Home / Romansa / Hello, Nanny! / 9. Hello, Nanny!

Share

9. Hello, Nanny!

last update publish date: 2026-02-14 17:09:37

Kael hanya bersekolah sampai hari Jumat dengan tiga seragam yang berbeda. Di salah satu sekolah internasional yang Kalla tahu SPP bulanannya ngalahin UMR Jakarta. Artinya hari weekend anak itu akan full di rumah. 

Kecuali hari ini, Reyga menuntut Kalla harus membuatkan breakfast dan bekal untuk bocah itu. Bahkan lelaki itu memberi daftar makanan yang disuka dan tak disukai anaknya. 

"Snack time di sekolah ada. Jadi kamu nggak perlu menyiapkan. Khusus bekal makan siang harus bawa dari rumah. Kael lumayan pemilih." 

"Iya, Pak." 

Belum lagi daftar baby skincare anak itu. Mandi harus pake antiseptik. Tidak boleh pakai merek sembarangan. Bayangin saja, masa cuma minyak telon harganya sampai ratusan ribu? Minyaknya ambil dari ekstrak kulit dinosaurus kali ya. 

"Jangan kasih Kael makanan sembarangan. Khususnya lolipop dan jenis kembang gula lainnya." 

Kalimat itu seperti sebuah ultimatum. Reyga sampai menajamkan mata saat mengatakan itu. Seolah-olah mau bilang : Awas aja kalo Lo kasih anak gue lolipop lagi!

Kalla hanya mengangguk patuh. Lalu memperhatikan bagaimana cekatannya pria itu menyiapkan bekal makan siang putranya. Bukan hanya cekatan, semua dikerjakan dengan sangat rapi dan terorganisir sampai berhasil masuk ke tas si anak. 

Wanita 23 tahun itu terus mengawasi dan merekamnya dengan baik. 

"Kamu punya waktu bebas saat Kael di sekolah. Terserah kamu mau gunakan waktu itu buat apa. Yang penting ketika jam pulang, kamu sudah harus standby di sekolah," cerocos Reyga lagi. "Pastikan tanya detail tentang kegiatan Kael di sekolah sama guru kelasnya. Siapa guru kelas kamu, Son?" tanya Reyga menoleh pada anaknya yang sedang susah payah menyendok roti keju buatannya. 

"Miss Farah," jawab anak itu. Dan satu suapan berhasil masuk ke mulutnya. 

"Yap. Miss Farah. Pastikan kamu menyimpan nomornya. Juga asisten guru di sana." 

Pagi ini kepala Kalla benar-benar full wejangan dari bapak satu anak itu. Dia harap semua informasi itu bisa diingatnya dengan mudah. 

Setelah ceramah panjang lebar, pria itu meletakkan satu piring berisi omelet gulung, potongan sosis, dan dua lembar roti bakar yang diiris segitiga, serta segelas jus, tepat di depan Kalla.

"Makan, kamu butuh energi buat memulai hari. Kael bukan anak yang mudah." 

Kalla mengerjap. Untuk pertama kali dalam hidupnya seorang lelaki menyiapkan sarapan pagi untuk Kalla. Yang lebih menakjubkan, orang itu adalah Reyga. CEO menyebalkan yang sudah meremehkan dirinya saat pertama kali bertemu. 

Wanita itu tidak ekspek bakal dapat sarapan juga. Dia hanya berniat membantu Kael menyantap sarapan pagi. 

"Kenapa bengong?" tanya Reyga ketika melihat Kalla malah cuma menatap makanan di piringnya. "Nggak suka menu itu? Di sini nggak ada yang jual nasi uduk. Dan kami juga nggak terbiasa sarapan makanan berat begitu. Kalau kam—" 

"Suka kok, suka. Saya suka. Nih, mau saya makan," sahut Kalla cepat, dan langsung memasukkan potongan besar roti ke dalam mulut, lalu nyengir. Dia tidak mau mendengar Reyga mengoceh lebih panjang lagi. 

Melihat itu Reyga agak terperangah. Hanya sebentar sebelum dia memasang wajah jijik sambil memalingkan muka. Pria itu membuang napas dari mulut, lalu menggeleng pelan saat sebuah pemikiran terlintas. 

Dia harap pilihannya merekrut wanita itu tidak salah. 

*** 

"Hello, Kael! Good morning!" 

Seorang wanita cantik dengan tubuh tinggi semampai, serta rambut yang dikucir rapi menyambut kedatangan Kael yang kali ini ditemani Kalla, bukan lagi papanya. 

Kael tidak membalas, hanya menatap wanita itu dengan wajah datar andalannya. 

"Hello, Miss! Good morning!" 

Bukan Kael, tapi Kalla yang menyahut sapaan ramah guru itu. 

"Wah, Kael! Kamu datang sama siapa? Mau kenalkan ke Miss?" tanya guru itu sambil berlutut, mensejajarkan tingginya dengan Kael. 

Tidak ada reaksi dari bocah empat tahun itu. Dia masih bertahan menggandeng tangan Kalla, dan menutup mulutnya rapat-rapat. 

Ini mengingatkan Kalla saat baru pertama bertemu dengan anak itu. Reaksinya dingin dan tidak bersahabat. Kalla pikir Kael akrab dengan guru kelasnya, lantaran mereka sering bersama. Kalau dia jadi si guru, mungkin sudah gemas sendiri karena sikap ramahnya cuma dikacangin doang. 

Wanita itu menghela napas lalu membungkuk, dan menyahut dagu Kael agar mau menatap matanya. "Kael, Miss tanya sama kamu loh. Kamu nggak mau jawab?" ujar Kalla lembut sembari tersenyum. 

Mata bulat Kael mengerjap, sejurus kemudian dia mengangguk. 

"Kakak Cantik," ucap Kael. Yang langsung disambut senyum manis sang guru. "Kakak cantik mau jadi mamaku, Miss!" 

Heh?! 

Sontak saja Kalla membelalak mendengar jawaban tak terduga anak itu. Wajahnya panik saat melihat wajah kaget dari sang guru. 

"Bukan, bukan, Miss." Kalla mengibaskan tangan cepat. "Saya cuma nanny baru Kael." 

"Oh ya?" Mata cantik sang guru berganti menatap antara Kael dan Kalla. Yang dia tahu nanny Kael biasanya memakai seragam. Tapi wanita di depannya saat ini berpakaian cukup santai. Celana jins, dan kaos yang dibungkus cardigan, serta sepatu kets. 

"Kenalkan saya Kalla. Mulai saat ini saya yang bakal antar jemput Kael. Apa pun yang terjadi sama Kael di sekolah, Miss bisa memberitahu saya, biar saya bisa meneruskannya ke papanya Kael." Kalla mengulurkan tangan, yang sayangnya tidak disambut langsung guru cantik itu. 

Guru kelas itu berdiri dan tersenyum kecil. Melirik tangan Kalla yang masih terulur, lalu menjabatnya. 

"Saya Miss Farah, guru kelas Kael." Sebentar dia melirik Kael. "Sepertinya Anda istimewa buat Kael. Mohon kerjasamanya." 

Tidak mengerti dengan ucapan Miss Farah, kening Kalla mengernyit. "Istimewa gimana, Miss?" 

"Saya sudah membersamai Kael beberapa bulan ini, tapi belum bisa merebut hatinya." Tangan Miss mengusap lembut kepala Kael. Namun anak itu segera menghindar, terlihat risih. "Pendekatannya agak susah," bisiknya pelan, lalu tersenyum.

Kalla cuma bisa meringis. Tidak heran Reyga mengatakan kalau Kael tidak mudah ditangani. 

"Kael! Good morning!" 

Bocah perempuan berambut lurus dengan poni tebal berlari mendekat. Wajahnya bulat, pipinya chubby, dan matanya agak sipit. Ada pita kecil berwarna pink di sisi-sisi rambutnya. 

"Kael, Kael! Lihat pita baru aku, cantik kan?" tanya anak itu dengan logat anak-anak yang menggemaskan. 

Bukannya mengiyakan, Kael malah mengerutkan bibir sambil menggeleng. Dia menggaet tangan Kalla. "Ini kakak cantik." 

Gadis cilik itu langsung menatap Kalla dengan pandangan menyelidik. "Siapa dia?" 

"Mam—"

"Halo, cantik. Aku Kalla, nanny baru Kael," potong Kalla cepat sebelum Kael menyebarkan info hoax lagi. Gila aja! Kalau sampai ke telinga majikan, bisa berabe. 

Wanita itu berjongkok dan mengulurkan tangan sembari memasang wajah ramah. 

"Ooh..." Gadis cilik itu manggut-manggut lalu menyahut tangan Kalla. "Hello, nanny Kael. Aku Rere, teman sekelas Kael." Dia lantas berbisik pada Kael. "Kael, nanny kamu cantik banget." Lalu terkikik geli sambil menutup mulut.

Kalla yang mendengar itu ikut terkikik. Lagi-lagi ada bocah yang mengatainya cantik. Ya ampun, hiburan sekali melihat kelucuan dan kepolosan mereka. 

"Oke, Kael, Rere. Saatnya masuk kelas," seru Miss Farah menepuk tangannya dengan gembira. 

"Semangat ya, Kael. Nanti kakak jemput kamu lagi. Yang nurut sama Miss Farah dan jangan nakal yaa," pesan Kalla, sebelum anak itu digiring masuk oleh asisten guru yang membersamai Miss Farah. 

Kalla melambaikan tangan tinggi-tinggi saat Kael menoleh padanya. Wajah anak itu seperti enggan berpisah, terus menatapnya sambil menjauh. Tapi berkat Rere yang menarik tangan Kael, akhirnya anak itu mau berpaling juga. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Cristina Bria
kael akan membuat Kalla naik daun ......
goodnovel comment avatar
Eliyen Author
Ini Kael kocak banget, ya Allaaaaah
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   S2.35. Kabar Vianna

    “Gimana menurut Lo?” Jaya menunjukkan pekerjaannya pada Kael. Sejenak laptopnya pun berpindah ke tangan Kael. “Belum final. Jadi harus lo lihat udah sesuai belum?” Kael memperhatikan dengan seksama pekerjaan Jaya. Dia bahkan mengecek tools dan algoritma yang temannya itu pakai. Tidak berapa lama sudut bibirnya berkedut. “Kemampuan lo di JavaScript kayaknya naik pesat. Lanjutkan,” komen Kael sebelum mengembalikan laptop itu ke Jaya. Kontras saat dirinya mengomel satu jam lalu, sekarang Jaya bisa menyunggingkan senyum lebar. “Pasti dong. Kan terus dilatih. Dan proyek-proyek yang lo kasih ini bikin skill gue tiap hari nambah.” “Gue bisa ajuin lo ikut Coding Bootcamp Le Wagon kalau lo mau.” “Heh, serius?” “Ya. Om Cade biasanya ngirim salah satu pelajar terbaik yang punya potensi kayak lo.” “Jelas gue maulah. Kapan lagi gue bisa ikut berkumpul dengan para programer hebat?” Belum apa-apa Jaya sudah membayangkan keseruan itu. Pengalaman, sharing ilmu, dan mental akan terlatih d

  • Hello, Nanny!   S2.34. Meronce

    “Beliin kita ini, Bang!” Kaia menunjuk gelang manik-manik dengan warna dominan biru dan pink yang tergantung di etalase. Saat ini mereka berada di tenan aksesoris. Banyak pernak-pernik yang disukai perempuan. Bukan tempat yang Kael sukai, tapi karena membawa tiga perempuan akhirnya dia pasrah saja ketika mereka menariknya ke tenan itu. “Ya udah ambil aja.” Kaia dan Lior sudah berteriak senang ketika penjaga tenan dengan sopan memberitahu bahwa gelang-gelang itu sudah ada pemiliknya. “Di etalase ini semua sudah ada pemiliknya. Kalau yang di rak itu masih free.” Kedua bocah itu terlihat kecewa. Tidak ada yang menarik hatinya di rak yang penjaga itu tunjuk. “Nggak ada model yang sama seperti ini lagi, Kak?” tanya Kael. “Belum ready lagi, Kak. Tapi kalau bahan-bahannya ada.” Mendengar itu sebuah ide terlintas di benak Rere. Gadis itu maju mendekat. “Bahannya semua lengkap kan, Kak?” “Lengkap. Kalau kakaknya mau, bisa meronce di sini juga.” Itu ide yang Rere maksud. Selain

  • Hello, Nanny!   S2.33. Bazar

    Jika Kael mengajak Lior ke tenan sisi kiri, Rere mengajak Kaia ke tenan sisi kanan. Mereka tidak berjalan bersama. Mengenyahkan rasa malu Kael langsung menarik tangan Lior keluar dari pusat kesehatan. Tersisa Kaia yang masih tersenyum aneh pada teman abangnya itu. “Kalau Kak Re mau ajak aku ke mana?” tanya Kaia begitu kembarannya dan sang Abang melesat pergi. “Uhm…” Rere berpikir dengan gugup hingga kata bazar muncul di kepalanya. “Kita ke bazar! Iya, kita ke sana aja.” Dia menyambar tangan Kaia dan bergegas keluar juga. Namun ketika melihat Kael ternyata ada di bazar juga, Rere mengambil jalan lain. “Ki-kita ke sebelah sana aja.” “Oke.” Kaia menurut saja. Mau lihat sampai sejauh mana mereka saling menghindar. “Kakak mau es krim!” seru Rere menuding tenan penjual es krim dan gelato. Dia butuh sesuatu yang dingin, biar otaknya yang konslet bisa lebih fresh. Kaia menyentak tangan Rere. “Ayo!” Di sisi lain, Kael dan Lior sedang berada di tenan penjual takoyaki. Sepanjang

  • Hello, Nanny!   S2.32. Pekan Olahraga (3)

    “Ini acara pekan olahraga apa lomba 17-an?” Kael menatap sarung yang diberikan panitia. Itu adalah sarung yang akan dia dan Rere gunakan sebagai perlengkapan lomba balap sarung berpasangan. “Sama aja, kan? Anggap aja kita lagi lomba lari. Lari kan masuk olahraga,” sahut Rere. Jika Kael terlihat keberatan satu sarung berdua dengannya, dia biasa saja. Hanya untuk meramaikan apa salahnya berpartisipasi?“Beda dong, Re. Kita bakal—” Kael spontan berhenti bicara saat merasa kata-kata yang akan dia keluarkan mungkin bisa terdengar aneh. “Bakal apa?” tanya Rere mengangkat alis, menatap pemuda itu yang tiba-tiba terlihat salah tingkah. Gadis itu menarik napas panjang, mendekati lelah. Dia merebut sarung dari tangan Kael. “Udah deh, tinggal lakuin aja biar cepet selesai.”Sementara panitia sudah meminta para orangtua yang ikut lomba mengenakan sarung itu secara bersama. Kael agak kesal lantaran Rere terlihat baik-baik saja sementara dirinya gusar sendirian. Harusnya tidak begini. Serius g

  • Hello, Nanny!   S2.31. Pekan Olahraga (2)

    Kael merasa kesal pada diri sendiri karena sepanjang acara berlangsung, tatapnya tidak berhenti memantau keberadaan Rere. Mulai ketika senam bersama, alih-alih memperhatikan tim pemandu senam, dia malah mengawasi Rere. Sehingga gerakan yang dia buat asal-asalan. Tidak seperti Rere yang begitu lincah dan energik. Kaia dan Lior kebagian lari estafet bersama tiga temannya. Sementara orang tua harus menyemangati anak-anak mereka. “Kael, pake ini.” Rere membentangkan pita merah. Di kepalanya sudah terikat pita yang sama. Kael mengernyit, terlihat ogah memakainya. “Harus banget pake ini?” tanya dia tampak enggan. Rere berdecak, tidak peduli dengan keengganan Kael dia membalik tubuh laki-laki itu dan maksa memakaikan pita. Namun gadis itu agak kesulitan lantaran tubuh Kael yang terlalu tinggi. Alih-alih menutupi dahi, dia menutupi mata laki-laki itu. “Gue nggak bisa lihat ini,” protes Kael. Alih-alih menutup dahi, Rere malah menutup matanya. Gadis itu tergelak ketika melihat hasilnya

  • Hello, Nanny!   S2.30. Pekan Olahraga (1)

    Meskipun Kael janji akan datang untuk menggantikan orang tuanya, Kaia dan Lior tetap saja memasang wajah masam tiap kali melihat anak lain digandeng mesra oleh kedua orang tua mereka. Rasa irinya melambung sebagai seorang anak. Tidak menangis saja sudah untung. “Mama sama Papa kalian nggak ke sini?” Dua bocah itu menoleh ketika Tasya—salah satu teman sekelasnya—menghampiri. Lanjut anak lain, dua sampai tiga yang datang. Nadia dan Sasha.Si kembar menggeleng lemah. “Abang yang datang,” ujar Lior. Suasana sekolah sudah mulai ramai. Tenan, tenan bazar juga sudah full terisi. Dekorasi meriah di area lapangan juga sudah maksimal. Dan para wali murid sudah mulai berdatangan. Hanya Kael, yang belum tampak batang hidungnya. “Abang kalian udah gede ya? Kok bisa datang? Soalnya kalau Abang aku mah masih SMP.” Tasya terkikik sambil menutup mulutnya. Kaia menoleh dan mengangguk. “Abang udah kelas sebelas.”Dan tiga bocah yang mengelilingi si kembar langsung berwah-wah ria. “Terus mana? Kok

  • Hello, Nanny!   117. Nanny Pengganti

    “Udah nemu pengganti lo?”Itulah yang sedang Kalla pikirkan. Dua kali dirinya dan Reyga membawa Kael ke penyalur. Berharap anak itu bisa menemukan seseorang yang cocok. Namun hasilnya nihil. Anak itu malah minta papanya buat mindahin sekolah ke Jepang. Gimana Kalla nggak tepok jidat?Kalla menggel

  • Hello, Nanny!   113. Tidak Bisa Dibandingkan

    Reyga membuang napas seraya meremas roda kemudi. Di sebelahnya Kalla hanya menundukkan pandang. Sebenarnya lelaki itu masih marah, kesal terkait soal ke Jepang. Bukan dia tidak mendukung kemajuan kekasihnya. Tapi Reyga sedang di posisi lagi nyaman-nyamannya, masa mau ditinggal? “Aku minta maaf ata

  • Hello, Nanny!   128. Rage Room

    Ragu menyerbu ketika Wima menawarinya pulang. Kalla sadar wajahnya saat ini pasti kacau. Ibu akan bertanya ini itu kalau dia pulang dalam keadaan muka lecek. “Nggak mau pulang? Mau ke suatu tempat?” tanya Wima saat melihat keraguan di wajah wanita itu. Hidung Kalla masih agak memerah meskipun dia

  • Hello, Nanny!   123. Larangan Menikah

    Tepat ketika Kael melambaikan tangan dan pintu lift akhirnya tertutup, Reyga langsung menyambar pinggang Kalla. Dia memepet wanita itu ke dinding dan mengurungnya. Gimana Kalla nggak panik? Ini masih di luar unit meskipun mustahil orang lain bisa muncul di sini tanpa akses. “Kamu apa-apaan sih?”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status