Compartir

Bab 5

last update Fecha de publicación: 2025-11-24 00:50:39

'Ting... Tong...'

Bel rumah berbunyi, Mama Jessica bergegas bangkit menuju pintu untuk membukanya.

Akhirnya aku terlepas dari keadaan yang sebenarnya cukup sulit untuk dikendalikan.

"Eh, Papa udah pulang rupanya. Gimana kerjaannya, lancar?" Mama Jessica membantu melepaskan jasnya Ayah.

"Lancar, seperti biasanya. Sekarang mau istirahat dulu. Hari ini lelah sekali rasanya."

Percakapan mereka berdua terdengar jelas, masuk begitu saja ke telingaku. Aku masih duduk di sofa ruang keluarga, pura-pura sibuk memainkan ponsel meski pikiranku ke mana-mana.

Ketika Ayah berjalan menuju kamarnya, langkahnya terhenti tiba-tiba. Ia menatapku, ekspresinya langsung berubah terkejut.

Tanpa pikir panjang, ia membalikkan arah dan menghampiriku, seolah rasa penasarannya mengalahkan segala kelelahan setelah bekerja seharian.

"Radit? Kamu kenapa?" tanya Ayah, panik.

"Maksud Papa?"

"Itu, lututmu kenapa diperban?"

Aku menunduk sejenak, mengikuti arah pandangan Ayah. Benar saja, di lutut kananku terbalut perban putih yang cukup mencolok.

Aneh, aku bahkan tidak menyadarinya sejak tadi. Mungkin karena pikiranku masih terbawa oleh perhatian lembut Mama Jessica tadi, membuatku seolah terputus dari rasa sakit di tubuh sendiri.

"Oh, enggak Pa. Cuma keseleo aja dikit."

"Keseleo kenapa kamu, Nak?" suaranya tenang, tapi matanya tajam memeriksa.

Raut wajah Ayah tampak diliputi kecemasan. Baru kali ini aku melihatnya begitu panik hanya karena luka kecil di tubuhku. Biasanya ia selalu tampil tegas, dingin, dan berbicara seperlunya saja.

Aku membuka mulut untuk menjawab, tapi Mama Jessica sudah lebih dulu melangkah maju.

"Jatuh dari tangga tadi, Pa. Mama minta Radit bantuin pasang lampu," timpal Mama Jessica menjelaskan.

Ayah yang tadinya jongkok memperhatikan lututku, perlahan bangkit. Gerakannya tidak cepat, tapi tegang—seolah sesuatu mendidih di dalam dirinya. Raut wajahnya berubah merah, jelas menahan emosi.

"Kenapa nyuruh Radit?" suaranya mulai meninggi. Ia menatap Mama Jessica, rahangnya mengeras. "Kalau dia sampai terluka parah bagaimana? Jawab!"

Mama Jessica tersentak mundur setapak, wajahnya langsung pucat.

"Ra—radit tadinya gak mau naik, Pa. Mama cuma... ya..." suaranya melemah, sulit menyusun kata.

Ayah mengusap wajahnya kasar, napasnya berat. "Kamu tau dia trauma ketinggian. Kenapa masih kamu suruh naik?"

Aku langsung memegang lengan Ayah, mencoba menenangkan.

"Pa, jangan salahin Mama. Aku yang maksa bilang bisa."

Meskipun itu bukan sepenuhnya benar, aku tidak tahan melihat Mama Jessica disudutkan.

Mama Jessica menunduk, kedua tangan mencengkram ujung bajunya—jelas merasa bersalah.

Ayah menatapku sebentar, lalu mengalihkan pandangannya pada Mama Jessica. Napasnya mulai mereda, meski jelas kemarahannya belum benar-benar hilang.

Tanpa berkata apa-apa, Ayah berbalik dan melangkah masuk ke kamar. Pintu tertutup keras di belakangnya.

Mama Jessica mengembuskan napas pelan. Ia menatapku dan mencoba tersenyum—tipis, kaku—seolah hanya untuk memastikan aku tidak terlalu khawatir.

Tapi dari sorot matanya, aku bisa melihat jelas gurat sedih yang ia sembunyikan. Seperti ada beban yang selama ini ia pendam, dan bentakan Ayah barusan hanya membuat luka itu makin terasa.

Aku tidak tahu harus berkata apa. Hanya bisa duduk terpaku, menimbang apakah seharusnya aku menyusul Ayah, atau justru menenangkan Mama Jessica yang kini tampak lebih rapuh dari sebelumnya.

"Ma, Papa kenapa, sih?" tanyaku pelan.

Mama Jessica menghela napas panjang, bahunya turun perlahan. Ia duduk di sampingku, tangannya otomatis merapikan perban di lututku meski sebenarnya sudah rapi.

"Mama juga gak tau," jawabnya lembut, namun suaranya terdengar letih. "Intinya Papa sayang banget sama kamu. Gak mau kamu kenapa-napa."

Aku mengernyit, masih tak mengerti. "Tapi ini kan cuma keseleo biasa, Ma. Kenapa Papa nyampe marah banget kayak gitu?"

Mama Jessica menatapku sebentar, lalu mengalihkan pandangan ke arah pintu kamar Ayah yang tertutup rapat. Ada sesuatu di sorot matanya—campuran takut, bingung, dan merasa salah.

Ia menepuk pahaku pelan—jauh dari bagian yang sakit.

"Udah lah, Dit. Gak usah dipikirin," katanya sambil tersenyum tipis, meski jelas bukan senyum yang sebenarnya.

"Baiknya sekarang kamu istirahat aja, ya. Biar lututmu cepet sembuh."

Mama Jessica bangkit dan meninggalkanku, dengan raut wajah yang tampak lebih murung dari biasanya.

Aku hanya bisa menggeleng pelan, memikirkan apa yang sebenarnya membuat sikap Ayah berubah sedrastis itu.

Perlahan aku ikut bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamar, langkahku terasa sedikit tertatih.

***

Sore berganti malam, telingaku rasanya cukup panas mendengar pertengkaran yang terjadi.

Ternyata, kejadian saat Ayah melihatku sore tadi, sampai membuatnya marah terhadap Mama Jessica, masih berlangsung hingga malam ini.

"Kan Mama udah bilang, Mama gak bisa kayak gini terus!" Suara Mama Jessica terdengar jelas.

Sementara Ayah, suaranya sama sekali tidak terdengar. Hanya bunyi benda-benda yang dibanting keras dari dalam kamar mereka yang sesekali memecah keheningan.

Aku mengelus dadaku, berharap pertengkaran itu segera mereda, atau setidaknya berhenti untuk malam ini.

Tak tahan lagi mendengarnya, aku keluar dari kamar dan berjalan terus hingga berada di teras rumah. Di sana, aku duduk, berharap telingaku bisa sedikit aman dari suara-suara yang tidak ingin kudengar.

Beberapa saat kemudian, pintu utama terbuka.

'Klek!'

Ternyata Mama Jessica. Ia keluar dan duduk di sampingku.

Aku tetap diam, menatap lurus ke depan, tanpa berani sedikit pun menoleh ke arahnya.

"Serius banget, nih? Liatin apaan?"

Aku terlonjak sedikit. "Eh, Ma? Sejak kapan udah di sini?"

"Udah, kamu gak usah pura-pura. Mama tau kok."

"Maksudnya?"

Mama Jessica memiringkan tubuh sedikit ke arahku, suaranya diturunkan. "Ya itu, Mama tau kamu denger semuanya tadi."

Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, tertawa pendek.

"Hehe, enggak kok, Ma. Cuma dikit doang, trus aku buru-buru keluar ke sini."

"Hmm..." gumamnya pelan, seperti masih mempertimbangkan sesuatu.

Aku melirik sekilas ke arah Mama Jessica. Ia menatap lurus ke depan, dan aku tak bisa menebak apakah itu caranya menahan kesedihan atau sekadar mencoba menenangkan diri.

Deg!

Jantungku serasa berhenti sejenak ketika ia tiba-tiba merebahkan kepalanya di pundakku.

Apakah ini wajar bagi seorang ibu dan anak? Aku sendiri tidak yakin. Yang jelas, rasanya lebih mirip kedekatan sepasang kekasih daripada hubungan keluarga.

Aku tidak tahu apa maksudnya. Tanganku sempat kaku, bingung harus berbuat apa.

Namun perlahan, seolah digerakkan naluri, aku mengangkat tangan dan membelai rambutnya dengan lembut, berharap bisa sedikit meredakan kesedihan yang mungkin sedang ia tahan.

"Boleh peluk?" tanyanya tiba-tiba, membuat mataku terbelalak.

"Bo-boleh kok, Ma."

Kami saling berpandangan sejenak, lalu perlahan saling merengkuh dalam pelukan. Begitu besar tampaknya duka yang ia pikul, hingga saat ini ia benar-benar membutuhkan seseorang untuk sekadar menjadi sandaran.

Sementara bagian tubuh di antara kedua pahaku belum mampu menyesuaikan keadaan. Di saat momen sedang sedih-sedihnya, celanaku malah sesak tiba-tiba!

Hal ini dapat kupastikan karena garis lembut yang berasal dari bukit kembarnya, cukup menempel erat di dadaku.

Aku mengusap-usap punggungnya secara perlahan. Aneh, tapi ini yang mungkin dibutuhkannya. Persis seperti sepasang kekasih yang sedang dilanda kerinduan.

"Udah, jangan sedih lagi ya, Ma. Semoga semuanya baik-baik aja," bisikku pelan.

Tidak ada jawaban, Mama Jessica hanya mengeratkan pelukannya itu, dan aku berharap ini berlangsung lama.

"Makasih ya, Dit." Suaranya rendah, hampir seperti bisikan yang lepas tanpa ia sadari.

"Buat apa, Ma?"

"Makasih udah mau ngertiin apa yang Mama butuhkan."

"Gak apa-apa, Ma. Aku paham kok apa yang Mama rasa."

Dia menatapku sambil tersenyum manis, dan untuk sesaat aku hampir kehilangan kendali. Seolah lupa bahwa perempuan di hadapanku ini adalah ibu tiriku sendiri.

Entah sengaja atau tidak, tiba-tiba saja tangan Mama Jessica sudah hinggap di pahaku. Ia mengusapnya lembut, membuat aliran listrik mengalir cepat ke dalam sana.

Aku hanya terdiam, belum benar-benar memahami maksudnya. Mungkin saja baginya itu hal yang wajar. Sesuatu yang dianggap normal oleh siapa pun dalam situasi seperti ini.

Akan tetapi, lama-kelamaan aku merasa bahwa tangannya itu semakin mendekati celanaku, bahkan sudah menyentuhnya. Membuat tubuhku menegang seketika.

"Ma?" ucapku akhirnya, tak tahan lagi.

"Kenapa, Dit?"

Aku menelan ludah, melihat tangannya yang masih berada dekat pahaku.

"Mama ngapain?"

"Ini loh," katanya sambil memutar benang di jarinya. "Ada benang yang keluar dari celanamu. Mama cabut ya? Biar rapi."

Benar saja, ada beberapa helai benang yang keluar dari celanaku. Akan tetapi, posisinya tepat pada kediaman pejantan tangguhku.

Mama Jessica terlihat fokus menarik benang-benang itu, sehingga beberapa kali tangannya menyentuh pahaku.

Sementara itu, hasratku semakin memuncak dibuatnya. Ketegangan berhasil menyelimuti celanaku yang sedari tadi telah sesak.

"Udah bangun ya, Dit?" tanyanya pelan, tanpa menoleh ke arahku.

"Apanya, Ma?"

"Ini, punyamu."

"Eh..." Tiba-tiba saja keringat yang sudah membanjiri kepala.

"Dit, andai punya Papa seperti milikmu ya..."

"A–apa..." Aku membeku. Jadi, saat handukku jatuh sebelumnya, Mama Jessica sempat melihatnya?!

Namun, belum tuntas aku bicara, Mama Jessica menggerakkan tangannya yang lembut–sontak membuat mataku membulat!

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Comentarios (1)
goodnovel comment avatar
Supriadi
semakin naik semaking seru
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Godaan Mama Muda   Bab 361

    Waktu berlalu begitu cepat. Hari ini adalah hari terakhir sekolah sebelum libur panjang akhir tahun.Kara berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya yang telah berubah banyak dalam setahun terakhir. Rambutnya yang sebahu tampak lebih tertata, matanya kini memancarkan ketenangan, dan senyumnya tidak lagi kaku.Ia meraih boneka kelinci usang dari rak, memeluknya sejenak untuk mengenang masa lalu, lalu meletakkannya kembali ke tempat semula dengan lembut."Kamu sudah menemaniku sampai di titik ini," bisiknya pelan. "Sekarang, giliranku untuk menjaga yang lain."Di lantai bawah, rumah kecil itu riuh seperti biasa.Arka berlarian sambil memamerkan rapor dengan nilai-nilai yang gemilang. Maya sibuk menata meja sarapan dengan pancake hangat, sementara Radit membantu Mira menyiapkan kotak-kotak donasi untuk yayasan."Pagi, Princess!" sapa Radit begitu melihat Kara menuruni tangga.Ia langsung merengkuh putrinya dalam pelukan hangat."Hari ini Papa yang jemput kamu. Kita rayakan kelulus

  • Godaan Mama Muda   Bab 360

    Hari-hari semakin dekat dengan libur akhir tahun. Udara pagi terasa lebih segar, dan rumah kecil di pinggiran kota itu kini selalu dipenuhi suara tawa dan rencana kecil yang menyenangkan.Kara berusia 12 tahun lebih dua bulan sekarang, dan ia merasa dirinya sudah jauh berbeda dari gadis kecil yang dulu sering menangis diam-diam.Pagi itu, Radit mengumpulkan seluruh keluarga di ruang tamu setelah sarapan. Wajahnya penuh semangat."Hari ini kita libur semua," katanya sambil tersenyum lebar. "Papa sudah siapkan surprise. Kita akan ke pantai yang dulu sering Papa ceritakan. Hanya satu hari, tapi kita rayakan banyak hal sekaligus."Arka langsung melompat dari sofa. "Pantai?! Arka boleh bawa bola ya, Pa?!"Maya tertawa sambil mengemasi tas kecil. "Boleh, tapi jangan lupa sunblock. Mama nggak mau kalian pulang gosong semua."Mira yang sudah datang pagi-pagi ikut serta. Ia membawa cooler box berisi makanan dan minuman. "Aku sudah pesan m

  • Godaan Mama Muda   Bab 359

    Hari pengumuman lomba tari akhirnya tiba. Pagi itu suasana rumah Pranata penuh antisipasi. Kara berdiri di depan cermin kamarnya, merapikan seragam SMP sambil menggigit bibir. Rambutnya diikat rapi dengan pita kecil yang diberikan Maya kemarin malam."Kara… kamu pasti menang," bisiknya pada diri sendiri, tapi hatinya tetap berdebar.Saat turun ke dapur, seluruh keluarga sudah menunggu. Arka memegang spanduk kecil buatannya sendiri, Radit membawa kamera, Maya menyodorkan roti bakar dengan senyum penuh harap, dan Mira—yang kini rutin mampir setiap pagi—berdiri di pintu dengan secangkir cokelat hangat."Apapun hasilnya, kita bangga sama kamu," kata Radit sambil memeluk Kara dari samping.Arka mengacungkan jempol. "Kak Kara juara satu! Arka sudah bilang ke semua temen!"Mereka sarapan dengan cepat karena Kara harus segera ke sekolah. Sepanjang perjalanan, Arka terus bernyanyi lagu dukungan yang dibuatnya sendiri, membuat semua orang tertawa di dalam mobil.Sesampainya di sekolah, aula bes

  • Godaan Mama Muda   Bab 358

    Musim berganti semakin cepat. Daun-daun di taman belakang rumah mulai menguning, menandakan akhir tahun ajaran sudah dekat.Kara kini merasa lebih mantap dengan ritme hidup barunya. Pagi itu, seperti biasa, ia turun ke dapur dengan langkah ringan. Tapi kali ini ada kejutan kecil di meja makan."Ta-da!" seru Arka sambil memegang selembar kertas besar bertuliskan "Kak Kara Juara Tari Sekolah!" dengan gambar stickman yang lucu.Kara tertawa terbahak-bahak. "Arka! Ini kapan dibuatnya? Kara kan baru ikut lomba tari minggu lalu."Radit yang sedang menggoreng telur tersenyum lebar. "Arka sudah nggak sabar nunggu pengumuman resmi. Katanya kakaknya pasti juara."Maya keluar dari kamar sambil mengikat rambut. "Kara memang berbakat. Kemarin guru tari bilang penampilan Kara paling menyentuh hati."Kara merasa pipinya memanas. "Kara cuma menari dengan hati, Ma. Menggambarkan perjalanan dari sedih ke bahagia."Mereka sarapan dengan pe

  • Godaan Mama Muda   Bab 357

    Waktu terus berjalan, membawa perubahan kecil yang indah ke dalam kehidupan keluarga Pranata. Sudah dua bulan sejak ulang tahun Arka.Musim hujan mulai berganti dengan angin kering yang lebih sejuk. Pohon-pohon di taman belakang rumah mulai berbunga kecil-kecil, seolah ikut merayakan kedamaian yang akhirnya mereka dapatkan.Pagi itu, Kara berlari kecil menuruni tangga dengan seragam SMP yang rapi. Rambutnya yang sebahu diikat ekor kuda tinggi, dan ada senyum kecil yang tak pernah lepas dari wajahnya belakangan ini."Pagi, Pa! Pagi, Ma!" sapanya riang sambil mencium pipi Radit dan Maya bergantian.Arka sudah duduk di meja makan dengan mulut penuh roti bakar. "Kak Kara, hari ini Arka ada pertandingan sepak bola antar kelas. Kakak datang nonton ya!"Kara mengacak rambut adiknya. "Pasti datang. Kakak janji bakal teriak paling kenceng dukung Arka the Star!"Radit tertawa sambil menuangkan susu untuk semua orang. "Papa juga usahakan da

  • Godaan Mama Muda   Bab 356

    Hari ulang tahun Arka tiba dengan cerah. Matahari pagi menyinari rumah kecil itu seolah ikut merayakan. Aroma kue yang dipanggang semalaman masih menempel di seluruh ruangan.Kara bangun lebih pagi dari biasanya, membantu Maya memasang dekorasi balon dan spanduk bertuliskan "Happy 10th Birthday, Arka!" di ruang tamu."Ma, Arka pasti seneng banget," kata Kara sambil mengikat pita merah di ujung spanduk.Maya tersenyum sambil mengusap peluh di dahinya. "Iya. Dia sudah nunggu ini dari minggu lalu. Kamu juga sudah siap nyanyi Happy Birthday paling keras kan?"Kara tertawa. "Pasti! Kara latihan semalam di kamar."Radit keluar dari kamar sambil membawa kado besar yang dibungkus rapi. "Ini hadiah dari Papa. Sepeda baru yang Arka idam-idamkan. Mira juga bilang mau datang siang nanti dengan kado tambahan."Tak lama kemudian, Arka turun dari lantai atas dengan mata masih mengantuk tapi langsung melebar saat melihat dekorasi. "Waaa! Ini semua buat Arka?!"Ia berlari memeluk Kara lebih dulu, lalu

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status