Home / Romansa / Hello, Nanny! / 208. Tawaran

Share

208. Tawaran

last update publish date: 2026-06-04 16:35:40

Hari belum habis tapi kepala Reyga sudah mengepulkan asap hitam. Rahangnya mengetat, dan pangkal alisnya terus berkerut. Dadanya ingin meledak. Dan mulutnya gatal ingin ngunyah orang.

Santi sampai tidak berani menoleh melihat awan kelabu di wajah sang bos. Terlalu ngeri. Dia membiarkan Reyga langsung memasuki ruangannya tanpa bertanya hasil dari pertemuan lelaki itu dengan John Hasibuan.

Dari mukanya saja sepertinya ada hal buruk. Santi melonjak ketika mendengar gebrakan meja yang lumayan ker
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Anies
ya ampun Kael kamu emang luar biasa..
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Bener lagi wkwk
goodnovel comment avatar
Poppy Miranda
beruntung nya kamu Kalla, dicintai ugal² an sama Kael eh bonus Papanya Deng .........
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   S2.38. Madu Dua

    Di halaman belakang samping rumah, dekat rumah nenek, Kael berhasil menemukan Rere. Gadis itu berdiri membelakanginya, menghadap rumah nenek yang sepi. Kael berencana menginap di rumah nenek, kalau Vianna benar-benar tidak bisa dibujuk pulang. “Re?” panggil Kael seraya berjalan mendekat. Namun tiba-tiba saja Rere berbalik, membuat Kael sontak berhenti melangkah. “Kamu yakin nggak pacaran sama dia?” todong Rere spontan. “Eh?” “Kamu bilang kalian nggak pacaran, tapi yang kalian lakukan—ish!” Rere kembali berbalik saat merasa ada yang salah dengan ucapan dan reaksinya. Dia memang kesal, tapi tidak punya hak buat kesal. Rere melihat semuanya. Saat mereka berpelukan. Saat Kael dengan sabar mendengar keluhan Vianna, dan saat Kael mengantar gadis itu ke kamarnya. “Vianna… dia lagi sakit. Dia butuh istirahat,” ucap Kael. Meski bukan fisiknya yang sakit. Tapi melihat gadis itu langsung pulas begitu kepalanya menyentuh bantal, Kael yakin Vianna memang butuh bed rest.“Di kamar kamu?”“T

  • Hello, Nanny!   S2.37. Tak Bersinar Lagi

    Mengurut pinggangnya yang sakit, Kael beranjak bangun. Dia ingin marah, tapi yang jadi sasaran malah kabur lebih dulu. Dan si pembawa berita kedatangan Vianna pun entah ngilang ke mana. “Kembaaaar!” seru Kael memanggil dua adiknya. Entah Kaia atau Lior. Suara mereka sama, jadi Kael meneriaki keduanya. Namun bukan si kembar yang muncul di ruang keluarga, melainkan Vianna. Gadis itu ternyata benar-benar datang. Hanya saja— “Kael!” Tubuh Kael agak terhuyung ke belakang ketika tiba-tiba Vianna memeluknya. Bukan pelukan bahagia karena bertemu Kael lagi setelah berminggu-minggu, tapi pelukan kesedihan. Karena sesaat setelah memeluk laki-laki itu, tangis Vianna pecah. Gadis itu bahkan meraung seolah tengah menahan luka yang begitu dalam. Kael yang tidak tahu apa-apa tertegun di tempat. “V-Vi—” Laki-laki itu kebingungan. Menghadapi dua adiknya yang menangis itu sudah biasa, tapi tidak dengan seorang perempuan yang menangis pilu seperti ini. Es krim atau permen cokelat kayaknya ngga

  • Hello, Nanny!   S2.36. Puisi Cinta

    Rindu sakit Hati sakit Kalau tidak ingin sakit Jangan merindu Jangan menaruh hati … Kael memasang wajah jijik membaca tulisannya sendiri. Dia mengacak rambut frustasi. Sudah satu jam, tapi tugas membuat puisi belum juga selesai. “Ngapain repot, kan tinggal tanya AI, beres.” Itu usul sesat Jaya kemarin saat Kael menanyakan tugas bahasa Indonesia membuat puisi bertemakan cinta. Gimana bisa nulis cinta, kalau jatuh cinta saja Kael belum tahu gimana rasanya?“Nggak boleh pake AI, Njir. Lo kan tau Pak Roni kek apa.” “Ah gue mah tetep mau pake AI. Bodo amat sama nilai.” “Siap-siap jadi bulan-bulanan di depan kelas kalau gitu.” Kael mencoret tulisannya di kertas. Lalu kembali menulis ulang. Bagaimana cara membuat kata-kata yang selaras, tidak lebay, dan tidak aneh? Sumpah ya. Satu di antara kelemahannya adalah pelajaran mengarang, menulis cerpen atau sejenis. Puisi mungkin hanya beberapa bait, tapi demi apapun sulitnya selangit. Saking konsennya membuat bait, Kael tidak sadar Rere

  • Hello, Nanny!   S2.35. Kabar Vianna

    “Gimana menurut Lo?” Jaya menunjukkan pekerjaannya pada Kael. Sejenak laptopnya pun berpindah ke tangan Kael. “Belum final. Jadi harus lo lihat udah sesuai belum?” Kael memperhatikan dengan seksama pekerjaan Jaya. Dia bahkan mengecek tools dan algoritma yang temannya itu pakai. Tidak berapa lama sudut bibirnya berkedut. “Kemampuan lo di JavaScript kayaknya naik pesat. Lanjutkan,” komen Kael sebelum mengembalikan laptop itu ke Jaya. Kontras saat dirinya mengomel satu jam lalu, sekarang Jaya bisa menyunggingkan senyum lebar. “Pasti dong. Kan terus dilatih. Dan proyek-proyek yang lo kasih ini bikin skill gue tiap hari nambah.” “Gue bisa ajuin lo ikut Coding Bootcamp Le Wagon kalau lo mau.” “Heh, serius?” “Ya. Om Cade biasanya ngirim salah satu pelajar terbaik yang punya potensi kayak lo.” “Jelas gue maulah. Kapan lagi gue bisa ikut berkumpul dengan para programer hebat?” Belum apa-apa Jaya sudah membayangkan keseruan itu. Pengalaman, sharing ilmu, dan mental akan terlatih d

  • Hello, Nanny!   S2.34. Meronce

    “Beliin kita ini, Bang!” Kaia menunjuk gelang manik-manik dengan warna dominan biru dan pink yang tergantung di etalase. Saat ini mereka berada di tenan aksesoris. Banyak pernak-pernik yang disukai perempuan. Bukan tempat yang Kael sukai, tapi karena membawa tiga perempuan akhirnya dia pasrah saja ketika mereka menariknya ke tenan itu. “Ya udah ambil aja.” Kaia dan Lior sudah berteriak senang ketika penjaga tenan dengan sopan memberitahu bahwa gelang-gelang itu sudah ada pemiliknya. “Di etalase ini semua sudah ada pemiliknya. Kalau yang di rak itu masih free.” Kedua bocah itu terlihat kecewa. Tidak ada yang menarik hatinya di rak yang penjaga itu tunjuk. “Nggak ada model yang sama seperti ini lagi, Kak?” tanya Kael. “Belum ready lagi, Kak. Tapi kalau bahan-bahannya ada.” Mendengar itu sebuah ide terlintas di benak Rere. Gadis itu maju mendekat. “Bahannya semua lengkap kan, Kak?” “Lengkap. Kalau kakaknya mau, bisa meronce di sini juga.” Itu ide yang Rere maksud. Selain

  • Hello, Nanny!   S2.33. Bazar

    Jika Kael mengajak Lior ke tenan sisi kiri, Rere mengajak Kaia ke tenan sisi kanan. Mereka tidak berjalan bersama. Mengenyahkan rasa malu Kael langsung menarik tangan Lior keluar dari pusat kesehatan. Tersisa Kaia yang masih tersenyum aneh pada teman abangnya itu. “Kalau Kak Re mau ajak aku ke mana?” tanya Kaia begitu kembarannya dan sang Abang melesat pergi. “Uhm…” Rere berpikir dengan gugup hingga kata bazar muncul di kepalanya. “Kita ke bazar! Iya, kita ke sana aja.” Dia menyambar tangan Kaia dan bergegas keluar juga. Namun ketika melihat Kael ternyata ada di bazar juga, Rere mengambil jalan lain. “Ki-kita ke sebelah sana aja.” “Oke.” Kaia menurut saja. Mau lihat sampai sejauh mana mereka saling menghindar. “Kakak mau es krim!” seru Rere menuding tenan penjual es krim dan gelato. Dia butuh sesuatu yang dingin, biar otaknya yang konslet bisa lebih fresh. Kaia menyentak tangan Rere. “Ayo!” Di sisi lain, Kael dan Lior sedang berada di tenan penjual takoyaki. Sepanjang

  • Hello, Nanny!   112. Nyonya Meneer

    Jam sibuk orang-orang kerja suasana kafe dengan konsep Japanese yang Kalla singgahi agak sepi. Hanya beberapa meja yang berpenghuni. Selebihnya kosong. Dan mungkin tempat seperti ini yang Nyonya Abimanyu cari. Dia memimpin jalan di depan Kalla. Menuju salah satu meja yang sudah waiter siapkan. Ta

  • Hello, Nanny!   109. Pancakes

    Ini udah kembali ke setting setelah syukuran ya============%Hening. Sepanjang perjalanan pulang suasana terasa mencekam. Sejak keluar dari rumah besar keluarga Abimanyu tak sepatah katapun keluar. Baik dari Kalla ataupun Reyga. Kalla tahu, lelaki itu sedang marah padanya, perkara pernikahan yang

  • Hello, Nanny!   106. All You Can Eat

    Napas lega berembus pelan ketika Kalla berhasil keluar dari toilet dengan perut kosong. Sejak dirinya belum turun dari mobil, perutnya mendadak mules. Efek rasa gugup campur takut membuat bakteri di dalam usus bergejolak. Dia membuka pintu sambil mengusap perut. Kakinya melangkah ringan keluar, s

  • Hello, Nanny!   36. Serigala Berbulu Domba

    Kael yang duduk di atas kasur dengan wajah mengantuk, melihat papanya keluar dari kamar mandi. Matanya mengerjap. Kepalanya celingukan. “Kakak Cantik mana, Pa?” tanya anak itu yang tidak menemukan keberadaan Kael. Biasanya jika dirinya bangun tidur, Kalla akan selalu menyambutnya. “Kakak kamu lagi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status