INICIAR SESIÓNMata merah itu memancarkan intimidasi yang kuat, kelompok bandit melihatnya dengan takut. Mereka ingin melepaskan senjata, tapi Gerard sudah menebas mereka semua dengan cepat.
Tidak hanya Aldi yang memerah karena bubuk merica, tapi Gerard juga terlihat sangat marah karena marah. Setelah mengirim para bandit ke neraka, Gerard berlari seperti orang gila. Ia mencari sisa-sisa keluarganya dengan langkah putus asa. Frank menepuk pundak Gerard yang hampir kehilangan akal. “Apa yang kau lakukan? Kendalikan dirimu!” Aldi dan Ronald melihatnya dengan tatapan serius. Gerard mulai tenang dan mengendalikan nafsu membunuhnya. “Maafkan aku, Tuan Muda.” Gerard meminta maaf sambil menundukkan kepala menyesal. Aldi tersenyum tipis dan berkata dengan santai. “Itu wajar, sekarang ayo fokus cari keluargamu. Aku yakin mereka tidak akan mati semudah itu.” Namun rencananya harus terhenti karena suara langkah kaki. Seekor Lizardman muncul sambil membawa sebuah tombak, badannya penuh luka dan matanya terlihat merah. Kondisinya buruk tapi aura intimidasinya masih terpancar jelas. Gerard melihat pedang yang masih menancap di punggung monster. Wajahnya memerah marah, dua pisau langsung dihunuskan. Tanpa menunggu aba-aba dia langsung menerjang monster. Aldi melihatnya sekali lagi, emosi Gerard benar-benar meledak. Dengan sedikit observasi ringan, ia dapat menyimpulkan kemarahan Gerard karena pedang di punggung Lizardman. Tusukan senjata Gerard langsung mengarah ke leher. Meski cepat dan tepat, serangannya dihindari dengan mudah. Kepalan tangan Lizardman langsung menghantam perutnya, Gerard muntah seteguk darah segar dan langsung terbang. Tubuhnya menghantam dinding rumah hingga roboh. Aldi melihat dengan jelas serangan itu tidak cepat tapi Gerard yang mengandalkan kecepatan bisa terserang. Ronald dan Frank segera berlari menolong Gerard yang sekarat. Melihat wajah Gerard yang pucat membuat Frank khawatir, sedangkan Ronald langsung memasang badan menghadap Lizardman. Lizardman yang muncul di Desa Betik adalah monster yang setara dengan Ksatria bintang 3. Meski terluka, dia masih punya fisik yang mengesankan. Namun bukan itu yang istimewa dari Lizardman didepan mereka, monster itu dapat membentuk Prana miliknya menyerupai permen karet transparan. Aldi yang melakukan observasi sejak tadi sudah mendapat gambaran. Dia mulai melangkah maju, tatapannya tenang dan langkah kakinya pasti. Pedang mulai ditarik dari sarungnya, setiap langkahnya memancarkan dominasi mutlak. Sang Monster segera membentuk prana di tangan kirinya, ia melemparkan kemampuannya ke arah lawan. Namun tidak dapat menempel dan langsung jatuh, sebelum sempat bereaksi pandangannya melayang ke langit. Aldi menebas kepala monster dengan satu kali ayunan pedang. Monster itu sudah terluka parah, jadi dia memanfaatkan satu momen saat lawan lengah. Prana lengket itu bisa dipecah dengan zat pemutus rantai polimer atau para ilmuwan menyebutnya Surfaktan. Jadi saat prana lengket mengarah padanya, lengket itu berubah menjadi oli pelumas yang sangat licin. Sehingga ia bisa bergerak dengan sangat cepat dan membuat serangan mematikan. Pergerakan kilat Aldi membuat tiga rekannya ketakutan. Mereka tau Aldi kuat tapi tidak sampai membunuh Lizardman sekali serang. “Frank bereskan ini dulu dan sampai kapan kau terus bersembunyi?” tanya Aldi sambil melihat ke atas pohon. Frank tidak menyadari seorangpun, meski dia langsung menuruti perintah tuannya matanya sempat melihat ke arah pohon dan tidak ada apa-apa. “Kami datang untuk mencari penduduk di desa ini. Apa kau kenal dengannya?” ucap Aldi sambil menunjuk Gerard yang hampir pingsan Sosok bayangan hitam muncul dengan pakaian serba hitam. Meski terkejut ia tetap keluar untuk memastikan sesuatu, setelah melihatnya dengan seksama ia langsung melompat ke arah Gerard sambil membentuk Prana di sekitar tubuhnya. Ronald dengan sigap memasang sikap dan mengarahkan perisainya. Namun matanya terbelalak saat dirinya dilewati tanpa bisa bergerak sedikitpun. Prana berwarna hijau langsung diarahkan ke Gerard. Luka di tubuh Gerard dengan cepat sembuh, keterampilan penyembuhan yang dilihat itu benar-benar gila. Satu kesalahan fatal yang dilakukan sosok itu adalah menggunakan keterampilan penyembuhan di depan Aldi. Senyum tipis terlihat di wajahnya dan satu kata keluar dari mulutnya. “Oh, begitu caranya!” Gerard sadar dia langsung memeluk sosok misterius itu. “Jangan membuatku khawatir.” Semua orang terkejut termasuk Aldi, situasi ini membuat semua orang bingung. “Tuan muda, ini istriku, Grave Grace.” “...” Grace tampak menatap tajam suaminya. “Keluarga Grave bukannya sudah lama hilang, kenapa masih menggunakan nama itu?” Grace tampak marah dan langsung menyerang Aldi. Gerakan kakinya sangat lembut sehingga udara disekitarnya tidak terpengaruh, ayunan pedangnya mengarah ke leher. Namun Aldi dengan santai menjentikkan jarinya ke depan dan cairan hijau terbang ke udara. Cairan hijau itu membeku di udara dalam wujud perisai kristal gelap yang tebal. Bilah pedang menghantamnya dengan keras, mengeluarkan percikan api, namun gagal menembusnya. Aldi tersenyum dibalik perisainya, “Satu hal tentang racun organik... mereka punya struktur karbon yang sempurna untuk membuat perisai anti-peluru,” ucapnya dalam hati. Diluar tampak seperti menciptakan racun begitu mudah, nyatanya Aldi tidak menyiapkan itu dari ketiadaan tapi membuatnya dari udara. Udara di Dunia ini punya banyak zat seperti oksigen, nitrogen, bahkan hidrogen. Dengan pengetahuannya yang mendalam Aldi membayangkan Mekanika Kuantum dan secara ilmiah menciptakan perisai di udara. Meski terlihat tenang, Aldi nyatanya mulai kelelahan. Kapasitas otaknya harus ditingkatkan untuk terus menyiapkan sesuatu seperti ini. Gerard dengan panik berteriak, “Hentikan dia bukan musuh!” Aldi awalnya tidak mendengar, dia mengangkat pedangnya. Lingkungan disekitarnya tampak membeku dan bahkan Grace tidak bisa bergerak, prana miliknya tampak terkunci dan tubuhnya berhenti bergerak. Satu ayunan pedangnya bisa langsung membelah dirinya, Grace tampak panik dan matanya bergetar hebat. Aura Aldi jauh melebihi monster Lizardman, tepat saat dia pasrah akan keadaan. Aura mencekam itu menghilang dan perisai Aldi juga menghilang. “Aku hanya bercanda, Gerard segera selesaikan urusanmu. Aku akan naik ke atas sebentar.” Aldi tampak tenang dan tersenyum tipis tapi di dalam tubuhnya dia merasa sangat lelah. Suara dengan frekuensi rendah diucapkan. “Frank temani aku naik ke gunung. Biarkan Ronald menemani mereka.” Suara itu langsung dikirim ke otak Frank, jadi tidak ada yang bisa mendengarnya. Frank mengangguk dan langsung memberi instruksi ke Ronald. Sedangkan dirinya langsung mengikuti Aldi yang terus berjalan naik ke gunung. Setelah beberapa saat Aldi terjatuh dan nafasnya tak beraturan, tubuhnya lemas dan keringat dingin muncul darinya. “Bantu aku duduk,” ucapnya memberi perintah. Frank kebingungan tapi langsung menurut. Dia akhirnya melihat sisi tak berdaya tuannya dan hanya dia yang diperlihatkan sisi itu. Aldi duduk dan mulai mengatur nafas, Prana dialirkan sesuai jalur dan energinya mulai pulih. Tanpa pikir panjang ia juga mulai menerapkan kemampuan penyembuhan milik Grace. Hanya dalam beberapa menit aura hijau menyelimuti dan fisiknya sembuh dengan kecepatan tinggi. Kelelahan pada otaknya juga perlahan mereda. Hanya dalam 15 menit Aldi siap untuk bertempur lagi. Kemampuan penyembuhan itu sangat membantu, tidak hanya mempercepat pengumpulan prana tapi juga merangsang kemampuan Regenerasinya. [Super Regenerasi telah menjadi skill pasif.] Panel biru itu membuatnya semakin jelas, Aldi tersenyum dan segera berdiri. [Pewarisan Skill telah ditambahkan dalam skill Aktif. Hanya pada pengikut Emas.] Aldi melihat Frank yang tiba-tiba berubah jadi pengikut Emas. Awalnya hanya menjadi pengikut hijau biasa, sekarang emas yang artinya Frank akan mengikutinya apapun yang terjadi. Sebelum mencoba skill aktifnya, Aldi bertanya dengan nada suara pelan. “Frank kenapa kamu mengikutiku?’Kabut panik sempat menyergap benak Aldi saat melihat tubuh Rini perlahan melenyap. Namun, ia memaksakan Prana tetap mengunci pandangannya untuk membedah fenomena yang sedang terjadi. Begitu pendaran cahaya hijau memudar, Aldi melesat mendekat.Tunas pohon kecil di hadapannya mulai bermanifestasi dan tumbuh secara abnormal. Dari yang awalnya hanya setinggi sejengkal tangan, tanaman itu meroket cepat hingga menjadi pohon dewasa setinggi dua meter.DEG!Dentuman misterius itu kembali menggetarkan udara. Aldi menoleh ke segala penjuru, nihil. Penasaran, ia memberanikan diri menempelkan telinganya ke kulit pohon yang masih bergetar hebat tersebut."Tidak mungkin... suaranya berasal dari dalam batang ini?"Sebelum rasa terkejutnya reda, tubuh Aldi mendadak memancarkan pendaran hijau pekat. Kemampuan pasif Regenerasi Super miliknya tiba-tiba meraung liar, menciptakan resonansi paksa yang menyedot sekaligus mengalirkan balik seluruh energi alam di sekitarnya."Cih, fenomena apa lagi ini?!" er
Setelah mengerahkan seluruh perlawanan, Visco akhirnya tumbang dan jatuh pingsan di tanah yang hancur. Di tengah gemuruh stadion, Aldi justru mendongak, menatap lurus ke langit tempat dua sosok pria tua mengawasinya sedari tadi. Sadar keberadaan mereka telah terkunci, kedua sosok misterius yang enggan menampakkan wajah itu langsung melesat pergi.Bersamaan dengan itu, suara komentator membahana mendefinisikan kemenangan mutlak nomor 178. Pihak penyelenggara Arena Mojor kembali menelan pil pahit; mereka merugi hingga sebelas ribu koin emas karena meremehkan Aldi. Di sisi lain, kelompok Bluewings pulang dengan kantong yang dipenuhi ribuan koin emas hasil taruhan.Setelah menerima hadiah utama berupa Inti Monster tingkat tinggi, Aldi menyadari benda itu tidak lagi berguna untuk menembus batas tubuhnya sendiri. Tanpa ragu, ia menyerahkannya kepada Frank. Setelah Frank berhasil menyerap dan menyaring seluruh energi keruh di dalam inti tersebut, sebuah ledakan energi murni tercipta—pria par
Melihat energi hijau yang menyelimuti tubuh Aldi, Visco segera meningkatkan kewaspadaannya dan langsung menerjang maju. Satu hantaman keras ia layangkan murni untuk meremukkan dada musuhnya, namun serangan bertenaga itu mendadak terhenti oleh satu telapak tangan Aldi.Energi hijau di tangan Aldi tidak hanya menahan benturan, tetapi juga meredam seluruh gelombang kejutnya, membuat pukulan telak Visco seketika kehilangan daya ancam.Aldi memutuskan bahwa waktu bermain-mainnya sudah habis. Menolak untuk terus membuang waktu dengan bertahan, ia mengambil alih kendali pertempuran. Tinju kanannya melesat secepat kilat, menghantam dada Visco yang sempat lengah akibat kehilangan momentum.Melihat pertahanan musuhnya terbuka, insting bertarung Aldi bergejolak. Tanpa memberi jeda satu napas pun, ia menghujani Visco dengan kombinasi pukulan beruntun yang brutal.BAM! BLAAM! BAM!Udara di sekeliling mereka menjerit hebat, terdistraksi oleh gelombang kejut mematikan yang tercipta dari setiap bentu
Wujud asli dari mode bertarung Justin kini terekspos sepenuhnya. Jubah penyihirnya yang terkoyak menampilkan bentuk tubuh yang bertolak belakang dengan penyihir rapuh pada umumnya. Otot-ototnya mengeras padat, berpadu dengan kulit biru tua yang membuatnya tampak seperti entitas iblis yang siap meratakan seisi kota.Sebelum Aldi sempat menganalisis perubahan struktur energi tersebut, tubuh Justin lenyap secara mutlak. Tanpa ada riak udara ataupun peringatan, sosok biru tua itu sudah muncul tepat di depan garis pandang Aldi, melayangkan satu pukulan keras ke arah dada.BLAAM!Hantaman berkekuatan destruktif itu melempar tubuh Aldi melesat lurus hingga menabrak dinding pembatas arena hingga retak parah. Asap tebal dan puing batu berjatuhan. Namun, alih-alih meringis kesakitan akibat patah tulang, dari balik kepulan debu, Aldi justru bangkit berdiri perlahan dengan seringai lebar di wajahnya. Rasa sakit dan tekanan hebat ini... adalah apa yang ia cari selama ini untuk menembus batas kemam
Sembari menahan perih di perutnya, Justin buru-buru membangkitkan Mana Shield baru dan melompat mundur demi menciptakan jarak aman sembari merapalkan mantra panjang. “Matilah kau!” teriaknya berang, meluncurkan sebuah sihir api.Aldi yang melihat kedatangan mantra api itu justru mengernyit kecewa. Serangan yang melesat ke arahnya ternyata hanya berukuran sebesar bola basket. Begitu objek itu mendekat, pedang Aldi bersinar terang; dalam satu tebasan horizontal, ia membelah bola api tersebut hingga padam menjadi percikan udara.“Apa hanya ini batas kemampuan seorang jenius?” tanya Aldi, sengaja mengeraskan suaranya.Gemuruh di tribun mendadak sirna. Seluruh penonton melongo menyaksikan seorang Ksatria mampu memotong serangan sihir murni de
Menghadapi Ksatria Bintang Empat ternyata tidak lagi memberi tantangan bagi Aldi. Namun, setidaknya pertarungan-pertarungan sebelumnya memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai sistem 'Power'.Angka Power rupanya tidak merujuk pada kekuatan fisik murni, melainkan output maksimal energi yang bisa dilepaskan dalam satu serangan. Sayangnya, Aldi tidak bisa melihat statusnya sendiri. Ia hanya bisa menerka-nerka bahwa Power-nya berada di kisaran 2.500—mungkin sedikit lebih unggul daripada Baron Raymond.Daya hancur dari setiap serangannya mungkin tidak langsung menghancurkan gunung, tetapi kemampuan regenerasi tubuhnya adalah kunci kemenangan yang mutlak. Di masa lalu pun tubuhnya memiliki keunikan serupa; meski sempat berbobot tambun, ia bisa mengonsumsi makanan dalam jumlah besar berkat sistem metabolisme yang bekerja terlewat efektif.Berkat fondasi biologis super itulah Aldi kini mampu menyesuaikan gaya bertarungnya dengan bebas. Ia bahkan telah menguasai pengetahuan sains modern u







