Home / Romansa / Istri Dadakan Sang Raja / 7. Balada Tunangan Instan

Share

7. Balada Tunangan Instan

Author: Naomi Leon
last update publish date: 2026-06-11 23:18:38

“Miss Khairan Alyssa, maukah kamu menikah denganku supaya aku bisa melindungimu?”

Ternyata itu kalimat lengkapnya. Menyebalkan sekali.

Begitu aku benar-benar siuman di rumah sakit, Domnick sudah ada di sisi ranjang. Wajahnya terlihat sangat khawatir.

Domnick bercerita bahwa sopir mobil yang kutumpangi sengaja menabrakkan dirinya sendiri hingga tewas ketika hendak ditangkap. Pengkhianat itu diduga masih satu komplotan dengan orang-orang yang berusaha meracuni Domnick. Rupanya ia memilih lebih baik mati daripada tertangkap dan diinterogasi lebih jauh.

Entah bagaimana, peluru yang ditembakkan sopir gila itu ke arahku meleset. Mobil-mobil lain dalam iring-iringan yang merasa aku dalam bahaya sengaja terus menyerempet mobil yang kutumpangi. Benturan terakhir mengubah garis lintasan peluru. Aku lolos dari maut meski kehilangan kesadaran dan penuh luka-luka. Tiga hari aku terbaring tanpa sadar.

Beberapa kali, kata Domnick, aku seperti terbangun tetapi belum sepenuhnya sadar. Kadang aku tertawa kecil sendiri, kadang duduk lalu ambruk lagi.

“Aku sudah mengabari kedutaan Indonesia tentang rencana pertunangan kita. Di Grindlandia, orang-orang bahkan sudah mulai merayakannya,” kata Domnick, duduk di sisi tempat tidur. Ia menyodorkan segelas susu hangat kepadaku.

Hah, tunangan? Tunangan beneran? Sama raja ini?

Aku menyeruput susu dengan pikiran masih melayang.

Domnick terus mengamatiku, menambahkan penjelasan demi penjelasan.

“Aku juga sudah mengirim nota diplomatik ke kedutaan. Kita akan ke Jakarta sesegera mungkin setelah kamu membaik. Jangan khawatir soal keluargamu.”

Perlahan aku mencoba merapikan isi kepala.

Oh iya, keluarga. Aku punya keluarga. Keluargaku di Indonesia. Bekasi timur tepatnya, belok dikit dari perempatan Poncol… masuk gang yang ada warkopnya, oke stop!

Aku menghentikan pikiran yang semakin melantur.

“Aku perlu menelepon… aku… mau telepon orang rumah,” kataku terbata-bata.

“Kamu masih ingat nomornya? Maaf, ponselmu hancur dalam kecelakaan mobil itu,” tutur Domnick.

Aku mengernyit. Duh, mana ponselku masih cicilan.

“Tas dan dompetmu masih ada, mungkin ada nomor lain yang bisa kukenali. Untuk saat ini, kamu bisa pakai ponsel ini. Ponsel ini anti-sadap dan aman,” ujarnya sambil memberi isyarat kepada laki-laki bertubuh besar di belakangnya.

Aku menerima tas tangan dan ponsel mahal yang disodorkan pengawal Domnick. Tas itu penuh baret dan lecet. Di salah satu selipan, kutemukan kartu nama Sasha dengan logo kantor Madam. Aku masih mengingat Sasha dengan baik. Sasha teman akrabku yang paling bawel sedunia. 

Kutimbang-timbang ada baiknya aku menelepon Sasha duluan. Kalau Sasha pasti dia akan megerti situasiku. 

Ternyata salah besar.

“Gimana ceritanya tiba-tiba kamu jadi tunangan orang?!” teriak Sasha begitu sambungan teleponku terhubung.

“Tenang, Sas, tenang,” pintaku, memegang ponsel sedikit menjauh dari telinga.

“Pokoknya di mana pun kamu menikah, aku sama Kenzo harus diundang!”

“Itu hal pertama yang kamu minta dari aku? Teman macam apa kamu, Sas, aku….”

“Jangan ngaku-ngaku temen, deh Al!. Kamu menghilang entah ke mana, sekantor kebingungan, tahu-tahu sekarang kamu bilang sudah tunangan!”

“Aku juga tidak mau keadaannya begini, Sas,” sahutku pelan. Seluruh tubuhku masih perih dan berdenyut.

“Aku nggak paham. Madam pulang sendirian dari Manila, katanya dia pecat kamu karena kerjamu tidak benar. Katanya kamu ditahan di Manila untuk dimintai penjelasan oleh kedutaan. Madam malah sibuk pamer foto saat gala dinner duduk dekat raja tampan, Domnick itu.” Sasha mengoceh panjang lebar.

Aku tertawa getir. Mengarang cerita itu sangat khas Madam yang hanya memikirkan dirinya sendiri.

“Sebenarnya kamu kenapa, Alyssa? Berhari-hari ponselmu tidak bisa dihubungi.”

Tenggorokanku tercekat. “Aku baru bangun… baru sadar. Aku habis kecelakaan, Sas. Katanya berhari-hari aku koma.”

“Astaga. Kenapa kamu nggak segera pulang aja ke Indonesia? Uangmu abis nggak bisa beli tiket?” Sasha menebak sebagaimana kebiasaan karyawan di tanggal tua.

“Aku tidak bisa ke mana-mana, Domnick memaksa aku tinggal di sini sampai sembuh.”

Sasha menyela, bingung. “Domnick itu siapa?”

“Tunangan aku. Orang yang kuceritakan tadi.”

“Maaf, kenapa namanya mirip dengan orang yang diidam-idamkan Madam?”

Aku berhenti. “Karena… memang orangnya sama.”

“Sebentar, aku cek dulu… Domnick… Dom… oh, ooooh… Astaga, TUNANGAN KAMU RAJA DOMNICK?”

“Iya.”

“ISENG BANGET DIA NGELAMAR KAMU, AL?”

“Tolong, Sas, jangan terlalu jujur,” rintihku.

“Orang tuamu bagaimana? Masak anak gadisnya kecelakaan, dilamar begitu saja, mereka langsung setuju?”

Aku teringat apa yang dijelaskan Domnick sesaat setelah aku sadar. “Katanya orang tuaku di Jakarta sudah dihubungi. Domnick berjanji secepatnya kami ke Jakarta untuk bertemu mereka.”

“Gila, Al. Nasib apa ini, kenapa berubahnya lebih cepet dari rotasi bumi?”

“Sas! Jahat!”

“Hati-hati. Jangan-jangan Domnick mau menikahimu untuk dijadikan budak. Atau ini sindikat perdagangan organ manusia,” lanjut Sasha dramatis.

“Sshh, telepon ini mungkin disadap. Jangan sembarangan.”

“Oh, aku tahu. Jangan-jangan kamu sudah hamil, ya?”

Detik itu juga aku memutus sambungan. Selain karena kepalaku berdenyut, aku takut Sasha makin lepas kendali dan menyebut teori lain yang tidak kalah mengerikan.

Pengawal Domnick yang tadi menyerahkan ponsel, kalau tidak salah namanya Mark, hanya mengangkat alis. Mark bertubuh besar dan kekar, kulitnya gelap, jenggot dan kumis tidak beraturan membingkai wajahnya. Sejak aku sadar, ia hampir selalu terlihat di sekitar tempat tidurku.

“Sudah selesai, Miss Alyssa?”

“Belum… aku ingin menelepon orang tuaku,” jawabku. Kepala masih agak pening, deretan angka yang biasanya kuhafal mendadak sulit muncul.

“Ini jalur aman, jadi Anda boleh menelepon ke mana saja. Kalau perlu, saya bisa menghubungi kedutaan untuk mendapatkan nomor yang Anda butuhkan,” tawarnya dengan nada datar.

“Baik, tolong lakukan. Aku tidak bisa mengingat nomor telepon orang tuaku.”

Pintu kamar diketuk. Domnick masuk bersama seorang perempuan cantik yang sepertinya sebaya denganku. Jantungku langsung berdebar, bertanya-tanya lagi: kejutan apa lagi kali ini.

“Mark, ada yang perlu kubicarakan berdua dengan Alyssa,” ujar Domnick, duduk di kursi di sisi tempat tidurku. “Tinggalkan kami sebentar.”

Mark memberi hormat singkat sebelum keluar, menutup pintu rapat sehingga tidak bisa mendengar pembicaraan kami.

“Indonesia tidak boleh tahu kalau semua ini hanya pura-pura,” kata Domnick pelan. “Mereka harus menjalankan protokol secara sungguh-sungguh. Mereka harus melindungimu dengan layak sebagai calon ratuku. Keluargamu sekarang menjadi bagian dari keluarga kerajaan dan harus mendapatkan perlindungan penuh.”

“Maaf, Yang Mulia. Justru aneh kalau Ian dan orang kedutaan tidak curiga. Aku kecelakaan, dirawat di sini, lalu begitu sadar langsung menerima lamaran seorang Raja?”

“Itu bisa terjadi, dan jangan panggil aku ‘Pak Raja’,” sahutnya spontan.

“Bisa terjadi, tapi jarang sekali, Yang Mulia,” tanggapku.

Domnick tersenyum tipis, garis rahangnya mengencang. Kalau saja seluruh tubuhku tidak sedang nyeri, mungkin aku sudah goyah lihat senyum itu dari jarak sedekat ini.

“Sebut saja aku Domnick, atau Dom,” katanya. “Indonesia harus percaya apa pun yang disampaikan Grindlandia, kecuali kalau ada bukti bahwa kamu dalam bahaya. Kamu harus berhati-hati agar rencana kita tidak terbongkar.”

“Jadi aku harus ikut menjadi kaki tangan kalian?” tanyaku pelan.

Domnick mengencangkan bibir. “Aku akan memastikan kamu aman, Alyssa.”

Memastikan aku aman dengan cara menjadikanku tunangannya? Andai Domnick mengatakan itu sebelum mobil yang kutumpangi terguling, mungkin aku hanya akan tertawa dan pergi.

Tapi sekarang? Setelah berhari-hari terbaring di kamar VVIP dengan pengawalan ketat, setelah tubuhku mengingat jelas bagaimana rasanya nyaris kehilangan nyawa, pikiranku mulai berubah.

Kalau pendukung mantan istrinya Domnick sampai setega itu, aku bisa apa selain menerima perlindungan yang ia tawarkan? Mereka bahkan tidak peduli dengan nyawa mereka sendiri. Apalagi nyawaku, atau nyawa keluargaku.

“Apakah kita sepakat?” Domnick mencari tatapanku.

Sepakat bertunangan demi perlindungan?

Gadis normal se-Jabodetabek mungkin akan berpikir seribu kali sebelum mengiyakan tawaran yang terasa bertentangan dengan logika sehat begini. Tetapi gabungan antara pesona wajah Domnick dan rasa takut mati membuatku mengangguk.

“Baiklah,” jawabku pelan.

Sekali lagi aku menyambut uluran tangan Domnick. Kali ini benar-benar sadar. Lalu buru-buru kutarik kembali tanganku. Domnick hanya mengangguk. Pandangannya menjelajahi wajahku yang penuh luka. Jelas terlihat ia iba. Ia akan menikahiku karena iba.

“Dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, calon ratuku,” ucapnya lirih.

Aku menelan ludah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Dadakan Sang Raja   24. Nikahan of The Century

    Kami bertiga berdiri di koridor rumah sakit saat Mark menyampaikan laporan bahwa pelaku yang melukai Sasha adalah bagian korps elit pengamanan istana. Otak tersangka: Jenderal Russhel Laporan Mark mengusik sesuatu yang sejak awal sudah mengganjal di dadaku, rasa tidak aman yang bahkan tembok tebal Grindlandia tidak mampu redakan. Malam itu, ketika Ibu tertidur di kursi lipat di samping ranjang Sasha dan dokter menyatakan kondisi sahabatku mulai stabil, aku duduk sendiri di kursi kecil dekat jendela rumah sakit. Ian tadi baru saja keluar setelah memastikan obat-obatan bekerja dan tekanan darah Sasha membaik. Aku memandang kota Grindlandia yang temaram, lampu-lampu berkilau di kejauhan. Kepalaku penuh. Sasha datang ke negeri ini karena aku. Sasha dilukai karena seseorang yang ingin menyakiti calon ratu. Calon ratu itu AKU. Sekarang, bayangan bunga-bunga berlonceng ungupenuh racun itu menempel di pikiranku. Aku marah. Bukan saja pada Russhel dan orang-orangnya, bukan hanya pa

  • Istri Dadakan Sang Raja   23. Piknik Bikin Panik (2)

    Aku baru menyadari tangan gemetarku ketika pandanganku turun ke papan kecil di depan rumpun tanaman yang merubungi Sasha tadi. Papan itu miring, setengah tertutup tanah yang terciprat. Aku berjongkok hati-hati, menghindari cabang yang menjulur, lalu menyeka pelan permukaannya dengan ujung tisu.Bunga-bunga lonceng kecil berwarna keunguan bergoyang pelan di ujung batang. Cantik. Sangat cantik. Dan sangat tidak bersahabat. Tulisan di sana kubaca perlahan.Digitalis purpurea atau Foxglove Di bawahnya, dengan huruf lebih kecil ada keterangan lebih panjang. “Bunga indah berwarna ungu dan putih, seluruh bagian tanaman mengandung glikosida jantung. Dapat menyebabkan mual, muntah, pusing, gangguan irama jantung, dan reaksi alergi berat bila tertelan atau terkena luka terbuka. Penanganan medis segera diperlukan.” Aku menelan ludah. “Sas, kenapa jatuhnya ke sini…” gumamku. Ian yang berdiri di belakangku ikut mengamati. Rahangnya mengeras. “Foxglove,” gumamnya. “Cantik, tapi beracun, bis

  • Istri Dadakan Sang Raja   22. Piknik Bikin Panik

    “Alyssa,” panggil Domnick sebelum ia benar-benar pergi. “Maaf soal gaun. Aku marah pada keadaan, bukan pada kamu. Aku tidak seharusnya memaksa.”Aku hanya mengangguk, agak tersinggung karena tiba-tiba Domnick mengurungkan niatnya.“Baik," jawabku pendek.Ia menatapku, seakan ingin bicara lebih panjang, lalu memilih mundur.“Istirahatlah bersama keluargamu. Besok-besok, kita bicara lagi. Akan kuminta Olivia meluangkan waktu lebih banyak untuk kita."Aku menggeleng, menjawab tanpa melihat ke arahnya. "Tidak perlu."Besoknya, aku memutuskan sengaja mengambil jeda dari segala percakapan tentang gaun, gaya, protokol, dan pelajaran tetek bengek soal menjadi ratu baru. Begitu jadwal latihan pagi selesai dan Olivia pergi mengurus hal lain, aku mengumpulkan pasukan kecilku. “Ibu,” panggilku. “Sasha. Mas Dokter. Ayo kita pergi keluar.” Sasha muncul dengan wajah siap bersenang-senang. “Kita kabur?” tanyanya penuh harap. “Tidak sejauh itu,” jawabku. “Kita jalan-jalan dekat sini saja.”

  • Istri Dadakan Sang Raja   21. Busana Laknat

    Dua hari setelah pertemuan dengan Lady Anna, Olivia mengetuk pintu kamarku dengan wajah ceria.“Lady Alyssa, isi lemari barumu sudah tiba. Hari ini kita fitting,” katanya penuh semangat.Tanpa menunggu persetujuanku, Olivia dan rombongan dayangnya yang multifungsi menyerbu masuk ke kamar. Untung Ibu sedang di kamar mandi, jadi beliau tidak perlu melihat kericuhan proses mereka menelanjangiku sampai tinggal pakaian dalam.Katanya aku perlu mencoba semua ini untuk memastikan ukurannya sesuai kalau tidak harus di-fitting ulang atau dibuang. Mubazir banget!Dua lemari besar didorong masuk, pintunya dibuka, memperlihatkan deretan gaun menggantung rapi seperti koleksi museum mode. Ada yang terbungkus plastik tipis, ada yang diselubungi kain beludru berwarna-warni seolah menyimpan rahasia, ada juga yang masih terlipat dalam kotak-kotak mewah.“Dari siapa?” tanyaku, meski sudah bisa menebak.Olivia menunjuk kartu kec

  • Istri Dadakan Sang Raja   20. Ancaman Janda Edan

    Seharian aku mengikuti Domnick bekerja seharian di Esher Palace.Dari rapat energi dengan menteri-menteri, penandatanganan nota kesepahaman, hingga pertemuan kecil dengan perwakilan organisasi kemanusiaan, aku duduk di kursi yang disediakan di sudut ruangan. Sesekali Domnick menjelaskan singkat isi agenda, sekadar agar aku tidak merasa hanya menonton tanpa mengerti.“Aku ingin kamu melihat sendiri apa yang kulakukan,” katanya di jeda makan siang.Aku mengangguk. Meski lelah, ada bagian dari diriku yang lega melihat sisi kantoran dari Domnick. Bukan hanya urusan melambaikan tangan di podium dan berpose untuk kamera, tetapi juga mendiskusikan data, grafik, dan peraturan.Mengikuti Domnick seharian di Esher Palace ternyata memberi efek samping yang tidak kuduga. Kepercayaan diriku sebagai calon ratu pelan-pelan naik.Bukan karena ruangan-ruangan megah yang kulewati, atau karena duduk di kursi tamu istimewa. Justru karena orang-orang yang bekerja di balik meja dan sisi pintu mulai memperl

  • Istri Dadakan Sang Raja   19. Mendadak Seleb

    Acara pertunangan berjalan lumayan lancar, kalau lumayan itu artinya hampir pingsan, salah napas, dan kecupan kaku di depan pejabat. Begitu semua tamu bubar dan dekorasi pelan-pelan dibereskan, hidupku tidak kembali tenang. Setelah lamaran, Olivia menaikkan level kesibukanku dengan program khusus persiapan pernikahan. “Seminggu sekali kita akan gladi bersih,” jelasnya suatu pagi, sambil membacakan jadwal dari tablet. “Kita akan melakukan beberapa simulasi upacara pernikahan Yang Mulia dan Lady Alyssa di Norfolk. Mulai dari berjalan menuju aula, pengambilan sumpah, prosesi di balkon, sampai sesi menyapa rakyat.” Pagi itu sarapan bahkan belum dihidangkan, tetapi Olivia sudah seperti MC buka seminar. Aku cuma sempat membeo. "Norfolk? Norfolk itu apa?" Kini, semua kegiatanku dimulai begitu matahari terbit. Cuci muka, mandi, latihan fisik di ruang kebugaran, sarapan, kemudian perpustakaan, pelajaran privat, makan siang, pelajaran lagi sampai sore. Bedanya, setelah makan malam, D

  • Istri Dadakan Sang Raja   5. Hari Gedebak Gedebuk

    “Orang kami, dari Indonesia.”Ian menjawab dengan mantap. Ia melangkah mendekat ke arahku, setelan gelapnya kontras dengan wajahku yang pasti sudah sepucat mayat. Tangannya hinggap di bahuku, menenangkan.“Ia saksi. Kami ingin membawanya ke dalam perlindungan kami sebelum mendengar semua ceritanya.

  • Istri Dadakan Sang Raja   4. Nyawa Orang Ganteng

    Rupanya bukan hanya dari Madam, pesan singkat dari Kenzo juga masuk bertubi-tubi memenuhi ponselku.Chat Kenzo: Al, urusan tempat duduk gala dinner sudah beres, kan? Kamu siapkan bahan obrolan untuk Bu Dewi. Siapa saja yang duduk di mejanya. Siapa yang duduk di meja VVIP. Kalau banyak tamu dari neg

  • Istri Dadakan Sang Raja   3. Kacung Makhluk Jejadian

    “Bawain koper saya yang bener! Koper mahal ini!”Begitu turun dari pesawat, aku sudah resmi berubah fungsi dari jurnalis menjadi porter.Siapa yang pernah memimpikan perjalanan kerja ke luar negeri bareng atasan yang kelakuannya persis makhluk jejadian?Hampir semua orang di kantor lebih rela pura-

  • Istri Dadakan Sang Raja   2. Pengen Cepet Nikah

    Madam yang paling ditakuti di kantorku sebelum hidupku mendadak berbelok jadi calon ratu adalah Dewi Fortuna Wongso, direktur utama sekaligus putri bungsu kerajaan media Wongso Group. Di keluarga Wongso ada aturan tidak tertulis: semua anak harus mengelola satu perusahaan. Maka, orang s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status