Home / Romansa / Hello, Nanny! / S2.50. Boneka Domba Kecil

Share

S2.50. Boneka Domba Kecil

last update publish date: 2026-07-28 23:14:52

“Ini sih best banget! Mirip yang dijual di bakery terkenal itu loh.”

“Hu-um. Aku juga suka. Kak Re, ajarin kita dong. Anniversary mama sama papa entar kita pengin kasih kejutan bikin kue sendiri.”

Senyum lebar Rere merekah ketika tahu dua kembar itu menyukai kue yang dia buat.

“Boleh. Nanti kakak ajarin ya.”

Di sebelah Kael, Cade mencebikkan bibir. “Kalian bisa menikmati kue enak ini karena Om-loh. Tapi nggak ada yang berterimakasih sama Om.”

Lior dan Kaia tertawa. Tapi kemudian mereka serent
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Iya mau tak mau karena takut kepanjangan hihi
goodnovel comment avatar
Anies
aaah ikut mewek kan jadinya... deg deg an sih takut baget dikit lagi tamat.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   S2.54. First Kiss

    Sudah pukul tujuh malam ketika Kael keluar dari kamar dan melihat Rere masih di rumahnya. Di depan sebuah meja pendek, gadis itu duduk beralaskan karpet. Terlihat sibuk mengerjakan tugas sekolah. Mungkin PR. Wajahnya begitu serius hingga tidak menyadari kehadiran Kael. Biasanya gadis itu akan menguncir atau mencepol rambutnya. Namun malam ini rambutnya yang lurus dibiarkan tergerai, melewati bahu. Kael tersenyum sebelum beranjak ke dapur untuk mengambil air minum. Saat melihat jus kemasan kotak di kulkas, dia mengambilnya. Dari dapur laki-laki itu bergerak menghampiri Rere. Ikut duduk bersila di depan gadis itu. Barulah Rere menyadari kehadirannya. Gadis itu mengangkat wajah sejenak sebelum kembali ke buku dan alat tulisnya. “Belum selesai?” tanya Kael melirik apa yang sedang Rere kerjakan. “Belum, sedikit lagi,” sahut Rere tanpa menoleh. Namun ketika sebuah jus kemasan tiba-tiba ada di depan matanya, dia kembali mendongak. “Emang nggak capek? Jagain si kembar, bantu mereka bua

  • Hello, Nanny!   S2.53. Cemburu

    Kael mendengus ketika dari balik meja cashier and order, Rere melambaikan tangan ke arah mejanya. Bukan spesifik melambai padanya, tapi juga ke Om Cade dan Jaya. Sore ini Kael menunjukkan draft final proyek yang dia buat dibantu Jaya kepada Om Cade. Jika eksekusi berhasil maka proyek itu bisa dikatakan goal. Dan dia memilih meeting di kafe tempat Rere part time.“Temen kamu kenapa, Jay? Muka kok asem mulu. Harusnya seneng dong proyeknya bentar lagi kelar,” komen Cade sambil mengutak-atik laptop. Sesekali dia akan menyeruput kopi pahitnya.“Biasa, Om. Lagi tantrum gara-gara gebetannya digondol kucing garong.” Cade yang lagi fokus sampai harus mengangkat wajah mendengar jawaban Jaya. Dia menatap Kael, lalu sadar jika anak itu memang sudah tumbuh dewasa. “Kamu punya gebetan?” tanya lelaki itu pelan dan serius. Kael berdecak. “Nggak usah dengerin Jaya. Dia emang suka cari sensasi dengan gosip.” Di sebelahnya Jaya tak terima. “Gue nggak gosip ya. Nggak liat itu mata lo sampe jereng ga

  • Hello, Nanny!   S2.52. Kalah Telak

    “Ini cream cheese-nya semua, Kak?” “Iya semua. Campur sama gula yang udah kakak siapin ya.” “Oke. Habis itu?” “Tambahin telur.” Rere sedang mengajari Lior dan Kaia membuat burn cheesecake. Katanya dua bocah itu mau bikin kue sendiri pas anniversary mama papanya yang tinggal sebentar lagi. Ketika mereka sibuk di dapur, tanpa suara Kael masuk. Perlahan dia mengintip kegiatan mereka dengan berpura-pura mengambil air minum di kulkas. Tapi daripada melihat apa yang dua adiknya lakukan, dia lebih sering curi-curi pandang ke Rere yang tampak serius. “Masukin telurnya satu-satu ya. Satu aduk dulu sampai rata, baru masukin lagi.”“Oke.” Dua bocah itu juga kelihatan serius. Bikin Kael refleks berdecih. Tumben sekali dua anak itu tidak bikin kekacauan. Bia—“Awas, hati-hati!” teriak Rere panik saat Lior nyaris menumpahkan adonan. Beruntung wadah itu tidak jadi jatuh karena Rere segera menahannya. Kael yang ikut terkejut melepaskan napas lega. Baru saja dia berkata dalam hati soal adiknya,

  • Hello, Nanny!   S2.51. Gebetan

    “Cuma Sabtu Minggu gue. Iya, kebagian sift sore sampe malam.”Telinga Kael menegak mendengar potongan percakapan Rere yang sedang menelepon. Entah ke siapa.Diam-diam lelaki itu makin merapatkan diri. Ingin mendengar lebih banyak. Ya, Kael tahu menguping itu tidak baik. Tapi jiwa keponya meronta-ronta jika itu menyangkut soal Rere.“Hu-um, datang aja. Gue di sana kok. Oke, thanks, gue tunggu, Dri.”Dri? Dri itu maksudnya Drian? Kael mengerjap. Jadi mereka sudah di tahap saling telponan. Tanpa sadar napas Kael berembus kesal. Hidung bangirnya mengembang. Asap bahkan mengebul keluar dari telinganya. “Dasar genit,” gerutunya pelan sebelum bergerak kembali ke kamar. Dia yang akan mengambil minuman di kulkas urung. “Loh, mana minumannya?” tanya Jaya melihat Kael masuk kamar lagi tanpa membawa apapun seperti rencananya. Dengan muka bete, Kael menjatuhkan diri di kursi putarnya. “Ambil sendiri Lo deh, males gue.”“Dih, lo ngapa dah. Angin-anginan banget jadi orang.” “Ngeselin banget si Re

  • Hello, Nanny!   S2.50. Boneka Domba Kecil

    “Ini sih best banget! Mirip yang dijual di bakery terkenal itu loh.”“Hu-um. Aku juga suka. Kak Re, ajarin kita dong. Anniversary mama sama papa entar kita pengin kasih kejutan bikin kue sendiri.” Senyum lebar Rere merekah ketika tahu dua kembar itu menyukai kue yang dia buat. “Boleh. Nanti kakak ajarin ya.”Di sebelah Kael, Cade mencebikkan bibir. “Kalian bisa menikmati kue enak ini karena Om-loh. Tapi nggak ada yang berterimakasih sama Om.”Lior dan Kaia tertawa. Tapi kemudian mereka serentak berseru. “Terima kasih …” Tepat ketika Cade menyambut dengan senyum manis, dua bocah itu menoleh ke arah Rere. “Kak Rere!” Senyum Cade sontak raib, dan wajah lucunya yang cemberut membuat si kembar tergelak lagi. “Dasar Kalla cilik. Awas ya, kalau kalian minta tambahan uang jajan, nggak bakal Om kasih,” balas Cade bersungut-sungut. Hingga tawa bocah itu berhenti seketika. “Iya, iya. Makasih Om Cade ganteng!” “Cih, kalau ada maunya aja.”Interaksi mereka membuat yang lain ikut tertawa baha

  • Hello, Nanny!   S2.49. Belasan Tahun Silam

    Cade berdiri di depan sebuah rumah yang dulu sering dia datangi. Terakhir datang ke sini 3 tahun lalu. Meskipun tidak jauh dari rumah sang Kakak—Reyga—dia tidak pernah mengunjungi lagi. Tepatnya sejak Mella memutuskan mundur dari hidupnya. Tiga tahun lalu saat dia datang lagi, bukan sebuah kesengajaan. Dan karena hal itu pula dirinya tahu bahwa Mella ternyata sudah meninggal. Cade sangat terpukul mendengar kabar itu. Terlebih Bu Arum—ibunya Mella—memberitahu tentang alasan sebenarnya Mella memutuskan pergi meninggalkan dirinya dulu. Rasa menyesal dan sakit kontan menggerogoti hatinya lagi, seperti belasan tahun silam. “Aku mau menikah.”Suara Mella kala itu terngiang lagi. Sesuatu yang membuat Cade semangat karena akhirnya wanita itu memutuskan hal yang tepat. “Serius, Sayang?” Tatap Cade berbinar saat itu. Tidak menyangka lamarannya akhirnya diterima. Dia sontak menggenggam tangan Mella. “Secepat mungkin aku bakal siapin semua. Seperti kata kamu, kita nggak perlu acara yang mewah.

  • Hello, Nanny!   34. Kram

    Entah sudah berapa jam Kalla tertidur, yang jelas ketika bangun hanya ada Kael. Itu pun anak itu tengah terlelap. Kalla menyeret langkah ke dapur ketika tenggorokannya terasa kering. Lalu ketika dia berhasil mengosongkan isi gelas, perhatiannya teralihkan. Dia mendengar kecipak air di area kolam re

  • Hello, Nanny!   10. Sudah Jatuh, Ketimpa Tangga

    Kalla menyempatkan diri mampir ke mini market sebelum kembali ke apartemen. Dan baru saja dirinya akan mengambil beberapa lolipop kesukaannya, bunyi notifikasi ponsel terdengar. Sebuah pesan masuk dari Reyga 'Ingat, jangan kasih Kael makanan atau snack sembarangan.'Secara otomatis Kalla menarik

  • Hello, Nanny!   9. Hello, Nanny!

    Kael hanya bersekolah sampai hari Jumat dengan tiga seragam yang berbeda. Di salah satu sekolah internasional yang Kalla tahu SPP bulanannya ngalahin UMR Jakarta. Artinya hari weekend anak itu akan full di rumah. Kecuali hari ini, Reyga menuntut Kalla harus membuatkan breakfast dan bekal untuk boc

  • Hello, Nanny!   8. Beautiful Nanny!

    Tidak ada rencana telat di hari pertama kerja. Namun itu yang Kalla alami. Rencananya pukul enam pagi dia sudah harus ada di stasiun, tapi kenyataannya sudah setengah tujuh lebih dia baru keluar kamar. Dengan langkah tergesa dia menghampiri ibunya yang sedang berkutat di dapur. Bahkan ibu pun belum

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status