LOGINKehadiran Kael di tengah kegalauan karena gagal interview membuat perasaan Kalla sedikit membaik. Dia bisa melupakan hari menyebalkan ini sejenak saat bermain dengan anak itu.
Terlihat dari fisiknya, anak itu bugar dan pintar, selain ganteng tentu saja. Entah apa yang terjadi sampai orang tuanya membiarkan anak ganteng ini berkeliaran sendirian.
"Kael, ayo kakak antar pulang. Nanti mama kamu nyariin," ujar Kalla setelah capek bermain. Mungkin sudah satu jam lamanya mereka mencoba semua Playground yang ada di taman ini.
Anak itu tampak berpikir sejenak. Lalu menggeleng. "Mama Ki di Amerika."
Kalla melongo dan ingat permintaan anak itu satu jam lalu.
'Kakak Cantik, mau enggak jadi mamaku'
Sekarang Kalla tahu. Kael minta hal aneh itu karena sang mama mungkin lagi ada di Amerika.
"Oke." Kalla mencoba mengerti. Dia lantas duduk berjongkok di depan Kael yang sama sekali tidak terlihat lelah meskipun sudah bermain sampai keringetan. "Tapi kamu harus tetap pulang. Kakak juga mau pulang ke rumah kakak. Kalau kamu di sini sendirian bahaya. Nanti ada yang nyulik kamu gimana?"
Mata bulat Kael berpendar dan bingung secara bersamaan. Kalla paham anak sekecil dia pasti belum mengerti kata-katanya.
"Jadilah, anak penurut, Kael. Kakak suka anak penurut," ucap Kalla sekali lagi dengan nada lembut. Senyumnya kembali mengembang. "Kakak antar kamu pulang ya. Kalau kita bertemu lagi, kakak janji akan kasih kamu lolipop lagi."
"Janji?"
Mata Kalla mengerjap. Giliran menyebut lolipop, anak itu langsung paham. Wanita yang mencepol rambutnya tinggi-tinggi itu meringis lalu mengangguk. Dia memaksa jarinya dan jari Kael untuk melakukan pinky promise.
"Janji."
"Rumah Kakak di mana?"
"Kalau pun kakak sebutkan alamatnya, kamu nggak akan tahu, Kael." Kalla mengulum senyum. Anak yang sejak lahir sudah tajir mana mungkin tahu daerah tempatnya tinggal.
"Dekat sini?" Kael mengayunkan pegangan tangannya. Tampak mendesak, ingin jawaban.
"Jauh. Kamu pasti nggak tahu. Di Lebak Bulus."
"Bulus?"
Kalla hampir-hampir tertawa melihat muka serius bocah balita itu.
"Kenapa? Kamu pernah dengar?"
Tanpa diduga anak itu mengangguk. "Om Cade juga tinggal di Bulus."
Kali ini Kalla tidak bisa lagi menahan tawa. "Lebak Bulus, Kael. Kalo bulus doang mah itu nama hewan."
"Nama hewan?"
"Iya, semacam kura-kura."
Setelah itu, keduanya bergandengan tangan menuju apartemen tempat anak itu tinggal. Sesekali Kalla menanyakan tentang sekolah anak itu.
Kael mengaku berusia tiga tahun menuju ke empat tahun. Sekolah di Kindergarten internasional yang Kalla tahu biaya bulanannya bisa bikin napas ngap-ngapan. Demi apa pun! Orang tua Kael ceroboh banget membiarkan anak ini berkeliaran sendirian.
"Jadi, hari ini kamu nggak masuk sekolah?" tanya Kalla, mengingat ini masih jam sekolah dan bocil ganteng lucu ini malah main-main.
"Nggak. Habis papa nggak mau ajak aku ke Mama Ki."
"Kenapa papa kamu nggak mau ajak kamu?"
"Papa bilang Mama Ki sibuk."
Kalla hanya menghela napas panjang, tidak berniat melanjutkan pertanyaan tentang keluarga Kael. Dia lantas segera mengalihkan pembicaraan dengan melempar joke-joke garing yang anehnya malah disambut riang anak itu.
Keduanya terus melangkah hingga akhirnya sampai di lobi apartemen yang memiliki pintu kaca tinggi. Mereka masih terus bercanda sambil melewati pintu otomatis lobi. Rencana Kalla adalah menitipkan Kael di resepsionis sampai orang tuanya datang menjemput, tapi....
"Kael!"
Sebuah seruan, kompak membuat mereka menoleh. Tidak jauh dari posisi keduanya, seorang wanita dengan pakaian seragam perawat berwarna pink tampak tergopoh mendekat.
"Suster."
Kalla menunduk untuk melihat Kael saat bocah itu bergumam. "Dia nanny kamu, Kael?"
"Iya."
Kalla bisa bayangkan betapa frustrasinya wanita itu saat tahu majikan kecilnya menghilang.
Begitu sampai di depan mereka, wanita berpakaian perawat itu langsung berlutut menggapai tubuh kecil Kael. "Astaga, Kael! Kamu ke mana aja? Suster keliling nyariin kamu. Apa kamu baik-baik aja?"
"Aku baik," sahut Kael datar.
Ya ampun. Kalla salut dengan ekspresi bocah kecil itu yang konsisten memasang wajah datar, padahal susternya sudah tampak khawatir setengah hidup.
"Papa juga nyariin kamu, Kael."
"Papa?" Mata bulat bocah itu mengedar, mencari sang papa. "Mana?"
"Tadi keluar gedung buat mastiin kamu ada di sana atau enggak." Setelah mengatakan itu, si suster tampak terperanjat saat menemukan orang lain yang membersamai Kael. Dia segera berdiri dan menghadap Kael. "Maaf, kamu siapa ya?" tanya perempuan itu.
Kalla nyengir. "Saya bukan siapa-siapa kok. Kebetulan ketemu Kael di taman, jadi saya anterin ke sini."
"Dari mana kamu tahu Kael tinggal di sini?"
Pertanyaan nanny yang dipanggil suster itu terdengar tak enak. Apa dia mencurigai Kalla mau menculik anak itu? Yang benar saja.
Kalla melirik Kael. "Dia yang bilang sendiri."
Ingin rasanya dia berteriak di depan muka nanny itu 'gue udah bantuin nemuin anak ini tau! Kalau nggak ada gue, Lo bakal kena pecat sama majikan lo.'
Tapi tiba-tiba wajah suster itu melembut dan tersenyum. "Terima kasih, Mbak. Saya beneran bingung tadi nyari Kael. Pak Reyga juga sudah marah-marah karena saya teledor."
"Pak Reyga?"
"Iya, papanya Kael."
"Oh."
Raut suster itu kini berubah cemas. Hilangnya anak yang diasuh jelas kesalahan fatal dan bisa berujung pemecatan. Kadang anak konglomerat memang suka menyusahkan pekerjanya. Kalla memaklumi karena Kael masih balita. Belum tahu mana yang benar dan salah.
Sekarang dirinya malah benar-benar berempati pada pengasuh itu. Kalla tahu betul bagaimana susahnya mencari pekerjaan.
"Papa!" seru Kael tiba-tiba. Anak itu melepas genggaman tangan Kalla, dan berlari menyongsong seseorang.
Kalla langsung menoleh dan melihat ke sayap kanan lobi—di mana Kael berlari kecil menyambut seseorang yang dia sebut papa.
Oh, ternyata papanya masih muda. Itu isi pikiran Kalla begitu melihat pria tinggi dengan setelan jas necis. Hanya saja... Tunggu!
Sepertinya Kalla pernah melihat sosok itu. Tapi di mana ya?
Sembari memperhatikan Kael yang sedang meloncat ke pelukan sang papa, Kalla berpikir keras, mengingat di mana dia pernah melihat muka ganteng Kael versi dewasa itu.
Perlu beberapa waktu untuk mengingat. Otak lemotnya memang susah diajak mikir hal-hal mendadak. Kalla menyipitkan mata, pangkal alisnya bahkan sampai berkerut. Hingga sebuah kalimat tiba-tiba menerjang ingatannya.
'Saya butuh fresh graduated cerdas dan cekatan, bukan fresh graduated yang berotak kosong dan manja seperti Saudari'
Itu dia!
Mata Kalla kontan terbelalak saat ingat wajah itu. Wajah iblis berkedok malaikat, yang berani mengata-ngatai dirinya saat interview. CEO sombong yang tidak bisa menyaring mulutnya.
Wah! Rasanya tidak percaya pria arogan itu punya anak semanis Kael. Apa mungkin Kael anak adopsinya? Ups!
Kalla menabok mulutnya sendiri, lalu kembali melirik dua bapak dan anak itu. Untuk ketampanan, Kalla bisa memverifikasi bahwa Kael memang mewarisi ketampanan bapaknya. Tapi soal kelakuan, amat beda jauh. Meskipun suka pasang wajah datar, Kael itu manis.
Kalla menyondongkan badan ke dekat suster. "Sus, dia betulan papanya Kael, si Pak Reyga itu?" tanyanya sambil berbisik.
"Bener, Mbak. Ada apa?"
"Nggak cocok. Kael terlalu manis untuk jadi anak CEO gila itu."
Suster di sebelahnya mengerjap dan agak syok mendengar ocehan Kalla. Melihatnya, Kalla pun hanya bisa nyengir kuda menyadari kebodohannya itu.
Rindu sakit Hati sakit Kalau tidak ingin sakit Jangan merindu Jangan menaruh hati … Kael memasang wajah jijik membaca tulisannya sendiri. Dia mengacak rambut frustasi. Sudah satu jam, tapi tugas membuat puisi belum juga selesai. “Ngapain repot, kan tinggal tanya AI, beres.” Itu usul sesat Jaya kemarin saat Kael menanyakan tugas bahasa Indonesia membuat puisi bertemakan cinta. Gimana bisa nulis cinta, kalau jatuh cinta saja Kael belum tahu gimana rasanya?“Nggak boleh pake AI, Njir. Lo kan tau Pak Roni kek apa.” “Ah gue mah tetep mau pake AI. Bodo amat sama nilai.” “Siap-siap jadi bulan-bulanan di depan kelas kalau gitu.” Kael mencoret tulisannya di kertas. Lalu kembali menulis ulang. Bagaimana cara membuat kata-kata yang selaras, tidak lebay, dan tidak aneh? Sumpah ya. Satu di antara kelemahannya adalah pelajaran mengarang, menulis cerpen atau sejenis. Puisi mungkin hanya beberapa bait, tapi demi apapun sulitnya selangit. Saking konsennya membuat bait, Kael tidak sadar Rer
“Gimana menurut Lo?” Jaya menunjukkan pekerjaannya pada Kael. Sejenak laptopnya pun berpindah ke tangan Kael. “Belum final. Jadi harus lo lihat udah sesuai belum?” Kael memperhatikan dengan seksama pekerjaan Jaya. Dia bahkan mengecek tools dan algoritma yang temannya itu pakai. Tidak berapa lama sudut bibirnya berkedut. “Kemampuan lo di JavaScript kayaknya naik pesat. Lanjutkan,” komen Kael sebelum mengembalikan laptop itu ke Jaya. Kontras saat dirinya mengomel satu jam lalu, sekarang Jaya bisa menyunggingkan senyum lebar. “Pasti dong. Kan terus dilatih. Dan proyek-proyek yang lo kasih ini bikin skill gue tiap hari nambah.” “Gue bisa ajuin lo ikut Coding Bootcamp Le Wagon kalau lo mau.” “Heh, serius?” “Ya. Om Cade biasanya ngirim salah satu pelajar terbaik yang punya potensi kayak lo.” “Jelas gue maulah. Kapan lagi gue bisa ikut berkumpul dengan para programer hebat?” Belum apa-apa Jaya sudah membayangkan keseruan itu. Pengalaman, sharing ilmu, dan mental akan terlatih d
“Beliin kita ini, Bang!” Kaia menunjuk gelang manik-manik dengan warna dominan biru dan pink yang tergantung di etalase. Saat ini mereka berada di tenan aksesoris. Banyak pernak-pernik yang disukai perempuan. Bukan tempat yang Kael sukai, tapi karena membawa tiga perempuan akhirnya dia pasrah saja ketika mereka menariknya ke tenan itu. “Ya udah ambil aja.” Kaia dan Lior sudah berteriak senang ketika penjaga tenan dengan sopan memberitahu bahwa gelang-gelang itu sudah ada pemiliknya. “Di etalase ini semua sudah ada pemiliknya. Kalau yang di rak itu masih free.” Kedua bocah itu terlihat kecewa. Tidak ada yang menarik hatinya di rak yang penjaga itu tunjuk. “Nggak ada model yang sama seperti ini lagi, Kak?” tanya Kael. “Belum ready lagi, Kak. Tapi kalau bahan-bahannya ada.” Mendengar itu sebuah ide terlintas di benak Rere. Gadis itu maju mendekat. “Bahannya semua lengkap kan, Kak?” “Lengkap. Kalau kakaknya mau, bisa meronce di sini juga.” Itu ide yang Rere maksud. Selain
Jika Kael mengajak Lior ke tenan sisi kiri, Rere mengajak Kaia ke tenan sisi kanan. Mereka tidak berjalan bersama. Mengenyahkan rasa malu Kael langsung menarik tangan Lior keluar dari pusat kesehatan. Tersisa Kaia yang masih tersenyum aneh pada teman abangnya itu. “Kalau Kak Re mau ajak aku ke mana?” tanya Kaia begitu kembarannya dan sang Abang melesat pergi. “Uhm…” Rere berpikir dengan gugup hingga kata bazar muncul di kepalanya. “Kita ke bazar! Iya, kita ke sana aja.” Dia menyambar tangan Kaia dan bergegas keluar juga. Namun ketika melihat Kael ternyata ada di bazar juga, Rere mengambil jalan lain. “Ki-kita ke sebelah sana aja.” “Oke.” Kaia menurut saja. Mau lihat sampai sejauh mana mereka saling menghindar. “Kakak mau es krim!” seru Rere menuding tenan penjual es krim dan gelato. Dia butuh sesuatu yang dingin, biar otaknya yang konslet bisa lebih fresh. Kaia menyentak tangan Rere. “Ayo!” Di sisi lain, Kael dan Lior sedang berada di tenan penjual takoyaki. Sepanjang
“Ini acara pekan olahraga apa lomba 17-an?” Kael menatap sarung yang diberikan panitia. Itu adalah sarung yang akan dia dan Rere gunakan sebagai perlengkapan lomba balap sarung berpasangan. “Sama aja, kan? Anggap aja kita lagi lomba lari. Lari kan masuk olahraga,” sahut Rere. Jika Kael terlihat keberatan satu sarung berdua dengannya, dia biasa saja. Hanya untuk meramaikan apa salahnya berpartisipasi?“Beda dong, Re. Kita bakal—” Kael spontan berhenti bicara saat merasa kata-kata yang akan dia keluarkan mungkin bisa terdengar aneh. “Bakal apa?” tanya Rere mengangkat alis, menatap pemuda itu yang tiba-tiba terlihat salah tingkah. Gadis itu menarik napas panjang, mendekati lelah. Dia merebut sarung dari tangan Kael. “Udah deh, tinggal lakuin aja biar cepet selesai.”Sementara panitia sudah meminta para orangtua yang ikut lomba mengenakan sarung itu secara bersama. Kael agak kesal lantaran Rere terlihat baik-baik saja sementara dirinya gusar sendirian. Harusnya tidak begini. Serius g
Kael merasa kesal pada diri sendiri karena sepanjang acara berlangsung, tatapnya tidak berhenti memantau keberadaan Rere. Mulai ketika senam bersama, alih-alih memperhatikan tim pemandu senam, dia malah mengawasi Rere. Sehingga gerakan yang dia buat asal-asalan. Tidak seperti Rere yang begitu lincah dan energik. Kaia dan Lior kebagian lari estafet bersama tiga temannya. Sementara orang tua harus menyemangati anak-anak mereka. “Kael, pake ini.” Rere membentangkan pita merah. Di kepalanya sudah terikat pita yang sama. Kael mengernyit, terlihat ogah memakainya. “Harus banget pake ini?” tanya dia tampak enggan. Rere berdecak, tidak peduli dengan keengganan Kael dia membalik tubuh laki-laki itu dan maksa memakaikan pita. Namun gadis itu agak kesulitan lantaran tubuh Kael yang terlalu tinggi. Alih-alih menutupi dahi, dia menutupi mata laki-laki itu. “Gue nggak bisa lihat ini,” protes Kael. Alih-alih menutup dahi, Rere malah menutup matanya. Gadis itu tergelak ketika melihat hasilnya
Motor sudah berhenti, tepat di parkiran apartemen. Namun dua manusia beda jenis itu masih belum beranjak turun. Kalla diam, Reyga pun sama. Keduanya seolah sedang menikmati momen tenang bersama. Saat tangan Kalla yang melingkari perut Reyga bergeser ingin lepas, lelaki itu menahannya. “R-Rey,
“Gue harus lihat kondisi villa? Mungkin laptop masih bisa diselametin.” Reyga bergegas keluar. Berusaha mengingat-ingat apakah semua pekerjaannya sudah di-backup.“Eh, gue ikut!” seru Cade menyusul, setelah meminta izin istrinya.Jalan By Pass menuju Tirta Nadi II macet total. Cade mengambil arah j
Aktivitas tambahan Kalla kalau Wima datang ke Bali, dia akan menemani lelaki itu jalan-jalan. Alih-alih mengaudit pekerjaan, Wima malah menyeret Kalla berwisata dengannya. Bos mah bebas.Mulai cari lukisan, atau bahkan furniture khas Bali pesenan ibu pria itu. Setelah muter-muter lihat lukisan, Wim
“Ganesha! Iya, saya ingat? Tunangannya itu CEO Ganesha Group!” Tas yang Kalla bawa terlepas begitu saja dari tangannya. Tubuhnya mendadak lunglai, tak bertenaga. Matanya yang berkaca-kaca mengikuti pergerakan wanita oriental itu memasuki restoran. Aneh sekali. Seharusnya ini sudah tidak mempengaru







