登入Keesokan paginya, Talia mengirim pesan ke grup kantor Intimate Beauty untuk meminta izin datang setelah jam makan siang. Ia beralasan perlu mengurus urusan keluarga terlebih dahulu dan akan langsung menuju Salon Hestia sore nanti, sekalian membantu operasional hingga tutup. Tidak lama kemudian Boris membalas singkat, Take your time, membuat Talia mengembuskan napas lega. Sesudah mandi dan berganti pakaian sederhana, Talia mampir ke dapur membantu Janette menyiapkan sarapan. Dua mangkuk bubur ayam, potongan buah, dan secangkir teh hangat ia tata di atas nampan kayu. Janette hanya mengusap lengan putrinya pelan sebelum membiarkannya berjalan menuju kamar yang berada di ujung lorong lantai dua. Pintu kamar Oma Claire terbuka sedikit. Perempuan tua itu sudah duduk bersandar di ranjang sambil memandangi taman melalui jendela yang dibuka separuh, seolah sengaja menunggu cucunya datang. Rambut putihnya yang tipis tersisir rapi, sementara garis-garis tua di wajahnya justru membuat senyumnya
Hujan masih mengguyur ketika Talia memarkirkan motornya di halaman rumah keluarga De Rucci. Rambutnya menempel di pipi, jaketnya basah kuyup, sementara napasnya masih berantakan akibat pertengkaran yang belum benar-benar selesai bersama Patra. Gerald yang baru hendak mematikan lampu ruang keluarga langsung bangkit dari sofa begitu melihat putrinya berdiri gemetar di depan pintu. "Talia?" seru Gerald kaget. Janette yang sedang membawa secangkir teh dari dapur ikut menoleh dan buru-buru menghampiri anak bungsunya. "Ya Tuhan... kenapa kamu hujan-hujanan begini?" Talia memaksakan senyum tipis. "Aku cuma... pengin pulang sebentar." Janette tidak bertanya apa-apa lagi. Ia hanya menggenggam tangan putrinya yang sedingin es lalu mengajaknya masuk, sementara Gerald mengambil handuk besar dari lemari dekat ruang tamu dan menyampirkannya ke bahu Talia. "Ayah bikinin air hangat dulu." "Nggak usah, Yah." Gerald tetap berjalan ke dapur. "Boleh kuat di kepala, tapi badan jangan diajak keras ke
Hujan turun tidak lama setelah pintu rumah menutup di belakang Talia. Patra berdiri cukup lama di dekat rak sepatu, memandangi payung hitam yang biasa mereka pakai bergantian ketika salah satu lupa membawa jas hujan. Jemarinya sempat bergerak hendak mengambil gagangnya, tetapi suara Talia beberapa jam lalu menggema lagi di kepalanya—cukup tunggu di rumah saja. Ia terduduk di sofa ruang tamu yang belum lama mereka beli, sementara air hujan memukul genting dan jendela tanpa jeda. Rumah yang beberapa hari lalu terasa seperti permulaan hidup baru kini terdengar terlalu luas hanya karena satu orang keluar. Patra baru sadar, suara napas Talia rupanya selama ini memenuhi banyak sudut rumah yang tidak pernah ia sadari. Patra membuka ponselnya, menatap nama Talia beberapa detik sebelum akhirnya menekan ikon panggilan. Nada sambung pertama berbunyi panjang, lalu berhenti begitu saja tanpa jawaban. Ia menarik napas, mengusap wajahnya sendiri, kemudian mencoba sekali lagi. Nada sambung kedua t
Pagi itu, apartemen terasa terlalu sunyi. Talia sudah bersiap berangkat kerja sejak subuh, tetapi tidak sekali pun mengucapkan selamat pagi atau sekadar bertanya apakah Patra sudah sarapan. Patra hanya mendengar bunyi lemari dibuka, laci ditutup, lalu langkah kaki yang bergerak dari kamar menuju ruang tamu.Biasanya Talia akan mampir sebentar ke meja makan, mengusap rambut Patra sebelum berangkat. Hari itu tidak ada apa-apa selain bunyi gelas yang diletakkan pelan di wastafel. Patra tahu, diam seperti ini jauh lebih menakutkan dibandingkan pertengkaran.Sampai menjelang siang, mereka tetap berada di bawah atap yang sama tanpa benar-benar hidup di ruang yang sama. Patra mencoba menyibukkan diri membalas revisi naskah klien, sedangkan Talia berkali-kali keluar masuk kamar sambil memeriksa dokumen kantor. Tidak ada percakapan, bahkan ketika mata mereka sempat bertemu.Menjelang sore, Talia akhirnya menghampiri meja kerja Patra. Tanpa duduk, perempuan itu menyodorkan ponselnya begitu saja
Suasana di meja mereka tidak benar-benar pulih setelah percakapan tadi. Odi kembali menatap layar laptopnya, Nero meminum kopi yang mulai dingin, sementara Patra berkali-kali menghapus lalu mengetik ulang balasan email yang sama. Jari-jarinya bergerak, tetapi pikirannya sama sekali tidak berada di depan monitor. Nero akhirnya menutup tabletnya lebih dulu. Ia memasukkan pulpen ke dalam tas selempangnya, lalu berdiri tanpa banyak suara. "Gue ngerokok bentar," pamitnya singkat sebelum berjalan menuju tangga menuju rooftop. Patra mengikuti sosok Nero dengan pandangan kosong. Ia ingin memanggilnya, tetapi tenggorokannya terasa mengering. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia sadar beberapa kalimat yang keluar dari mulutnya tadi terdengar jauh lebih kejam daripada yang ia maksudkan. Odi mengembuskan napas panjang sambil menutup laptopnya. "Pat," panggilnya pelan. Patra menoleh tanpa tenaga. "Nyusul sana." Patra mengerutkan dahi. "Buat apa?" "Karena jelas dia lagi nahan sakit h
Pagi itu Patra dan Odi kembali memilih bekerja dari kafe kecil di seberang kantor baru Talia. Suasana jauh lebih tenang dibanding biasanya karena sebagian besar pelanggan masih sibuk dengan rapat daring masing-masing. Patra sibuk membalas email klien ghostwriting, sedangkan Odi sedang menyusun materi promosi kelas storytelling pertama agensi mereka. "Kopi dua, ya, Kak!" terdengar suara yang sudah mulai dikenali Patra. Billy berdiri di depan meja kasir sambil mengangkat empat gelas kosong yang digenggam di sela-sela jemarinya. Begitu melihat Patra, matanya langsung berbinar seperti baru bertemu sekutu seperjuangan. Ia buru-buru menghampiri meja mereka sambil menunjuk ke arah gedung Intimate Beauty. "Kak Patra!" Patra mengangkat wajah dari laptopnya. "Halo." Billy menarik kursi kosong tanpa sungkan. "Gue tadi hampir kalah cepet sama Stella!" Odi langsung berhenti mengetik. "Hah?" Billy menggeleng keras sambil memukul pahanya sendiri pelan. "Gue udah hafal polanya sekarang. Begitu
Patra sudah tahu Talia akan pulang lebih malam dari biasanya. Sejak pagi, tunangannya itu beberapa kali mengeluhkan jadwal monitoring karyawan baru Intimate Beauty yang mendadak padat karena beberapa divisi sedang melakukan evaluasi triwulanan. Karena itu, ketika jam menunjukkan pukul tujuh malam d
Patra datang lima belas menit lebih awal dari waktu yang dijanjikan Talia. Ia memilih duduk di bangku panjang dekat pintu masuk restoran sambil sesekali mengecek jam di ponselnya. Di luar gedung, lampu-lampu kota mulai menyala dan memantul di kaca jendela seperti kumpulan bintang yang tersesat ke p
Sabtu pagi itu Patra mematikan alarm sebelum bunyinya sempat mengganggu Talia. Ia menoleh ke sisi kasur dan mendapati tunangannya masih tertidur miring membelakanginya. Cahaya matahari yang masuk dari celah gorden membuat ujung rambut Talia terlihat lebih cokelat dari biasanya.Patra tersenyum kec
Archie sudah menagih kehadiran mereka sejak tiga hari lalu. Karena itulah Sabtu sore itu Patra dan Talia berakhir menginap di rumah Artemis dan Cassandra, sebuah rumah yang selalu terasa lebih hidup daripada ukurannya sendiri.Begitu mereka datang, Archie langsung menyeret Talia ke meja belajar. An







