Share

Introgasi

Author: Nona Lee
last update publish date: 2025-12-18 12:16:23

Setelah momen panas dan pengakuan cinta yang menyesakkan di dalam mobil, Sri dan Andra memutuskan untuk berpisah agar tidak menimbulkan kecurigaan lebih lanjut. Sri berjalan dengan langkah pelan dan sangat berhati-hati menyusuri lorong pelayan yang remang-remang. Ia merapikan kerah bajunya yang sedikit berantakan dan mengatur napasnya yang masih memburu.

Namun, langkahnya terhenti seketika. Di ujung lorong, sosok wanita paruh baya telah berdiri menantinya dengan wajah yang terlihat sangat cemas
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Merelakan Semuanya

    Satu tahun kemudian. Suara deburan ombak yang menghantam tebing-tebing karang terdengar konstan di telinga Sri. Di teras sebuah rumah panggung kayu kecil yang menghadap langsung ke arah laut lepas kota pesisir ini, ia duduk menyendiri. Tangannya sibuk merajut sebuah syal wol kecil berwarna putih, kegiatan baru yang sengaja ia lakukan untuk menyibukkan jemarinya yang dulu hanya tahu cara memegang berkas rencana jahat atau meremas seprei dalam tangisan keputusasaan. Ia menghentikan rajutannya sejenak, menghirup dalam-dalam udara malam yang membawa aroma garam yang pekat. Setahun telah berlalu sejak pertemuan tidak sengajanya dengan Andra di pasar buah sore itu. Pertemuan yang menjadi titik balik terbesar dalam hidupnya. Setelah malam di taman kota itu, Sri benar-benar mengunci rapat pintu masa lalunya. Ia tidak lagi mengganti nama, ia tetap menjadi dirinya yang sekarang, seorang wanita sederhana yang bekerja di perpustakaan daerah kecil, jauh dari hiruk-piruk kemewahan yang dulu semp

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Hubungan Yang Tak Bisa Kembali

    "Sri, jangan lari lagi, kumohon..." suara Andra terdengar begitu serak, memecah keheningan di sudut taman kota kecil yang sepi itu. Ia berhasil menahan pergelangan tangan Sri, lembut, namun penuh keputusasaan. Sri menghentikan langkahnya, punggungnya bergetar hebat. Setelah beberapa detik yang terasa seperti keabadian, ia membalikkan badan, menatap pria yang kini berdiri di hadapannya dengan penampilan yang jauh berbeda dari masa lalu. "Kenapa kau bisa ada di sini, Andra? Bagaimana bisa kau menemukanku?" "Aku tidak mencarimu ke kota ini, Sri. Aku pindah kerja seminggu yang lalu," Andra melepaskan pegangannya, lalu menunjuk bangku taman kosong di dekat mereka. "Bisa kita bicara? Sebentar saja. Aku tidak akan memaksamu ikut denganku." Sri menatap buah jeruk yang berserakan di jalanan seberang, lalu beralih menatap mata Andra yang bengkak. Ada rasa lelah yang amat sangat di sana, mengikis habis kesombongan Andra yang dulu pernah ia benci. Sri akhirnya mengangguk pelan. "Baik, kita bic

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Dimana Kau Sri

    "Tuan Andra, mohon maaf sekali. Seperti yang sudah kami sampaikan bulan lalu, pencarian saudari Sri alias Marlina ini mengalami jalan buntu," ujar petugas kepolisian di balik meja tripleks reot itu, sambil menyodorkan kembali selembar map berisi data orang hilang. Andra yang kini mengenakan kemeja flanel murah yang warnanya sudah agak pudar, menatap petugas itu dengan pandangan memohon. "Tapi Pak, apakah tidak ada pelacakan dari nomor telepon terakhirnya? Atau mungkin dari riwayat perjalanan kereta dan bus?" Petugas itu menghela napas panjang, bersandar pada kursinya. "Semua nomornya sudah hangus dan tidak terdaftar pada perangkat mana pun, Tuan. Tidak ada transaksi perbankan, tidak ada nama yang cocok di manifestasi transportasi umum mana pun selama tiga bulan terakhir. Wanita ini seolah-olah sengaja menghapus seluruh identitas sosialnya dan menghilang dari muka bumi." Andra meremas kedua tangannya sendiri di atas lutut. "Saya hanya ingin tahu dia aman, Pak. Hanya itu." "Kami men

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Apa Yang Mau Kau Lakukan Sri?

    "Buka televisinya, Arka. Tolong cepat," suara Sri bergetar, jemarinya yang pucat meremas ujung taplak meja kontrakan mereka yang sederhana. Arka yang baru saja menyeduh teh hangat segera meraih pengontrol jarak jauh, menyalakan layar kaca yang langsung menampilkan tayangan berita kilas utama pagi itu. "...Pengusaha muda, Andra Pratama, resmi dijemput paksa oleh pihak kepolisian di kediamannya pagi tadi atas dugaan penganiayaan berat terhadap istrinya, Sarah, serta pemalsuan dokumen aset berskala besar. Tersangka sempat melakukan perlawanan sebelum akhirnya digiring ke mapolres..." Brak Cangkir teh di tangan Sri bergoyang, isinya sedikit tumpah. Ia menatap layar itu dengan mata yang membelalak sempurna. "Dia... dia benar-benar ditangkap? Sarah melaporkannya?" Arka mematikan televisi, kembali membuat ruangan itu diselimuti kesunyian yang mencekam. Ia duduk di hadapan Sri, menatap wanita yang masih menyandang status sebagai istrinya itu dengan pandangan yang dalam, sarat akan beban

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Andra, Anda Di Tangkap!

    "Halo? Kantor Polisi Sektor Pusat? Saya ingin melaporkan tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga dan penipuan dokumen," suara Sarah bergetar, namun ada nada dingin yang tak tergoyahkan di sana. Ia berdiri di lobi kantor polisi dengan sudut bibir yang masih membiru, didampingi seorang pengacara paruh baya. "Baik, Nyonya. Boleh sebutkan nama terlapor dan kronologinya?" tanya petugas di seberang telepon. "Andra Pratama. Dia suami saya. Dia menampar saya, memalsukan dokumen pengalihan aset, dan... dia berselingkuh dengan pelayan di rumah kami," jawab Sarah, air matanya menetes tetapi ia segera menyekanya dengan kasar. "Saya memiliki semua bukti visum dan rekaman CCTV saat dia memaksa saya menandatangani berkas kosong semalam." "Laporan Anda kami terima, Nyonya Sarah. Tim penyidik akan segera meluncur ke kediaman terlapor hari ini juga." Sarah menurunkan ponselnya, menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. "Semua sudah selesai, Andra. Kau tidak akan mendapatkan sepeser pun dari

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Puing-Puing Kebenaran

    Perjalanan menuju pinggiran kota malam itu terasa begitu panjang dan sunyi. Di dalam mobil tua yang dikemudikan oleh Arka, tidak ada percakapan. Sri hanya menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, menatap rintik hujan yang mulai membasahi jalanan. Kata-kata Andra di taman rumah besar itu terus berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak, merobek ketenangan yang selama ini ia pertahankan dengan susah payah. "Aku bersumpah demi nyawaku, Sri! Anak itu bukan anakku!" Sri meremas sapu tangan di pangkuannya. Ia harus tahu. Ia tidak bisa melangkah lebih jauh dalam rencana ini jika pondasi dari seluruh dendamnya ternyata adalah sebuah kebohongan besar. Arka sesekali melirik istrinya dengan rasa cemas yang mendalam. Ia membawa Sri ke satu-satunya tempat yang menyimpan sisa-sisa kehidupan Myla sebelum wanita itu mengakhiri hidupnya, sebuah rumah petak kontrakan milik Ibu ratna, wanita tua yang dulu menjadi pemilik kontrakan sekaligus teman dekat tempat Myla sering berkeluh

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Kematian Dalam Keheningan

    Koridor rumah sakit itu terasa begitu dingin dan berbau antiseptik yang menyengat. Lampu neon yang berkedip di atas kepala seolah menambah ketegangan yang menyelimuti tiga orang yang sedang menunggu di depan ruang operasi darurat. Andra duduk di kursi tunggu dengan tangan yang terus gemetar, noda d

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Tumbal Pengampunan

    Hari demi hari bergulir seperti pasir yang jatuh di jam kaca. Waktu seolah berpihak pada kebohongan yang terpelihara rapi di rumah besar itu. Kandungan Sri kini telah memasuki usia lima bulan. Perutnya yang dulu rata kini menonjol dengan nyata, sebuah gundukan kehidupan yang menjadi pusat semesta b

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Antara Kesetiaan dan Pengkhianatan

    Pagi itu, sinar matahari menyelinap di antara celah pepohonan besar di halaman belakang. Arka sedang membantu Sri mengangkat keranjang cucian yang berat. Sri jadi mudah lelah, membuat Arka tidak tega membiarkan wanita itu bekerja sendiri. Di antara mereka, ada keheningan yang berbeda dari biasanya.

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Di Balik Topeng Kebencian

    Malam itu, paviliun terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Suara jangkrik di luar jendela seolah menonjolkan keheningan yang menyesakkan di dalam kamar kecil tersebut. Arka duduk di kursi kayu, matanya tak lepas dari punggung Sri yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin rias sederhana. Pikir

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status