Home / Romansa / Hello, Nanny! / S2.47. Drian

Share

S2.47. Drian

last update publish date: 2026-07-27 17:30:29
“Mana cowok yang namanya Kael? Gue harus ngomong sama dia.”

Rere mengerutkan kening. Tapi kemudian menghela napas. Gini nih jadinya. Dari awal dia sudah menyarankan agar Kael tidak menampung Vianna. Repot urusannya.

“Siapa yang nyari gue?”

Bola mata Rere bergerak saat mendengar suara itu. Kael muncul dari arah pagar pintu gerbang bersama dengan Jaya. Dua lelaki itu membawa kelapa dan—eh kelapa?

Rere mengerjap. Tapi benar Kael dan Jaya membawa kelapa. Kelapa degan.

Lelaki yang mengaku kak
Yuli F. Riyadi

Welcome to the jungle, Drian. Muehehe

| 9
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (6)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Muehehe hehe
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Harus. Digituin biar sadar
goodnovel comment avatar
Autumn Breeze 🍁🍂
yesss. driaaaan.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   S2.48. Kelapa

    “Terus kelapa-kelapa ini gimana, Kael?” Kael membeli empat biji kelapa muda atas permintaan Vianna. Tapi saat gadis itu pergi, dia tidak membawa satu pun dari kelapa-kelapa itu. “Kupas aja. Kita bikin es kelapa muda.” “Emang lo bisa?”“Tinggal kasih susu kental manis sama es kan? Lo ambil air sama daging kelapanya dulu gih.”Rere yang lagi menuang bubur jagung ke mangkok menatap heran. “Lagian kenapa sih beli kelapa sebanyak itu? Repot lagi, beli es kelapa yang udah jadi kan ada.”“Vianna maunya yang degan gini. Dagingnya muda dan tebal,” sahut Jaya lantas mengambil emang butir kelapa sekaligus dan dibawa ke belakang rumah. Rere sampai menghentikan kegiatan menyendok bubur mendengar itu. Jadi ini lagi-lagi soal Vianna? Gadis itu melirik Kael yang tampak lebih banyak menekuk muka sejak Vianna pulang. “Nggak usah sedih gitu kali, Bang. Kan Abang satu sekolah sama Kak Vianna. Ntar juga ketemu,” celetuk Lior yang sudah menyantap bubur jagung keju lebih dulu. “Iya. Kan masih ada Kak R

  • Hello, Nanny!   S2.47. Drian

    “Mana cowok yang namanya Kael? Gue harus ngomong sama dia.” Rere mengerutkan kening. Tapi kemudian menghela napas. Gini nih jadinya. Dari awal dia sudah menyarankan agar Kael tidak menampung Vianna. Repot urusannya. “Siapa yang nyari gue?” Bola mata Rere bergerak saat mendengar suara itu. Kael muncul dari arah pagar pintu gerbang bersama dengan Jaya. Dua lelaki itu membawa kelapa dan—eh kelapa? Rere mengerjap. Tapi benar Kael dan Jaya membawa kelapa. Kelapa degan. Lelaki yang mengaku kakak sepupu Vianna itu menoleh. Mata elangnya menyipit. Memperhatikan sosok Kael yang tengah berjalan mendekat, seperti sedang menilai. “Ada apa ini?” tanya Jaya melihat semua ngumpul di halaman. “Lo yang namanya Kael?” tanya sepupu Vianna agak nyolot. Jaya yang gampang terpancing, langsung melotot. “Iya, nape lo?” Dasar kompor bleduk. Dua-duanya malah kepancing. Sepupu Vianna malah hendak menerjang Jaya. Tapi tidak berhasil, karena dari belakang Rere menarik kerah bajunya. “Lo apaan sih

  • Hello, Nanny!   S2.46. Kakak Sepupu

    Rere bukannya tidak sadar dengan langkah kaki mendekat. Tapi dia tidak peduli. Lagi pula saat ini dirinya sedang memakai head phone. Kalau bukan si kembar yang mau iseng membuatnya kaget, paling juga Kael yang akan mengambil minuman dari kulkas. Namun selama beberapa saat tidak ada suara. Suasana tampak hening kembali. Gadis itu mengedikkan bahu, lalu lanjut mencuci jagung yang nanti bakal dia pipil. “Kamu setiap hari kesini terus?”Baru saja Rere meniriskan jagung cuciannya, dia mendengar suara lemah lembut itu. Spontan gadis itu berbalik dan menemukan Vianna sudah duduk di atas stool. “Oh, sori, gimana?” tanya Rere seraya menarik turun head phone. “Kamu … kamu tiap hari ke rumah ini terus?” Vianna mengulang pertanyaan. Jujur sejak pertama melihat gadis bernama Rere di rumah ini, dia tak suka. Tak suka ada gadis lain yang ternyata juga teman Kael. Selama ini hanya dirinya yang sering main ke rumah ini. Kehadiran Rere yang tiba-tiba muncul sedikit membuatnya terganggu. Apalagi sek

  • Hello, Nanny!   S2.45. Mimpi yang Terasa Nyata

    Dengan dua siku Mella menahan tubuhnya yang didorong setengah merebah ke belakang. Suara erangannya menggema, memenuhi ruang pribadi itu akibat ulah lelaki yang menenggelamkan kepala di antara dua pahanya. Cade selalu membuat Mella tidak berdaya dengan tingkahnya yang mengejutkan. Pemaksa dan tidak sabaran. Seperti sekarang. Bibir dan lidah lelaki itu menggasak area bawah sementara dua tangannya intens memainkan puncak dadanya. Mella tidak bisa menahan lagi ketika sesuatu di bawah perutnya kian bergejolak. “Cade…,” desahnya dengan kepala yang hampir melayang. Satu tangannya terulur, menekan rambut tebal Cade. “Stop, a-aku nggak kuat.” Namun alih-alih berhenti, Cade malah memberi ekstra stimulasi yang membuat tubuh Mella mengejang seketika. Wanita itu tidak bisa menahan diri lagi, dia menggeram, kembali menyerukan nama pria tangguh itu sebelum gelombang kepuasan itu meledak, meluluh-lantakan pertahanannya. Tubuh Mella ambruk di atas meja. Tidak peduli lagi apa yang Cade lakuka

  • Hello, Nanny!   S2.44. Bakery

    Tidak seperti sebelumnya, yang semangat tiap pulang sekolah, sekarang ini rasanya Rere malas sekali ke rumah Kael. Alasannya tentu saja karena ada Vianna. Entah sampai kapan gadis itu akan menginap di sana. Rere menghentikan sepeda tepat di sebuah bakery yang bangunannya lumayan besar dan memiliki ciri khas ukiran Jawa pada setiap sudut terasnya. Hampir tiap lewat jalan ini, dia akan berhenti dan memperhatikan toko kue itu. Kadang sampai masuk ke dalamnya meskipun tidak untuk membeli apapun. Hanya melihat-lihat setiap sudut bagiannya saja. Harga roti dan kue di sana tidak sesuai dengan isi kantong Rere. Terlalu mahal untuk dirinya meski itu hanya sepotong. Seperti sekarang, gadis itu memarkirkan sepedanya di area parkir toko sebelum menaiki tangga landai menuju pintu bakeryDi depan etalase yang menampilkan menu burnt cheesecake Rere berhenti. Dia menelan ludah melihat begitu menggairahkannya kue itu. Sayang harganya lumayan mahal. Dia bisa membuat sendiri satu loyang penuh dengan j

  • Hello, Nanny!   S2.43. Pagi yang meng-hadeh

    Jaya membuang napas sebelum naik ke jok belakang motor Kael. Akhirnya dia bisa terbebas dari situasi menegangkan yang terjadi pagi ini. Untuk orang yang gemar bicara seperti dirinya terjebak di tengah keheningan pelaku cinta segitiga itu sangat tidak menyenangkan. Bicara sedikit salah, bahkan bernapas pun rasanya juga salah. Untung ada dua bocil kembar. Kehadiran mereka cukup memecah suasana menegangkan itu. Jaya tidak harus terus-terusan mati gaya selama kegiatan sarapan berlangsung. Jaya bergidik sendiri kalau ingat. Yang paling menyeramkan adalah ekspresi Vianna. Dia sama sekali tidak mengeluarkan suara. Wajahnya begitu datar, tapi juga masam di saat yang bersamaan. Jaya sampai harus menendang kaki Kael di bawah meja. Namun sahabatnya itu cuma mengangkat alis tidak mengerti. Dasar nggak peka. “Aneh, kok semua pada diem?” celetuk Lior. Bocah itu masih terlalu kecil untuk memahami situasi. Kaia bahkan sampai mengerutkan kening dan memandang satu per satu wajah-wajah para kakak

  • Hello, Nanny!   217. Panen Stroberi

    Di bawah kucuran air shower ruang ganti, keduanya saling membenturkan dahi dan tertawa. Tetesan air dingin melewati tubuh keduanya yang masih saling menempel. “Kamu gila, Rey,” ucap Kalla di tengah kekehannya. “Tapi ini menantang kan?” Sialnya yang lelaki itu bilang benar. Sensasi yang Kalla dapa

  • Hello, Nanny!   3. Kakak Cantik???

    "Terima kasih sudah mengantar anak saya," ucap Reyga tanpa ekspresi. Rasanya Kalla ingin kayang mendengar pria itu ternyata tahu berterima kasih. Tadinya dia kira, pria itu akan pergi begitu saja setelah menemukan anaknya. Ternyata Kalla sal—"Lain kali kali jangan kasih anak orang sembarang makan

  • Hello, Nanny!   2. CEO Gila

    Kehadiran Kael di tengah kegalauan karena gagal interview membuat perasaan Kalla sedikit membaik. Dia bisa melupakan hari menyebalkan ini sejenak saat bermain dengan anak itu. Terlihat dari fisiknya, anak itu bugar dan pintar, selain ganteng tentu saja. Entah apa yang terjadi sampai orang tuanya m

  • Hello, Nanny!   1. Kakak Cantik, Mau Enggak Jadi Mamaku?

    "Maaf, Anda tidak lolos. Silahkan keluar." Sebuah kalimat yang mulai akrab dengan Kalla, tapi ternyata masih saja terdengar menyakitkan. Gadis 23 tahun itu membuang napas kasar, sambil melempar tatapan sebal sebelum berjalan keluar dari ruangan interview dengan perasaan luar biasa dongkol. Kalla m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status