Beranda / Romansa / Istri Dadakan Sang Raja / 1. Calon Ratu, Enggak Terima Refund

Share

Istri Dadakan Sang Raja
Istri Dadakan Sang Raja
Penulis: Naomi Leon

1. Calon Ratu, Enggak Terima Refund

Penulis: Naomi Leon
last update Tanggal publikasi: 2026-05-19 15:37:46

“Miss Khairan Alyssa, kamu harus menikah denganku. Hanya ini caranya aku bisa memberimu perlindungan penuh yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Tidak oleh musuhku, tidak juga oleh negaramu.”

Kesadaranku belum terkumpul sepenuhnya saat mendengar kalimat panjang yang membingungkan itu. Seperti bukan kalimat yang seharusnya ditujukan untukku. Tapi percayalah, aku sangat yakin kalau tadi dia menyebut Khairan Alyssa. Memangnya ada berapa Khairan Alyssa di dunia ini? Di ruangan ini? Tunggu. Ruangan apa ini?

Mataku sontak terbuka lebar, dan pandanganku menjadi sangat fokus. Aku langsung melihat ke segala arah. Ke tubuhku, ke ruangan asing itu, tiang infus, juga pria berhidung mancung di hadapanku.

Kalau tidak geger otak, berarti ingatanku masih utuh. Laki-laki ini adalah Domnick. Domnick si Raja Kerajaan Grindlandia. Domnick Raja Grindlandia yang kaya raya tampan berkuasa dengan istri cantik jelita serba sempurna.

“Maaf, tadi kau bilang apa?” pintaku memastikan.

“Jadilah ratuku, Alyssa,” jawab Domnick dengan serius. Terlihat dari mimiknya.

Oke. Mungkin aku belum seutuhnya sadar. Raja beristri ini minta aku menikahinya? Sekarang? Kenapa? Kok bisa? Buat apa?

Kucoba memejamkan mata sekali lagi, sambil menarik nafas sebanyak mungkin. Menambah jumlah oksigen yang masuk ke otakku, agar aku bisa mengingat semua kejadian yang membuatku tiba-tiba dilamar raja ini. 

****

“Sas, tolong buatkan undangan nikah sekarang! Sekarang! Aku tungguin, kamu desainer kan?”

Sasha melotot, matanya membulat keluar bagai ikan mas koki. Entah apa yang membuatnya bereaksi seperti itu. Kalimatku barusan kah, atau bentukanku yang menghampirinya rangan rambut acak-acakan?

"Siapa yang nikah?" Sasha memastikan. Pertanyaan yang sangat wajar karena Sasha sudah hapal sejarah percintaanku yang nggak ada bagus-bagusnya. 

"Aku lah!" teriakku. 

"HAH?"

“Sekarang juga, pokoknnya aku tungguin,” kataku cepat, sambil terus mengacak-acak rambut sendiri, rasanya ingin lenyap jadi arwah gentayangan saja daripada tetap jadi pegawai kantor ini.

Lima menit sebelumnya, aku baru saja keluar dari ruangan Direktur kami yang biasa kami panggil singkat ‘Madam’. Sesaat setelah keluar, aku mantap memutuskan dua hal. Satu, aku butuh cuti, dua, aku harus menikah! Pokoknya nikah!

“Kamu mau nikah sama siapa, Alyssa?” Sasha menyipitkan mata, mode menyelidik aktif.

Sehari-hari Sasha bekerja sebagai layouter merangkap desainer di kantor berita lifestyle perempuan ini. Pekerjaan sampingan Sasha adalah jadi tempat curhat semua kengenesanku.

Aku, Khairan Alyssa, wartawan muda yang dulunya meliput bencana alam dan konflik, setelah tersapu gelombang PHK sekarang terjebak menulis tips diet dan horoskop percintaan di kantor berita asal-asalan ini.

“Sama siapa saja terserah, yang penting Madam melepaskan aku dari penugasan berangkat ke Manila minggu depan. Aku mau pakai alasan nikah sebagai alasan nggak berangkat.”

“Al, kamu mau nikah minggu depan, padahal calon suaminya aja belum ada?” Sasha mengelus dada. “Dikira cari suami gampang, tinggal disendok dari toples.”

“Udah, buatin aja, Sas. Tulis nama mantan terakhir aku sebagai mempelai. Cetak sekarang, undangannya mau aku bawa ke Madam supaya dia batal ngajak aku ke Manila.”

Sasha tertawa miris sampai kursinya ikut berputar. “Bukannya mantan kamu baru kemarin kamu putusin? Cowok psikopat begitu masih mau kamu nikahi lagi?”

“Sst, jangan keras-keras. Sekantor belum ada yang tahu aku kembali jomblo!”

Sengaja aku merahasiakan drama terakhir itu karena malu. Dua tahun berpacaran, ujung-ujungnya bubar jalan gara-gara dia punya utang pinjol di mana-mana. Saat gagal bayar, rentenir menelepon ke mana-mana, termasuk ke ponselku dan grup keluarga besar. Cinta kami kandas bahkan sebelum sempat sampai ke acara lamaran.

“Oke, oke, Ibu Khairan Alyssa.”

Sasha memutar kursi ke arah layar, jarinya mengetik cepat. Sejumlah template undangan pernikahan serba pastel muncul. Ia cekikikan sendiri.

“Aku nggak nyangka bisa begini, wartawan serius macam Khairan Alyssa bikin undangan nikah palsu demi kabur dari Madam.”

“Ini darurat siaga satu, tahu!” Aku menubruk mejanya. “Tadi malam aku ditelepon, pagi ini dipanggil Madam. Madam serius minta mau aku menemani di liputan ke Manila. Sehari semalam jadi pengasuh dia saja nyawaku belum tentu cukup. Ini seminggu, Sas. Seminggu!”

“Ya sudah, kamu jujur saja bilang tidak bisa ikut.”

Aku mendengkus panjang.

“Kamu karyawan baru di kantor kita, ya? Kamu lupa cuti kerja di sini cuma disetujui kalau dipakai untuk tiga urusan. Menikah, melahirkan, atau meninggal. Aku bisa dipecat di tempat kalau menolak penugasan Madam hanya demi menjaga kewarasan.”

Sasha terkekeh, tapi matanya penuh rasa iba. “Jadi karena itu kamu berniat nikah bohongan buat kabur dari kerjaan?”

“Betul sekali.” Aku menyeringai. “Menurut kamu bagaimana?”

“Menurutku, sirkuit otak kamu terlalu keriting untuk ukuran sarjana,” balas Sasha santai.

Saat itu, aku pikir kekonyolan terbesar dalam hidupku adalah meminta dibuatkan undangan nikah palsu supaya bisa kabur dari liputan bareng atasan.

Ternyata aku salah.

Ternyata semesta punya selera bercanda yang mirip sekali dengan Madam... kebangetan!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Dadakan Sang Raja   12. Teror Malam Pertama

    Malam pertamaku di Grindlandia kuhabiskan dengan berusaha keras agar tidak terlihat terlalu kampungan. Andai hidupku ini bisa dijadikan bahan unggahan, mungkin cocok sekali masuk serial “dari begini jadi begitu”. Dulu, aku terbiasa terjepit di tengah lautan ketiak manusia di gerbong KRL Bekasi. Sekarang, dalam hitungan hari, aku naik jet pribadi, turun ke sedan mewah yang interiornya mengkilap berkilauan. Aku sempat menggoda Domnick tadi di bandara, saat melihat barisan mobil hitam mengilap. “Kenapa tidak sekalian pakai limusin saja?” “Mobil itu terlalu murah,” jawabnya datar. Aku mengangguk-angguk saja, seolah paham, padahal harga satu mobilnya Domnick mungkin cukup untuk membeli dua belas rumah di kompleksku. Atau mungkin maksudnya “murah” di sini bukan soal harga, melainkan soal selera. Di titik ini, aku menyerah memahami sudut pandang orang yang kayanya keterlaluan. Kamar yang disiapkan untukku di Grindlandia lebih pantas disebut suite hotel paling mahal dibanding sekadar “ka

  • Istri Dadakan Sang Raja   11. Landing Grindlandia!

    Selama penerbangan dari Jakarta menuju Grindlandia, aku didudukkan di bagian kabin yang agak jauh dari tempat Domnick dan para stafnya. Olivia bilang, jarak itu sengaja diatur supaya kesibukan Domnick tidak mengganggu istirahatku. Katanya, aku perlu tenang sebelum tiba di rumah baruku. Rumah baru.Kata itu saja sudah cukup membuat perutku mual.Menjelang waktu makan malam, pintu sekat kabinku diketuk pelan. Domnick muncul, kali ini tanpa jas resmi, hanya kemeja putih dan celana bahan rapi. Tetap saja, auranya sulit disamakan dengan penumpang biasa. “Masih jauh?” aku bertanya lebih dulu, sekadar memecah hening. “Sekitar tiga jam lagi,” jawabnya.Tiga jam. Tiga jam lagi aku akan mendarat di negara yang bahkan letaknya baru kucari di peta seminggu lalu. Kalau tidak salah, Grindlandia berada di gugusan kepulauan kecil antara Samudra Pasifik dan Australia bagian utara, bekas jajahan Inggris yang kaya minyak dan gas. “Apa yang kamu pikirkan?” suara Domnick datang memotong renunganku.Ak

  • Istri Dadakan Sang Raja   10. Terjebak Masa Lalu

    Bapak masih tertawa-tawa di teras bersama Domnick ketika aku kembali ke ruang tengah. Suara mereka bercampur dengan bunyi sendok mengaduk teh, dan sesekali suara tetangga yang bersikeras mau menembus barikade ke rumahku.Aku duduk di ujung sofa, menatap keramik ruang tamu rumahku yang sudah berkali-kali direnovasi seadanya. Di dindingnya, foto-foto lama tergantung apa adanya. Foto wisudaku, foto random lagi jajan di kanal banjir timur alias BRT, foto keluarga waktu piknik ke Ancol, foto almarhum Kakek di depan warung kelontong. Semua terasa begitu… biasa-biasa aja.Tidak ada di antara foto itu yang cocok dengan kata “Ratu Grindlandia”.Suara Bapak kepada Domnick masih menggema di kepala.“Tolong sayangi Alyssa selama-lamanya.”Diucapkan Bapak begitu ringan, seolah yang diminta hanya diskon belanja bulanan di minimarket, bukan perjanjian hidup dan mati dengan seorang laki-laki asing.“Alyssa, kamu tidak apa-apa?” Ibu duduk di sampingku, menepuk pelan lututku.Aku memaksa tersenyum. “Ti

  • Istri Dadakan Sang Raja   9. Bekasi is My City

    Akhirnya Domnick memenuhi janji untuk menemaniku pulang ke Indonesia.Begitu pesawat mendarat di Halim, pintu dibuka menampakkan gelara karpet merah, barisan pasukan pengamanan, dan seorang menteri yang menunggu di ujung tangga pesawat lengkap dengan senyum terpentang lebar clong kinclong.Perutku langsung mual. Bukan karena turbulensi, tapi karena otakku belum move on dari fakta bahwa aku, Khairan Alyssa, anak Bekasi yang biasa sikut-sikutan demi bangku KRL, sekarang disalamin pejabat negara gara-gara kawin kilat sama raja.Biasanya aku keluar stasiun disambut pemandangan deretan ojek dan sopir angkot. TAPI INI? APA-APAAN INI???“Hello King, hello! Hello!”Di luar pagar bandara, kulihat barisan anak-anak sekolah berderet rapi, mengibarkan bendera Indonesia dan Grindlandia. Seragam putih merah dan putih biru mereka berbaris manis, tapi mata guru-gurunya menatapku dengan sorot yang jelas-jelas bilang: Anjir kenapa diaaaa kenapa bukan kitaaaa????Wajar. Soalnya aku turun dari pesawat m

  • Istri Dadakan Sang Raja   8. Aspri Spek Bidadari

    Domnick datang ke kamar ketika aku baru saja selesai berdebat dengan bantal soal nasib. Ia mengetuk sekali, lalu membuka pintu tanpa suara.Di belakangnya, ada perempuan tinggi langsing dengan rambut kecokelatan diikat ekor kuda di atas bahu. Lekuk dan garis wajahnya sekilas mirip Domnick. Busananya serba putih, rapi, seperti gaya resmi seorang putri kerajaan dalam majalah.“Alyssa, ini Olivia. Dia akan menjadi penerjemah dan asistenmu. Olivia bisa berbicara banyak bahasa,” kata Domnick.Perempuan itu melangkah mendekat sambil tersenyum. Ia terlihat ramah... ramah dan cantik, sangat cantik... terlalu cantik malah!“Perkenalkan, nama saya Olivia. Saya panggil Anda Lady Alyssa bolehkah?”Penerjemah resmi kerajaan kok seperti ini, pikirku. Kuteliti wajah Olivia sembunyi-sembunyi. Hidung mancung seperti habis operasi, kulit berkilauan, bibir yang terlalu sempurna, mata cokelat terang yang ugh... kecakepan!Aku terus melamun.Jangan-jangan Olivia ini selirnya Domnick? Kan kalau di cerita-c

  • Istri Dadakan Sang Raja   7. Balada Tunangan Instan

    “Miss Khairan Alyssa, maukah kamu menikah denganku supaya aku bisa melindungimu?”Ternyata itu kalimat lengkapnya. Menyebalkan sekali.Begitu aku benar-benar siuman di rumah sakit, Domnick sudah ada di sisi ranjang. Wajahnya terlihat sangat khawatir.Domnick bercerita bahwa sopir mobil yang kutumpangi sengaja menabrakkan dirinya sendiri hingga tewas ketika hendak ditangkap. Pengkhianat itu diduga masih satu komplotan dengan orang-orang yang berusaha meracuni Domnick. Rupanya ia memilih lebih baik mati daripada tertangkap dan diinterogasi lebih jauh.Entah bagaimana, peluru yang ditembakkan sopir gila itu ke arahku meleset. Mobil-mobil lain dalam iring-iringan yang merasa aku dalam bahaya sengaja terus menyerempet mobil yang kutumpangi. Benturan terakhir mengubah garis lintasan peluru. Aku lolos dari maut meski kehilangan kesadaran dan penuh luka-luka. Tiga hari aku terbaring tanpa sadar.Beberapa kali, kata Domnick, aku seperti terbangun tetapi belum sepenuhnya sadar. Kadang aku terta

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status