LOGIN“What the f*ck…?” That was all I could say when I found myself falling for the very same man who was pulling me into the dark.
View More"Arghhh ...!"
Seorang anak perempuan berteriak sebelum tubuhnya terpental dan jatuh ke aspal. Tubuh kecil itu tergeletak dan berlumuran darah. Untungnya, kepalanya disangga oleh tas yang dibawanya, tetapi anak itu tidak mengerang atau menangis.
"Anda menabrak anak kecil, Bos." William melihat dengan matanya sendiri bahwa gadis kecil itu terhempas.
Seorang pria berkemeja putih keluar dari mobil dengan tergesa-gesa, napasnya tersengal-sengal saat melihat gadis kecil itu tergeletak dan berlumuran darah.
Pria yang keluar dari sisi kiri mobil hanya bergumam dalam hati ketika melihat gadis kecil yang ditabrak bosnya. 'Alana.'
Pria yang dipanggil bosnya itu membopong tubuh Alana. "Willy, kamu yang menyetir. Cepat!" Henry memerintahkan sebelum masuk ke dalam mobilnya.
"Oke, Bos." William memacu mobilnya membelah jalanan kota. Beruntungnya, jalanan tidak macet meski ramai dengan kendaraan, tapi lancar.
Henry, CEO BARA Corporation, masih terlihat muda dan tampan di usianya yang sudah berkepala tiga. Pria itu terus memandangi wajah sang anak yang lemah dan tak berdaya dalam gendongannya akibat kelalaiannya saat mengemudikan mobil.
"Bos, apakah anak itu masih bernapas?" William melirik sekilas ke kaca spion untuk melihat kondisi Alana, lalu kembali fokus menyetir. Tidak dipungkiri, dia juga begitu khawatir dengan kondisi anak itu.
William tetap berusaha untuk fokus, meskipun pikirannya tertuju pada ibu dari anak yang ditabrak oleh bosnya.
'Bagaimana saya menjelaskan semua ini? Pria yang duduk di kursi pengemudi hanya bisa bergumam dalam hati. Dia tidak memberi tahu bosnya bahwa dia mengenali gadis kecil itu.
Henry menatap wajah gadis itu, yang berada di pangkuannya. Gadis kecil itu masih terlihat cantik dan manis, meskipun dia sangat pucat.
Pria yang mengenakan kemeja putih berlumuran darah itu meletakkan jari telunjuknya di bawah hidung Alana. Ia menghela napas lega ketika masih merasakan napas anak itu.
Tidak lama kemudian, mereka tiba di rumah sakit. Perawat membawa Alana ke ruang gawat darurat. Henry dan William bergegas menuju brankar yang didorong oleh perawat.
Perawat memasukkan Alana ke ruang gawat darurat. Henry menunggu di luar ruang gawat darurat. Dia takut sesuatu akan terjadi pada anaknya. Jika sesuatu yang salah terjadi, dia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.
William mendekati bosnya, yang berdiri di pintu ruang gawat darurat. "Bos, lebih baik kita beritahu keluarganya."
"Tuhan, bagaimana mungkin aku bisa lupa, tapi dari mana kita harus mencari tahu? Aku tidak tahu siapa orang tuanya."
Henry teringat akan tas anak yang diberikan oleh perawat kepadanya. Mungkin ada beberapa informasi tentang keluarganya di sini. Henry menyerahkan tas merah muda itu kepada asistennya.
"Baiklah, Bos." William mengambil tas merah muda itu. "Saya akan segera menghubungi orang tua Alana."
"Alana?" Alis Henry berkerut. "Nama anak itu adalah Alana?"
"Ya, Bos," jawab William.
"Bagaimana kamu bisa tahu? Apa kamu mengenalnya?" Henry melontarkan beberapa pertanyaan kepada asistennya.
"Dia punya nama." William menunjukkan nama Alana di tas sekolah berwarna merah muda itu. "Ini pasti nama gadis kecil itu."
"Ya, itu pasti namanya," kata Henry, "kamu cari tahu taman kanak-kanak itu dan tanyakan kepada mereka nomor telepon orang tua Alana," lanjutnya, sambil menunjuk nama sekolah Alana yang tertera di tas sekolahnya.
William mengangguk, lalu pergi meninggalkan atasannya. Setelah jauh dari Henry, William menghubungi ibu kandung Alana.
"Halo... putrimu mengalami kecelakaan. Cepatlah kemari. Saya akan mengirimkan alamatnya." Tanpa menunggu jawaban dari orang di balik telepon, William segera menutup telepon. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan yang pasti akan ditanyakan oleh orang tua Alana.
William kembali ke Henry setelah dia menyelesaikan panggilannya.
"Saya sudah menelepon ibunya," kata William. "Dia akan segera tiba di sini."
"Itu bagus." Hanya itu yang bisa dikatakan Henry. Sekarang, dia berpikir untuk meminta maaf kepada orang tua gadis kecil itu.
Setelah sekian lama, seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan.
"Apakah Anda keluarga dari gadis kecil yang mengalami kecelakaan itu?" tanya Dokter.
"Ya, Dok," jawab Henry, "Saya ayahnya."
William membelalakkan matanya ketika bosnya mengaku sebagai ayah dari anak yang ditabraknya.
"Gadis kecil itu kehilangan banyak darah. Untuk golongan darah AB, di rumah sakit ini kosong," jelas Dokter.
Henry terdiam sejenak setelah mendengar perkataan Dokter.
"Untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut untuk administrasi dan pendaftaran, mohon segera diurus," tambah Dokter lagi sebelum pergi.
Henry merasa sangat gelisah. Pria dewasa itu terus melihat pintu ruang gawat darurat. Henry ingin tahu bagaimana keadaan gadis kecil itu.
Dia tidak melakukannya dengan sengaja. Henry akan mengemudikan mobilnya dengan pelan-pelan jika dia tahu bahwa ini akan terjadi.
Meskipun William sebelumnya telah menawarkan untuk menyetir sendiri, Henry bersikeras untuk pergi. Hasilnya adalah seperti ini karena tidak berhati-hati, dia menabrak seorang gadis kecil.
Dia siap jika orang tua Alana marah kepadanya, dan dia akan bertanggung jawab penuh dan tulus jika orang tua Alana menuntutnya.
Henry terus merasa gelisah. Dia membayangkan wajah seorang gadis kecil dalam pelukannya yang terasa tidak asing baginya.
"Bos, jika Anda ingin pulang, biarkan saya yang mengurus masalah ini," kata William.
"Bagaimana aku bisa pulang jika aku telah menyebabkan gadis kecil itu terluka? Bagaimana jika dia tidak baik-baik saja?" Henry merasa bersalah dan gelisah.
William terdiam. Bibirnya ingin terbuka lagi. Namun, dia mengurungkan niatnya ketika melihat raut wajah bosnya yang semakin gelisah.
Seorang perawat keluar dari ruang gawat darurat, dan Henry segera menghampiri perawat tersebut. "Sus, bolehkah saya masuk?" tanya Henry, ingin sekali bertemu dengan gadis kecil yang ditabraknya.
"Silakan, Pak!" jawab suster dengan ramah.
Henry mengangguk. Ia segera masuk ke dalam ruangan sementara William mengurus pendaftaran Alana.
Henry memasuki ruang gawat darurat dengan perasaan campur aduk. Gugup, takut, dan menyesal. Jantungnya berdegup lebih cepat, dan matanya yang terus fokus pada wajah gadis kecil itu.
Tangan Henry yang besar perlahan-lahan membelai tangan Alana. Tangan gadis kecil itu terasa sedingin es. Kepala dan tangannya dibalut perban.
"Anak manis, bangunlah! Maafkan aku karena telah membuatmu seperti ini. Paman berjanji akan membelikan boneka besar untukmu dan kita akan berteman. Cepat sembuh, ya." Henry mengusap tangan Alana dengan lembut sambil memandangi wajah cantik gadis kecil itu.
"Wajahmu mengingatkanku pada seseorang."
"Alana, bangun-" Ucapan Henry terhenti saat mendengar suara seorang perempuan yang tak asing di telinganya.
"Lana ...!"
Seorang wanita yang sangat Henry kenal kini berdiri di sisi kanan tempat tidur. Terlihat raut wajahnya yang berantakan dan cemas. Henry terkejut ketika mengetahui bahwa wanita itu adalah ibu dari gadis kecil yang ditabraknya.
"Amanda ...."
The line went quiet and I sat there, waiting for a response from my boyfriend. He was still there because I could hear his heavy breathing.I kept my eyes on the road but I was concerned, I’m not going to lie. Why wasn’t he saying anything? Where was the same confidence he had when he had been dealing with Lucia’s son?I was supposed to be able to count on him. “Should I be scared?” I asked him, breaking the silence.“No!” He replied without missing a beat. “You don’t…you should not be scared.” He sighed. “Let me come home and we will talk better, okay? In the meantime, be careful. Please.”“Um…okay.” That was all I could say before the call dropped. I was now even more worried and concerned about the whole thing after the phone call. Sh*t, I think at this point, I might need to go to the police station. Because if Chase was just as spooked as I was when he was literally an assassin, then I don’t think I could count on him to handle this.I sighed, focusing fully on the road and get
My heart ached as I stared at my mom. I needed to tell her the truth, but at the same time, the reminder of it all was bringing me pain.My dad used to be perfect. He used to love me more than anything else. And most of all, I used to feel loved. I really used to feel like I had the world’s best father. But not anymore.Now I was pissed at him. I didn’t hate him, I don’t think you could just suddenly hate someone you loved. But you could be pissed at them and don’t want anything to do with them anymore.“What do you mean by your father’s alive?” My mom asked, her full attention on me, just waiting for me to say something…for me to say anything. I walked over to her again, sitting on her bed. I breathed out a sigh through my nostrils and held my hand in hers. “Dad hired Chase to do a pretend assassination on him. That was before I started dating him though.”“A pretend assassination? We saw him in his casket, Jules. And why would anyone want to do that? Is he CIA or something?” “I
I woke up from the bed and started pacing the room. My heart was pounding and my mind was racing. But it needed to happen. Maybe it was going to help…having another person hear what was going on and taking advice from them. “Jules, you’re scaring me,” My mom said as she adjusted herself on the bed, sitting down with her eyes glued on me. “I have never seen you like this. Not since your dad left us. What’s going on?”I finally stopped pacing the room, I stood still, but I was still shaky. I still had my nerves going crazy but I tried my best to pretend like that wasn’t the case, even though my mom could still see past that all.“Mom…there’s something that I didn’t tell you about Chase.”“Your boyfriend? Did he…did he hurt you?” She looked scared. “No!” I was quick to respond. “He didn’t. Gosh, he would never hurt me.” I sighed, sitting on the old couch not far from the bed. “Then what?” Her eyes still held worry and concern.How was I supposed to tell her? No, really. How? “Um…it’s
I was shaking, my body could tell that I didn’t feel safe and this was a way of it trying to show that. My heart was pounding and I held the phone tightly in my hand as I waited to hear what the man had to say. “Are you really this dumb? Jules, I literally gave you an out. I gave you a chance to cut ties with Chase; a chance to turn away from him and live a happy and quiet life.”“I…” I didn’t even know what to say. Most days for the past few weeks, I think this was the case for me. But could you blame me? Do you have any idea what I had to deal with recently?My life has been crazy, and to be honest, I don’t think I would have it any other way because I have grown as a person and have learned so much. “Jules?”“Yes,” I replied, swallowing hard.“Shut the f*ck up,” He said firmly. “You had just one job, leave Chase alone. There are so many other men out there, better ones. But you chose to be with the devil?”“He’s not the devil,” I said without missing a beat. I have no idea where
I arrived at the apartment complex after a few minutes, killing the engine of the car before taking off my seatbelt and getting out.Once I was out, I closed the door and walked over to the building. I'm not going to lie, I was kind of nervous. What if the connection that Lisa and I had shared yest
I stood there, my heart pounding in my chest and my eyes wide with fear and anxiety. I held my breath, waiting…just waiting to hear the gun being shot.Just waiting to hear the sickening crack of the man’s skull after the gun had been shot.Chase wasn’t even shaky or anything, he pressed the gun ag
Scared. I have always been scared of Lisa. Going to school with her felt like a privilege that I didn’t deserve. She had been the queen of High School. She had it all. She had the looks. She had been the captain of the cheer team and her body was like a goddess. She had all the boys drooling over
I ignored the blonde girl’s attempts to get me to leave. I walked right past her and entered the house. I walked over to the living room and stood there, arms crossed over my chest as I waited for her.I was nervous, if not scared, but I wanted to help her. I really wanted to help her.After a few






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews