LOGINkarena ngeliat antusias dari readerku, khusus malam ini aku post dua bab sekaligus. semoga kalian suka ya. jgn lupa follow dan vote aku ya guys, biar tidak ketinggalan setiap info seputar update terbaru :*
"Eh—Arka, apa—mmph!"Bibir pria itu langsung membungkamnya. Melumatnya bergantian hingga menggigit pelan bibir Naura dengan sensual.Kedua mata Naura seketika membelalak membesar karena terkejut yang luar biasa. Sialan! Monster ini benar-benar nekat menciumnya di tempat umum! Tangannya secara refleks bergerak naik, mencengkeram bagian depan kemeja hitam Arka dengan kuat. Ia sudah berniat penuh untuk mendorong tubuh tegap pria itu menjauh dari dirinya,Namun tepat di detik yang sama, memorinya mendadak memutar bayangan perban putih yang melilit bahu kanan Arka yang baru saja ia bersihkan dengan susah payah beberapa menit lalu di kamar. Gerakannya terhenti. Jemarinya menegang di atas kain kemeja itu, diliputi keraguan yang datang begitu saja.Keraguan singkat bercampur rasa khawatir yang tersembunyi dari Naura itu langsung dimanfaatkan oleh Arka dengan sangat cerdas. Pria itu memperdalam tautan bibir mereka, menarik pinggang Naura semakin erat, dan memiringkan posisi kepala mereka untuk
Rahang Arka mengeras samar. "Belum mengatakan kepada siapa?" tanyanya dingin.Naura tersentak dari lamunannya, buru-buru menata detak jantungnya agar tidak ketahuan. "Vanessa!" kelitnya sedatar mungkin, mencoba bersikap natural."Kamu yakin?""Iya, yakinlah! Memangnya kenapa sih? Vanessa itu manajerku, wajar kan kalau aku harus memberi tahu dia kalau aku mau pergi ke luar negeri!"Arka menatap mata Naura lekat-lekat, seolah sedang menelanjangi seluruh kebohongan yang tersimpan di sana. Ada dorongan ego yang sangat besar dalam diri Arka untuk mencengkeram bahu Naura dan memaksa wanita itu melafalkan nama Dion secara langsung di depan wajahnya. Tetapi, Arka memilih untuk menahannya.‘Belum saatnya.’ Batin Arka."Kopermu sudah disiapkan di bawah," kata Arka, sengaja mengalihkan pembicaraan untuk meredam ketegangan.Naura mengerutkan keningnya bingung. "Koper siapa?""Kopermu, Naura.""HAH?!""Semua pakaian, paspor, kosmetik, dan kebutuhan pribadimu sudah dikemas rapi tadi pagi-pagi sekal
Pelukan itu bertahan lebih lama daripada yang seharusnya. Naura sendiri tidak tahu sejak kapan tubuhnya berhenti memberikan perlawanan. Kedua tangan yang semula bertumpu kaku di dada bidang Arka perlahan mengendur, membiarkan dirinya terkurung dalam dekapan hangat pria yang selama beberapa minggu terakhir berhasil mengacaukan hampir seluruh hidupnya.Aroma sandalwood Arka bercampur samar dengan aroma antiseptik yang masih melekat di tubuhnya. Naura memejamkan mata tanpa sadar. Untuk beberapa saat yang terasa begitu singkat, pikirannya benar-benar terasa kosong. Tak ada kontrak pernikahan. Tak ada Dion. Tak ada skandal yang menghancurkan kariernya.Yang tersisa hanyalah kehangatan aneh yang entah mengapa terasa begitu menenangkan.Nyaman.Begitu kata itu melintas di benaknya, mata Naura langsung terbuka lebar.‘Apasih? Tidak... tidak.’Ia buru-buru menjauh, bergerak gelisah di atas paha Arka sambil berusaha melepaskan diri dari lingkaran tangan pria itu. "Sudah, ah! Lepaskan aku. Panas
Berbanding terbalik dengan mulutnya yang selalu ketus dan galak setiap kali berbicara, gerakan tangan Naura saat menyentuh luka Arka justru begitu lembut, seolah tengah menangani porselen paling rapuh di dunia.Arka mengamatinya tanpa suara. Sorot matanya melembut saat memandangi puncak kepala Naura yang tampak begitu fokus. Kening wanita itu berkerut serius. Bibir bawahnya tergigit tanpa sadar ketika lapisan demi lapisan perban mulai terurai, perlahan memperlihatkan luka yang tersembunyi di balik kain kasa.Begitu luka pada bahu Arka sepenuhnya tersingkap, gerakan Naura mendadak terhenti di udara."Astaga..." desis Naura pelan.Raut wajah cantiknya berubah cemas sekaligus ngeri. Bekas operasi itu masih terlihat baru dan basah. Benang jahitan membentang di sepanjang bahu, sementara beberapa memar keunguan di sekitarnya belum sepenuhnya memudar.Naura mengangkat wajah, menatap Arka dengan pandangan bergetar. "Ini... luka apa sebenarnya? Kenapa bisa mengerikan seperti ini?"Arka bersanda
"Ah..."Belum sempat Naura mengumpulkan tenaga untuk bangkit dari posisi telentangnya di atas kasur, tubuh tegap Arka telah merapat. Pria itu bergerak cepat seolah tak membiarkan celah udara tersisa di antara mereka. Tangan kirinya menumpu kokoh di sisi kepala Naura, menyangga sebagian besar bobot tubuh agar tidak benar-benar menghimpit wanita itu di bawahnya.Kedua mata Naura membulat lebar saat hembusan napas hangat beraroma mint menerpa wajahnya. "Apa yang kamu lakukan, Arka?""Hm?" Arka hanya menggumam rendah, sorot matanya menggelap penuh intensitas."Turun, ihh! Berat tahu!" Naura berusaha menggeser tubuh, tetapi gaun marun yang sempit justru membatasi pergerakannya."Aku bahkan tidak menindihmu, Naura.""Tetap saja! Minggir sana!" Naura memalingkan muka, enggan beradu pandang dengan mata elang yang seolah mampu membaca seluruh isi kepalanya.Arka tetap bergeming. Sorotnya kian lekat mengunci wajah Naura dari jarak sedekat itu. Jemari tangan kanannya terangkat, menyentuh pipi wa
Leon baru saja hendak berbalik ketika suara Arka menghentikan langkahnya."Leon."Pria itu segera menoleh dan berdiri tegap lagi di hadapan meja kerja. "Ya, Tuan?""Bagaimana fitting Naura?"Leon terdiam sesaat. Pandangannya jatuh pada layar tablet di tangan, membaca laporan yang baru dikirim Julian beberapa menit lalu. Baginya menyampaikan hasil fitting gaun terasa jauh lebih sulit dibanding melaporkan transaksi bisnis bernilai miliaran rupiah."Julian baru saja mengirim laporan, Tuan," jawabnya hati-hati.Arka mengangkat sebelah alis. "And then?""Nona Naura menolak hampir seluruh gaun yang dibawa oleh tim desainer."Arka memejamkan mata sembari mengangkat dua jari untuk memijat pelipis. Tak ada sedikit pun keterkejutan di wajahnya. Sejak awal, pria itu sudah menduga Naura pasti akan mencari seribu satu alasan demi menolak segala sesuatu yang berhubungan dengan prewedding mereka."Alasannya?" tanya Arka datar.Leon berdeham kecil sebelum melirik lagi layar tabletnya. "Gaun pertama j
Roda jet pribadi itu menyentuh landasan pacu Bandara Halim Perdanakusuma dengan hentakan halus. Bagi Naura hentakan itu terasa seperti palu yang menghantam dadanya. Udara Jakarta yang lembap dan pekat segera menyeruak masuk begitu pintu kabin terbuka, menggantikan aroma steril jet pribadi yang mewah
Dari jendela jet pribadinya, Arka Rajendra Mahardika memandangi pendar itu tanpa ekspresi. Api di luar sana terasa cocok dengan bara di dalam dadanya.Gelas whisky di tangannya sudah hampir kosong. Ia memutar cairan itu pelan, gerakannya tenang. Di monitor kecil di depannya, terlihat wajah seorang p
Aroma sheet mask lavender yang menenangkan memenuhi kamar luxury suite di The Elysian Hotel. Naura menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, sementara Vanessa sibuk mengoleskan serum ke wajahnya sendiri di sampingnya. Untuk pertama kalinya dalam tiga hari ini, suasana terasa normal atau setidak
Langit Singapore mulai berwarna jingga saat mobil yang ditumpangi mereka keluar dari pusat kota. Naura duduk kaku di kursi penumpang, kedua tangannya menggenggam erat pangkuannya. Sejak tadi ia menatap keluar jendela dengan tatapan kosong, kini berubah menjadi curiga. Jalanan semakin sempit, diapit







