Home / Romansa / Hello, Nanny! / 177. Undangan

Share

177. Undangan

last update publish date: 2026-05-17 07:05:02
“Kamu sudah menunggu lama?”

Kalla menggeleng. Ujung matanya melirik meja lain yang letaknya agak jauh dari posisinya. Willa, Kael, dan wanita yang belum Wima kenalkan padanya ada di sana.

“Uhm, dia…” Kalla kembali melirik wanita asing itu. Dan wanita itu juga kedapatan memperhatikannya diam-diam. “Cewek itu siapa, Kak?”

Mengikuti gerakan mata Kalla, Wima menghela napas. “Anak kolega,” sahutnya singkat. “Jadi, kenapa kamu minta kita ketemu? Ada yang ingin kamu katakan?” Wima dengan cepat menga
Yuli F. Riyadi

Tadinya mau aku up malam. Tapi aku gak kuat ngantuk benget. Mana lagi di rumah mamer kan, agak sulit nulis di sini karena kondisinya rame.

| 14
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Anies
wima sama Leona di jodohin gitu? apa gimana ya?? aah semoga mereka jodoh aja deh
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Lagi aku pertimangkan
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Semangat semangat huh hah
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   S2.4. Tante ini ... Kakak Cantik, ya?

    Seingat Kael, satu-satunya teman yang bernama Rere itu sok imut, bawel, menyebalkan karena selalu menempel dengannya, dan juga suka memakai pita rambut aneh. Satu lagi yang Kael ingat, Rere suka mengklaim dirinya cantik padahal menurutnya tidak ada cantik-cantiknya sama sekali. Hanya saja, cewek itu sekarang cukup berbeda. Ehem! Kael akui, Rere … cantik. Intinya Kael tidak pernah menganggap cewek itu teman akrab. Namun demikian, cewek itu selalu menjadi pembela dirinya ketika ada anak lain yang mengganggunya. “Demi apa jadi selama ini lo tinggal di kampung ini?” tanya Rere takjub dan tidak percaya. “Tapi kenapa gue baru liat lo sekarang?” “Emang lo tinggal di sini juga?” tanya Kael heran. Ternyata cewek itu sama saja seperti dulu. Bawel. Rere menggeleng. “Enggak, sih. Tapi nenek gue tinggal di kampung sebelah. Gue sering ke sini kalau liburan.” Bibir cewek itu mencebik. Tapi detik berikutnya tersenyum. “Meskipun telat. Tapi gue seneng banget bisa ketemu lo lagi.” Bersamaan denga

  • Hello, Nanny!   S2.3. Temen Akrab

    “Lior, Kaia!”Dengan langkah cepat Kalla mencari kedua putrinya. Beberapa menit lalu dua anak itu masih bermain di taman rumahnya, tapi tahu-tahu sudah menghilang. Dia mencari di setiap penjuru rumah tapi belum juga menemukan batang hidung mereka. “Mereka nggak ke sini kok,” ujar ibu ketika Kalla mendatangi rumah ibunya. Ah, sudah tiga tahun Kalla dan keluarganya pisah rumah dengan ibu. Tidak jauh, masih di sebelah rumah ibu. Reyga memutuskan membangun rumah karena merasa butuh banyak ruang untuk anak-anaknya. “Duh, ke mana mereka itu.”“Tenang. Ibu yakin mereka nggak jauh-jauh mainnya. Nanti ibu tanya tetangga. Sekarang kamu pulang dulu, barang kali mereka sudah ada di rumah.”Kalla menurut dan kembali ke rumahnya. Dia masih tetap mencari dari depan hingga belakang rumah. Memanggil nama si kembar berulang-ulang. Mendengar suara Kalla yang terus memanggil adik-adiknya, Kael yang masih sibuk di kamar keluar. Kening Kael mengerut melihat sang ibu berjalan lunglai dengan bahu meroso

  • Hello, Nanny!   S2.2. Nanny?

    Kalla meninggalkan kamar putri-putrinya setelah mereka jatuh tertidur. Satu dongeng bahkan belum sempat dia selesaikan. Tidak seperti biasanya yang tiap dibacakan dongeng ada saja pertanyaan yang mereka lontarkan. Kali ini mereka langsung pulas.Untuk hari ini berbeda. Mungkin mereka masih sedih karena belum mendapat maaf dari sang kakak. Bahkan sebelum tidur tadi, mereka masih sempat mengatakan penyesalannya. Bertolak dari kamar si kembar, Kalla membuka pintu kamar Kael yang berada tepat di seberangnya. Kael juga sudah terlelap. Wanita itu bergerak mendekat, mengusap kepala sang putra lalu membenarkan selimut. “Sayang, mama tahu kamu kesal banget sama adik-adik kamu. Tapi seharian ini mereka menyesali perbuatannya. Mama harap kamu masih punya maaf yang luas buat mereka,” ucap Kalla pelan, yang mungkin tidak bisa putranya itu dengar.Ketika Kalla akan mematikan lampu kamar, tatapnya menangkap keberadaan maket bricks yang ada di meja. Benda itu yang membuat si kembar hampir menangis

  • Hello, Nanny!   S2.1. Proyek yang Hancur

    Bunyi brakkk terdengar sampai ke dapur. Bunyi familiar yang sekonyong-konyong bisa mematahkan hati seseorang karena usahanya hancur seketika. Kalla yang sedang mengaduk adonan refleks berhenti dan menatap putranya yang berdiri di depannya. Wajah remaja 16 tahun itu spontan memerah sambil memejamkan mata. Kalla tahu betul Kael sedang menahan marah. Dia bahkan melihat tangan putranya itu meremas kuat tangkai hand mixer yang digenggamnya. “Uhm, Sayang. Na-nanti mama bantu kamu merangkainya lagi, oke?” ucap Kalla dengan raut was-was. Perlahan dia melepas spatula. “Jangan marah ya. Mam pastikan adik-adik kamu mendapat hukuman.”Kalla buru-buru lari ke arah kamar. Demi Tuhan dia berharap weekend kali ini aman tanpa keributan. Tapi sepertinya itu hanya angan-angan saja. “Kaia…!!! Lior…!!!”Langkah Kalla berhenti mendadak. Dia meringis seraya menutup telinga mendengar teriakan Kael dari dapur, sebelum lanjut lari ke kamar putranya. Pintu kamarnya terbuka sehingga dia bisa melihat langsung

  • Hello, Nanny!   Extra Part 2

    THE TIME Ini akan menjadi momen paling bersejarah untuk Kalla. Dia sudah siap menjalani sectio caesarea hari ini. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan makeup tipis hasil pulasan Cecilia. Istri Cade itu bersikeras mendandani Kalla agar saat proses bayi lahir wanita itu tetap terlihat cantik. Sama seperti Ceci, Kalla dan Reyga juga melakukan birth videography. Mulai dari persiapan, proses, hingga pasca melahirkan diabadikan ke dalam birth video diary yang akan menjadi dokumenter pribadi mereka. “Gimana perasaan kamu?” tanya Kiana, yang ikut menunggui persiapan Kalla. “Deg-degan. Tapi seneng juga.” “Harus semangat, kan kalian sebentar lagi ketemu.” Semua keluarga Reyga ikut berkumpul demi menyambut anggota baru keluarga, kecuali Candra karena dia tidak bisa absen dari rumah sakit. Ibu juga datang. Meski lututnya gemetar, ibu bela-belain datang memberi semangat pada putrinya. Ini pertama kali dalam hidup, dan dirinya akan segera menimang cucu. “Lo harus rileks. Jangan sa

  • Hello, Nanny!   Extra Part 1

    Beberapa kali Kalla mematut diri di cermin. Cermin full body yang bisa memantulkan seluruh tubuhnya. Bibirnya mencebik saat melihat pipinya yang terlihat lebih chubby. Lalu tatapannya turun ke perutnya yang makin buncit. Dia tahu kehamilan ini bakal menghancurkan bentuk tubuh idealnya. Tapi Kalla sama sekali tidak menyesal. Terlebih bayi dalam perutnya sangat sehat dan aktif. Kalla berjengit ketika sesuatu menempel di pipinya. Ujung matanya melirik, dan dari pantulan cermin dia bisa melihat foto prenatalnya bersama Reyga. “Cantik banget kamu di sini, Sayang,” ujar Reyga, ikut bergabung dalam pantulan cermin yang sama. Kalla merebut foto tersebut dari tangan Reyga dan memperhatikannya. Di foto itu, dirinya tersenyum lebar. Mengenakan gaun putih yang mempertontonkan bagian perutnya yang besar. Makeup tipis natural dan tatanan rambut yang agak sedikit bergelombang. Meski dengan perut buncit, Kalla terlihat sangat cantik dan bersinar. Dan Reyga di sana mengenakan celana panjang

  • Hello, Nanny!   24. Lo Pernah Cipokan Nggak?

    Lembut dan kenyal. Ini bukan kali pertama Kalla merasakan ciuman. Hanya sudah lama tidak merasakan lagi setelah tiga tahun menjomblo. Tapi tetap saja bikin dadanya ingin meledak. Bibirnya dan bibir Reyga saling menempel, bahkan lelaki itu melumatnya di saat dia masih membeku saking syoknya.

  • Hello, Nanny!   21. Mantan Reyga

    Kalla menatap dua orang lelaki di hadapannya. Yang satu terbaring di ranjang, satunya lagi duduk sambil bersedekap tangan di tepian ranjang. "Apa susahnya sih pulang ke rumah mama? Malah pilih menyusahkan diri sendiri. Reyga melengos. "Males. Mama suka berlebihan.""Mama begitu karena sayang sama

  • Hello, Nanny!   20. Demam

    Bianglala dan kora-kora membuat perut Reyga bergejolak. Begitu turun dari wahana, dia memuntahkan semua isi perut. Wajahnya sudah seputih kapas. Sehingga ketika Kael menariknya lagi untuk naik cangkir putar, dia menolak. Jika bukan karena memiliki anak, Reyga tidak sudi datang ke tempat macam ini.

  • Hello, Nanny!   14. Bertemu Musuh

    Kalla baru saja sampai ke apartemen setelah sebelumnya mengantar Kael ke sekolah. Suasana sepi kembali menyerbunya. Selalu seperti ini. Hanya melepas Kael ke sekolah tapi sudah rindu celotehan anak itu. Kakinya bergerak menuju kamar Kael. Saat melihat kamar sudah rapi senyumnya terukir. Sejauh ini

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status