Se connecter“Miss Khairan Alyssa, maukah kamu menikah denganku supaya aku bisa melindungimu?”
Ternyata itu kalimat lengkapnya. Menyebalkan sekali.
Begitu aku benar-benar siuman di rumah sakit, Domnick sudah ada di sisi ranjang. Wajahnya terlihat sangat khawatir.
Domnick bercerita bahwa sopir mobil yang kutumpangi sengaja menabrakkan dirinya sendiri hingga tewas ketika hendak ditangkap. Pengkhianat itu diduga masih satu komplotan dengan orang-orang yang berusaha meracuni Domnick. Rupanya ia memilih lebih baik mati daripada tertangkap dan diinterogasi lebih jauh.
Entah bagaimana, peluru yang ditembakkan sopir gila itu ke arahku meleset. Mobil-mobil lain dalam iring-iringan yang merasa aku dalam bahaya sengaja terus menyerempet mobil yang kutumpangi. Benturan terakhir mengubah garis lintasan peluru. Aku lolos dari maut meski kehilangan kesadaran dan penuh luka-luka. Tiga hari aku terbaring tanpa sadar.
Beberapa kali, kata Domnick, aku seperti terbangun tetapi belum sepenuhnya sadar. Kadang aku tertawa kecil sendiri, kadang duduk lalu ambruk lagi.
“Aku sudah mengabari kedutaan Indonesia tentang rencana pertunangan kita. Di Grindlandia, orang-orang bahkan sudah mulai merayakannya,” kata Domnick, duduk di sisi tempat tidur. Ia menyodorkan segelas susu hangat kepadaku.
Hah, tunangan? Tunangan beneran? Sama raja ini?
Aku menyeruput susu dengan pikiran masih melayang.
Domnick terus mengamatiku, menambahkan penjelasan demi penjelasan.
“Aku juga sudah mengirim nota diplomatik ke kedutaan. Kita akan ke Jakarta sesegera mungkin setelah kamu membaik. Jangan khawatir soal keluargamu.”
Perlahan aku mencoba merapikan isi kepala.
Oh iya, keluarga. Aku punya keluarga. Keluargaku di Indonesia. Bekasi timur tepatnya, belok dikit dari perempatan Poncol… masuk gang yang ada warkopnya, oke stop!
Aku menghentikan pikiran yang semakin melantur.
“Aku perlu menelepon… aku… mau telepon orang rumah,” kataku terbata-bata.
“Kamu masih ingat nomornya? Maaf, ponselmu hancur dalam kecelakaan mobil itu,” tutur Domnick.
Aku mengernyit. Duh, mana ponselku masih cicilan.
“Tas dan dompetmu masih ada, mungkin ada nomor lain yang bisa kukenali. Untuk saat ini, kamu bisa pakai ponsel ini. Ponsel ini anti-sadap dan aman,” ujarnya sambil memberi isyarat kepada laki-laki bertubuh besar di belakangnya.
Aku menerima tas tangan dan ponsel mahal yang disodorkan pengawal Domnick. Tas itu penuh baret dan lecet. Di salah satu selipan, kutemukan kartu nama Sasha dengan logo kantor Madam. Aku masih mengingat Sasha dengan baik. Sasha teman akrabku yang paling bawel sedunia.
Kutimbang-timbang ada baiknya aku menelepon Sasha duluan. Kalau Sasha pasti dia akan megerti situasiku.
Ternyata salah besar.
“Gimana ceritanya tiba-tiba kamu jadi tunangan orang?!” teriak Sasha begitu sambungan teleponku terhubung.
“Tenang, Sas, tenang,” pintaku, memegang ponsel sedikit menjauh dari telinga.
“Pokoknya di mana pun kamu menikah, aku sama Kenzo harus diundang!”
“Itu hal pertama yang kamu minta dari aku? Teman macam apa kamu, Sas, aku….”
“Jangan ngaku-ngaku temen, deh Al!. Kamu menghilang entah ke mana, sekantor kebingungan, tahu-tahu sekarang kamu bilang sudah tunangan!”
“Aku juga tidak mau keadaannya begini, Sas,” sahutku pelan. Seluruh tubuhku masih perih dan berdenyut.
“Aku nggak paham. Madam pulang sendirian dari Manila, katanya dia pecat kamu karena kerjamu tidak benar. Katanya kamu ditahan di Manila untuk dimintai penjelasan oleh kedutaan. Madam malah sibuk pamer foto saat gala dinner duduk dekat raja tampan, Domnick itu.” Sasha mengoceh panjang lebar.
Aku tertawa getir. Mengarang cerita itu sangat khas Madam yang hanya memikirkan dirinya sendiri.
“Sebenarnya kamu kenapa, Alyssa? Berhari-hari ponselmu tidak bisa dihubungi.”
Tenggorokanku tercekat. “Aku baru bangun… baru sadar. Aku habis kecelakaan, Sas. Katanya berhari-hari aku koma.”
“Astaga. Kenapa kamu nggak segera pulang aja ke Indonesia? Uangmu abis nggak bisa beli tiket?” Sasha menebak sebagaimana kebiasaan karyawan di tanggal tua.
“Aku tidak bisa ke mana-mana, Domnick memaksa aku tinggal di sini sampai sembuh.”
Sasha menyela, bingung. “Domnick itu siapa?”
“Tunangan aku. Orang yang kuceritakan tadi.”
“Maaf, kenapa namanya mirip dengan orang yang diidam-idamkan Madam?”
Aku berhenti. “Karena… memang orangnya sama.”
“Sebentar, aku cek dulu… Domnick… Dom… oh, ooooh… Astaga, TUNANGAN KAMU RAJA DOMNICK?”
“Iya.”
“ISENG BANGET DIA NGELAMAR KAMU, AL?”
“Tolong, Sas, jangan terlalu jujur,” rintihku.
“Orang tuamu bagaimana? Masak anak gadisnya kecelakaan, dilamar begitu saja, mereka langsung setuju?”
Aku teringat apa yang dijelaskan Domnick sesaat setelah aku sadar. “Katanya orang tuaku di Jakarta sudah dihubungi. Domnick berjanji secepatnya kami ke Jakarta untuk bertemu mereka.”
“Gila, Al. Nasib apa ini, kenapa berubahnya lebih cepet dari rotasi bumi?”
“Sas! Jahat!”
“Hati-hati. Jangan-jangan Domnick mau menikahimu untuk dijadikan budak. Atau ini sindikat perdagangan organ manusia,” lanjut Sasha dramatis.
“Sshh, telepon ini mungkin disadap. Jangan sembarangan.”
“Oh, aku tahu. Jangan-jangan kamu sudah hamil, ya?”
Detik itu juga aku memutus sambungan. Selain karena kepalaku berdenyut, aku takut Sasha makin lepas kendali dan menyebut teori lain yang tidak kalah mengerikan.
Pengawal Domnick yang tadi menyerahkan ponsel, kalau tidak salah namanya Mark, hanya mengangkat alis. Mark bertubuh besar dan kekar, kulitnya gelap, jenggot dan kumis tidak beraturan membingkai wajahnya. Sejak aku sadar, ia hampir selalu terlihat di sekitar tempat tidurku.
“Sudah selesai, Miss Alyssa?”
“Belum… aku ingin menelepon orang tuaku,” jawabku. Kepala masih agak pening, deretan angka yang biasanya kuhafal mendadak sulit muncul.
“Ini jalur aman, jadi Anda boleh menelepon ke mana saja. Kalau perlu, saya bisa menghubungi kedutaan untuk mendapatkan nomor yang Anda butuhkan,” tawarnya dengan nada datar.
“Baik, tolong lakukan. Aku tidak bisa mengingat nomor telepon orang tuaku.”
Pintu kamar diketuk. Domnick masuk bersama seorang perempuan cantik yang sepertinya sebaya denganku. Jantungku langsung berdebar, bertanya-tanya lagi: kejutan apa lagi kali ini.
“Mark, ada yang perlu kubicarakan berdua dengan Alyssa,” ujar Domnick, duduk di kursi di sisi tempat tidurku. “Tinggalkan kami sebentar.”
Mark memberi hormat singkat sebelum keluar, menutup pintu rapat sehingga tidak bisa mendengar pembicaraan kami.
“Indonesia tidak boleh tahu kalau semua ini hanya pura-pura,” kata Domnick pelan. “Mereka harus menjalankan protokol secara sungguh-sungguh. Mereka harus melindungimu dengan layak sebagai calon ratuku. Keluargamu sekarang menjadi bagian dari keluarga kerajaan dan harus mendapatkan perlindungan penuh.”
“Maaf, Yang Mulia. Justru aneh kalau Ian dan orang kedutaan tidak curiga. Aku kecelakaan, dirawat di sini, lalu begitu sadar langsung menerima lamaran seorang Raja?”
“Itu bisa terjadi, dan jangan panggil aku ‘Pak Raja’,” sahutnya spontan.
“Bisa terjadi, tapi jarang sekali, Yang Mulia,” tanggapku.
Domnick tersenyum tipis, garis rahangnya mengencang. Kalau saja seluruh tubuhku tidak sedang nyeri, mungkin aku sudah goyah lihat senyum itu dari jarak sedekat ini.
“Sebut saja aku Domnick, atau Dom,” katanya. “Indonesia harus percaya apa pun yang disampaikan Grindlandia, kecuali kalau ada bukti bahwa kamu dalam bahaya. Kamu harus berhati-hati agar rencana kita tidak terbongkar.”
“Jadi aku harus ikut menjadi kaki tangan kalian?” tanyaku pelan.
Domnick mengencangkan bibir. “Aku akan memastikan kamu aman, Alyssa.”
Memastikan aku aman dengan cara menjadikanku tunangannya? Andai Domnick mengatakan itu sebelum mobil yang kutumpangi terguling, mungkin aku hanya akan tertawa dan pergi.
Tapi sekarang? Setelah berhari-hari terbaring di kamar VVIP dengan pengawalan ketat, setelah tubuhku mengingat jelas bagaimana rasanya nyaris kehilangan nyawa, pikiranku mulai berubah.
Kalau pendukung mantan istrinya Domnick sampai setega itu, aku bisa apa selain menerima perlindungan yang ia tawarkan? Mereka bahkan tidak peduli dengan nyawa mereka sendiri. Apalagi nyawaku, atau nyawa keluargaku.
“Apakah kita sepakat?” Domnick mencari tatapanku.
Sepakat bertunangan demi perlindungan?
Gadis normal se-Jabodetabek mungkin akan berpikir seribu kali sebelum mengiyakan tawaran yang terasa bertentangan dengan logika sehat begini. Tetapi gabungan antara pesona wajah Domnick dan rasa takut mati membuatku mengangguk.
“Baiklah,” jawabku pelan.
Sekali lagi aku menyambut uluran tangan Domnick. Kali ini benar-benar sadar. Lalu buru-buru kutarik kembali tanganku. Domnick hanya mengangguk. Pandangannya menjelajahi wajahku yang penuh luka. Jelas terlihat ia iba. Ia akan menikahiku karena iba.
“Dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, calon ratuku,” ucapnya lirih.
Aku menelan ludah.
Malam pertamaku di Grindlandia kuhabiskan dengan berusaha keras agar tidak terlihat terlalu kampungan. Andai hidupku ini bisa dijadikan bahan unggahan, mungkin cocok sekali masuk serial “dari begini jadi begitu”. Dulu, aku terbiasa terjepit di tengah lautan ketiak manusia di gerbong KRL Bekasi. Sekarang, dalam hitungan hari, aku naik jet pribadi, turun ke sedan mewah yang interiornya mengkilap berkilauan. Aku sempat menggoda Domnick tadi di bandara, saat melihat barisan mobil hitam mengilap. “Kenapa tidak sekalian pakai limusin saja?” “Mobil itu terlalu murah,” jawabnya datar. Aku mengangguk-angguk saja, seolah paham, padahal harga satu mobilnya Domnick mungkin cukup untuk membeli dua belas rumah di kompleksku. Atau mungkin maksudnya “murah” di sini bukan soal harga, melainkan soal selera. Di titik ini, aku menyerah memahami sudut pandang orang yang kayanya keterlaluan. Kamar yang disiapkan untukku di Grindlandia lebih pantas disebut suite hotel paling mahal dibanding sekadar “ka
Selama penerbangan dari Jakarta menuju Grindlandia, aku didudukkan di bagian kabin yang agak jauh dari tempat Domnick dan para stafnya. Olivia bilang, jarak itu sengaja diatur supaya kesibukan Domnick tidak mengganggu istirahatku. Katanya, aku perlu tenang sebelum tiba di rumah baruku. Rumah baru.Kata itu saja sudah cukup membuat perutku mual.Menjelang waktu makan malam, pintu sekat kabinku diketuk pelan. Domnick muncul, kali ini tanpa jas resmi, hanya kemeja putih dan celana bahan rapi. Tetap saja, auranya sulit disamakan dengan penumpang biasa. “Masih jauh?” aku bertanya lebih dulu, sekadar memecah hening. “Sekitar tiga jam lagi,” jawabnya.Tiga jam. Tiga jam lagi aku akan mendarat di negara yang bahkan letaknya baru kucari di peta seminggu lalu. Kalau tidak salah, Grindlandia berada di gugusan kepulauan kecil antara Samudra Pasifik dan Australia bagian utara, bekas jajahan Inggris yang kaya minyak dan gas. “Apa yang kamu pikirkan?” suara Domnick datang memotong renunganku.Ak
Bapak masih tertawa-tawa di teras bersama Domnick ketika aku kembali ke ruang tengah. Suara mereka bercampur dengan bunyi sendok mengaduk teh, dan sesekali suara tetangga yang bersikeras mau menembus barikade ke rumahku.Aku duduk di ujung sofa, menatap keramik ruang tamu rumahku yang sudah berkali-kali direnovasi seadanya. Di dindingnya, foto-foto lama tergantung apa adanya. Foto wisudaku, foto random lagi jajan di kanal banjir timur alias BRT, foto keluarga waktu piknik ke Ancol, foto almarhum Kakek di depan warung kelontong. Semua terasa begitu… biasa-biasa aja.Tidak ada di antara foto itu yang cocok dengan kata “Ratu Grindlandia”.Suara Bapak kepada Domnick masih menggema di kepala.“Tolong sayangi Alyssa selama-lamanya.”Diucapkan Bapak begitu ringan, seolah yang diminta hanya diskon belanja bulanan di minimarket, bukan perjanjian hidup dan mati dengan seorang laki-laki asing.“Alyssa, kamu tidak apa-apa?” Ibu duduk di sampingku, menepuk pelan lututku.Aku memaksa tersenyum. “Ti
Akhirnya Domnick memenuhi janji untuk menemaniku pulang ke Indonesia.Begitu pesawat mendarat di Halim, pintu dibuka menampakkan gelara karpet merah, barisan pasukan pengamanan, dan seorang menteri yang menunggu di ujung tangga pesawat lengkap dengan senyum terpentang lebar clong kinclong.Perutku langsung mual. Bukan karena turbulensi, tapi karena otakku belum move on dari fakta bahwa aku, Khairan Alyssa, anak Bekasi yang biasa sikut-sikutan demi bangku KRL, sekarang disalamin pejabat negara gara-gara kawin kilat sama raja.Biasanya aku keluar stasiun disambut pemandangan deretan ojek dan sopir angkot. TAPI INI? APA-APAAN INI???“Hello King, hello! Hello!”Di luar pagar bandara, kulihat barisan anak-anak sekolah berderet rapi, mengibarkan bendera Indonesia dan Grindlandia. Seragam putih merah dan putih biru mereka berbaris manis, tapi mata guru-gurunya menatapku dengan sorot yang jelas-jelas bilang: Anjir kenapa diaaaa kenapa bukan kitaaaa????Wajar. Soalnya aku turun dari pesawat m
Domnick datang ke kamar ketika aku baru saja selesai berdebat dengan bantal soal nasib. Ia mengetuk sekali, lalu membuka pintu tanpa suara.Di belakangnya, ada perempuan tinggi langsing dengan rambut kecokelatan diikat ekor kuda di atas bahu. Lekuk dan garis wajahnya sekilas mirip Domnick. Busananya serba putih, rapi, seperti gaya resmi seorang putri kerajaan dalam majalah.“Alyssa, ini Olivia. Dia akan menjadi penerjemah dan asistenmu. Olivia bisa berbicara banyak bahasa,” kata Domnick.Perempuan itu melangkah mendekat sambil tersenyum. Ia terlihat ramah... ramah dan cantik, sangat cantik... terlalu cantik malah!“Perkenalkan, nama saya Olivia. Saya panggil Anda Lady Alyssa bolehkah?”Penerjemah resmi kerajaan kok seperti ini, pikirku. Kuteliti wajah Olivia sembunyi-sembunyi. Hidung mancung seperti habis operasi, kulit berkilauan, bibir yang terlalu sempurna, mata cokelat terang yang ugh... kecakepan!Aku terus melamun.Jangan-jangan Olivia ini selirnya Domnick? Kan kalau di cerita-c
“Miss Khairan Alyssa, maukah kamu menikah denganku supaya aku bisa melindungimu?”Ternyata itu kalimat lengkapnya. Menyebalkan sekali.Begitu aku benar-benar siuman di rumah sakit, Domnick sudah ada di sisi ranjang. Wajahnya terlihat sangat khawatir.Domnick bercerita bahwa sopir mobil yang kutumpangi sengaja menabrakkan dirinya sendiri hingga tewas ketika hendak ditangkap. Pengkhianat itu diduga masih satu komplotan dengan orang-orang yang berusaha meracuni Domnick. Rupanya ia memilih lebih baik mati daripada tertangkap dan diinterogasi lebih jauh.Entah bagaimana, peluru yang ditembakkan sopir gila itu ke arahku meleset. Mobil-mobil lain dalam iring-iringan yang merasa aku dalam bahaya sengaja terus menyerempet mobil yang kutumpangi. Benturan terakhir mengubah garis lintasan peluru. Aku lolos dari maut meski kehilangan kesadaran dan penuh luka-luka. Tiga hari aku terbaring tanpa sadar.Beberapa kali, kata Domnick, aku seperti terbangun tetapi belum sepenuhnya sadar. Kadang aku terta







