Share

Bab. 87

Author: WinaraBZ
last update publish date: 2026-05-22 21:18:09

Tepat pukul 08.00 pagi, keluarga Bunda Zayna akhirnya berangkat meninggalkan rumah mereka di pinggiran kota Parepare menuju Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Perjalanan darat yang biasanya memakan waktu sekitar 3–4 jam itu terasa hangat dan menyenangkan. Aim mengemudikan mobil dengan tenang di kecepatan stabil sekitar 80 hingga 100 kilometer per jam, sementara pemandangan pegunungan dan hamparan sawah sesekali membuat Zayan dan Ana terpukau dari balik jendela mobil.

Di kursi belakang, Ana tampak sibuk membuka ponsel melihat foto-foto Jakarta dan Dek Zayan masih asik dengan dunia gamenya.

“Bunda…” Ana mendekat sambil memeluk lengan ibunya, “nanti setelah sampai di Jakarta kita akan pergi ke mana saja? Selain Monas…”

Bunda Zayna tersenyum lembut sambil membenarkan hijab putrinya.

“Hmm… kalau Kak Ana dan Adek Zayan mau, kita bisa pergi ke beberapa tempat dekat Monas. Ada tempat yang bagus untuk belajar juga.”

“Mauuu…” sahut mereka hampir bersamaan.

Bunda Zayna mulai menghitung dengan jarinya.

“Pertama, kita bisa ke Masjid Istiqlal. Masjidnya sangat besar dan indah. Di sana Ana bisa belajar tentang sejarah Islam di Indonesia.”

“Wah…” mata Ana membulat kagum.

“Lalu di dekatnya juga ada Gereja Katedral Jakarta. Banyak orang datang melihat bangunannya yang sangat bersejarah. Tempat itu juga menjadi simbol kerukunan karena letaknya berdampingan dengan Masjid Istiqlal.”

Zayan mengangguk pelan. “Aku pernah lihat di internet, Bund…”

“Nah, setelah itu kita bisa ke Museum Nasional Indonesia. Di sana banyak benda-benda kuno, sejarah kerajaan Nusantara, dan patung-patung bersejarah.”

“Kalau yang seru buat foto-foto ada tidak?” Ana kembali bertanya antusias.

Aim yang sejak tadi fokus menyetir ikut tersenyum kecil dari kaca depan.

“Kalau itu,” lanjut Bunda Zayna sambil tertawa pelan, “kita bisa jalan-jalan sore di kawasan Kota Tua Jakarta. Banyak bangunan zaman dulu, museum, dan suasananya bagus sekali.”

“Yeayyy…” Ana bersorak kecil.

Sementara itu, mobil mereka terus melaju membelah jalanan Sulawesi Selatan.

Jalanan yang sejak tadi cukup lengang membuat perjalanan mereka terasa lebih cepat dari perkiraan. Tepat pukul 11.25 siang, mobil yang dikendarai Aim akhirnya memasuki area Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin.

Zayan langsung menempelkan wajahnya ke kaca jendela melihat pesawat-pesawat besar yang terparkir di kejauhan.

“Bunda… besar sekali…” bisiknya kagum.

Aim perlahan menghentikan mobil di area keberangkatan domestik. Bunda Zayna, Ana dan Zayan segera turun dan membantu Ayah menurunkan koper-koper mereka.

“Alhamdulillah,” ucap Bunda Zayna pelan sambil melihat jam di tangannya. “Keberangkatan kita pukul dua siang. Ayo kita check-in dulu.”

Baru beberapa langkah memasuki terminal, seorang pria dengan kemeja rapi segera menghampiri mereka sambil sedikit menundukkan kepala.

“Assalamualaikum, Bunda Zayna. Saya Adi, ditugaskan oleh Tuan Karim untuk membantu selama di bandara.”

“Waalaikumsalam…” Bunda Zayna tersenyum ramah. “Oh iya, Pak Adi ya…”

“Iya, Bu.” Pria itu kemudian menoleh sopan ke arah Aim.

“Kenalkan, ini suami saya,” ujar Bunda Zayna lembut.

Aim mengangguk pelan. “Halo, Pak Adi… tabe, ini kunci mobil Tuan Karim.”

“Siap, Pak.” Pak Adi menerima kunci itu dengan hormat. “Oh iya, ini boarding pass Bunda Zayna dan keluarga. Semuanya sudah diurus, jadi tidak perlu antre lagi untuk check-in.”

Ana langsung tersenyum senang mendengar kata “tidak perlu antre.”

“Alhamdulillah kalau begitu, Pak,” ucap Bunda Zayna sambil tersenyum kecil. “Saya tadi pikir harus antre panjang.”

“Sudah aman semua, Bu. Tinggal masuk pemeriksaan saja nanti.”

Bunda Zayna mengangguk pelan lalu menoleh ke arah Suami dan anak-anaknya.

“Pak Adi, kalau begitu saya ke musholla dulu bersama keluarga. Kami mau salat dulu.”

“Oh iya, baik Bu, silakan,” jawab Pak Adi cepat. “Setelah itu bisa langsung masuk ke ruang keberangkatan supaya lebih nyaman menunggu pesawat.”

“Baik, Pak. Terima kasih.”

Mereka pun berjalan menyusuri terminal bandara yang ramai namun tertata rapi. Di tengah lalu lalang penumpang dan suara pengumuman penerbangan yang bersahutan, keluarga kecil itu melangkah tenang menuju musholla, membawa hati yang penuh harapan untuk perjalanan baru mereka menuju Jakarta.

“Yuk, Nak… kita salat Dzuhur dulu, sekalian kita jamak dengan Ashar,” ucap Bunda Zayna lembut sambil menggandeng tangan Ana.

“Siap, Bunda…” jawab Zayan dan Ana kompak penuh semangat.

Bunda Zayna tersenyum haru melihat kedua anaknya.

“Alhamdulillah… anak shaleh dan shalehahnya Bunda semangat sekali. InsyaAllah perjalanan kita dipermudah ya…”

“Aamiiin…” jawab mereka serempak, bahkan Aim ikut mengaminkan sambil tersenyum tipis.

Suasana musala terasa tenang dan meneduhkan. Setelah menunaikan sholat, Bunda Zayna sempat memandangi anak-anaknya yang kini mulai lebih mandiri menjaga wudhu dan merapikan sajadah sendiri. Ada rasa syukur yang sulit dijelaskan di dalam dadanya.

Tak lama kemudian, mereka berjalan menuju area pemeriksaan keberangkatan. Berkat bantuan Pak Adi, proses masuk berlangsung cepat dan lancar hingga akhirnya mereka tiba di ruang tunggu bandara.

Baru saja Bunda Zayna hendak duduk, terdengar seseorang memanggil dari arah ruang tunggu khusus pelanggan.

“Bunda Zayna…” Bunda Zayna menoleh.

“Eh, Pak Adi… ketemu lagi.”

Pak Adi tersenyum ramah sambil sedikit membungkuk. “Iya, Bu. Silakan masuk dulu ke sini untuk makan siang sebentar.”

Bunda Zayna tampak sedikit ragu. “Apa tidak masalah, Pak, kalau makan dulu? Waktu keberangkatan tinggal satu jam lagi…”

“Masih sempat sekali, Bu,” jawab Pak Adi menenangkan. “Ini memang bagian dari fasilitas tiket keluarga Bunda.”

“Oh iya…” Bunda Zayna tersenyum senang, “MasyaAllah… siap, Pak. Kita manfaatkan sebaik-baiknya ya… hehehe…”

Pak Adi sampai ikut tersenyum melihat spontanitas Bunda Zayna yang apa adanya.

“Mari, Bu…”

Lalu ia menoleh ke arah Zayan dan Ana.

“Ayo, anak-anak shaleh… ikut Om.”

“Siap 86, Om!” jawab Zayan sambil memberi hormat ala tentara yang membuat Ana langsung tertawa.

“Hehehe… gitu dong,” balas Pak Adi santai. “Jagoan harus gercep.”

Aim yang sejak tadi lebih banyak diam hanya menggeleng kecil sambil tersenyum tipis melihat tingkah Zayan yang selalu berhasil mencairkan suasana.

Mereka pun masuk ke ruang tunggu khusus yang jauh lebih tenang dibanding area umum. Aroma makanan hangat langsung terasa begitu pintu terbuka. Ana sampai memegang perutnya sendiri.

“Bundaaa… Ana lapar…”

“Nah, pas sekali,” ujar Bunda Zayna sambil mengusap kepala putrinya. “Kita makan dulu sebelum terbang nanti.”

Di luar jendela besar ruang tunggu itu, beberapa pesawat tampak mulai bergerak perlahan di landasan, seakan ikut mengantarkan langkah baru keluarga kecil itu menuju Jakarta.

“Alhamdulillah… sepertinya Tuan Karim benar-benar sudah mengatur semuanya dengan sangat baik. InsyaAllah saya akan berusaha tidak mengecewakannya…” gumam Bunda Zayna lirih dalam hati.

Pandangan matanya kemudian tertuju pada Ana dan Zayan yang sedang makan dengan lahap di meja kecil dekat jendela ruang tunggu. Sesekali Ana bercerita antusias tentang pesawat yang nanti akan mereka naiki, sementara Zayan yang duduk di samping kakaknya sibuk membantu mengambilkan minum.

Melihat keduanya tetap ceria setelah perjalanan panjang dari Parepare membuat hati Bunda Zayna terasa jauh lebih tenang. Ia sempat khawatir anak-anak akan merasa mual atau kelelahan selama di perjalanan darat tadi. “Alhamdulillah… tidak ada yang enek,” batinnya penuh syukur. Ia teringat multivitamin yang sengaja diminumkan sebelum berangkat pagi tadi. Semoga itu cukup membantu menjaga daya tahan tubuh mereka selama perjalanan menuju Jakarta.

Aim yang duduk di sampingnya seolah memahami isi pikirannya. “Anak-anak kuat ternyata,” ucapnya pelan sambil tersenyum kecil.

Bunda Zayna mengangguk pelan. “Iya… Bunda juga lega lihat mereka masih semangat begini.”

Di sisi lain, Pak Adi memperhatikan keluarga kecil itu dengan samar-samar tersenyum. Dalam hati ia mulai mengerti mengapa Tuan Karim memberi perhatian khusus pada perjalanan mereka, ada kehangatan sederhana yang terasa begitu tulus di antara keluarga itu.

Catatan:

Maaf Para Reader Bab 85 kelewat Yah... tapi pada dasarnya Ceritanya tidak lompat...Mohon dimaafkan atas kekhilafan saya🙏

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Investor Asing   Bab. 129

    "Yah... sebenarnya Kak Zayna itu siapa?" Pertanyaan itu akhirnya keluar juga dari mulut Eksel.Kelvin yang sedang menyiapkan hasil masakannya mengangkat pandangan. Ia menatap putranya beberapa saat tanpa langsung menjawab.Dari cerita yang disampaikan Eksel sejak tadi, Kelvin justru semakin yakin bahwa putranya diam-diam telah mempelajari teknik keamanan siber hingga tingkat yang cukup tinggi. Berani menguji kemampuan dengan orang yang menjaga sistem keamanan Soraya bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan sembarang orang.Kemampuan Eksel rupanya sudah jauh berkembang, bahkan melampaui perkiraannya."Apa yang membuatmu begitu penasaran?" tanya Kelvin tenang. "Dia bukan siapa-siapa."Eksel tidak langsung percaya. Tatapannya masih tertuju pada ayahnya."Kalau memang bukan siapa-siapa, kenapa jejak digitalnya hampir tidak ada? Sulit sekali ditemukan. Bahkan sistem yang melindunginya juga tidak biasa."Kelvin hanya tersenyum tipis. Dugaan itu benar. Semakin sedikit jawaban yang diterima Eksel

  • Investor Asing   Bab 128

    Malam itu, Anita dan Gita akhirnya menyelesaikan seluruh persiapan untuk berjualan keesokan harinya. Beberapa adonan telah siap, sementara kue-kue yang bisa dibuat lebih awal juga sudah tersusun rapi."Nak, istirahat dulu saja. Biar mamah yang menyelesaikan sisanya," kata Anita sambil merapikan peralatan di dapur."Baik, Mah."Gita mengangguk pelan. Tubuhnya memang terasa cukup lelah setelah menjalani hari yang panjang. Sesampainya di kamar, ia langsung merebahkan tubuh di atas kasur. Belum sempat memikirkan hal lain, matanya sudah terpejam. Rasa kantuk mengalahkan semua rencana yang sempat memenuhi pikirannya sejak sore.Tak lama kemudian, ia benar-benar tertidur.~~~♡♡♡~~~Di tempat lain, Eksel masih memikirkan sosok perempuan yang tadi menjadi bahan pembicaraan ayahnya dan Tante Sonia.Kak Zayna... Rasa penasarannya semakin besar. Ia membuka kembali galeri ponselnya, lalu memilih salah satu foto yang secara khusus memperlihatkan wajah Zayna dengan cukup jelas. Bermodal foto itu, ia

  • Investor Asing   Bab. 127

    Gita yang sempat mendengar ponsel ibunya berdering sekali tanpa sengaja melirik ke layar. Nomor yang muncul terasa asing, berbeda dengan nomor-nomor pelanggan yang biasa menghubungi mereka. Namun karena panggilan itu langsung terputus, ia mengira hanya ulah orang iseng dan tidak terlalu memikirkannya. Ia pun kembali melayani para pembeli.Sementara itu, Anita juga sibuk melayani pelanggan yang silih berganti datang. Hari itu dagangan mereka laris. Menjelang siang, sebagian besar jajanan sudah habis terjual."Alhamdulillah, Nak. Sepertinya hari ini kita bisa pulang lebih cepat," ucap Anita sambil merapikan wadah dagangannya.Gita yang baru duduk di kelas satu SMP memang sengaja menghabiskan masa liburnya dengan membantu sang ibu berjualan. Ia lebih memilih menemani Anita daripada menerima ajakan ayahnya untuk berlibur ke tempat tinggalnya.Sudah beberapa tahun Anita resmi bercerai. Perpisahan itu terjadi tidak lama setelah ayah Gita memilih mengakhiri rumah tangga mereka. Saat itu, kak

  • Investor Asing   Bab. 126

    Aim tiba di kantor pada pagi hari dan langsung melapor setelah menyelesaikan perjalanan dinasnya.Sejujurnya ia masih sedikit bingung. Selama ini ia belum pernah mendapat tugas perjalanan dinas yang penugasannya langsung berasal dari kantor pusat. Karena itu, begitu tiba di kantor, ia memutuskan untuk segera menemui atasannya. Selain menyerahkan laporan perjalanan, ia juga ingin memastikan format pelaporan yang benar agar tidak terjadi kekeliruan."Pak Aim, silakan masuk. Pak Jaya sudah menunggu Bapak," ujar salah seorang staf."Baik, terima kasih," jawab Aim sambil mengangguk.Aim mengetuk pintu, lalu masuk ke dalam ruangan."Silakan duduk, Pak Aim," sambut Pak Jaya dengan ramah."Terima kasih, Pak."Aim duduk dengan sedikit canggung. Ini pertama kalinya bertemu dan berbicara dengan Pak Jaya, selama ini ia hanya mengenal nama atasannya itu dari struktur organisasi dan beberapa surat dinas."Pak, mohon maaf mengganggu waktunya. Ini laporan perjalanan saya beserta laporan penggunaan da

  • Investor Asing   Bab. 125

    Setelah target trading hari itu tercapai, Zayna menutup portofolio milik Karim dengan perasaan lega.Dua saham baru yang dibelinya pagi tadi berhasil ia lepas sesuai rencana. Saham D memberikan keuntungan sekitar 3,2 persen, sedangkan saham E menghasilkan keuntungan sekitar 4 persen. Memang bukan keuntungan yang besar, tetapi baginya konsistensi jauh lebih penting daripada mengejar hasil yang spektakuler.Sementara itu, pada portofolio investasi inti masih tersisa dua saham. Adapun saham-saham yang dinilainya paling rentan terdampak resesi global telah lebih dulu ia lepas. Kini ia memilih mengamati dua saham yang tersisa sambil menunggu arah pasar berikutnya."Hmm... portofolio pribadiku yang masih mencatat capital gain semoga bisa tereksekusi hari ini," gumamnya pelan.Setelah menutup aplikasi perdagangan, tanpa sengaja matanya tertuju pada grup Telegram Bootcamp yang diselenggarakan oleh perusahaan sekuritas tempatnya membuka rekening saham. Rasa penasarannya kembali muncul."Kira-k

  • Investor Asing   Bab. 124

    Pukul sepuluh tepat, perdagangan sesi pertama resmi dimulai. Layar running trade mulai dipenuhi harga pembukaan setiap saham. Angka-angka terus bergerak, sementara antrean beli dan jual semakin ramai dari detik ke detik.Zayna sudah bersiap di depan monitornya. Jarinya sesekali bergerak di atas mouse, sementara matanya bergantian mengawasi grafik, antrean bid, dan offer. Semua sudah ia susun sejak sebelum pasar dibuka. Kini tinggal menunggu apakah pasar bergerak sesuai rencananya atau tidak.Lima menit pertama berlalu begitu cepat. Senyum tipis akhirnya menghiasi wajahnya ketika dua saham pada portofolio investasi intinya berhasil menembus harga jual yang telah ia targetkan."Alhamdulillah..."Tanpa sadar ia mengepalkan tangan kecilnya. Sesuai rencana, ia langsung melepas sebagian kepemilikan pada kedua saham tersebut untuk mengamankan keuntungan.Memasuki lima belas menit pertama, dana alokasi khusus trading mulai disiapkan. Sekitar empat puluh persen dari dana itu ia gunakan untuk m

  • Investor Asing   Bab. 109

    Zayna tidak ingin berlarut-larut dalam perasaannya, setidaknya suaminya sudah jujur kepadanya. Meskipun masih ada kecanggungan yang tersisa di antara mereka, ia berusaha menerimanya sedikit demi sedikit. Di depan anak-anak dan Pak Arman, ia tetap berusaha bersikap seperti biasa. Esok hari pasar sa

  • Investor Asing   Bab. 108

    Zayna mengangguk pelan. “Bunda menunggu Ayah jujur. Kalian terlihat akrab, bahkan kue yang dibeli darinya begitu Ayah nikmati.”Aim tertunduk. “Maafkan Ayah, Bun. Ayah tidak sengaja menyembunyikannya. Ayah kira Bunda tidak melihat. Ayah takut kalau bicara dari awal justru merusak suasana liburan ki

  • Investor Asing   Bab. 107

    Setelah menuntaskan perjalanan terakhir mereka di Jakarta yang dimulai sejak pukul sepuluh pagi, Bunda Zayna dan keluarganya sudah merapikan barang bawaannya dan telah memasukkan ke dalam mobil, Mereka sengaja membereskan semuanya lebih awal agar tidak perlu kembali lagi ke homestay setelah menyele

  • Investor Asing   Bab. 105

    Ziyan terdiam sejenak."Masih ada akses ke akun virtual milikmu?" tanyanya.Soraya ikut terdiam, berusaha mencari jawaban. Sudah enam tahun ia meninggalkan semuanya. Bahkan cara mereka berkomunikasi dahulu hampir terlupakan. Dulu, dirinya, Ziyan, dan Karim memiliki jalur komunikasi virtual khusus,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status