Home / Romansa / Hello, Nanny! / 105. The Baby Inside

Share

105. The Baby Inside

last update publish date: 2026-04-09 16:14:17
“Jadi ini wanita yang bikin Kael lengket selain Kiana?” Candra anak sulung keluarga itu tersenyum. “Halo, saya Candra,” ucapnya memperkenalkan diri, seraya mengulurkan tangan. Dia penasaran dengan wanita yang sudah membuat mama dan Reyga ribut lagi.

Dengan canggung Kalla menjabat tangan Candra. “Saya Kalla. Salam kenal.”

Dia melirik wanita di sisi Candra, dan mengucapkan hal sama. Wanita itu mengenalkan diri bernama Violin yang dalam keadaan hamil terlihat makin terpancang kecantikannya.

“Jan
Yuli F. Riyadi

Jelas banget ya si mama ini. Bakal jadi saingan berat Kalla nggak sih?

| 12
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (19)
goodnovel comment avatar
listiani darmawan
wah auranya perjodohan trs..berat kyknya ni Kalla .kasian km...jd gonduk bacanya thor..
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Kita cari jalan keluar bareng
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Gimana kalo kawin lari ja? #plak
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   S2.3. Temen Akrab

    “Lior, Kaia!”Dengan langkah cepat Kalla mencari kedua putrinya. Beberapa menit lalu dua anak itu masih bermain di taman rumahnya, tapi tahu-tahu sudah menghilang. Dia mencari di setiap penjuru rumah tapi belum juga menemukan batang hidung mereka. “Mereka nggak ke sini kok,” ujar ibu ketika Kalla mendatangi rumah ibunya. Ah, sudah tiga tahun Kalla dan keluarganya pisah rumah dengan ibu. Tidak jauh, masih di sebelah rumah ibu. Reyga memutuskan membangun rumah karena merasa butuh banyak ruang untuk anak-anaknya. “Duh, ke mana mereka itu.”“Tenang. Ibu yakin mereka nggak jauh-jauh mainnya. Nanti ibu tanya tetangga. Sekarang kamu pulang dulu, barang kali mereka sudah ada di rumah.”Kalla menurut dan kembali ke rumahnya. Dia masih tetap mencari dari depan hingga belakang rumah. Memanggil nama si kembar berulang-ulang. Mendengar suara Kalla yang terus memanggil adik-adiknya, Kael yang masih sibuk di kamar keluar. Kening Kael mengerut melihat sang ibu berjalan lunglai dengan bahu meroso

  • Hello, Nanny!   S2.2. Nanny?

    Kalla meninggalkan kamar putri-putrinya setelah mereka jatuh tertidur. Satu dongeng bahkan belum sempat dia selesaikan. Tidak seperti biasanya yang tiap dibacakan dongeng ada saja pertanyaan yang mereka lontarkan. Kali ini mereka langsung pulas.Untuk hari ini berbeda. Mungkin mereka masih sedih karena belum mendapat maaf dari sang kakak. Bahkan sebelum tidur tadi, mereka masih sempat mengatakan penyesalannya. Bertolak dari kamar si kembar, Kalla membuka pintu kamar Kael yang berada tepat di seberangnya. Kael juga sudah terlelap. Wanita itu bergerak mendekat, mengusap kepala sang putra lalu membenarkan selimut. “Sayang, mama tahu kamu kesal banget sama adik-adik kamu. Tapi seharian ini mereka menyesali perbuatannya. Mama harap kamu masih punya maaf yang luas buat mereka,” ucap Kalla pelan, yang mungkin tidak bisa putranya itu dengar.Ketika Kalla akan mematikan lampu kamar, tatapnya menangkap keberadaan maket bricks yang ada di meja. Benda itu yang membuat si kembar hampir menangis

  • Hello, Nanny!   S2.1. Proyek yang Hancur

    Bunyi brakkk terdengar sampai ke dapur. Bunyi familiar yang sekonyong-konyong bisa mematahkan hati seseorang karena usahanya hancur seketika. Kalla yang sedang mengaduk adonan refleks berhenti dan menatap putranya yang berdiri di depannya. Wajah remaja 16 tahun itu spontan memerah sambil memejamkan mata. Kalla tahu betul Kael sedang menahan marah. Dia bahkan melihat tangan putranya itu meremas kuat tangkai hand mixer yang digenggamnya. “Uhm, Sayang. Na-nanti mama bantu kamu merangkainya lagi, oke?” ucap Kalla dengan raut was-was. Perlahan dia melepas spatula. “Jangan marah ya. Mam pastikan adik-adik kamu mendapat hukuman.”Kalla buru-buru lari ke arah kamar. Demi Tuhan dia berharap weekend kali ini aman tanpa keributan. Tapi sepertinya itu hanya angan-angan saja. “Kaia…!!! Lior…!!!”Langkah Kalla berhenti mendadak. Dia meringis seraya menutup telinga mendengar teriakan Kael dari dapur, sebelum lanjut lari ke kamar putranya. Pintu kamarnya terbuka sehingga dia bisa melihat langsung

  • Hello, Nanny!   Extra Part 2

    THE TIME Ini akan menjadi momen paling bersejarah untuk Kalla. Dia sudah siap menjalani sectio caesarea hari ini. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan makeup tipis hasil pulasan Cecilia. Istri Cade itu bersikeras mendandani Kalla agar saat proses bayi lahir wanita itu tetap terlihat cantik. Sama seperti Ceci, Kalla dan Reyga juga melakukan birth videography. Mulai dari persiapan, proses, hingga pasca melahirkan diabadikan ke dalam birth video diary yang akan menjadi dokumenter pribadi mereka. “Gimana perasaan kamu?” tanya Kiana, yang ikut menunggui persiapan Kalla. “Deg-degan. Tapi seneng juga.” “Harus semangat, kan kalian sebentar lagi ketemu.” Semua keluarga Reyga ikut berkumpul demi menyambut anggota baru keluarga, kecuali Candra karena dia tidak bisa absen dari rumah sakit. Ibu juga datang. Meski lututnya gemetar, ibu bela-belain datang memberi semangat pada putrinya. Ini pertama kali dalam hidup, dan dirinya akan segera menimang cucu. “Lo harus rileks. Jangan sa

  • Hello, Nanny!   Extra Part 1

    Beberapa kali Kalla mematut diri di cermin. Cermin full body yang bisa memantulkan seluruh tubuhnya. Bibirnya mencebik saat melihat pipinya yang terlihat lebih chubby. Lalu tatapannya turun ke perutnya yang makin buncit. Dia tahu kehamilan ini bakal menghancurkan bentuk tubuh idealnya. Tapi Kalla sama sekali tidak menyesal. Terlebih bayi dalam perutnya sangat sehat dan aktif. Kalla berjengit ketika sesuatu menempel di pipinya. Ujung matanya melirik, dan dari pantulan cermin dia bisa melihat foto prenatalnya bersama Reyga. “Cantik banget kamu di sini, Sayang,” ujar Reyga, ikut bergabung dalam pantulan cermin yang sama. Kalla merebut foto tersebut dari tangan Reyga dan memperhatikannya. Di foto itu, dirinya tersenyum lebar. Mengenakan gaun putih yang mempertontonkan bagian perutnya yang besar. Makeup tipis natural dan tatanan rambut yang agak sedikit bergelombang. Meski dengan perut buncit, Kalla terlihat sangat cantik dan bersinar. Dan Reyga di sana mengenakan celana panjang

  • Hello, Nanny!   257. Lamaran Menembus Langit

    “Bayi Om Cade matanya sipit. Mirip banget kayak Tante Ceci.” “Putih dan montok.” Kael dan Kalla sedang membicarakan anak Cecilia dan Cade yang baru lahir beberapa hari lalu. Bayi itu terlahir sehat dengan jalan caesar. Cade sengaja memilih tanggal cantik untuk kelahiran putranya. Pewaris Ganesha selanjutnya. “Bibir sama tangannya juga kecil banget, Ma.” “Iya, kan masih bayi.” “Baby twins ntar mirip siapa ya?” “Mirip papa dong. Kan papa yang paling semangat bikinnya,” sambar Reyga yang sejak tadi hanya menyimak pembicaraan anak dan ibu itu. Namun detik berikutnya dia mengaduh ketika mendapat sikutan dari sang istri. Pria itu nyengir saat Kalla memelotot padanya. “Aku harap sih mirip mama aja. Pasti cakep.” Reyga kontan menoleh dengan tampang tak terima. “Maksud kamu papa nggak cakep?” “Cakep sih, cuma ngebosenin.” “Kamu—” Reyga tidak jadi marah ketika mendengar tawa istrinya pecah. Dia hanya mendengus dengan muka memberengut. “Sejak punya mama, kamu sering banget ngejek pap

  • Hello, Nanny!   220. Hilang Kepercayaan

    "Hore! Mama udah boleh pulang akhirnya!" Kael berseru girang, sementara ibu yang sedang membereskan keperluan Kalla hanya menggeleng mendengarnya. "Kangen sama Mama enggak?" tanya Kalla terkekeh, bahkan anak itu sudah membawakan kursi roda. Kael bergerak memeluk Kalla. "Kangen banget! Cuma tiga

  • Hello, Nanny!   217. Panen Stroberi

    Di bawah kucuran air shower ruang ganti, keduanya saling membenturkan dahi dan tertawa. Tetesan air dingin melewati tubuh keduanya yang masih saling menempel. “Kamu gila, Rey,” ucap Kalla di tengah kekehannya. “Tapi ini menantang kan?” Sialnya yang lelaki itu bilang benar. Sensasi yang Kalla dapa

  • Hello, Nanny!   213. Biarkan Mereka Bahagia

    “Ma, bisa jangan terlalu keras sama istri Reyga? Kalau kamu menyakiti Kalla, sama saja kamu menyakiti Reyga.” Reyhan menghela napas mendengar apa yang terjadi sore tadi di rumahnya. “Aku paham, Kalla bukan menantu yang kamu harapkan. Tapi kita udah memberi mereka restu, dan kamu setuju. Sekarang

  • Hello, Nanny!   200. John Foster

    “Lo kenal John?” Raven menatap pria yang duduk di depannya sambil memutar-mutar kursi. “Harusnya kenal. Kan satu angkatan sama lo.”Kening Reyga mengernyit dalam. Dia sama sekali tidak ingat. “Satu angkatan itu ratusan. Gimana gue bisa ingat?” “Lebih spesifik lagi, dia teman satu kelas sama lo. Mas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status