LOGINLastri tampak agak terkejut dengan ajakan itu. Tapi dengan cepat ia menggeleng sopan sambil tersenyum canggung.
"Terima kasih, Tuan. Tapi nanti saja saya makan sendiri di belakang.""Tidak usah tunggu nanti, kamu bisa pingsan kalau tidak segera sarapan. Duduklah." Tuan Ardan memaksa.Lastri bimbang. Ia menghargai niat baik Tuan Ardan. Tapi ia merasa kurang sopan jika harus sarapan bersama di meja makan, apalagi hanya berdua saja. Ia takut akan ada salah paham.Lastri terseMobil melaju di jalan raya dengan kecepatan sedang. Ardan seolah sengaja menjadikan kesempatan itu untuk bisa berlama-lama di luar rumah bersama Lastri. Bahkan sejak tadi, wajah Ardan dipenuhi raut bahagia, hal itu terlihat dari senyum tipis yang terus menghiasi wajahnya.Sementara Lastri yang duduk di samping Tuan Ardan, menatap lurus ke depan dengan jantung berdebar kencang. Tangannya bertaut di atas pangkuan dengan sedikit gemetar. Tubuhnya menegang. Ia terus merasa khawatir jika majikannya itu akan melakukan sesuatu yang tak seharusnya mereka lakukan.Ardan melirik Lastri sekilas. Senyumnya semakin merekah saat menyadari Lastri begitu tegang saat bersamanya."Kamu sudah sarapan?" tanya Ardan tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka.Lastri mengangguk. "Sudah, Tuan.""Kebetulan saya belum sarapan. Kamu temani saya cari makan, ya?""Ta-tapi, Tuan....""Kenapa? Nggak mau?""Bu-bukan begitu, Tuan. Saya cuma khawatir kalau Nyonya dibiarkan sendirian terlalu lama di rumah."Ardan
Dua hari kemudian, Arman benar-benar sudah diperbolehkan pulang. Hal itu tentu sesuatu yang membahagiakan. Namun ternyata tidak bagi Lastri, karena dengan pulangnya Arman ke rumah, maka ia pun harus kembali pulang ke rumah Tuan Ardan untuk bekerja.Bagi Lastri, hari-harinya yang dihabiskan bersama Arman di rumah sakit terasa sangat singkat. Ia merasa belum puas merawat dan memanjakan suaminya. Bahkan sedikit pun tak cukup untuk menebus rasa bersalahnya.Begitu taksi yang ditumpangi mereka tiba di depan rumah, Darma langsung mendekat dan membantu Arman turun ke kursi roda. Ningsih juga langsung mendekat dan membantu membawa barang-barang. Sementara Yudha masih belajar di sekolah, sehingga belum tahu jika ayahnya sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.Tak berapa lama kemudian, beberapa tetangga yang belum sempat menjenguk ke rumah sakit, datang dan menyambut Arman dengan perasaan lega. Mereka ikut bahagia melihat tetangganya sudah sembuh dari sakitnya."Wah, syukurlah kamu sudah p
Jantung Lastri berdegup lebih cepat. Ia sama sekali tidak menyangka Tuan Ardan benar-benar akan masuk ke ruang rawat.Sementara Arman memandang pria itu dengan bingung. Ia belum pernah melihatnya sebelumnya.Ardan melangkah masuk dengan senyum ramah yang langsung membuat kesan pertamanya terlihat baik."Permisi."Arman sedikit menegakkan tubuhnya. "Maaf...?"Lastri buru-buru berdiri."Oh, Mas..." Ia berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Ini Tuan Ardan."Arman masih menatap bingung."Majikan tempat Lastri bekerja.""Oh..." Arman langsung mengangguk paham. "Salam, Pak Ardan." Ardan mengangguk hormat membalas sapaan suami Lastri.Lastri buru-buru melanjutkan penjelasannya. "Kebetulan Tuan Ardan ada proyek dan urusan kerja di sekitar sini. Jadi tadi Lastri diberi tumpangan ke rumah sakit."Ardan tersenyum tipis."Betul." Nada suaranya tenang dan meyakinkan. "Kebetulan sekali arah kami sejalan."Lastri diam-diam mengembuskan napas lega. Syukurlah Tuan Ardan langsung memahami maksudnya.P
"Apa, Bu? Mas Arman masuk rumah sakit?"Lastri sangat terkejut mendengar kabar itu. Bahkan tanpa sadar ia langsung menutup bajunya asal dan langsung turun dari atas meja dapur. Membuat Ardan yang sedang menikmati buah melon manis dan segar itu ikut terdorong ke belakang.Ardan menatap Lastri serius. Namun wanita itu masih begitu fokus dengan panggilan telepon. Sementara satu tangannya masih memegang baju bagian atasnya agar tidak terlalu terbuka."Sebenarnya apa yang terjadi, Bu? Kenapa Mas Arman bisa masuk rumah sakit?""Maaf kalau Ibu baru mengabarimu sekarang, Nduk." Nada bicara Bu Ningsih menyiratkan rasa bersalah. Lalu ia menjelaskan, "Sebenarnya sudah beberapa hari ini Arman sering tidak mau makan. Tadi malam badannya demam, dan panasnya cukup tinggi.""Ya ampun Mas Arman...." Lastri menutup mulutnya dengan perasaan sedih. "Lalu keadaan Mas Arman sekarang gimana, Bu?""Ibu langsung membawanya ke rumah sakit malam itu juga. Setelah diperiksa, dokter bilang kalau Arman terkena typ
Ardan meraih tengkuk leher Lastri tanpa terduga. Menariknya pelan tapi cukup untuk membuat Lastri tak sempat melawan. Dalam waktu singkat, bibir Ardan sudah mendarat lembut di permukaan bibir Lastri.Dalam keterkejutannya, Lastri tidak melawan. Ia hanya mendorong bahu Ardan untuk sesaat sebelum akhirnya memilih memejamkan mata.Tak butuh waktu lama, napas mereka mulai terasa berat. Baik Ardan maupun Lastri sudah terhanyut pada gairah yang kini tak perlu lagi mereka sembunyikan. Seolah sudah sama-sama tahu apa yang mereka butuhkan.Dapur itu kini tak lagi hening. Suara decapan-decapan halus mengisi udara di sekitar mereka. Bak simphoni mengalun merdu. Menghanyutkan jiwa mereka ke dalam gelombang gairah yang semakin menggelora.Lastri tak hanya diam. Insting tubuh bekerja lebih profesional daripada yang otak katakan. Jemari lentik miliknya bertumpu di kedua bahu Ardan. Kepalanya dimiringkan. Menjaga posisi tetap aman saat tenggelam dalam kenikmatan.Satu tangan Ardan masih menahan tengk
Matahari sudah merangkak turun saat Ardan baru saja memarkir mobilnya di garasi rumah. Ia membuka pintu mobil dan turun dengan wajah yang tampak sumringah. Seolah tak merasakan lelah setelah seharian bekerja.Dengan langkah yang sangat ringan, ia berjalan masuk ke dalam rumah. Ia melepas jas, lalu menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku. Tak lupa juga melonggarkan dasinya.Sejak dari ruang tamu hingga ke ruang keluarga, sorot matanya mencari keberadaan seseorang yang beberapa hari ini terus ia rindukan. Lastri. Namun tak ada tanda-tanda keberadaannya sama sekali. Bahkan saat sorot matanya menyusup ke dapur, ia juga tak melihat batang hidung Lastri di sana."Ke mana dia?" gumamnya bertanya-tanya.Ardan berhenti sejenak, meletakkan tas kerja dan jas di sofa ruang keluarga. Ia melihat jam di pergelangan tangannya sebelum akhirnya menebak keberadaan Lastri di halaman belakang.Tanpa membuang waktu lebih lama, Ardan berjalan ke sana. Dan benar saja, sore hari memang jadwalnya Lastr
Lastri hampir menabrak tubuh Tuan Ardan jika kakinya tidak melangkah mundur dengan cepat. Namun, posisinya yang berada di tepi teras membuatnya hilang keseimbangan dan hampir jatuh ke belakang jika tidak ada tangan kekar yang menopang tubuhnya.Tuan Ardan dengan gerakan gesit menarik tubuh Lastri m
Jam delapan lebih lima menit, Lastri kembali sibuk di dapur. Dengan arahan Mbok Jiah, ia membuat air lemon hangat seperti yang biasa diminum Tuan Ardan. Dan sebelum meletakkan di atas nampan, ia memastikan sekali lagi kekentalannya pas, tidak kurang atau kelebihan.Lastri menarik napas panjang saat
Lastri mengangguk, lalu berjalan di belakang Mbok Jiah menaiki tangga. Langkah mereka melambat saat tiba di depan pintu kamar paling ujung. Mbok Jiah mengetuk pelan sebelum masuk.“Nyonya… ini sarapannya Mbok bawa,” ucapnya sambil membuka pintu.Di dalam kamar, Nyonya Ratih terbaring di ranjang bes
"Ya Allah, gede banget rumahnya...," gumam Lastri pelan, menatap kagum sekaligus gugup pada rumah mewah yang akan menjadi tempatnya bekerja. Gerbang terbuka otomatis setelah satpam memberi izin. Tak lupa Lastri mengucapkan terima kasih setelah satpam itu mengantarnya sampai depan pintu utama. Dari







