تسجيل الدخولKael mendengus ketika dari balik meja cashier and order, Rere melambaikan tangan ke arah mejanya. Bukan spesifik melambai padanya, tapi juga ke Om Cade dan Jaya. Sore ini Kael menunjukkan draft final proyek yang dia buat dibantu Jaya kepada Om Cade. Jika eksekusi berhasil maka proyek itu bisa dikatakan goal. Dan dia memilih meeting di kafe tempat Rere part time.“Temen kamu kenapa, Jay? Muka kok asem mulu. Harusnya seneng dong proyeknya bentar lagi kelar,” komen Cade sambil mengutak-atik laptop. Sesekali dia akan menyeruput kopi pahitnya.“Biasa, Om. Lagi tantrum gara-gara gebetannya digondol kucing garong.” Cade yang lagi fokus sampai harus mengangkat wajah mendengar jawaban Jaya. Dia menatap Kael, lalu sadar jika anak itu memang sudah tumbuh dewasa. “Kamu punya gebetan?” tanya lelaki itu pelan dan serius. Kael berdecak. “Nggak usah dengerin Jaya. Dia emang suka cari sensasi dengan gosip.” Di sebelahnya Jaya tak terima. “Gue nggak gosip ya. Nggak liat itu mata lo sampe jereng ga
“Ini cream cheese-nya semua, Kak?” “Iya semua. Campur sama gula yang udah kakak siapin ya.” “Oke. Habis itu?” “Tambahin telur.” Rere sedang mengajari Lior dan Kaia membuat burn cheesecake. Katanya dua bocah itu mau bikin kue sendiri pas anniversary mama papanya yang tinggal sebentar lagi. Ketika mereka sibuk di dapur, tanpa suara Kael masuk. Perlahan dia mengintip kegiatan mereka dengan berpura-pura mengambil air minum di kulkas. Tapi daripada melihat apa yang dua adiknya lakukan, dia lebih sering curi-curi pandang ke Rere yang tampak serius. “Masukin telurnya satu-satu ya. Satu aduk dulu sampai rata, baru masukin lagi.”“Oke.” Dua bocah itu juga kelihatan serius. Bikin Kael refleks berdecih. Tumben sekali dua anak itu tidak bikin kekacauan. Bia—“Awas, hati-hati!” teriak Rere panik saat Lior nyaris menumpahkan adonan. Beruntung wadah itu tidak jadi jatuh karena Rere segera menahannya. Kael yang ikut terkejut melepaskan napas lega. Baru saja dia berkata dalam hati soal adiknya,
“Cuma Sabtu Minggu gue. Iya, kebagian sift sore sampe malam.”Telinga Kael menegak mendengar potongan percakapan Rere yang sedang menelepon. Entah ke siapa.Diam-diam lelaki itu makin merapatkan diri. Ingin mendengar lebih banyak. Ya, Kael tahu menguping itu tidak baik. Tapi jiwa keponya meronta-ronta jika itu menyangkut soal Rere.“Hu-um, datang aja. Gue di sana kok. Oke, thanks, gue tunggu, Dri.”Dri? Dri itu maksudnya Drian? Kael mengerjap. Jadi mereka sudah di tahap saling telponan. Tanpa sadar napas Kael berembus kesal. Hidung bangirnya mengembang. Asap bahkan mengebul keluar dari telinganya. “Dasar genit,” gerutunya pelan sebelum bergerak kembali ke kamar. Dia yang akan mengambil minuman di kulkas urung. “Loh, mana minumannya?” tanya Jaya melihat Kael masuk kamar lagi tanpa membawa apapun seperti rencananya. Dengan muka bete, Kael menjatuhkan diri di kursi putarnya. “Ambil sendiri Lo deh, males gue.”“Dih, lo ngapa dah. Angin-anginan banget jadi orang.” “Ngeselin banget si Re
“Ini sih best banget! Mirip yang dijual di bakery terkenal itu loh.”“Hu-um. Aku juga suka. Kak Re, ajarin kita dong. Anniversary mama sama papa entar kita pengin kasih kejutan bikin kue sendiri.” Senyum lebar Rere merekah ketika tahu dua kembar itu menyukai kue yang dia buat. “Boleh. Nanti kakak ajarin ya.”Di sebelah Kael, Cade mencebikkan bibir. “Kalian bisa menikmati kue enak ini karena Om-loh. Tapi nggak ada yang berterimakasih sama Om.”Lior dan Kaia tertawa. Tapi kemudian mereka serentak berseru. “Terima kasih …” Tepat ketika Cade menyambut dengan senyum manis, dua bocah itu menoleh ke arah Rere. “Kak Rere!” Senyum Cade sontak raib, dan wajah lucunya yang cemberut membuat si kembar tergelak lagi. “Dasar Kalla cilik. Awas ya, kalau kalian minta tambahan uang jajan, nggak bakal Om kasih,” balas Cade bersungut-sungut. Hingga tawa bocah itu berhenti seketika. “Iya, iya. Makasih Om Cade ganteng!” “Cih, kalau ada maunya aja.”Interaksi mereka membuat yang lain ikut tertawa baha
Cade berdiri di depan sebuah rumah yang dulu sering dia datangi. Terakhir datang ke sini 3 tahun lalu. Meskipun tidak jauh dari rumah sang Kakak—Reyga—dia tidak pernah mengunjungi lagi. Tepatnya sejak Mella memutuskan mundur dari hidupnya. Tiga tahun lalu saat dia datang lagi, bukan sebuah kesengajaan. Dan karena hal itu pula dirinya tahu bahwa Mella ternyata sudah meninggal. Cade sangat terpukul mendengar kabar itu. Terlebih Bu Arum—ibunya Mella—memberitahu tentang alasan sebenarnya Mella memutuskan pergi meninggalkan dirinya dulu. Rasa menyesal dan sakit kontan menggerogoti hatinya lagi, seperti belasan tahun silam. “Aku mau menikah.”Suara Mella kala itu terngiang lagi. Sesuatu yang membuat Cade semangat karena akhirnya wanita itu memutuskan hal yang tepat. “Serius, Sayang?” Tatap Cade berbinar saat itu. Tidak menyangka lamarannya akhirnya diterima. Dia sontak menggenggam tangan Mella. “Secepat mungkin aku bakal siapin semua. Seperti kata kamu, kita nggak perlu acara yang mewah.
“Terus kelapa-kelapa ini gimana, Kael?” Kael membeli empat biji kelapa muda atas permintaan Vianna. Tapi saat gadis itu pergi, dia tidak membawa satu pun dari kelapa-kelapa itu. “Kupas aja. Kita bikin es kelapa muda.” “Emang lo bisa?”“Tinggal kasih susu kental manis sama es kan? Lo ambil air sama daging kelapanya dulu gih.”Rere yang lagi menuang bubur jagung ke mangkok menatap heran. “Lagian kenapa sih beli kelapa sebanyak itu? Repot lagi, beli es kelapa yang udah jadi kan ada.”“Vianna maunya yang degan gini. Dagingnya muda dan tebal,” sahut Jaya lantas mengambil emang butir kelapa sekaligus dan dibawa ke belakang rumah. Rere sampai menghentikan kegiatan menyendok bubur mendengar itu. Jadi ini lagi-lagi soal Vianna? Gadis itu melirik Kael yang tampak lebih banyak menekuk muka sejak Vianna pulang. “Nggak usah sedih gitu kali, Bang. Kan Abang satu sekolah sama Kak Vianna. Ntar juga ketemu,” celetuk Lior yang sudah menyantap bubur jagung keju lebih dulu. “Iya. Kan masih ada Kak R
"Terima kasih sudah mengantar anak saya," ucap Reyga tanpa ekspresi. Rasanya Kalla ingin kayang mendengar pria itu ternyata tahu berterima kasih. Tadinya dia kira, pria itu akan pergi begitu saja setelah menemukan anaknya. Ternyata Kalla sal—"Lain kali kali jangan kasih anak orang sembarang makan
Kehadiran Kael di tengah kegalauan karena gagal interview membuat perasaan Kalla sedikit membaik. Dia bisa melupakan hari menyebalkan ini sejenak saat bermain dengan anak itu. Terlihat dari fisiknya, anak itu bugar dan pintar, selain ganteng tentu saja. Entah apa yang terjadi sampai orang tuanya m
Di bawah kucuran air shower ruang ganti, keduanya saling membenturkan dahi dan tertawa. Tetesan air dingin melewati tubuh keduanya yang masih saling menempel. “Kamu gila, Rey,” ucap Kalla di tengah kekehannya. “Tapi ini menantang kan?” Sialnya yang lelaki itu bilang benar. Sensasi yang Kalla dapa
"Maaf, Anda tidak lolos. Silahkan keluar." Sebuah kalimat yang mulai akrab dengan Kalla, tapi ternyata masih saja terdengar menyakitkan. Gadis 23 tahun itu membuang napas kasar, sambil melempar tatapan sebal sebelum berjalan keluar dari ruangan interview dengan perasaan luar biasa dongkol. Kalla m







