LOGINBAB 5 MEMULAI HIDUP BARU
Jared Landon telah terbang jauh dari tanah kelahirannya di Utara Inggris. Dia kabur menyebrangi benua besar untuk sampai di sebuah tanah peternakan kuda milik keluarga Clark. Keluarga Clark memiliki tanah peternakan kuda ras di kawasan Ford. Rumah peternakan mereka terletak sekitar dua mil dari sisi sungai Kentucky. Dan di sinilah Jared sekarang... jauh dari manapun, jauh dari semua orang yang mengenalnya sebagai pewaris keluarga kaya. Di tempat yang tepat untuk kembali menyehatkan isi kepalanya yang sering terbakar. Jared tidak butuh kapsul penenang. Dia juga tidak butuh omong kosong para terapis. Dia hanya perlu kebebasan dan kuda-kuda... Karena bukan kekayaan yang bisa membuat kepalanya sehat. Jared sedang butuh pertolongan dan sekarang waktunya dia harus menolong dirinya sendiri. Angin musim panas membawa aroma tanah, jerami, dan rumput liar yang mengering di bawah matahari sore. Di kejauhan, beberapa kuda berlari melintasi savana luas, surainya berkibar diterpa angin dari perbukitan rendah. Jared melompat turun dari bak belakang mobil pengangkut ternak yang dia tumpangi dari kota Richmond. Kakinya jatuh berderap di atas jalan tanah kering. Sejenak ia berdiri menatap ke halaman peternakan. Napas Jared terasa lega, jantungnya berdebar. Sepertinya dia akan suka dengan tempat barunya. Kepala peternakan menyambut Jared di pintu pagar. "Selamat datang anak muda!" dia mengulurkan tangan. "Mato Bizil." Jared menyambut uluran tangan Mato. Genggaman pria tua itu kasar seperti kayu kering, tapi hangat seperti keluarga. Sesuatu yang tidak pernah Jared temukan di tempat sebelumnya. "Jared Landon." "Aku tidak menyangka kau masih sangat muda, Jared." Mato juga memperhatikan wajah Jared yang cukup tampan. "Senang bertemu denganmu, Paman." Mato Bizil dalah seorang pria berdarah Indian dengan rambut hitam keperakan bercampur uban. Mata cekungnya terlihat dingin, meski sebenarnya dia pria yang ramah. "Kau seperti gagak hitam yang terbang sangat jauh!" Sebuah kalimat sambutan yang agak janggal, tapi Jared belum terlalu memikirkannya untuk saat itu. "Ayo, aku akan memperkenalkan mu pada para pekerja." Jared berjalan mengikuti Mato Bizil. Sore itu dia diajak berkeliling istal dan diperkenalkan pada para pekerja. Dari seluruh pekerja istal yang tadi Mato perkenalkan, sepertinya memang cuma Jared yang paling muda di tempat tersebut. Nampaknya anak muda sekarang sudah jarang yang mau bekerja di istal. "Apa aku juga bisa bertemu Mr. Clark?" Jared ingin sekedar mengucapkan terima kasih. "Mr. Clark dan keluarganya tinggal di Lexington." Mato menatap halaman peternakan. "Tanah peternakan ini adalah warisan keluarga. Mr. Clark sendri jarang datang kemari." Jared mengikuti tatapan Mato, sebuah tanah warisan yang sangat luas. Tak terbayang sekaya apa leluhurnya dulu. "Ayo, sekarang aku antar ke pondokmu." Mato berjalan lebih dulu. "Kau pasti lelah setelah perjalanan jauh." Perjalanannya terakhir dari kota Richmond memang terasa lebih panjang karena jalan aspalnya semakin menyempit begitu mulai memasuki kawasan Ford. Tapi untung pemandangannya tidak membosankan. Kuda-kuda yang berlarian di savana ikut memanjakan mata dan memberi Jared suplai energi yang luar biasa. Jared langsung tahu jika dia akan sangat cocok dengan tempat ini. Jared terus berjalan di belakang Mato Bizil sambil memperhatikan seluruh bangunan di peternakan tersebut. Selain bangunan rumah utama yang cukup megah, di situ juga terdapat rumah-rumah khusus untuk tinggal para pekerja. Sebagian besar masih rumah dinding batu merah asli dari bangunan lama. Sementara untuk istal kuda sudah merupakan bangunan baru dengan konstruksi baja. Ada lima istal besar, letaknya terpisah cukup jauh, karena tanah peternakan itu benar-benar sangat luas, dikelilingi perbukitan rendah dengan pepohonan yang masih rimbun seperti hutan. Di bagian lembah, terdapat beberapa danau yang airnya tidak mengering di sepanjang musim panas. "Kau akan bekerja di istal untuk mengurus kuda dewasa, dan yang itu pondokmu!" Mato menunjuk pondok kecil di tepi danau. Jared mendapatkan pondok yang paling jauh, dekat batas hutan. "Bersihkan dulu, karena sudah lama tidak ditempati." Mato bicara sambil terus berjalan. "Ada seprai bersih di lemari jika kau mau mengantinya." Mato cuma mengantarkan Jared sampai di teras, Mato tidak ikut masuk karena harus pergi untuk memeriksa persediaan pakan kuda. "Semoga kau betah di sini." "Terima kasih Paman." Jared tidak lupa untuk berterima kasih, meski kondisi pondoknya agak menyedihkan. Pondok itu bukan cuma terletak paling jauh dari rumah utama, dia juga jauh dari tempat pekerja lainya. Tapi, Jared pikir wajar saja jika pekerja baru mendapatkan bagian tersebut. Jared tidak akan mengeluh dia langsung masuk dan langkah Jared sempat terhenti... lantai kayunya agak berderit saat diinjak. "Semoga pondok ini tidak roboh saat aku tidur." Jared berjalan lebih hati-hati, ia menengok kondisi kamar. Tempat tidurnya beraroma debu dan apek, karena kurang sirkulasi udara. Jared melempar ranselnya ke atas kursi rotan, kemudian segera mengganti seprai dengan yang baru dia tarik dari dalam lemari. Jared ingin membuka jendela. "Oh...!" Ternyata daun jendelanya agak susah untuk dibuka. Sepertinya kamar tersebut, memang benar-benar sudah lama tidak ditempati, atau lebih tepatnya tidak ada yang mau menempati. "Oh, ayolah... jangan bandel engsel tua!" Setalah diungkit hingga lengan Jared berkeringat. Akhirnya daun jendela berhasil terbuka. Dan bonusnya.... Pondok tua itu bersebelahan langsung dengan danau, airnya nampak jernih dan tenang menggoda bagi Jared yang sedang gerah. Tubuh Jared memang cenderung mudah panas. Kadang darahnya seperti bergolak terbakar jika ganguan tidurnya mulai kambuh. Terapisnya sering menyarankan untuk berendam agar bisa tenang. Dan kali ini sepertinya Jared tidak membutuhkan bak. Jared melepas semua pakaiannya di tepi danau kemudian menceburkan diri untuk berenang. Pondok Jared terletak di bagian paling ujung. Tidak akan ada yang perduli dan tidak akan ada yang bakal melihat meskipun dia berenang sambil telanjang. Sampai tiba-tiba terdengar pekikan suara wanita yang baru saja terjatuh dari punggung kuda. Gadis muda itu jatuh terguling ke tanah bukan karena terlempar dari punggung kuda yang sedang berlari kencang. Tapi dia terkejut melihat pria dewasa berenang tanpa pakaian.Anelies semakin menggigil dengan pakaian basah yang menempel di tubuhnya. Suhu ruangan di kamar itu semakin turun. Sepertinya Anelies juga sedang dibawa ke arah utara, entah akan diapakan lagi setelah ini, dia benar-benar tidak tahu nasibnya akan berujung seperti apa. Anelies pikir, jika Omar mengatakan dia akan diadili, seharusnya ia tidak dibawa ke utara tapi ke timur. Rasanya sangat aneh namun Anelies belum sempat memikirkannya, sekarang dia harus segera mengeringkan pakaian jika tidak mau benar-benar membeku. Anelies segera membuka pakain longgar basahnya untuk dia peras. Sama seperti kemarin, Anelies diberi pakaian wanita berpotongan longgar dengan warna serba hitam. Anelies baru akan memeras pakaian basah tersebut ketika tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan Anelies menjerit. "Oh Tuhan!" Kaget laki-laki itu tidak kalah syok melihat Anelies telanjang. "Apa yang kau lakukan!" Anelies segera melempar pakaian basahnya ke lantai dan menyambar seprai untuk menggulung tubuhnya yang s
Tuan Husain diberitakan meninggal akibat serangan jantung di rumah istri seniornya. Tidak ada yang tahu jika sebenarnya pemimpin besar itu ditemukan sedang dalam kondisi telanjang dan tertelungkup di kamar istri muda yang baru beberapa saat dia nikahi. Pangeran Serkan sengaja menyembunyikan fakta tersebut untuk melindungi reputasi keluarganya. Serkan adalah putra kedua dari istri senior Tuan Husain. Kakak laki-laki Serkan mengalami koma selama hampir dua puluh tahun dan cuma hidup karena berbagai alat penopang kehidupan yang terpasang di tubuhnya. Tuan Husain juga sudah memiliki dua istri muda, dia punya tiga putra dari istri keduanya dan dua putri dari istri ketiga. Setelah Tuan Husain meninggal otomatis Serkan yang mengantikan posisi ayahnya. Posisi yang sempat ditentang oleh paman-pamannya karena menganggap Serkan masih terlalu muda dan masih lajang di usianya yang ke dua puluh delapan tahun. Diam-diam Pangeran Serka terus menyelidiki kasus kematian ayahnya yang dia anggap tidak w
Setelah kembali disekap untuk dipindahkan dalam kondisi tangan serta mata terikat, kali ini Anelies mendapat kamar yang lebih layak. Anelies dimasukkan ke dalam kamar berukuran tiga kali tiga meter degan bilik toilet kecil dan ranjang seukuran tubuhnya. Paling tidak Anelies sudah tidak tidur di lantai dan ruangannya terang benderang. Ada jendela kaca bulat di dinding, satu-satunya akses dia bisa melihat keluar dan tahu pergantian hari.Anelies sedang dibawa dalam perjalanan mengunakan kapal pesiar besar, dia masih belum tahu akan dibawa ke mana. Seharusnya ini sudah hari ketiga jika Anelies tidak salah hitung sejak dia dipindahkan. Anelies belum pernah berada dalam pelayaran, dan sekarang dia agak mual, bahkan dia tidak berani mengintip ke luar karena takut melihat gelombang permukaan air."Jangan menyisakan makanan atau kami tidak akan memberimu makanan lagi!" seorang pengawal memasukkan makanan untuk Anelies dari lobang pintu.Anelies cuma memandangi makanan dalam piring logam bersek
PRANKKK!!!Terdengar suara pecahan gelas kaca yang jatuh ke lantai, Mara segera berlari menengok Jared."Ada apa?" kaget Mara melihat Jared telah menjatuhkan cangkir kopi yang baru dia buatkan."Aku hanya tidak sengaja menjatuhkannya," Jared Berbohong.Jared tidak mau Mara sampai tahu mengenai kilasan penglihatan yang baru muncul di kepalanya. Baru saja Jared melihat penglihatan Anelies yang gelap, benar-benar gelap tanpa cahaya hingga yang bisa Jared dengarkan cuma hembusan lemah dari napas anak gadisnya yang terkulai lemas. Anelies sedang dalam bahaya dan jared tidak mampu berbuat apa-apa untuk menjangkaunya."Biar kubuatkan lagi." Mara menyentuh bahu Jared agar tenang.Sebenarnya Mara juga tidak bodoh, Jared tidak akan setegang itu jika bukan karena baru melihat sesuatu. Yang membuat Mara semakin cemas adalah Jared yang tidak mau bercerita jujur, karena artinya bisa jauh lebih menakutkan bila Jared sampai pilih merahasiakannya sendiri."Istirahatlah jika kau capek." Mara mengelus ba
Anelies mendekat pelan-pelan untuk memastikan jika pria besar itu benar-benar sudah tidak bernapas dan Anelies kembali menyingkir ketakutan. Anelies baru saja membunuh, gadis muda itu sangat panik hingga yang bisa dia pikirkan cuma satu yaitu 'cara untuk kabur!' Anelies harus kabur sebelum ada yang tahu Tuan Husain sudah meninggal di kamarnya dengan posisi tertelungkup di atas ranjang dan sedang telanjang. Anelies menarik tirai jendela kemudian mengikatnya sambung menyambung untuk dia pakai turun dari lantai tiga. Kamar itu cukup tinggi, sangat mengerikan jika Anelies sampai terjatuh. Tapi Anelies sedang tidak punya pilihan, kematian pria kaya seperti Tuan Husain pasti akan segera membuat dunia ikut heboh. Yang harus Anelies lakukan sekarang adalah mencari tiang yang kuat untuk mengikat talinya. Anelies mengikat talinya ke kaki ranjan dan memastikan semua ikatannya sekali lagi. Anelies juga mengikat ujung talinya ke pinggang untuk berjaga-jaga jika dia terpeleset saat berpijak di d
Mara serta Jared masih berada di Hampton, jarak yang sebenarnya juga tidak terlalu jauh dari putri mereka. Tapi meskipun cuma berjarak sejengkal dan mungkin mereka saling berpapasan, bisa saja Jared atau Mara tidak mengenali Anelies dengan penampilan barunya. Apalagi sampai sejauh ini Anelies juga masih belum tahu jika dia punya keluarga kaya raya, punya ayah, punya ibu dan mereka semua sedang mencarinya."Apa kau masih belum mendapat informasi lagi mengenai putri kita?" Mara menghampiri Jared."Kita pasti menemukanya segera."Dari tadi Jared cuma terlihat duduk di dermaga memandang ke arah gulungan ombak yang berakhir landai ketika meraih pantai. Seperti itu pula perasaan mereka kali ini. Bergejolak seperti gelombang tapi berulang kali harus melandai hilang lagi seolah tanpa harapan."Kita harus tetap berhati-hati karena tidak boleh ada yang tahu jika putri kita selamat dari ledakan. Siapapun bisa ikut memburunya jika tahu Anelies masih hidup. Masih ada beberapa organisasi yang teta







