Beranda / Romansa / Istri Dadakan Sang Raja / 2. Pengen Cepet Nikah

Share

2. Pengen Cepet Nikah

Penulis: Naomi Leon
last update Tanggal publikasi: 2026-06-09 18:27:41

      Madam yang paling ditakuti di kantorku sebelum hidupku mendadak berbelok jadi calon ratu adalah Dewi Fortuna Wongso, direktur utama sekaligus putri bungsu kerajaan media Wongso Group.

      Di keluarga Wongso ada aturan tidak tertulis: semua anak harus mengelola satu perusahaan. Maka, orang semanja Madam pun harus menyandang jabatan direktur.

       Secara resmi, kantor kami adalah tabloid lifestyle untuk perempuan. Dalam kenyataannya, kami lebih mirip playgroup gadungan yang didirikan untuk mengasuh Madam. Sekantor sudah paham, Madam dipasang jadi direktur semata-mata supaya terlihat punya pekerjaan.

Madam sendiri tidak suka bekerja. Yang ia sukai hanya berfoya-foya bersama teman-teman elitnya. Semua keputusan kerja diserahkan kepada Kenzo, asisten pribadi Madam, sementara kami sisanya hanya hamba sahaya yang bisa dibuang kapan saja.

“Kenzo ke mana, sih?”

Seorang laki-laki dari bagian keuangan melipir ke kubikelku. Ia meletakkan setumpuk dokumen administrasi perjalanan di mejaku. Tiket, paspor, reservasi hotel, semuanya atas nama Khairan Alyssa. Namaku.

“Minggu lalu semuanya masih atas nama Kenzo. Tahu-tahu diganti Alyssa. Biasanya kan Kenzo yang menemani Madam ke mana-mana,” katanya sambil geleng kepala.

“Gosipnya Kenzo sedang ada urusan keluarga, ya? Urusan apa sampai berani meninggalkan Madam?” tanyanya lagi.

Aku meratap dramatis. “Tidak paham, salah apa aku, Mas? Tahu sendiri Madam hanya jinak sama Kenzo. Figuran seperti aku pasti hanya dicabik-cabik sepanjang jalan. Merinding ini. Di Manila ada acara apa saja, aku pun belum tahu.”

“Konferensi besar,” sahut Sasha dari kubikel sebelah tanpa diminta. “Konferensi kepala negara dan pemimpin dunia. Madam diajak langsung oleh Pak Presiden. Mana berani Madam nggak berangkat.”

Aneh juga, mengapa Sasha selalu lebih tahu dibanding aku yang mantan jurnalis lapangan. Mungkin karena kubikelnya terlalu dekat dengan meja asisten Madam, jadi semua gosip VIP mampir dulu ke telinganya.

“Kenapa harus aku? Tidak bisa pegawai lain saja?” Aku masih mencoba tawar-menawar dengan nasib. Kutatapi lagi berbagai dokumen perjalanan itu, seolah-olah kalau dipandang cukup lama, nama ‘Khairan Alyssa’ bisa berubah jadi nama orang lain, siapa saja, aku tidak keberatan.

“Mungkin Kenzo yang merekomendasikan namamu,” celetuk Sasha.

Aku mengedip. “Bagaimana logikanya?”

“Ya kamu sebenarnya memang pintar, Alyssa, hanya terlalu kritis saja, mentang-mentang mantan jurnalis,” timpal Sasha santai. “Tahu tidak, gosipnya Kenzo cuti urusan keluarga karena mau menikah. Pacarnya hamil, jadi harus buru-buru naik pelaminan sebelum orang tua pacarnya marah besar.”

“Tuh kan, kalau buru-buru nikah bisa dapat berkah,” aku mendadak kembali bersemangat.

“Menikah betulan, bukan nikah bohongan seperti rencanamu,” Sasha menohok tanpa belas kasihan.

Aku menyeret kursi lebih dekat ke meja Sasha. “Konferensinya tentang apa, siapa saja yang datang, seberapa besar kemungkinan aku dipecat?”

Sasha menghela napas dramatis, lalu meraih remote televisi kecil yang menggantung sendu di sudut ruang redaksi. Televisi itu biasanya dipakai untuk memantau gosip selebritas dan iklan perawatan kulit.

“Lihat sendiri saja.”

Layar menyala. Logo kanal berita internasional mendominasi, diikuti judul yang berkedip-kedip:

KONFERENSI TINGKAT TINGGI PEMIMPIN DUNIA – MANILA SUMMIT

Kamera menyorot aula megah dengan panggung panjang penuh podium dan bendera. Di deretan kursi VIP, para pemimpin negara duduk berjejer: presiden, perdana menteri, tokoh-tokoh penting… hampir semuanya berusia senja. Ada yang ubanan seputih kapas, ada yang duduk tegak saja sudah kelihatan usaha keras.

“Ini konferensi kepala negara atau reuni kakek buyut dunia?” bisikku.

“Diam. Nanti diserbu netizen global,” Sasha cekikikan.

Pembawa acara di layar menyebut satu per satu nama pemimpin: Presiden ini, Perdana Menteri itu, Ketua Dewan dari sana-sini. Setiap nama disambut tepuk tangan sopan, diselipi batuk-batuk halus di beberapa sudut ruangan.

Aku hampir bosan, sampai tulisan di bawah layar berubah:

KEDATANGAN SPESIAL: RAJA DOMNICK LEON OF GRINDLANDIA

Gambar berganti menampilkan bandara. Barikade pengamanan, petugas berseragam rapi, dan yang paling mencolok, segerombolan penggemar perempuan yang berteriak histeris sambil mengangkat poster dan ponsel. Mereka berdesakan di belakang pagar.

“Ini acara apa, konser K-pop?” Aku melongo.

“Bukan. Itu penggemarnya raja yang mau datang,” jelas Sasha dengan nada puas. “Coba lihat.”

Aku refleks memajukan tubuh, mata terpaku pada layar. Dari pintu kedatangan VIP, rombongan keluar. Para pengawal bersetelan gelap dan berkacamata hitam berjalan lebih dulu, tubuh mereka kekar dan tegap. Lalu, dari tengah-tengah mereka, satu sosok melangkah dengan tenang.

Aku sempat lupa bernapas.

Kalau Henry Cavill, Pangeran Mateen Brunei, dan tokoh utama w*****n kerajaan favoritku dicampur jadi satu, mungkin hasilnya mendekati laki-laki itu. Rambutnya hitam kecokelatan, sedikit berombak, disisir rapi namun tetap bervolume. Rahang kotak, dagu sedikit berbelah, hidung tinggi dan tegas, kulit bersih berkilau jenis yang kalau kena lampu sorot bisa memantulkan masa depan. Kaki jenjang, bahu dan dada bidang, sangat mudah dibayangkan jadi bahan poster.

Ini bukan sekadar raja, ini ancaman iman.

Kalau ada satu “cacat” di wajah nyaris sempurnanya, mungkin hanya bekas luka tipis di pelipis yang melintang hingga ekor mata kanan. Itu pun sepertinya baru terlihat jelas karena kamera men-zoom wajahnya.

“Negara apa itu, kok bisa punya raja yang tampannya seperti filter di aplikasi kamera?” komentarku meluncur begitu saja.

“King Domnick Leon,” Sasha membaca tulisan di layar. “Usia tiga puluh tiga tahun. Raja Grindlandia, negara kecil kaya minyak dan gas alam. Luar biasa, sultan beneran.”

Laki-laki itu melambaikan tangan ke arah kerumunan. Senyumnya tipis, sopan, tapi cukup membuat barisan penggemar menjerit lagi. Reporter di lokasi tampak berusaha menjaga wibawa.

“His Majesty Domnick is waving to the crowd…” suara komentator TV terdengar antusias.

“Kalau jadi istrinya, mungkin baru didekati saja sudah mimisan,” gumamku lirih. “Untung kita tidak akan pernah jadi siapa-siapanya.”

Kamera berganti ke rekaman pidato pembukaan konferensi hari pertama. Para pemimpin berumur tadi satu per satu naik podium, berbicara dengan bahasa diplomatik yang kaku, penuh data dan janji manis.

Lalu giliran Grindlandia dipanggil.

“His Excellency, King Domnick Leon Guerrero of Grindlandia.”

Lampu sorot menyorot podium. Domnick berdiri tegak, kini mengenakan seragam resmi dengan deretan medali dan lambang negara di dada. Tidak berlebihan, tetapi cukup untuk mengingatkan semua orang bahwa laki-laki ini bisa menggerakkan pasukan hanya dengan satu anggukan.

Suara baritonnya memenuhi ruangan. Bahasa Inggrisnya jelas, tenang, dengan aksen sedikit asing yang justru terdengar menarik.

“Kita berdiri di sini bukan hanya sebagai pemimpin negara masing-masing,” katanya, “melainkan sebagai penjaga masa depan. Anak-anak kita akan hidup dengan konsekuensi dari setiap perjanjian yang kita tanda tangani di ruangan ini.”

Biasanya aku alergi pidato politik, tetapi kalimat itu membuatku menahan napas. Ada sesuatu dalam nada suaranya: campuran darah muda, idealisme, dan kemarahan yang… berbahaya sekaligus memikat.

“Lihat itu,” Sasha mencolek lenganku. “Raja itu paling muda di panggung, tapi paling kelihatan punya masa depan.”

Aku mengangguk pelan, masih memandangi layar. Kamera men-zoom wajah Domnick saat ia membahas krisis energi, negara kecil yang selalu diremehkan, dan bagaimana mereka tidak mau hanya menjadi catatan kaki dalam perjanjian negara-negara besar.

“Kami mungkin hanya negara kecil,” lanjutnya, “tapi semangat kami besar, rasa tanggung jawab kami besar.”

“Ini kalau dijadikan drama politik dan di-dubbing Korea, ratingnya tinggi nih,” desisku.

Pidato Domnick berakhir dengan tepuk tangan panjang. Beberapa pemimpin tua yang tadi tampak mengantuk kini saling pandang dengan ekspresi berbeda.

Televisi kembali menayangkan acara lain di studio. Aku bersandar di kursi, menatap layar yang perlahan meredup.

Sasha terkekeh. “Kamu kebayang tidak, Madam akan minta berapa kali swafoto kalau bisa satu ruangan dengan raja itu?”

“Bukan cuma swafoto. Bisa-bisa kalau ada kesempatan, Madam minta tukar nasib sama istrinya raja itu. Kelakuan ajaib Madam kan sudah mengalahkan ratu beneran, hanya kurang gelar saja. Sayang keraton-keraton kita nggak punya giveaway gelar ratu,” sahutku.

Saat itu, aku benar-benar tidak mengira bahwa beberapa hari kemudian aku akan berhadapan langsung dengan Raja Domnick.

Menatap wajahnya yang terlalu tampan … sekaligus menyelamatkan nyawanya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Dadakan Sang Raja   12. Teror Malam Pertama

    Malam pertamaku di Grindlandia kuhabiskan dengan berusaha keras agar tidak terlihat terlalu kampungan. Andai hidupku ini bisa dijadikan bahan unggahan, mungkin cocok sekali masuk serial “dari begini jadi begitu”. Dulu, aku terbiasa terjepit di tengah lautan ketiak manusia di gerbong KRL Bekasi. Sekarang, dalam hitungan hari, aku naik jet pribadi, turun ke sedan mewah yang interiornya mengkilap berkilauan. Aku sempat menggoda Domnick tadi di bandara, saat melihat barisan mobil hitam mengilap. “Kenapa tidak sekalian pakai limusin saja?” “Mobil itu terlalu murah,” jawabnya datar. Aku mengangguk-angguk saja, seolah paham, padahal harga satu mobilnya Domnick mungkin cukup untuk membeli dua belas rumah di kompleksku. Atau mungkin maksudnya “murah” di sini bukan soal harga, melainkan soal selera. Di titik ini, aku menyerah memahami sudut pandang orang yang kayanya keterlaluan. Kamar yang disiapkan untukku di Grindlandia lebih pantas disebut suite hotel paling mahal dibanding sekadar “ka

  • Istri Dadakan Sang Raja   11. Landing Grindlandia!

    Selama penerbangan dari Jakarta menuju Grindlandia, aku didudukkan di bagian kabin yang agak jauh dari tempat Domnick dan para stafnya. Olivia bilang, jarak itu sengaja diatur supaya kesibukan Domnick tidak mengganggu istirahatku. Katanya, aku perlu tenang sebelum tiba di rumah baruku. Rumah baru.Kata itu saja sudah cukup membuat perutku mual.Menjelang waktu makan malam, pintu sekat kabinku diketuk pelan. Domnick muncul, kali ini tanpa jas resmi, hanya kemeja putih dan celana bahan rapi. Tetap saja, auranya sulit disamakan dengan penumpang biasa. “Masih jauh?” aku bertanya lebih dulu, sekadar memecah hening. “Sekitar tiga jam lagi,” jawabnya.Tiga jam. Tiga jam lagi aku akan mendarat di negara yang bahkan letaknya baru kucari di peta seminggu lalu. Kalau tidak salah, Grindlandia berada di gugusan kepulauan kecil antara Samudra Pasifik dan Australia bagian utara, bekas jajahan Inggris yang kaya minyak dan gas. “Apa yang kamu pikirkan?” suara Domnick datang memotong renunganku.Ak

  • Istri Dadakan Sang Raja   10. Terjebak Masa Lalu

    Bapak masih tertawa-tawa di teras bersama Domnick ketika aku kembali ke ruang tengah. Suara mereka bercampur dengan bunyi sendok mengaduk teh, dan sesekali suara tetangga yang bersikeras mau menembus barikade ke rumahku.Aku duduk di ujung sofa, menatap keramik ruang tamu rumahku yang sudah berkali-kali direnovasi seadanya. Di dindingnya, foto-foto lama tergantung apa adanya. Foto wisudaku, foto random lagi jajan di kanal banjir timur alias BRT, foto keluarga waktu piknik ke Ancol, foto almarhum Kakek di depan warung kelontong. Semua terasa begitu… biasa-biasa aja.Tidak ada di antara foto itu yang cocok dengan kata “Ratu Grindlandia”.Suara Bapak kepada Domnick masih menggema di kepala.“Tolong sayangi Alyssa selama-lamanya.”Diucapkan Bapak begitu ringan, seolah yang diminta hanya diskon belanja bulanan di minimarket, bukan perjanjian hidup dan mati dengan seorang laki-laki asing.“Alyssa, kamu tidak apa-apa?” Ibu duduk di sampingku, menepuk pelan lututku.Aku memaksa tersenyum. “Ti

  • Istri Dadakan Sang Raja   9. Bekasi is My City

    Akhirnya Domnick memenuhi janji untuk menemaniku pulang ke Indonesia.Begitu pesawat mendarat di Halim, pintu dibuka menampakkan gelara karpet merah, barisan pasukan pengamanan, dan seorang menteri yang menunggu di ujung tangga pesawat lengkap dengan senyum terpentang lebar clong kinclong.Perutku langsung mual. Bukan karena turbulensi, tapi karena otakku belum move on dari fakta bahwa aku, Khairan Alyssa, anak Bekasi yang biasa sikut-sikutan demi bangku KRL, sekarang disalamin pejabat negara gara-gara kawin kilat sama raja.Biasanya aku keluar stasiun disambut pemandangan deretan ojek dan sopir angkot. TAPI INI? APA-APAAN INI???“Hello King, hello! Hello!”Di luar pagar bandara, kulihat barisan anak-anak sekolah berderet rapi, mengibarkan bendera Indonesia dan Grindlandia. Seragam putih merah dan putih biru mereka berbaris manis, tapi mata guru-gurunya menatapku dengan sorot yang jelas-jelas bilang: Anjir kenapa diaaaa kenapa bukan kitaaaa????Wajar. Soalnya aku turun dari pesawat m

  • Istri Dadakan Sang Raja   8. Aspri Spek Bidadari

    Domnick datang ke kamar ketika aku baru saja selesai berdebat dengan bantal soal nasib. Ia mengetuk sekali, lalu membuka pintu tanpa suara.Di belakangnya, ada perempuan tinggi langsing dengan rambut kecokelatan diikat ekor kuda di atas bahu. Lekuk dan garis wajahnya sekilas mirip Domnick. Busananya serba putih, rapi, seperti gaya resmi seorang putri kerajaan dalam majalah.“Alyssa, ini Olivia. Dia akan menjadi penerjemah dan asistenmu. Olivia bisa berbicara banyak bahasa,” kata Domnick.Perempuan itu melangkah mendekat sambil tersenyum. Ia terlihat ramah... ramah dan cantik, sangat cantik... terlalu cantik malah!“Perkenalkan, nama saya Olivia. Saya panggil Anda Lady Alyssa bolehkah?”Penerjemah resmi kerajaan kok seperti ini, pikirku. Kuteliti wajah Olivia sembunyi-sembunyi. Hidung mancung seperti habis operasi, kulit berkilauan, bibir yang terlalu sempurna, mata cokelat terang yang ugh... kecakepan!Aku terus melamun.Jangan-jangan Olivia ini selirnya Domnick? Kan kalau di cerita-c

  • Istri Dadakan Sang Raja   7. Balada Tunangan Instan

    “Miss Khairan Alyssa, maukah kamu menikah denganku supaya aku bisa melindungimu?”Ternyata itu kalimat lengkapnya. Menyebalkan sekali.Begitu aku benar-benar siuman di rumah sakit, Domnick sudah ada di sisi ranjang. Wajahnya terlihat sangat khawatir.Domnick bercerita bahwa sopir mobil yang kutumpangi sengaja menabrakkan dirinya sendiri hingga tewas ketika hendak ditangkap. Pengkhianat itu diduga masih satu komplotan dengan orang-orang yang berusaha meracuni Domnick. Rupanya ia memilih lebih baik mati daripada tertangkap dan diinterogasi lebih jauh.Entah bagaimana, peluru yang ditembakkan sopir gila itu ke arahku meleset. Mobil-mobil lain dalam iring-iringan yang merasa aku dalam bahaya sengaja terus menyerempet mobil yang kutumpangi. Benturan terakhir mengubah garis lintasan peluru. Aku lolos dari maut meski kehilangan kesadaran dan penuh luka-luka. Tiga hari aku terbaring tanpa sadar.Beberapa kali, kata Domnick, aku seperti terbangun tetapi belum sepenuhnya sadar. Kadang aku terta

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status