تسجيل الدخول“Ini cream cheese-nya semua, Kak?” “Iya semua. Campur sama gula yang udah kakak siapin ya.” “Oke. Habis itu?” “Tambahin telur.” Rere sedang mengajari Lior dan Kaia membuat burn cheesecake. Katanya dua bocah itu mau bikin kue sendiri pas anniversary mama papanya yang tinggal sebentar lagi. Ketika mereka sibuk di dapur, tanpa suara Kael masuk. Perlahan dia mengintip kegiatan mereka dengan berpura-pura mengambil air minum di kulkas. Tapi daripada melihat apa yang dua adiknya lakukan, dia lebih sering curi-curi pandang ke Rere yang tampak serius. “Masukin telurnya satu-satu ya. Satu aduk dulu sampai rata, baru masukin lagi.”“Oke.” Dua bocah itu juga kelihatan serius. Bikin Kael refleks berdecih. Tumben sekali dua anak itu tidak bikin kekacauan. Bia—“Awas, hati-hati!” teriak Rere panik saat Lior nyaris menumpahkan adonan. Beruntung wadah itu tidak jadi jatuh karena Rere segera menahannya. Kael yang ikut terkejut melepaskan napas lega. Baru saja dia berkata dalam hati soal adiknya
“Cuma Sabtu Minggu gue. Iya, kebagian sift sore sampe malam.”Telinga Kael menegak mendengar potongan percakapan Rere yang sedang menelepon. Entah ke siapa.Diam-diam lelaki itu makin merapatkan diri. Ingin mendengar lebih banyak. Ya, Kael tahu menguping itu tidak baik. Tapi jiwa keponya meronta-ronta jika itu menyangkut soal Rere.“Hu-um, datang aja. Gue di sana kok. Oke, thanks, gue tunggu, Dri.”Dri? Dri itu maksudnya Drian? Kael mengerjap. Jadi mereka sudah di tahap saling telponan. Tanpa sadar napas Kael berembus kesal. Hidung bangirnya mengembang. Asap bahkan mengebul keluar dari telinganya. “Dasar genit,” gerutunya pelan sebelum bergerak kembali ke kamar. Dia yang akan mengambil minuman di kulkas urung. “Loh, mana minumannya?” tanya Jaya melihat Kael masuk kamar lagi tanpa membawa apapun seperti rencananya. Dengan muka bete, Kael menjatuhkan diri di kursi putarnya. “Ambil sendiri Lo deh, males gue.”“Dih, lo ngapa dah. Angin-anginan banget jadi orang.” “Ngeselin banget si Re
“Ini sih best banget! Mirip yang dijual di bakery terkenal itu loh.”“Hu-um. Aku juga suka. Kak Re, ajarin kita dong. Anniversary mama sama papa entar kita pengin kasih kejutan bikin kue sendiri.” Senyum lebar Rere merekah ketika tahu dua kembar itu menyukai kue yang dia buat. “Boleh. Nanti kakak ajarin ya.”Di sebelah Kael, Cade mencebikkan bibir. “Kalian bisa menikmati kue enak ini karena Om-loh. Tapi nggak ada yang berterimakasih sama Om.”Lior dan Kaia tertawa. Tapi kemudian mereka serentak berseru. “Terima kasih …” Tepat ketika Cade menyambut dengan senyum manis, dua bocah itu menoleh ke arah Rere. “Kak Rere!” Senyum Cade sontak raib, dan wajah lucunya yang cemberut membuat si kembar tergelak lagi. “Dasar Kalla cilik. Awas ya, kalau kalian minta tambahan uang jajan, nggak bakal Om kasih,” balas Cade bersungut-sungut. Hingga tawa bocah itu berhenti seketika. “Iya, iya. Makasih Om Cade ganteng!” “Cih, kalau ada maunya aja.”Interaksi mereka membuat yang lain ikut tertawa baha
Cade berdiri di depan sebuah rumah yang dulu sering dia datangi. Terakhir datang ke sini 3 tahun lalu. Meskipun tidak jauh dari rumah sang Kakak—Reyga—dia tidak pernah mengunjungi lagi. Tepatnya sejak Mella memutuskan mundur dari hidupnya. Tiga tahun lalu saat dia datang lagi, bukan sebuah kesengajaan. Dan karena hal itu pula dirinya tahu bahwa Mella ternyata sudah meninggal. Cade sangat terpukul mendengar kabar itu. Terlebih Bu Arum—ibunya Mella—memberitahu tentang alasan sebenarnya Mella memutuskan pergi meninggalkan dirinya dulu. Rasa menyesal dan sakit kontan menggerogoti hatinya lagi, seperti belasan tahun silam. “Aku mau menikah.”Suara Mella kala itu terngiang lagi. Sesuatu yang membuat Cade semangat karena akhirnya wanita itu memutuskan hal yang tepat. “Serius, Sayang?” Tatap Cade berbinar saat itu. Tidak menyangka lamarannya akhirnya diterima. Dia sontak menggenggam tangan Mella. “Secepat mungkin aku bakal siapin semua. Seperti kata kamu, kita nggak perlu acara yang mewah.
“Terus kelapa-kelapa ini gimana, Kael?” Kael membeli empat biji kelapa muda atas permintaan Vianna. Tapi saat gadis itu pergi, dia tidak membawa satu pun dari kelapa-kelapa itu. “Kupas aja. Kita bikin es kelapa muda.” “Emang lo bisa?”“Tinggal kasih susu kental manis sama es kan? Lo ambil air sama daging kelapanya dulu gih.”Rere yang lagi menuang bubur jagung ke mangkok menatap heran. “Lagian kenapa sih beli kelapa sebanyak itu? Repot lagi, beli es kelapa yang udah jadi kan ada.”“Vianna maunya yang degan gini. Dagingnya muda dan tebal,” sahut Jaya lantas mengambil emang butir kelapa sekaligus dan dibawa ke belakang rumah. Rere sampai menghentikan kegiatan menyendok bubur mendengar itu. Jadi ini lagi-lagi soal Vianna? Gadis itu melirik Kael yang tampak lebih banyak menekuk muka sejak Vianna pulang. “Nggak usah sedih gitu kali, Bang. Kan Abang satu sekolah sama Kak Vianna. Ntar juga ketemu,” celetuk Lior yang sudah menyantap bubur jagung keju lebih dulu. “Iya. Kan masih ada Kak R
“Mana cowok yang namanya Kael? Gue harus ngomong sama dia.” Rere mengerutkan kening. Tapi kemudian menghela napas. Gini nih jadinya. Dari awal dia sudah menyarankan agar Kael tidak menampung Vianna. Repot urusannya. “Siapa yang nyari gue?” Bola mata Rere bergerak saat mendengar suara itu. Kael muncul dari arah pagar pintu gerbang bersama dengan Jaya. Dua lelaki itu membawa kelapa dan—eh kelapa? Rere mengerjap. Tapi benar Kael dan Jaya membawa kelapa. Kelapa degan. Lelaki yang mengaku kakak sepupu Vianna itu menoleh. Mata elangnya menyipit. Memperhatikan sosok Kael yang tengah berjalan mendekat, seperti sedang menilai. “Ada apa ini?” tanya Jaya melihat semua ngumpul di halaman. “Lo yang namanya Kael?” tanya sepupu Vianna agak nyolot. Jaya yang gampang terpancing, langsung melotot. “Iya, nape lo?” Dasar kompor bleduk. Dua-duanya malah kepancing. Sepupu Vianna malah hendak menerjang Jaya. Tapi tidak berhasil, karena dari belakang Rere menarik kerah bajunya. “Lo apaan sih
Entah sudah berapa jam Kalla tertidur, yang jelas ketika bangun hanya ada Kael. Itu pun anak itu tengah terlelap. Kalla menyeret langkah ke dapur ketika tenggorokannya terasa kering. Lalu ketika dia berhasil mengosongkan isi gelas, perhatiannya teralihkan. Dia mendengar kecipak air di area kolam re
Kalla menyempatkan diri mampir ke mini market sebelum kembali ke apartemen. Dan baru saja dirinya akan mengambil beberapa lolipop kesukaannya, bunyi notifikasi ponsel terdengar. Sebuah pesan masuk dari Reyga 'Ingat, jangan kasih Kael makanan atau snack sembarangan.'Secara otomatis Kalla menarik
Kael hanya bersekolah sampai hari Jumat dengan tiga seragam yang berbeda. Di salah satu sekolah internasional yang Kalla tahu SPP bulanannya ngalahin UMR Jakarta. Artinya hari weekend anak itu akan full di rumah. Kecuali hari ini, Reyga menuntut Kalla harus membuatkan breakfast dan bekal untuk boc
Tidak ada rencana telat di hari pertama kerja. Namun itu yang Kalla alami. Rencananya pukul enam pagi dia sudah harus ada di stasiun, tapi kenyataannya sudah setengah tujuh lebih dia baru keluar kamar. Dengan langkah tergesa dia menghampiri ibunya yang sedang berkutat di dapur. Bahkan ibu pun belum







