Home / Romansa / Hello, Nanny! / 247. Jaga Bersama

Share

247. Jaga Bersama

last update publish date: 2026-06-25 16:33:44
Rambut pria itu yang sedikit panjang berterbangan diterpa angin. Tubuh dan pandangannya menghadap laut sepenuhnya. Seolah di sana ada sesuatu yang menarik.

Menghela napas, Kalla pun beranjak turun. Kakinya yang mengenakan alas tipis terayun perlahan dan hati-hati. Melewati semak pepohonan, dia langsung bisa menapakkan kaki di pasir putih.

Pria itu tetap diam. Tidak menyadari kedatangan sang istri. Kalla memang sengaja tidak menimbulkan suara. Dia berniat memeluk Reyga dari belakang.

Begitu be
Yuli F. Riyadi

Gaes, makasih banyak buat yang udah berbagi GEM dan Gift. Semoga teman-teman sehat dan selalu lancar rejeki. Aamiin 🥰

| 15
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (14)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Duh kacau balau pasti
goodnovel comment avatar
Ivana Oktaviana
mohon ditahan ya Rey yaa, tpi klo dibikin Rey yg ngidam pasti gak bisa macam2 diee wkwkwk
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Mudahan kali ini goal
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   S2. 5. Dua Pacar

    Dari sejak motor yang ditungganginya memasuki halaman rumah, Kael sudah melihat Kalla menungguinya di teras sambil senyum-senyum tak jelas. Kalau sudah begini Kael paling males. Dia sudah tahu apa yang terjadi setelah ini. Yakin bakal sama seperti waktu Vianna—teman satu sekolahnya datang ke rumah. Dengan langkah ogah-ogahan Kael memasuki teras rumah. Pura-pura tidak melihat ibu sambungnya di sana, dia melewatinya begitu saja. Namun tidak semudah itu, Ciripa. Tangan panjang Kalla langsung menghadang langkahnya. Wanita itu tersenyum lebar menatap putranya dengan jenaka. Seperti tidak punya pilihan, Kael pun akhirnya cuma bisa menghela napas dan mengikuti isyarat yang wanita itu berikan. “Cuma anter sampe depan rumah neneknya lalu pulang. Udah gitu doang,” ucap bujang itu sebelum ditanya. Jawaban datar putranya membuat Kalla tampak kecewa. “Kok cuma gitu doang?” “Emang mama berharap apa?” tanya Kael dengan muka lelah.“Ya apa kek. Basa-basi mampir sebentar ketemu neneknya bila p

  • Hello, Nanny!   S2.4. Tante ini ... Kakak Cantik, ya?

    Seingat Kael, satu-satunya teman yang bernama Rere itu sok imut, bawel, menyebalkan karena selalu menempel dengannya, dan juga suka memakai pita rambut aneh. Satu lagi yang Kael ingat, Rere suka mengklaim dirinya cantik padahal menurutnya tidak ada cantik-cantiknya sama sekali. Hanya saja, cewek itu sekarang cukup berbeda. Ehem! Kael akui, Rere … cantik. Intinya Kael tidak pernah menganggap cewek itu teman akrab. Namun demikian, cewek itu selalu menjadi pembela dirinya ketika ada anak lain yang mengganggunya. “Demi apa jadi selama ini lo tinggal di kampung ini?” tanya Rere takjub dan tidak percaya. “Tapi kenapa gue baru liat lo sekarang?” “Emang lo tinggal di sini juga?” tanya Kael heran. Ternyata cewek itu sama saja seperti dulu. Bawel. Rere menggeleng. “Enggak, sih. Tapi nenek gue tinggal di kampung sebelah. Gue sering ke sini kalau liburan.” Bibir cewek itu mencebik. Tapi detik berikutnya tersenyum. “Meskipun telat. Tapi gue seneng banget bisa ketemu lo lagi.” Bersamaan denga

  • Hello, Nanny!   S2.3. Temen Akrab

    “Lior, Kaia!”Dengan langkah cepat Kalla mencari kedua putrinya. Beberapa menit lalu dua anak itu masih bermain di taman rumahnya, tapi tahu-tahu sudah menghilang. Dia mencari di setiap penjuru rumah tapi belum juga menemukan batang hidung mereka. “Mereka nggak ke sini kok,” ujar ibu ketika Kalla mendatangi rumah ibunya. Ah, sudah tiga tahun Kalla dan keluarganya pisah rumah dengan ibu. Tidak jauh, masih di sebelah rumah ibu. Reyga memutuskan membangun rumah karena merasa butuh banyak ruang untuk anak-anaknya. “Duh, ke mana mereka itu.”“Tenang. Ibu yakin mereka nggak jauh-jauh mainnya. Nanti ibu tanya tetangga. Sekarang kamu pulang dulu, barang kali mereka sudah ada di rumah.”Kalla menurut dan kembali ke rumahnya. Dia masih tetap mencari dari depan hingga belakang rumah. Memanggil nama si kembar berulang-ulang. Mendengar suara Kalla yang terus memanggil adik-adiknya, Kael yang masih sibuk di kamar keluar. Kening Kael mengerut melihat sang ibu berjalan lunglai dengan bahu meroso

  • Hello, Nanny!   S2.2. Nanny?

    Kalla meninggalkan kamar putri-putrinya setelah mereka jatuh tertidur. Satu dongeng bahkan belum sempat dia selesaikan. Tidak seperti biasanya yang tiap dibacakan dongeng ada saja pertanyaan yang mereka lontarkan. Kali ini mereka langsung pulas.Untuk hari ini berbeda. Mungkin mereka masih sedih karena belum mendapat maaf dari sang kakak. Bahkan sebelum tidur tadi, mereka masih sempat mengatakan penyesalannya. Bertolak dari kamar si kembar, Kalla membuka pintu kamar Kael yang berada tepat di seberangnya. Kael juga sudah terlelap. Wanita itu bergerak mendekat, mengusap kepala sang putra lalu membenarkan selimut. “Sayang, mama tahu kamu kesal banget sama adik-adik kamu. Tapi seharian ini mereka menyesali perbuatannya. Mama harap kamu masih punya maaf yang luas buat mereka,” ucap Kalla pelan, yang mungkin tidak bisa putranya itu dengar.Ketika Kalla akan mematikan lampu kamar, tatapnya menangkap keberadaan maket bricks yang ada di meja. Benda itu yang membuat si kembar hampir menangis

  • Hello, Nanny!   S2.1. Proyek yang Hancur

    Bunyi brakkk terdengar sampai ke dapur. Bunyi familiar yang sekonyong-konyong bisa mematahkan hati seseorang karena usahanya hancur seketika. Kalla yang sedang mengaduk adonan refleks berhenti dan menatap putranya yang berdiri di depannya. Wajah remaja 16 tahun itu spontan memerah sambil memejamkan mata. Kalla tahu betul Kael sedang menahan marah. Dia bahkan melihat tangan putranya itu meremas kuat tangkai hand mixer yang digenggamnya. “Uhm, Sayang. Na-nanti mama bantu kamu merangkainya lagi, oke?” ucap Kalla dengan raut was-was. Perlahan dia melepas spatula. “Jangan marah ya. Mam pastikan adik-adik kamu mendapat hukuman.”Kalla buru-buru lari ke arah kamar. Demi Tuhan dia berharap weekend kali ini aman tanpa keributan. Tapi sepertinya itu hanya angan-angan saja. “Kaia…!!! Lior…!!!”Langkah Kalla berhenti mendadak. Dia meringis seraya menutup telinga mendengar teriakan Kael dari dapur, sebelum lanjut lari ke kamar putranya. Pintu kamarnya terbuka sehingga dia bisa melihat langsung

  • Hello, Nanny!   Extra Part 2

    THE TIME Ini akan menjadi momen paling bersejarah untuk Kalla. Dia sudah siap menjalani sectio caesarea hari ini. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan makeup tipis hasil pulasan Cecilia. Istri Cade itu bersikeras mendandani Kalla agar saat proses bayi lahir wanita itu tetap terlihat cantik. Sama seperti Ceci, Kalla dan Reyga juga melakukan birth videography. Mulai dari persiapan, proses, hingga pasca melahirkan diabadikan ke dalam birth video diary yang akan menjadi dokumenter pribadi mereka. “Gimana perasaan kamu?” tanya Kiana, yang ikut menunggui persiapan Kalla. “Deg-degan. Tapi seneng juga.” “Harus semangat, kan kalian sebentar lagi ketemu.” Semua keluarga Reyga ikut berkumpul demi menyambut anggota baru keluarga, kecuali Candra karena dia tidak bisa absen dari rumah sakit. Ibu juga datang. Meski lututnya gemetar, ibu bela-belain datang memberi semangat pada putrinya. Ini pertama kali dalam hidup, dan dirinya akan segera menimang cucu. “Lo harus rileks. Jangan sa

  • Hello, Nanny!   116. Duda Protektif

    “Aku antar.”Kalla mengerang menghadapi sikap keras kepala Reyga. “Nggak perlu, astaga. Aku cuma mau nyerahin berkas doang, Rey. Nggak lama. Mending kamu jemput Kael. Bentar lagi jam pulang dia.” “Pokoknya aku antar.” Lelaki ini benar-benar menyebalkan. Kalla melipat lengan ke dada dengan wajah c

  • Hello, Nanny!   113. Tidak Bisa Dibandingkan

    Reyga membuang napas seraya meremas roda kemudi. Di sebelahnya Kalla hanya menundukkan pandang. Sebenarnya lelaki itu masih marah, kesal terkait soal ke Jepang. Bukan dia tidak mendukung kemajuan kekasihnya. Tapi Reyga sedang di posisi lagi nyaman-nyamannya, masa mau ditinggal? “Aku minta maaf ata

  • Hello, Nanny!   112. Nyonya Meneer

    Jam sibuk orang-orang kerja suasana kafe dengan konsep Japanese yang Kalla singgahi agak sepi. Hanya beberapa meja yang berpenghuni. Selebihnya kosong. Dan mungkin tempat seperti ini yang Nyonya Abimanyu cari. Dia memimpin jalan di depan Kalla. Menuju salah satu meja yang sudah waiter siapkan. Ta

  • Hello, Nanny!   109. Pancakes

    Ini udah kembali ke setting setelah syukuran ya============%Hening. Sepanjang perjalanan pulang suasana terasa mencekam. Sejak keluar dari rumah besar keluarga Abimanyu tak sepatah katapun keluar. Baik dari Kalla ataupun Reyga. Kalla tahu, lelaki itu sedang marah padanya, perkara pernikahan yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status