang tertawa di dalam mobil.Sesampainya di sekolah, aula bes
Musim berganti semakin cepat. Daun-daun di taman belakang rumah mulai menguning, menandakan akhir tahun ajaran sudah dekat.Kara kini merasa lebih mantap dengan ritme hidup barunya. Pagi itu, seperti biasa, ia turun ke dapur dengan langkah ringan. Tapi kali ini ada kejutan kecil di meja makan."Ta-da!" seru Arka sambil memegang selembar kertas besar bertuliskan "Kak Kara Juara Tari Sekolah!" dengan gambar stickman yang lucu.Kara tertawa terbahak-bahak. "Arka! Ini kapan dibuatnya? Kara kan baru ikut lomba tari minggu lalu."Radit yang sedang menggoreng telur tersenyum lebar. "Arka sudah nggak sabar nunggu pengumuman resmi. Katanya kakaknya pasti juara."Maya keluar dari kamar sambil mengikat rambut. "Kara memang berbakat. Kemarin guru tari bilang penampilan Kara paling menyentuh hati."Kara merasa pipinya memanas. "Kara cuma menari dengan hati, Ma. Menggambarkan perjalanan dari sedih ke bahagia."Mereka sarapan dengan pe
Waktu terus berjalan, membawa perubahan kecil yang indah ke dalam kehidupan keluarga Pranata. Sudah dua bulan sejak ulang tahun Arka.Musim hujan mulai berganti dengan angin kering yang lebih sejuk. Pohon-pohon di taman belakang rumah mulai berbunga kecil-kecil, seolah ikut merayakan kedamaian yang akhirnya mereka dapatkan.Pagi itu, Kara berlari kecil menuruni tangga dengan seragam SMP yang rapi. Rambutnya yang sebahu diikat ekor kuda tinggi, dan ada senyum kecil yang tak pernah lepas dari wajahnya belakangan ini."Pagi, Pa! Pagi, Ma!" sapanya riang sambil mencium pipi Radit dan Maya bergantian.Arka sudah duduk di meja makan dengan mulut penuh roti bakar. "Kak Kara, hari ini Arka ada pertandingan sepak bola antar kelas. Kakak datang nonton ya!"Kara mengacak rambut adiknya. "Pasti datang. Kakak janji bakal teriak paling kenceng dukung Arka the Star!"Radit tertawa sambil menuangkan susu untuk semua orang. "Papa juga usahakan da
Hari ulang tahun Arka tiba dengan cerah. Matahari pagi menyinari rumah kecil itu seolah ikut merayakan. Aroma kue yang dipanggang semalaman masih menempel di seluruh ruangan.Kara bangun lebih pagi dari biasanya, membantu Maya memasang dekorasi balon dan spanduk bertuliskan "Happy 10th Birthday, Arka!" di ruang tamu."Ma, Arka pasti seneng banget," kata Kara sambil mengikat pita merah di ujung spanduk.Maya tersenyum sambil mengusap peluh di dahinya. "Iya. Dia sudah nunggu ini dari minggu lalu. Kamu juga sudah siap nyanyi Happy Birthday paling keras kan?"Kara tertawa. "Pasti! Kara latihan semalam di kamar."Radit keluar dari kamar sambil membawa kado besar yang dibungkus rapi. "Ini hadiah dari Papa. Sepeda baru yang Arka idam-idamkan. Mira juga bilang mau datang siang nanti dengan kado tambahan."Tak lama kemudian, Arka turun dari lantai atas dengan mata masih mengantuk tapi langsung melebar saat melihat dekorasi. "Waaa! Ini semua buat Arka?!"Ia berlari memeluk Kara lebih dulu, lalu







