MasukDijuluki perjaka gendeng, aku sebenarnya tampan dan perkasa, tapi jadi musuh bersama para lelaki di desa itu. Bagaimana tidak, tempat praktikku selalu jadi incaran para gadis karena memang obat yang aku ramu itu manjur. Di luar, aku dikenal sebagai ahli pengobatan medis dan herbal, namun di balik pintu praktikku, aku adalah tempat para wanita menumpahkan keluh kesah rumah tangga dan kadang, hasrat mereka juga. Dari tiap wanita, aku kemudian menjelma jadi seorang pahlawan di desa, bahkan bisa menjadi penyelamat desa dari segala ancaman korupsi kades dan konglomerat. Semua wanita di desa yang awalnya menghinaku, berubah jadi memperebutkanku.
Lihat lebih banyak"Mas Tresna, tolongin! Punggungku rasanya mau copot, kayak ada beban berat yang nempel nggak mau lepas dari tadi pagi!"
Pintu klinik kayu yang sudah miring itu terbuka dengan suara debuman keras. Di ambang pintu, Silvi berdiri dengan napas yang masih tersengal.
Guncangan itu nyaris membuat Tresna terjungkal dari kursi. Padahal, pria dua puluh delapan tahun itu baru saja asyik melamunkan nasib dompetnya yang makin tipis.
Sambil mengusap wajah kusam, Tresna menatap sang janda kembang dengan bingung. Ia refleks merapikan kaos oblongnya yang sudah melar di bagian leher.
Seketika, bayangan ancaman Pak Kades Aditama soal penutupan klinik ilegalnya buyar. Pemandangan di depannya jauh lebih menyita perhatian.
"Mbak Silvi, kalau masuk itu mbok ya ketok pintu dulu, toh. Ini klinik pengobatan, bukan gerbang tol yang main terobos aja," keluh Tresna.
Ia berusaha mengatur nada bicara agar tetap tenang. Meski begitu, jantungnya tidak bisa bohong. Detaknya makin kencang saat melihat bulir keringat yang mengalir pelan di leher Silvi.
"Aduh, nggak sempet ketok-ketok lagi! Ini udah darurat banget, Mas Tresna. Rasanya kayak masuk angin duduk sampe ke pinggang, panas banget!"
Silvi merangsek masuk, lalu menendang pintu klinik dengan tumitnya sampai tertutup rapat. Gerakan itu cukup jadi kode bagi Tresna, pasiennya yang satu ini tidak mau diganggu siapa pun dari luar.
Tresna mendesah pelan. Dari dalam laci meja praktik, ia mengambil botol minyak zaitun campuran jahe merah dan sekeping koin logam yang pinggirannya sudah halus.
Ia sudah hafal di luar kepala kelakuan warga desa. Mereka selalu mengandalkannya saat butuh, tapi tetap saja rajin mengejeknya sebagai perjaka yang tidak laku hanya karena Tresna terlalu pilih-pilih soal pasangan.
Di luar sana, orang-orang seperti Pak Karyo atau Didin mungkin sedang asyik bergosip di pos ronda. Menyebutnya sebagai mantri cabul yang hanya modal tampang manis tanpa surat izin resmi.
"Ya udah, sini naik ke ranjang periksa. Saya liat dulu seberapa parah masuk anginnya, sampe Mbak Silvi sepanik ini."
Silvi tidak banyak bicara lagi. Dia langsung membelakangi Tresna, lalu dengan gerakan berani menyingkap kebaya kutubaru motif bunganya ke atas. Tanpa ragu sama sekali.
Tresna spontan menahan napas. Punggung Silvi yang putih mulus itu kelihatan kontras banget sama plafon klinik yang jamuran dan dinding kusam di sekitarnya.
Pemandangan berikutnya makin bikin Tresna melongo di mana kaitan bra merah menyala yang dipakai Silvi ternyata sudah lepas. Garis punggung itu terpampang nyata tanpa penghalang apa pun.
"Mbak, ini kok... branya udah lepas kaitannya? Nanti kalau pas lagi dikerok terus melorot gimana? Saya nggak mau tanggung jawab, lho, ya!"
"Halah, Mas Tresna ini kok malah protes. Kan, biar Mas Tresna gampang ngeroknya sampe bawah. Biar anginnya nggak ada yang nyelip di balik tali bra."
"Ya tapi jangan langsung begini juga. Kalau ada yang ngintip dari ventilasi atas, bisa geger satu Desa Sukamaju ini, Mbak!"
"Biarin aja mereka mau ngintip sampe matanya bintitan! Yang penting aku sembuh dulu. Udah, ayo cepet dikerok, Mas. Jangan cuma diliatin aja!"
Tanpa aba-aba, Silvi langsung tengkurap di atas ranjang periksa. Dia sengaja sedikit mengangkat pinggul, membuat lekuk tubuhnya terpampang jelas tepat di depan mata Tresna.
Sambil berusaha menjaga profesionalitas, Tresna mulai bergerak. Tangannya sedikit gemetar saat mengoleskan minyak hangat ke punggung Silvi yang terasa lembut.
Begitu koin logam menyentuh kulit dan ditarik perlahan hingga menciptakan garis merah, Silvi justru mengeluarkan suara yang sama sekali tidak terdengar seperti orang sakit.
"Aaaah... hmmm... enak banget, Mas Tresna... ya, di situ. Agak ditekan lagi dikit biar mantap!"
"Mbak Silvi, suaranya tolong dikontrol! Ini saya lagi ngerok, bukan lagi ngapa-ngapain. Kalau orang lewat denger, bisa salah paham!"
"Lho, kan aku emang lagi keenakan. Tangan Mas Tresna ini ajaib banget, nggak usah dengerin omongan orang luar yang sirik sama kita."
Tresna cuma bisa geleng-geleng kepala. Namun, fokusnya makin buyar karena Silvi mulai menggeliat, persis kucing yang lagi cari perhatian.
Tiap kali koin itu mengarah ke pinggang bawah, Silvi sengaja menggerakkan pinggulnya ke kanan dan kiri, mengikuti irama tangan sang mantri dengan gemulai. Karena jarak ranjang dan posisi berdirinya sangat sempit, mau tidak mau bokong padat itu berulang kali menyenggol area sensitif Tresna. Tekanannya pun tidak main-main.
Sebenarnya, meskipun dijuluki perjaka gendeng, Tresna tetaplah pria normal dengan hormon sehat. Apalagi, dia jarang dapet sentuhan sedekat ini dari wanita secantik Silvi.
Seketika, Si Gatot atau pusaka kebanggaan yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat, langsung bereaksi keras. Stimulasi dari gerakan nakal si janda kembang benar-benar tidak bisa diajak kompromi.
Celana kain tipis yang dipakai Tresna gagal menyembunyikan ketegangan itu. Sebuah tonjolan besar terpampang nyata, tepat di samping lengan Silvi.
Silvi yang merasakan ada sesuatu yang keras dan panas menyundul lengannya, bukannya menjauh, malah sengaja menghentikan gerakan. Ia melirik ke belakang dengan sudut mata yang berkilat penuh kemenangan.
Melihat wajah Tresna yang merah padam dengan keringat sebesar biji jagung di dahi, Silvi sedikit mengangkat tubuh. Ia menyandarkan dagu di atas kedua tangan, sambil menatap langsung ke arah harta karun yang tampak ingin menembus celana sang mantri.
"Mas Tresna kok diem aja? Itu tangannya berhenti kenapa? Apa minyaknya udah habis, atau tangannya udah pegel?"
"Ini... anu, Mbak... saya cuma mau ambil napas sebentar. Udaranya panas banget ya di dalam sini," jawab Tresna gugup.
"Panas karena cuaca, atau panas karena liat yang merah-merah di depan mata? Jangan-jangan Mas Tresna lagi mikir yang macem-macem, ya?"
Tresna mematung. Koin logam itu masih menempel di punggung Silvi, tapi pikirannya sudah lari ke mana-mana. Ia merasa terpojok oleh situasi yang ia buat sendiri, efek samping terlalu lama menjomblo.
Silvi terkekeh. Suara tawanya terdengar menggoda sekaligus memprovokasi, membuat nyali Tresna yang biasanya tinggi saat menghadapi preman pasar langsung menciut.
Si janda kembang itu mendekatkan wajah ke telinga Tresna. Aroma parfum melati yang bercampur keringat khas merasuki indra penciuman hingga kepala Tresna terasa berputar. Bibir merah merona itu bergerak pelan, membisikkan kata-kata yang membuat seluruh bulu kuduk Tresna berdiri tegak.
"Mas Tresna kok bawa pentungan? Mas Tresna mau mukul aku pakai pentungan itu? Nanti kalau aku keenakan dipukul... gimana?"
"Mas Tresna! Dokter! Gawat, Mas!"Pintu kayu itu mendadak terbuka lebar karena didorong kasar dari luar. Di ambang pintu, seorang pemuda karang taruna berdiri sambil memegangi kusen, napasnya putus-putus dan badannya gemetar hebat. Bajunya sudah tidak keruan, basah kuyup dan penuh noda lumpur parit yang kotor.Tresna yang sigap menggeser tubuh kekarnya, berdiri pas di depan Clara untuk melindungi dokter itu. Sorot matanya seketika berubah dingin beneran."Ada apa, Jok?! Masuk nggak pakai aturan, main dobrak saja!" gertak Tresna, suaranya berat memicu wibawa yang bikin merinding."M-maaf, Mas Tresna... tapi ini darurat!" tangis pemuda bernama Joko itu dengan wajah ketakutan setengah mati.Tresna tidak membentak lagi. Dia maju satu langkah, menatap Joko dari atas ke bawah dengan pandangan taktisnya yang tajam. "Tenangkan dirimu, Jok. Bicara yang jelas, ada apa di luar?""Perbatasan, Mas! Perbatasan desa kita jebol!" seru Joko dengan suara serak, napasnya masih putus-putus. "Ratusan warg
"Astaga... lukanya langsung mengering, Mas! Ini… ini nggak masuk akal!" seru Clara takjub, matanya melotot nggak percaya menatap hasil kerja Tresna."Sambiloto itu rajanya obat antiseptik alami, ditambah temulawak buat netralisir racun di kulit. Nenek moyang kita sudah pakai ini sebelum manusia jaman sekarang bikin obat dalam bentuk pil," sahut Tresna santai, menaruh kembali spatula kayu ke meja.Ketegangan yang sangat menguras pikiran dan tenaga selama proses pengobatan darurat tadi membuat atmosfer di dalam ruangan tertutup itu terasa sangat pekat. Napas Clara terdengar memburu sangat kencang, dadanya yang padat di balik jas dokter putihnya tampak naik-turun dengan kontras.Clara menatap tubuh kekar Tresna yang gagah, berdiri tegak tanpa ada rasa takut sedikit pun di tengah ancaman wabah mematikan. Gairah dan rasa kagumnya sebagai seorang wanita itu langsung memuncak, mengalahkan rasa takutnya pada penyakit.Dokter muda itu mendadak melangkah maju, lalu menarik lengan kekar Tresna d
"Aku harus tahu ini jenis patogen apa, Mas. Tanpa data akurat, kita nggak bakal bisa bikin penawarnya," sahut Clara serius.Clara mengambil sebuah spuit dari dalam lemari kaca. Tanpa membuang waktu, dia mencari area kulit di lengan pemuda itu yang masih bersih dari luka melepuh, lalu dengan jeli menusukkan jarum suntik tersebut tepat di atas pembuluh darahnya.Perlahan, Clara menarik tuas spuit hingga tabung bening itu terisi beberapa mililiter sampel darah yang berwarna agak kehitaman dan kental."Warnanya nggak wajar banget, Mas. Darah manusia nggak sepekat ini kalau cuma infeksi biasa," bisik Clara, wajahnya tegang.Clara membawa tabung sampel darah itu ke sudut meja laboratorium. Dia memasukkannya ke dalam sebuah mesin analisis portabel miliknya, alat khusus yang sengaja dia bawa dari rumah sakit pusat kota karena bisa membaca struktur DNA bakteri dalam hitungan menit.Bzzzzt... bzzzzt...Mesin laboratorium kecil berbentuk kotak hitam itu mulai bekerja, lampu indikator birunya ber
Dari arah kegelapan jalan raya, sorot lampu jauh dari tiga unit truk tronton berukuran raksasa tampak membelah kabut malam.Namun, di barisan paling depan, sebuah truk bak terbuka yang dipenuhi oleh puluhan orang sakit dari desa seberang melaju kencang, menderu liar menerobos portal bambu pembatas wilayah hingga patah menjadi dua.BRAKKK!"Mas! Mereka ndak mau berhenti! Portalnya ditabrak!" jerit Clara dari teras, tangannya gemetar menunjuk ke arah jalan raya.Melihat armada itu nekat merangsek masuk, Linda ndak membuang waktu lagi. Jiwa kepemimpinannya sebagai kepala desa baru mendidih. Tanpa rasa takut sedikit pun, Linda langsung melesat lurus ke tengah jalan tanah yang berdebu. Dia berdiri tegak tepat di jalur roda, lalu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar untuk mengadang laju kendaraan berat tersebut."Mbak Linda! Jangan, Mbak! Bahaya!" teriak beberapa pemuda karang taruna yang baru berdatangan dari arah pos ronda.Sopir truk seberang itu terkejut melihat sosok kepala desa pe












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan