Masuk"Nikahi putriku dan sebagai gantinya, biaya pengobatan ibumu serta seluruh utang keluargamu sebesar dua ratus juta rupiah, akan kulunasi." Reno, yang seorang tukang listrik biasa, tiba-tiba berubah hidupnya semenjak dipaksa menikahi anak CEO yang sangat cantik dan kaya. Dia ingin menolak, tapi dia ingat ibunya butuh biaya untuk operasi jantung saat itu juga. Bagi Reno, pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan. Namun bagi Viona, Reno hanyalah pria miskin yang dibeli ayahnya; seorang suami pengganti yang selalu ia hina, ia remehkan, dan tidak pernah benar-benar ia inginkan. Sampai wanita itu mulai merasa nyaman dengan Reno. Sampai satu per satu rahasia tentang mantan tunangannya terungkap. Dan sampai sebuah fakta mengejutkan terkuak seputar siapa Reno sebenarnya.
Lihat lebih banyak"Nikahi putriku, dan sebagai gantinya biaya pengobatan ibumu serta seluruh utang keluargamu sebesar dua ratus juta rupiah akan saya lunasi."
Kalimat itu membuat Reno alias Reynald Notoharjo seolah kehilangan kemampuan berpikir. Selama beberapa detik, Reno hanya berdiri mematung di tengah ruangan mewah yang terasa begitu asing baginya. Lantai marmer mengilap memantulkan cahaya lampu kristal yang menggantung megah di langit-langit. Aroma parfum mahal bercampur dengan udara sejuk dari pendingin ruangan membuatnya semakin yakin bahwa dirinya tidak seharusnya berada di tempat itu. Padahal kurang dari setengah jam yang lalu, dia masih berada di area parkir belakang Hotel Grand Mahardika dengan seragam bengkel berwarna navy yang sedikit kusut dan sepatu kerja yang masih menyisakan debu jalanan. Kedatangannya ke hotel ini untuk mengantar suku cadang pendingin ruangan pesanan salah satu vendor. Setelah pekerjaannya selesai, rencananya langsung menuju stasiun untuk pulang ke kampung halamannya. Sejak pagi, pikirannya dipenuhi kabar buruk yang membuat dadanya sesak. Ibunya mendadak terkena serangan jantung setelah mengetahui rumah sederhana yang menjadi satu-satunya harta keluarga mereka akan disita bank. Sertifikat rumah itu diam-diam digadaikan oleh kakak laki-laki Reno. Cicilannya menunggak selama beberapa bulan, sementara orang yang membuat masalah justru menghilang tanpa kabar. Reno bahkan belum sempat memikirkan bagaimana biaya pengobatan ibunya yang tidak punya jaminan kesehatan. Tabungannya tidak cukup, sedangkan gajinya sebagai teknisi bengkel nyaris selalu habis untuk membantu kebutuhan keluarga. Sebelum sempat meninggalkan hotel, dua pria bertubuh besar tiba-tiba menghampirinya dan meminta Reno ikut bersama mereka. Tentu saja Reno menolak. Siapa yang tidak curiga ketika tiba-tiba diminta mengikuti dua orang asing tanpa penjelasan? Sayangnya, kedua pria itu terus meyakinkannya bahwa ada urusan penting yang berkaitan dengannya. Bahkan ketika Reno tetap ingin pergi, mereka nyaris memaksanya hingga akhirnya ia dibawa ke ruangan ini. Dan sekarang, seorang pria paruh baya yang wajahnya sering muncul di televisi baru saja mengucapkan kalimat paling tidak masuk akal yang pernah didengarnya. Reno mengusap wajah perlahan. "Maaf, Pak. Saya rasa Bapak salah orang. Saya cuma teknisi bengkel yang datang ke sini buat nganter barang pesanan vendor. Jadi saya benar-benar nggak paham kenapa tiba-tiba dibawa ke sini dan ditawari hal seperti ini." Pria paruh baya itu tidak langsung menjawab. Malah melihat wajah Reno, seperti sedang memastikan sesuatu. "Bukan karena saya salah orang, tapi karena saya yakin kamu orang yang tepat," ujarnya tenang. Reno mengembuskan napas panjang. Bukannya mendapat penjelasan, ia malah semakin bingung. "Perkenalkan. Nama saya Darmawan, ayah dari mempelai wanita yang seharusnya menikah hari ini di ballroom hotel ini." Mata Reno sedikit membesar. Nama itu jelas tidak asing baginya. Siapa yang tidak mengenal Darmawan? Salah satu pengusaha paling berpengaruh di negeri ini. Namanya hampir selalu muncul dalam berita bisnis dan ekonomi. Kalau pria di hadapannya bukan orang yang sering muncul di televisi, Reno mungkin sudah menganggap semua ini hanya penipuan dan memaksa keluar sejak tadi. Sayangnya, beberapa pria bertubuh besar yang berjaga di dekat pintu membuat niat itu mustahil dilakukan. Darmawan menarik napas pelan. "Hari ini seharusnya menjadi hari paling membahagiakan bagi putri saya. Tapi calon suaminya menghilang." Reno melihat retakan di balik ketenangan pria itu. Ada kekecewaan, kemarahan, sekaligus kepanikan yang berusaha disembunyikan. "Undangan sudah disebar, ballroom sudah siap, tamu-tamu penting juga sudah datang," lanjut Darmawan dengan senyum tipis yang terasa pahit. "Semua persiapan sudah selesai. Tapi laki-laki itu memilih tidak datang dan menghilang tepat di hari pernikahannya." Reno bisa membayangkan betapa kacaunya keadaan tersebut, tapi tetap tidak memahami apa hubungannya semua itu dengan dirinya. "Maaf, Pak. Saya ikut prihatin, tapi saya masih nggak ngerti kenapa saya harus ada di sini." Tanpa menjawab, Darmawan mengambil dua lembar foto dari atas meja lalu menyerahkannya kepada Reno. "Kalau begitu... lihat ini." Reno menerima kedua foto itu. Foto pertama memperlihatkan seorang pria muda mengenakan jas hitam yang rapi. Pria dalam kedua foto itu sangat mirip dengannya. Bukan kembar identik, tetapi cukup mirip hingga orang yang tidak mengenal mereka mungkin akan mengira mereka bersaudara. Bentuk wajah, garis rahang, alis, tinggi badan, bahkan warna kulit mereka hampir sama. Reno memandangi kedua foto itu lebih lama. Semakin diperhatikan, semakin sulit baginya menyangkal kemiripan tersebut. Bagaimana mungkin ada orang asing yang wajahnya begitu menyerupai dirinya? "Namanya Axel," ujar Darmawan akhirnya. "Pria yang seharusnya menikahi putri saya hari ini." Reno perlahan mengangkat pandangannya dari foto itu, sementara pertanyaan demi pertanyaan mulai memenuhi kepalanya. "Lalu kenapa harus saya?" tanya Reno sambil masih menggenggam kedua foto itu. "Dan kenapa Bapak rela mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk meminta orang asing menikahi putri Bapak?" Darmawan terdiam sejenak sebelum menjawab, "Karena kamu mirip Axel." Kebingungan Reno semakin bertambah. Melihat ekspresi pemuda di hadapannya, Darmawan kembali melanjutkan, "Dengan persiapan yang tepat, sebagian besar tamu tidak akan menyadari perbedaannya. Selain itu, entah kenapa sejak pertama kali melihatmu, saya merasa kamu orang yang tepat untuk menggantikan laki-laki pengecut itu." Reno kehilangan kata-kata. Menggantikan seseorang dalam pekerjaan mungkin masih masuk akal, tapi menggantikan calon pengantin? Itu terdengar seperti kegilaan. "Jadi Bapak ingin saya menjadi orang lain dan menggantikan calon pengantin pria yang kabur?" tanyanya sambil mengusap wajah yang belum sempat dicukur sejak pagi. "Iya." Jawaban Darmawan terdengar mantap tanpa sedikit pun keraguan. Reno menggeleng pelan. "Pak, hidup saya sudah cukup rumit tanpa harus ikut masuk ke dalam masalah keluarga orang lain." Darmawan tidak terlihat tersinggung. Ia justru menarik napas panjang sebelum berkata, "Kalau dia membatalkan pernikahan ini secara baik-baik, mungkin saya masih bisa menerimanya. Masalahnya, laki-laki pengecut itu memilih mempermalukan putri saya tepat di hari yang seharusnya menjadi hari paling penting dalam hidupnya." Sorot matanya berubah tajam. "Dia tidak hanya menyakiti putri saya, tetapi juga berusaha menghancurkan nama baik keluarga dan bisnis saya kalau pernikahan ini gagal." Reno terdiam. Meski tidak mengenal siapa pun dalam keluarga itu, ia tetap bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan seorang perempuan yang ditinggalkan tepat menjelang akad nikah. Rasa iba mulai muncul di dalam hatinya. Tapi rasa iba saja tidak cukup untuk membuatnya menerima tawaran tersebut. Pernikahan bukan sesuatu yang bisa dianggap main-main. Bayangan ibunya yang sedang terbaring di rumah sakit kembali memenuhi pikirannya. Lalu angka dua ratus juta rupiah yang disebut Darmawan seolah berputar-putar di kepalanya. Dengan uang sebanyak itu, biaya pengobatan ibunya bisa dibayar. Utang keluarga dapat dilunasi. Sertifikat rumah yang digadaikan kakaknya pun mungkin bisa ditebus kembali. Tapi karena nilainya begitu besar, Reno semakin waspada. Tidak mungkin ada orang yang rela mengeluarkan uang sebanyak itu tanpa alasan. Reno menatap Darmawan dengan sungguh-sungguh sebelum berkata, "Saya memang lagi butuh uang, Pak. Kalau saya bilang keluarga saya baik-baik saja, itu bohong. Ibu saya lagi dirawat di rumah sakit, rumah kami terancam disita, dan kakak saya menghilang setelah meninggalkan banyak utang. Jujur saja, uang dua ratus juta itu bisa menyelesaikan hampir semua masalah keluarga saya." Reno menarik nafas panjang. "Tapi saya nggak mau menjadikan pernikahan sebagai alat tukar. Saya bahkan belum pernah melihat putri Bapak, belum meminta izin kepada keluarga saya, dan saya juga nggak mau mempermainkan sesuatu yang menurut saya sakral." Darmawan tidak langsung menjawab, hanya menatap Reno cukup lama, seolah sedang menilai setiap kata yang baru saja diucapkan pemuda itu. Alih-alih kecewa, sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyum tipis. "Jawabanmu membuat saya semakin yakin." Reno mengernyit. "Maksud Bapak?" "Kalau kamu langsung menerima tawaran saya tanpa berpikir panjang, justru saya akan menyuruhmu keluar dari ruangan ini," jawab Darmawan tenang. "Orang yang bersedia menjual pernikahan hanya demi uang bukan orang yang bisa saya percaya." Reno terdiam. "Tapi kamu berbeda. Kamu sangat membutuhkan uang, namun masih berusaha mempertahankan prinsipmu. Itu sebabnya saya yakin saya tidak salah memilih orang," lanjut Darmawan. Reno tidak menyangka penolakannya malah menjadi alasan Darmawan semakin yakin terhadap dirinya. "Lalu bagaimana dengan putri Bapak, apa kira-kira dia bersedia menikah dengan saya?" "Itu urusan saya. Dia bersedia atau menolak, dia harus tetap menikah hari ini, dengan kamu." Belum sempat Reno mengatakan apa pun, Darmawan mengangkat tangan memberi isyarat kepada salah seorang bawahannya. Pria bersetelan jas yang sejak tadi menunggu di sudut ruangan segera melangkah mendekat sambil membawa sebuah map cokelat, lalu meletakkannya tepat di atas meja di hadapan Reno. "Buka dan baca isinya." Reno memandang map itu dengan dahi berkerut. "Apa ini, Pak?" "Baca dulu. Setelah itu, baru putuskan apakah kamu masih ingin menolak... atau menerima tawaran saya."Reno perlahan menarik napas dalam-dalam, berusaha menetralkan degup jantungnya yang sempat berpacu kencang. Dengan susah payah, ia menguasai diri dan memaksakan sebuah anggukan pelan, seolah-olah seluruh teka-teki itu kini sudah terpecahkan secara wajar di matanya."Ah... begitu ya," gumam Reno dengan nada sesantai mungkin, tersenyum tipis yang dibuat sealami mungkin. "Ya berarti emang beneran cuma kebetulan aja, Vi. Dunia ternyata sempit banget."Melihat respons Reno yang tampak begitu polos dan pasrah, kecurigaan Viona mendadak luruh. Bahunya yang tadinya tegang kini mengendur. Tidak ada wanita lain yang disembunyikan, atau kenalan wanita lain yang patut ia curigai dari ponsel pria itu. Semoga Lani yang mengusik pikirannya seharian ini benar-benar merujuk pada Lani sepupu jauhnya sendiri.Viona menghela napas panjang, mendadak merasa konyol dengan sikapnya sepanjang hari ini.'Ya ampun, Viona... kok kamu bisa-bisanya kekanak-kanakan gini sih? Sampai merajuk, ngunci diri di kamar, cu
Meskipun aroma hidangan hangat yang tersaji di meja makan begitu menggoda selera, jemari Viona yang memegang sendok dan garpu justru bergerak makin lambat. Ia menatap potongan daging di piringnya tanpa benar-benar berniat menyendoknya.Rasa lapar yang tadinya menyiksa mendadak sirna begitu saja, tergantikan oleh riuh pikiran yang kembali memenuhi kepalanya.Nama Lani kembali berputar dan rasa penasaran yang sempat tertahan di kafe tadi kini jauh lebih besar. Bagaimana bisa mengetahui nama Lani?Apakah Lani yang dimaksud Reno benar-benar sepupu jauhnya? Kalau iya, dari mana Reno tahu? Viona melirik Reno dari sudut matanya. Pria di hadapannya itu tampak begitu tenang, menikmati makan malamnya dengan lahap seolah tidak ada beban sama sekali di kepalanya.'Iish, kok dia bisa setenang itu, sih?' batin Viona makin merana.Viona ingin sekali membuka mulut, menembak serangkaian pertanyaan dan menuntut penjelasan sampai tuntas saat ini juga. Tapi, gengsinya menjulang tinggi. Jika dia bertanya
Suara tawa pelan namun penuh arti terdengar dari ujung sambungan telepon di benua Eropa. Sambungan jarak jauh itu tidak mengurangi ketajaman suara sang kolega lama Pak Darmawan, seorang taipan yang telah lama malang melintang di dunia bisnis internasional."Darmawan? Wah, sudah lama kita tidak mengobrol," ucap suara di seberang sana dengan logat khas barat. "Dan tumben sekali kamu mendadak menghubungiku untuk urusan keluarga Wijaya. Tapi... ini kebetulan yang sangat menarik."Alis Pak Darmawan sedikit terangkat. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kerja kulitnya, matanya menyipit penuh antisipasi. "Menarik bagaimana maksudmu?""Kau tidak tahu? Atau keluarga Wijaya sengaja menutupinya dari media?" balas pria di seberang sana dengan nada setengah meremehkan. "Perusahaan milik keluarga Dandi Wijaya di Eropa sedang tidak baik-baik saja. Kondisi finansial mereka goyah, bahkan beberapa minggu lalu mereka sempat mengajukan proposal restrukturisasi dan suntikan dana darurat ke beberapa mitra
Viona menghentikan langkah mondar-mandir kecilnya. Nama Lani kembali bergulung-gulung di kepalanya, memicu ingatan yang tadinya terkubur rapat.Langkah Viona terpaku di atas trotoar dingin Paris. Kerutan di dahinya makin dalam saat benaknya mulai menghubungkan benang-benang samar. Lani memang sepupu jauhnya yang sudah bertahun-tahun menetap di luar negeri dan jarang sekali bertukar kabar. Terakhir kali mereka bertemu adalah saat hari pernikahan Viona, atau lebih tepatnya, hari di mana bencana itu terjadi. Katanya seminggu sebelumnya, Lani sengaja terbang pulang dari luar negeri khusus untuk menghadiri acara tersebut.Rapi saat acara pernikahannya itu, Viona sedang berada dalam kondisi hancur dan kacau akibat kaburnya Axel yang mendadak. Mereka hanya sempat bertegur sapa singkat, tanpa ada obrolan berarti. Setelahnya, Viona bahkan tidak tahu Lani terbang kembali ke negara mana atau tinggal di mana sekarang.Kenapa Reno bisa tahu atau mendadak nanyain nama Lani? Dari mana dia kenal
Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar
Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama
Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m
Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan