Masuk“Jual tubuhmu, Irene!” perkataan suami yang Irene cintai membuatnya harus berdiri di tengah panggung pelelangan wanita high class. Dengan penawaran tertinggi, akhirnya Irene menjadi milik salah satu pria diantara para pria yang datang. Di depannya, berdiri sosok pria bertopeng yang membelinya malam ini, menatapnya dengan sorot mata hangat, hingga ia mendengar bisikan lembut dan mendominasi, “Long time no see you, Nona Irene!” Seketika jantung Irene berdetak cepat, “Suara ini?” ia memberanikan diri menatap balik pria di depannya, “Tu-tuan Gerald?” Seketika pria itu tersenyum, “Mulai detik ini tidak kuizinkan orang lain memilikimu!” Bagaimanakah kehidupan Irene setelah menjadi alat bisnis suaminya sendiri? Apakah pria yang membelinya akan mengubah kehidupan Irene yang sesungguhnya?
Lihat lebih banyak"Ugh, sakit!" Seruan Irene menggema kala ia terduduk di tempat tidur sembari mengusap bagian tubuhnya yang terasa perih.
Ia menghela napas berat, ingin merutuki nasibnya yang terombang-ambing selama ini.
Karena obsesi Bertha-Ibu tirinya, ia harus selalu bersembunyi dari tuntutan Bertha yang ingin menjodohkannya dengan beberapa pengusaha kaya raya yang telah berumur. Bahkan tanpa segan menyewa orang untuk menyeretnya pulang. Semua demi kepentingan membayar hutang-hutangnya bermain kasino setelah meninggalnya sang Ayah.
Tetapi di kala oasis yang melanda, Owen-sahabatnya semasa kecil datang melamarnya, "Irene, menikahlah denganku, aku sangat mencintaimu sejak dulu. Dan kamu tidak perlu khawatir dengan Ibu tirimu, aku yang akan membayar semua hutang piutangnya agar kamu tidak lagi berhubungan dengannya."
Sebuah lamaran dari pria mapan dan tampan yang telah ia cintai selama ini, seketika membuat Irene tersentuh, dan membuatnya berpikir bahwa pria itu bisa memberinya masa depan yang lebih baik. Sehingga, tak butuh lama untuk Irene menerima lamaran tersebut dengan berlinang air mata, sembari memeluk Owen.
Di sebuah apartment yang terbilang mewah, saat ini menjadi tempat ia tinggal setelah menikah dengan Owen, bahkan ibu tirinya juga tak pernah lagi mengusiknya.
Selama ini Owen berada di garis terdepan jika sang Ibu menghubunginya untuk meminta uang. Bahkan Owen melarangnya untuk bekerja.
Ia tersenyum tipis, "Hmm, aku tidak boleh mengeluh karena hal sepele seperti ini. Owen sudah sangat baik padaku."
"Semangat Irene!" Ia bangun dari duduknya, melangkah menuju lemari pakaian dan mengenakannya dengan nyaman.
Duduk di karpet yang empuk sembari menonton siaran net-flix dan mengenakan earphone untuk membunuh rasa bosannya selama di rumah.
Bip!
"Irene!?"
Owen berseru memanggil Irene, "Hah!"
"Irene!!" teriaknya cukup keras, berhasil membuat Irene menoleh ke arahnya.
Deg!
Irene bangun dari duduknya dan melepaskan earphone yang melekat di telinganya. "Owen?"
"Hai Irene cantik..." Owen tersenyum merekah sambil memanggil Irene.
Irene melangkah, berdiri di depan Owen, keningnya menyerngit mencium aroma tubuh Owen, "Kamu minum lagi?" Irene bertanya dengan nada tak nyaman.
Hanya seminggu setelah menikah ia menjalani kehidupan pernikahan yang begitu nyaman, hingga ia menghadapi kenyataan, di mana Owen pulang dalam keadaan mabuk dengan bau alkohol yang menyengat.
"Tidak, aku hanya minum sedikit!" serunya sembari menarik Irene masuk ke dalam cengkramannya, meraih tengkuk Irene, melumatnya dengan sedikit kasar.
"Umph! Owen!" Irene mencoba melepaskan ciuman Owen yang pahit dan beraroma tembakau.
Dugh!
Bukannya melepaskan Irene, Owen menekan tubuh Irene ke dinding, "Layani aku, Irene cantik..."
Deg!
"Akh!" Irene memekik saat jemari Owen dengan kasar memaksa masuk diantara kedua pahanya.
"Owen... Sakit..." Irene meringis, rasa perih sisa percintaan mereka kemarin masih terasa jelas.
Dan saat ini, Owen kembali melakukannya.
"Sa-sayang, please..." wanita cantik bersurai hitam itu memohon, berharap suaminya itu bisa menahan dirinya saat ini.
Tapi harapan tinggal harapan, Owen yang sudah tertutup birahi, kembali menghujam Irene tanpa jeda.
"Akh!" Irene menutup matanya, air mata yang jatuh menjelaskan betapa ia menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.
Tak berpuas diri di ruang tamu, Owen kembali menyetubuhinya di dalam kamar.
Suaminya itu kembali menindihnya, "Oh Irene! Tubuhmu sangat indah! Kamu sempurna, Irene!"
"Arg!" Pria bersurai pirang itu menggeram saat mendapatkan pelepasannya.
Ia tersenyum puas melihat tubuh Irene yang di penuhi oleh cairannya. "Aku mandi."
Irene tak lagi menyahut, tubuhnya terasa sakit, tetapi hatinya jauh lebih sakit. Air mata menetes, membasahi pelupuk matanya.
Dia suamiku, dia pria yang baik. Dan aku melakukannya karena aku mencintainya.
Kata-kata yang selalu Irene ucapkan seperti mantra setelah selesai melayani suaminya.
Kata-kata yang menguatkan Irene dan mengembalikkannya ke kesadaran penuh jika ini adalah pilihan hidupnya. Ya, Owen adalah pilihannya dan pria yang ia cintai.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka, terlihat Owen yang berbalut handuk.
"Irene, bangunlah. Aku ingin membicarakan hal yang penting."
Irene terlonjak dengan teguran Owen, punggung tangannya ia pakai untuk mengusap air mata, "Hm?" Ia berusaha duduk, bersandar di headboard. Memegang selimut untuk menutupi dadanya.
"Ada apa, Owen?" tanyanya dengan suara sedikit sengau.
Owen berjalan mendekat, menatapnya dengan tajam, “Irene, kamu tahu kan kalau kamu adalah wanita yang sangat cantik?”
Bingung bagaimana ia harus bereaksi, tapi ia tak dapat menutupi wajah meronanya karena di puji oleh Owen. “Kamu berlebihan, Owen.”
Owen tersenyum lalu meraih tangan Irene, memasukkan Irene ke dalam pelukannya. Hal yang membuat hati Irene terasa hangat.
Kemudian Owen merenggangkan pelukannya, kembali melihat wajah cantik Irene, “Maka dari itu, bantulah aku, Irene.”
“Ya?”
Owen membelai wajah Irene, perlahan turun ke leher dan tubuh Irene yang masih terbuka, namun yang membuat Irene merinding adalah tatapan yang berbeda di sorot mata Owen saat ini. Menyusul dengan kata-kata Owen seperti palu yang menghancurkan semua kehangatan yang baru saja terjalin, “Aku mau kamu menjual tubuhmu, Irene!”
"Sayang..." Irene berbisik sambil menggigit bibir bawahnya, menatap Gerald dengan sorot mata yang menantang.Gerald memejamkan mata, menahan erangan yang hampir lolos dari tenggorokannya. Ia turun dari sofa dan meloloskan celana bahannya hingga jatuh ke lantai. Irene ikut bergeser, tangannya menyentuh bagian menonjol di balik boxer ketat Gerald. Ia memberikan kecupan-kecupan kecil di sana, menciptakan rangsangan yang membuat napas Gerald memburu."Love..." Gerald mengerang, tangannya mengusap rambut Irene dengan posesif.Irene menengadahkan kepalanya. Tangannya bergerak lincah menarik karet boxer Gerald, membebaskan kejantanan pria itu yang sudah mengeras sempurna dan penuh urat. Irene menjulurkan lidahnya, membasahi bagian kepalanya dengan sapuan yang pelan, lalu menghisapnya dengan ritme yang stabil."Oh, damn! Love!" Gerald menggeram keras. Ia mendongakkan kepala, menikmati setiap sensasi liar yang diciptakan mulut mungil Irene."Sayang... ah, terus... I like it, my love!" Gerald m
Bab 98“I want to—”Belum sempat Irene menyelesaikan kalimatnya, Gerald sudah menarik tengkuknya, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang menuntut. Pagutan itu terasa panas dan haus, seolah membuktikan betapa mereka saling menginginkan.Gerald tidak berhenti di bibir. Ia menciumi rahang Irene lalu turun ke ceruk lehernya. Pria itu menyesap kulit lembut di sana cukup dalam hingga meninggalkan jejak kemerahan yang mencolok.“Euhm… Ge…” Irene mendesah rendah.Tangan Irene bergerak aktif. Ia menarik dasi Gerald hingga terlepas, lalu dengan jari yang sedikit gemetar, ia membuka satu per satu kancing kemeja pria itu. Begitu kemeja itu terbuka, Irene menyentuhkan telapak tangannya ke dada bidang Gerald, merasakan detak jantung pria itu yang berpacu kencang di balik kulitnya.Gerald mengerang pendek di tenggorokan. Ia menatap Irene dengan sorot mata gelap, lalu merebahkan wanita itu di atas sofa. Tubuh kokoh Gerald menindih Irene, mengunci setiap gerakan wanita itu.Tangan Gerald mulai menj
Irene mengepal tangannya erat, kuku-kukunya memutih saat ia menahan gejolak emosi di dalam dadanya. “Dan sekarang?” tanyanya, suaranya sedikit bergetar.Gerald menarik napas dalam, memejamkan mata sejenak seolah sedang mengumpulkan kepingan memori yang selama ini ingin ia kubur dalam-dalam.“Alea adalah putri salah satu rekan bisnis orang tuaku. Kami tumbuh bersama sejak bangku kuliah. Aku akui, dulu aku menyukainya—setidaknya, aku mengira begitu. Namun, jujur saja, belum pernah terlintas di pikiranku untuk menjadikannya pendamping hidup,” tutur Gerald dengan nada yang kini terdengar lebih tenang, meski ada jejak kepahitan di sana.Ia berhenti sejenak, menatap mata Irene dalam-dalam sebelum melanjutkan. “Kemudian, Austin Harold masuk ke dalam hidup kami. Kami bertiga menjadi sahabat karib. Namun, aku sadar bahwa Alea menaruh hati pada Austin.”Gerald tersenyum tipis, sebuah senyuman getir yang tak sampai ke matanya. Ia mendaratkan kecupan lembut di pipi Irene, sebuah tindakan yang bert
“Tanyakan apa saja. Aku akan menjawab semuanya sekarang juga.”Irene menatap manik mata Gerald. Ada gejolak emosi di sana yang sulit ia definisikan—campuran antara kecemasan, dan keinginan untuk jujur. Irene menghela napas panjang, meredam rasa sesak yang sempat muncul.“Cukup ceritakan semuanya saja, Ge,” suaranya lembut namun sarat akan ketenangan yang menuntut. “Aku sendiri tidak tahu harus mulai dari mana.”Gerald mengusap pipi Irene dengan ibu jarinya, sentuhan yang sarat kasih sayang dan permohonan maaf tanpa kata. “Baik, Love. Akan aku ceritakan semua untukmu.”Saat pintu lift berdenting terbuka di lantai dasar, Gerald langsung merangkul pinggul Irene dengan posesif, seolah ingin memastikan wanitanya itu tidak akan pernah beranjak dari sisinya.Sementara itu, di lantai atas, atmosfer ruangan kerja Gerald telah berubah menjadi medan perang.“Lepas!” pekik Alea. Ia yang sudah kehilangan kewarasan akibat penolakan Gerald, melayangkan tamparan keras ke wajah Victor.PLAK!Suara itu
Bab 86Gerald dan Victor berjalan cepat, meninggalkan kantor polisi dengan aura kemenangan yang tegas. Mereka tidak menyisakan satu pun keraguan bahwa ini adalah akhir dari kisah Owen dan Bertha.Mereka tiba di parkiran VIP bandara. Sampai di mobil, Gerald tersenyum lembut, senyum yang murni dan ha
Bab 85"Pertemuan dua kekasih yang sungguh mengharukan…"Suara bariton yang dalam dan dingin itu memecah keheningan di lorong sel penahanan. Suara yang kini paling mereka benci dan takuti. Pandangan Owen dan Bertha mengangkat wajah mereka, tertuang pada sosok yang ada di sana.Berdiri di luar jeruj
Bab 84"Kau berengsek! Kalian semua berengsek!" raung Bertha frustrasi, seluruh harapannya hancur berkeping-keping. Satu-satunya harta yang ia andalkan berakhir membuatnya menyerahkan diri begitu saja. Mau lari? Ia tidak lagi memiliki energi untuk itu.Kerongkongannya kering, tubuhnya lemas, bahkan
Bab 83"Maaf?" Staff tersebut terkejut, bukan karena nominal perhiasannya, tetapi karena ia tahu wanita yang di depannya ini adalah sosok yang angkuh dan arogan. Menjual perhiasan branded secara tiba-tiba, dengan penampilan berantakan, jelas bukan hal biasa."Kenapa?" tanya Bertha nyalang. Ia menat


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak